Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Kasih adalah jiwa hukum

Kasih adalah jiwa hukum

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Matius 5:17-19

Rabu, 10 Juni 2026

Dari sekian hukum yang ada di dunia ini, hukum Taurat kiranya merupakan hukum yang cukup lengkap. Hukum Taurat terdiri dari 613 mitzvot, dan terbagai dalam dua bagian: 365 berupa perintah negatif [mitzvot lo taaseh] atau yang dilarang, sedangkan 248 berupa perintah positif [mitzvot ase] atau yang diperintahkan untuk dilalukan.  Jika sudah lengkap mengapa dikatakan bahwa Yesus datang untuk menggenapi? Hal apa lagi yang kurang dan harus digenapi?

Kita semua tentu paham bahwa isi Kitab Suci memiliki otoritas mutlak dan kekal. Ungkapan “satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan” [Mat 5:18] menunjukkan bahwa setiap firman Tuhan sangat penting dan tidak akan kehilangan kuasanya sampai rencana Allah tergenapi sepenuhnya. Oleh karena itu, dengan ungkapan “menggenapi” berarti Yesus menambah jumlahnya, melainkan membawa Hukum Taurat dan kitab para nabi kepada arti, tujuan sejati hukum Taurat diturunkan kepada manusia melalui Musa. Sebab dalam perjalanan waktu, sekurang-kurangnya pada jaman Yesus, hukum Taurat hanya diajarkan oleh para ahli Taurat, tetapi tidak dilaksanakan oleh mereka, sebagaimana difirmankan, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu lakukanlah dan peliharalah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” [Mat 23:2-3]. Bagi Yesus yang terpenting bukan soal menjaga kemurnian ajaran Taurat, melainkan bagaimana Taurat ini dilaksanakan dan dihayati dalam hidup setiap hari dalam semangat kasih. Taurat akan bermakna ketika perilaku dan sikap hidup benar-benar dijiwai oleh semangat saling mengasihi. Sebab kebenaran tanpa kasih akan melahirkan anarkhisme, sebaliknya kasih tanpa kebenaran hanyalah sentimentil belaka. Ketika kasih menjadi jiwa hukum, maka Taurat menjadi inspirasi yang menuntun orang kepada kebaikan, menjadi sumber moral dalam bertindak dan melakukan segala sesuatu dalam hidup dan kehidupannya. Orang yang melaksanakn hukum Taurat berlndaskan kasih, menurut Yesus, akan menduduki tempat tertinggi dalam Kerajaan Surga.

KItab Suci adalah Sabda Allah, pelita dalam hidup beriman kita. Karenanya sungguh sangat disayakankan, jika ayat Kitab Suci hanya digunakan untuk membenarkan perilaku menyimpang. Karenanya, mari kita berupaya bukan hanya sebagai pendengar atau pembaca firman, melainkan sebagai pelaku, pelaksana Firman [Yak 1:22]. Sabda Allah yang kita baca atau dengarkan, kita resapkan dalam hati sehingga menjiwai seluruh pola hidup beriman dan sosial kita.

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus A

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus A


(Ul. 8:2-3.14b-16a; 1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58)
Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, setelah minggu lalu kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus, hari ini Gereja mengajak kita masuk lebih jauh ke dalam misteri kasih Allah melalui Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Jika Hari Raya Tritunggal memperlihatkan kepada kita siapa Allah itu, maka Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus memperlihatkan bagaimana Allah mengasihi kita. Kasih itu bukan sekadar kata-kata, bukan hanya nasihat atau ajaran, melainkan pemberian diri secara total. Allah memberikan diri-Nya sendiri sebagai santapan bagi manusia.
Untuk memahami misteri ini, bayangkanlah seorang ibu yang dengan penuh kasih menyiapkan makanan bagi anak-anaknya. Ia tidak sekadar menyuguhkan makanan. Di balik setiap masakan terdapat perhatian, waktu, tenaga, bahkan cinta yang dicurahkannya. Karena itu ketika anak-anak makan dengan lahap, hati sang ibu dipenuhi sukacita. Melalui makanan itu ia sebenarnya sedang memberikan dirinya sendiri. Demikian pula ketika kita mengundang sahabat atau keluarga untuk makan bersama. Yang kita tawarkan bukan hanya hidangan, melainkan persahabatan, keakraban, dan kasih yang ingin kita bagikan.
Inilah yang dilakukan Yesus kepada kita. Dalam Injil hari ini Yesus tidak hanya berkata, “Aku mengasihimu.” Ia melangkah jauh lebih dalam dengan mengatakan, “Akulah roti hidup yang turun dari surga.” Bahkan Ia menambahkan, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia.” Melalui Ekaristi, Yesus tidak hanya memberi sesuatu kepada kita. Ia memberikan diri-Nya sendiri. Ia menjadi santapan bagi jiwa yang lapar, kekuatan bagi yang lemah, penghiburan bagi yang terluka, dan harapan bagi mereka yang hampir menyerah.
Saudara-saudariku terkasih, bacaan pertama dari Kitab Ulangan membantu kita memahami makna pemberian diri Allah itu. Musa mengingatkan bangsa Israel tentang perjalanan mereka di padang gurun. Selama empat puluh tahun mereka mengalami lapar, kehausan, ketidakpastian, dan berbagai kesulitan. Namun justru di tengah situasi itu Allah memberi mereka manna dari surga. Manna menjadi tanda bahwa hidup manusia tidak hanya bergantung pada makanan jasmani, melainkan pada sabda dan penyelenggaraan Allah. Manna menopang hidup bangsa Israel untuk sementara waktu. Namun manna hanyalah bayangan dari anugerah yang jauh lebih besar yang akan diberikan Allah kelak.
Dalam Injil, Yesus menyatakan bahwa Dialah manna yang sejati. Manna di padang gurun hanya mempertahankan kehidupan jasmani untuk sementara. Orang-orang yang memakannya akhirnya tetap meninggal. Tetapi roti yang diberikan Yesus adalah Tubuh-Nya sendiri yang membawa kehidupan kekal. Karena itu Ekaristi bukan sekadar simbol atau kenangan akan Yesus. Ekaristi adalah kehadiran Yesus yang hidup, yang terus menyertai umat-Nya sepanjang zaman.
Di sinilah kita memahami mengapa Gereja begitu menghargai Perayaan Ekaristi. Setiap kali kita mengikuti Misa Kudus, kita sebenarnya sedang datang kepada sumber kehidupan. Kita datang seperti seorang musafir yang kelelahan menempuh perjalanan panjang. Dunia sering membuat hati kita letih. Perselisihan dalam keluarga, tekanan pekerjaan, sakit penyakit, kegagalan, kekecewaan, dan dosa-dosa yang kita alami sering menguras kekuatan batin kita. Karena itulah Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya dan menerima santapan ilahi yang memulihkan jiwa. Tanpa Dia, hati manusia mudah menjadi kering seperti tanah yang lama tidak diguyur hujan. Namun bersama Dia, hidup kita kembali memperoleh kesegaran dan daya untuk melangkah.
Hari ini secara khusus kita juga bersukacita bersama anak-anak yang menerima Komuni Pertama. Kerinduan yang selama ini mereka rasakan akhirnya dipenuhi. Mereka akan menerima Yesus untuk pertama kalinya dalam Sakramen Ekaristi. Namun sesungguhnya kerinduan itu tidak boleh berhenti pada hari ini saja. Kerinduan yang sama harus tetap hidup dalam hati kita semua. Sebab iman yang dewasa bukanlah iman yang merasa cukup dengan Tuhan, melainkan iman yang selalu merindukan Tuhan lebih dalam lagi.
Saudara-saudariku terkasih, bacaan kedua memberikan satu dimensi yang sangat penting. Santo Paulus berkata, “Karena roti itu satu, maka kita sekalipun banyak merupakan satu tubuh.” Ekaristi tidak hanya menyatukan kita dengan Kristus, tetapi juga menyatukan kita satu sama lain. Kita menerima Tubuh Kristus agar kita sendiri menjadi Tubuh Kristus di tengah dunia.
Inilah tantangan terbesar hidup Ekaristi. Tidak cukup kita datang ke gereja dan menerima Komuni, tetapi sesudah itu kita tetap menyimpan kebencian, iri hati, dendam, atau sikap merendahkan orang lain. Jika kita menyambut Kristus yang sama, maka kita dipanggil untuk melihat sesama dengan mata Kristus. Orang yang sungguh hidup dari Ekaristi akan semakin mudah mengampuni, semakin peduli terhadap yang lemah, semakin rendah hati, dan semakin mampu menciptakan persatuan.
Ekaristi adalah sakramen persatuan. Di altar tidak ada lagi perbedaan status, kekayaan, jabatan, suku, atau latar belakang. Semua datang sebagai anak-anak Allah yang lapar akan kasih-Nya. Karena itu, semakin sering kita menerima Tubuh Kristus, seharusnya semakin berkurang pula egoisme kita. Hati kita dibentuk menjadi hati yang mampu menerima, menghargai, dan mengasihi sesama.
Saudara-saudariku terkasih, setiap kali imam mengangkat hosti dan berkata, “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu,” Yesus sebenarnya sedang berkata kepada masing-masing dari kita, “inilah Aku untukmu. Aku tidak menahan apa pun. Aku memberikan diri-Ku seluruhnya bagimu.” Kasih seperti inilah yang kita rayakan hari ini. Kasih yang tidak menghitung untung-rugi. Kasih yang tidak bersyarat. Kasih yang rela berkorban sampai tuntas.
Semoga setiap kali kita mengikuti Ekaristi dan menyambut Komuni Kudus, kerinduan kita akan Kristus semakin bertumbuh. Semoga Tubuh dan Darah Kristus yang kita terima mengubah hati kita menjadi lebih penuh kasih, lebih sabar, lebih setia,
dan lebih mampu membangun persaudaraan. Dengan demikian, Kristus yang kita sambut di altar sungguh hidup dan berkarya melalui hidup kita sehari-hari. Dan pada akhirnya, setiap orang yang berjumpa dengan kita dapat merasakan bahwa Kristus tinggal dalam diri kita, dan kita tinggal dalam Dia. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Pengharapan tidak mengecewakan

Pengharapan tidak mengecewakan

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Markus 12:18-27

Pw Santo Karolus Lwanga dkk, Martir

Dalam masyarakat Yahudi paling kurang di jaman Yesus minimal ada 4 mazhab, yakni Farisi, Saduki, Zelot dan Eseni. Farisi dan Saduki merupukan mazhab yang besar, sedang kedua lainnya kecil. Farisi percaya akan kebangkitan dan malaikat, sedangkan Saduki tidak percaya akan keduanya.

Dalam warta hari ini tampak kepada kita bahwa orang-orang dari mazhab Saduki melemparkan sebuah pertanyaan yang dikemas dalam sebuah perumpamaan yang ekstrem dan berlebihan, yakni tentang seorang perempuan dan tujuh bersaudara yang satu demi satu menjadi suaminya. Tindakan mereka ini sudah sesuai dengan ketentuan Taurat [perkawinan levirat, Ul 25:5]. Persoalannya, nanti di alam kebangkitan, siapa gerangan yang akan menjadi suami si perempuan? Mungkinkah tujuh orang itu sekaligus menjadi suaminya? Orang-orang Saduki mengukur realitas surgawi dengan ukuran duniawi. Mereka salah menggunakan ukuran. Dengan cara pikir itu mereka mengkerdilkan kemahakuasaan Allah. Mereka memenjarakan Tuhan dalam kerangka berpikir manusia yang sempit dan dangkal.

Dengan perumpamaan atau kisah satu perempuan 7 suami, orang-orang Saduki ingin menegaskan bahwa kebangkitan adalah gagasan yang tidak masuk akal. Itulah sebabnya Yesus menanggapi mereka dengan dua jawaban. Pertama, alam kebangkitan berbeda dengan dunia ini. Di alam kebangkitan tidak diperlukan “kawin-mengawin”, karena tidak ada kematian, tidak mengenal kepunahan. Kawin-mengawinkan hanya berguna di dunia, karena ada kematian, kepunahan. Kedua, Abraham, Ishak, dan Yakub sudah mati, tetapi orang menyebut Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub. Karena Ia adalah Allah yang satu untuk orang dari generasi ke generasi, Allah tetap hidup, dan membakitkan mereka yang telah mati. Pesan Yesus jelas: kebangkitan itu sungguh ada. Itulah sebabnya Yesus mengecam mereka dengan ungkapan yang cukup keras, “Kamu benar-benar sesat!” [Mark 12:27].

Bagaimana sebenarnya hidup sesudah mati [dunia kebangkitan] akan tetap merupakan sebuah misteri bagi kita. Kita percaya bahwa kebangkitan adalah anugerah Allah. Keberadaan dunia kebangkitan kiranya merupakan motivasi agar kita selalu berpengharapan, selalu memperjuangkan hal-hal benar dalam hidup dan kehidupan ini, dan tetap teguh dalam setiap rintangan yang kita hadapi. Kebangkitan adalah sebuah realita bahwa kita tidak akan pernah terpisahkan dari kasih Allah, sebagaimana difirmankan, “di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” [Yoh 14:3]

RENUNGAN: 2 Juni 2026

RENUNGAN: 2 Juni 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Markus 12:13-17

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Dalam Injil hari ini, kita mendengarkan suatu usaha licik untuk menjebak Yesus. Beberapa orang Farisi dan Herodian datang kepada-Nya dengan pertanyaan yang tampaknya sederhana: “Bolehkah membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Pertanyaan ini sebenarnya bukan untuk mencari kebenaran. Mereka ingin menjatuhkan Yesus. Jika Yesus menjawab “ya”, Ia akan dianggap mendukung penjajah Romawi dan kehilangan simpati rakyat. Jika Ia menjawab “tidak”, Ia dapat dituduh memberontak terhadap pemerintah Romawi. Namun Yesus tidak terjebak. Dengan kebijaksanaan ilahi, Ia meminta mereka menunjukkan sebuah koin dinar dan bertanya: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Mereka menjawab, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu Yesus berkata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.”

Saudara-saudari, sering kali kita memahami kata-kata Yesus ini hanya sebagai ajaran tentang membayar pajak atau taat kepada pemerintah. Memang benar, Gereja mengajarkan bahwa sebagai warga negara yang baik, kita mempunyai kewajiban untuk mendukung kehidupan bersama, menghormati hukum yang adil, dan ikut membangun kesejahteraan masyarakat. Namun Injil hari ini sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam. Ketika Yesus menunjuk pada gambar Kaisar yang tertera pada koin, Ia ingin mengajak pendengar-Nya berpikir lebih jauh. Jika koin itu memuat gambar Kaisar, maka koin itu dapat dikembalikan kepada Kaisar. Tetapi bagaimana dengan manusia? Kitab Kejadian mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Jika koin membawa gambar Kaisar, manusia membawa gambar Allah. Artinya, jika koin menjadi milik Kaisar, maka hidup kita adalah milik Allah. Inilah inti pesan Injil hari ini. Allah tidak hanya meminta sebagian dari hidup kita. Allah tidak hanya meminta satu jam pada hari Minggu. Allah tidak hanya meminta doa sebelum makan atau sebelum tidur. Allah menghendaki seluruh diri kita: pikiran kita, hati kita, pekerjaan kita, keluarga kita, dan masa depan kita.

Kadang-kadang kita sangat mudah memberikan “hak Kaisar”, tetapi sulit memberikan “hak Allah”. Kita memberikan waktu berjam-jam untuk pekerjaan, bisnis, hiburan, atau media sosial. Tetapi untuk berdoa lima belas menit saja sering terasa berat. Kita menjaga dengan sungguh-sungguh rekening bank kita, tetapi kurang memperhatikan kekayaan rohani kita. Kita berusaha agar dihargai oleh manusia, tetapi kurang peduli apakah hidup kita menyenangkan hati Tuhan. Karena itu, Injil hari ini mengajukan pertanyaan yang sangat pribadi bagi masing-masing dari kita: “Apa yang sebenarnya masih saya tahan dan belum saya serahkan kepada Allah?” Mungkin ada luka yang belum kita izinkan Tuhan sembuhkan. Mungkin ada dosa yang terus kita pelihara. Mungkin ada kesombongan yang membuat kita merasa tidak membutuhkan Tuhan. Mungkin ada ketakutan yang membuat kita sulit mempercayakan hidup kepada-Nya.

Saudara-saudari, dalam tradisi Katolik, kita percaya bahwa seluruh hidup orang beriman adalah persembahan kepada Allah. Setiap kali kita mengikuti Perayaan Ekaristi, bukan hanya roti dan anggur yang dipersembahkan di altar. Sesungguhnya kita juga mempersembahkan diri kita sendiri. Ketika imam mengangkat roti dan anggur, kita diajak secara batin berkata: “Tuhan, terimalah juga hidupku, pekerjaanku, keluargaku, sukacitaku, dan penderitaanku.” Ekaristi mengingatkan kita bahwa hidup ini bukan milik kita sendiri. Kita berasal dari Allah dan suatu hari akan kembali kepada-Nya. Maka pertanyaan terbesar bukanlah: “Berapa yang harus saya berikan kepada Allah?” Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Karena saya milik Allah, bagaimana saya harus hidup bagi-Nya?” Orang kudus memahami kebenaran ini dengan sangat baik. Mereka tidak memberikan sisa hidup mereka kepada Tuhan. Mereka memberikan yang terbaik. Karena mereka sadar bahwa segala sesuatu yang mereka miliki berasal dari Allah.

Saudara-saudari yang terkasih, di tengah dunia yang sering menilai manusia berdasarkan uang, jabatan, dan keberhasilan, Yesus mengingatkan kita tentang identitas sejati kita. Kita bukan milik kekuasaan dunia. Kita bukan milik ambisi kita. Kita bukan milik dosa kita. Kita adalah milik Allah. Kita membawa gambar-Nya dalam diri kita. Karena itu marilah kita memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah: iman kita, kasih kita, ketaatan kita, dan seluruh hidup kita. Semoga setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita semakin mampu berkata dengan tulus: “Tuhan, segala sesuatu yang kumiliki berasal dari-Mu, dan seluruh hidupku kupersembahkan bagi-Mu.”

Hari Raya Tritunggal Mahakudus A

Hari Raya Tritunggal Mahakudus A


(Kel. 34:4b-6.8-9; 2Kor. 13: 11-13; Yoh. 3:16-18)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, setiap kali kita berdoa, kita memulai dan mengakhiri doa dengan tanda salib sambil mengucapkan, “Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.” Kata-kata itu begitu akrab di telinga kita sehingga sering kali diucapkan tanpa lagi direnungkan maknanya. Padahal, dalam tanda salib yang sederhana itu tersimpan seluruh inti iman Kristiani. Kita mengimani Allah yang satu, namun hadir dalam tiga Pribadi, yakni Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Misteri ini memang melampaui kemampuan akal budi manusia. Tidak ada rumusan yang mampu menjelaskan Allah Tritunggal secara sempurna. Namun justru di situlah keindahannya. Allah bukanlah teka-teki yang harus dipecahkan, melainkan misteri kasih yang mengundang kita untuk masuk dan tinggal di dalam-Nya.
Ada kisah yang sangat terkenal tentang Santo Agustinus. Ketika ia sedang berusaha memahami dan menjelaskan misteri Tritunggal, ia melihat seorang anak kecil yang berusaha memindahkan air laut ke dalam sebuah lubang kecil di pasir. Ketika Agustinus mengatakan bahwa hal itu mustahil dilakukan, anak itu menjawab, “Lebih mudah memasukkan seluruh air laut ke dalam lubang kecil ini daripada memasukkan seluruh misteri Allah ke dalam pikiran manusia.” Kisah itu menyadarkan Agustinus bahwa kebesaran Allah selalu melampaui daya tangkap manusia. Kita tidak dipanggil untuk memahami Allah secara penuh, melainkan untuk mengagumi, menyembah, dan hidup dalam kasih-Nya.
Bacaan pertama dari Kitab Keluaran menampilkan salah satu pewahyuan Allah yang paling indah dalam Perjanjian Lama. Ketika Musa naik ke Gunung Sinai, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan setia.” Menarik bahwa Allah tidak pertama-tama memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Mahakuasa atau Yang Mahabesar, melainkan sebagai Allah yang penuh belas kasih. Inilah wajah Allah yang sejati. Bahkan ketika bangsa Israel berkali-kali jatuh dalam dosa dan ketidaksetiaan, Allah tetap mendekati mereka dengan kasih dan pengampunan. Sejak awal sejarah keselamatan, Allah telah menunjukkan bahwa inti diri-Nya adalah kasih yang setia dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Pewahyuan itu mencapai kepenuhannya dalam Injil hari ini. Yesus berkata kepada Nikodemus, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” Kalimat ini mungkin menjadi salah satu ayat Kitab Suci yang paling dikenal, tetapi juga yang paling dalam maknanya. Allah tidak hanya mengatakan bahwa Ia mengasihi manusia. Ia membuktikannya. Kasih Allah menjadi nyata ketika Ia mengutus Putra-Nya ke dunia. Yesus datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan. Salib
Kristus adalah bukti bahwa kasih Allah lebih besar daripada dosa manusia. Allah tidak tinggal jauh di surga sambil menyaksikan penderitaan dunia. Ia turun, berjalan bersama manusia, memikul luka-luka manusia, dan membuka jalan menuju kehidupan kekal.
Di sinilah kita melihat karya Tritunggal yang begitu indah. Bapa mengasihi dunia. Putra diutus untuk menyelamatkan dunia. Roh Kudus dicurahkan untuk terus menghadirkan karya keselamatan itu di dalam hati manusia dan di tengah Gereja. Kehendak Bapa diwujudkan oleh Putra dan diteruskan oleh Roh Kudus. Ketiganya tidak bekerja sendiri-sendiri, tetapi dalam kesatuan kasih yang sempurna. Allah Tritunggal bukanlah kesendirian, melainkan persekutuan kasih yang abadi.
Karena itulah bacaan kedua dari Surat Kedua kepada Jemaat di Korintus menjadi sangat relevan bagi kehidupan kita. Santo Paulus menutup suratnya dengan nasihat yang sederhana namun mendalam, “Bersukacitalah, usahakanlah dirimu sempurna, sehati sepikirlah kamu dan hiduplah dalam damai sejahtera.” Kemudian ia memberikan berkat yang sangat kita kenal, “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Berkat ini bukan sekadar penutup liturgis. Paulus ingin mengingatkan bahwa jika Allah sendiri adalah persekutuan kasih, maka setiap orang beriman dipanggil untuk membangun hidup yang dipenuhi kasih, persatuan, dan damai. Tidak mungkin seseorang mengaku percaya kepada Allah Tritunggal tetapi hidup dalam kebencian, permusuhan, dan perpecahan.
Hari Raya Tritunggal Mahakudus mengajak kita untuk tidak hanya berbicara tentang Allah, tetapi juga meneladan cara Allah hidup dalam relasi kasih. Dalam keluarga, kita dipanggil untuk menghadirkan kasih yang saling mengampuni. Dalam komunitas, kita dipanggil untuk membangun persaudaraan yang tulus. Dalam masyarakat, kita dipanggil menjadi pembawa damai dan pengharapan. Ketika kita mengampuni orang yang melukai kita, ketika kita mau mendengarkan dan memahami sesama, ketika kita berusaha menjaga persatuan di tengah perbedaan, saat itulah wajah Allah Tritunggal mulai tampak dalam kehidupan kita.
Saudara-saudariku terkasih, misteri Tritunggal memang tidak akan pernah dapat kita pahami sepenuhnya. Namun Allah tidak meminta kita untuk memahami segala sesuatu tentang diri-Nya. Ia mengundang kita untuk tinggal dalam kasih-Nya. Setiap kali kita membuat tanda salib, hendaknya kita mengingat bahwa kita sedang menyebut nama Allah yang mengasihi kita tanpa batas, Allah yang menyelamatkan kita melalui Putra-Nya, dan Allah yang terus menyertai kita melalui Roh Kudus-Nya. Semoga semakin kita mengenal kasih Allah Tritunggal, semakin pula hidup kita menjadi cermin kasih itu bagi dunia. Dengan demikian, orang-orang yang berjumpa dengan kita dapat merasakan sedikit pantulan keindahan kasih Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang hidup dan berkarya di tengah umat-Nya. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Translate »