Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Sabtu Pekan Biasa XXVI

Sabtu Pekan Biasa XXVI

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
3 Oktober 2026
Ayb 42: 1-17 + Mzm 119 + Luk 10: 17-24
 
 
Lectio
Pada waktu itu setelah menjalankan tugas perutusanNya ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.”
 
Meditatio
Para murid bergembira, karena tugas pertusan yang diemban dapat berhasil dengan sukses. ‘Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu’, seru mereka. Mereka akhirnya dapat bertahan hidup di tengah-tengah kawanan singa yang mengaum-aum mencari mangsanya. Mereka, yang bagaikan seekor anak domba di tengah-tengah kawanan serigala dapat pulang dengan selamat. Mereka pun sempat menyembuhkan banyak orang dan mengusir kegelapan.
‘Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga’, tegas Yesus. Mereka hendaknya tidak hanya bangga karena mempunyai anugerah-anugerah yang telah diberikan sang Guru sendiri, tetapi hendaknya mereka bangga, karena nama mereka terdaftar di surga. Sebab bukankah mereka kaum berdosa juga menerima pelbagai anugerahNya? Bukankah Allah memberikan hujan bukan hanya kepada orang-orang yang baik?  Apakah maksudnya terdaftar di surga nama mereka? Terdaftar sebagai apa? Sebagai murid-muridNya? Sebagai saudara-saudaraNya? Sebagai pelaksana sabdaNya? Sebagai penerima pelbagai anugerahNya?
Apakah penegasan Yesus ini mengingatkan, agar mereka yang terdaftar di surga itu selalu siap mempertanggungjawabkan nama yang mereka miliki? Kiranya Yesus tetap meminta mereka, dan tentunya kita sekarang ini yang masih dalam perjalanan hidup untuk setia mempertahankan nama indah yang kita miliki.
 
Oratio
Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu, karena telah mengangkat kami menjadi saudara dan saudariMu sendiri. Semoga kami setia menjaga keluhuran nama kami dengan melakukan segala sabda dan kehendakMu. Amin.
 
Contemplatio
‘Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga’.

Tiga syarat Pemuridan

Tiga syarat Pemuridan

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Lukas 9:57-62

Rabu 30 Sept 2026

Pw St. Hierominus Imam dan Pujangga Gereja

Hari ini Gereja memperingati St. Hieronimus. Ia menghabiskan berpuluh tahun hidupnya di sebuah gua kecil di Betlehem. Di sana ia berdoa, mempelajari Kitab Suci, serta mengajar banyak orang bagaimana melayani Tuhan. Ia juga menulis banyak surat yang mengagumkan dan bahkan juga buku-buku untuk mempertahankan iman Kristiani dari serangan kaum bidaah. Ungkapan terkenal dari St. Hieronimus, “Ignoratio Scripturarum, ignoratio Christi est”, artinya Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.

Hari ini dengan ilustrasi yang sangat bagus, Tuhan Yesus memperkenalkan tiga persyaratan bagi siapapun yang ingin mengenal dan mengikuti-Nya. Pertama, tentang serigala dan burung yang sebenarnya tidak dapat disejajarkan dengan Anak Manusia. Namun dengan ungkapan itu,  Ia mau menjelaskan bahwa untuk mengikut Yesus, orang harus bersedia mengalami seperti yang dialami Anak Manusia, yaitu tidak mendapat tempat di hati manusia, menanggung penolakan, menghadapi banyak tantangan, dan masih banyak lagi risiko yang harus ditanggung.  Kedua, biarlah orang mati menguburkan orang mati. Konteks ungkapan yang terdengar aneh ini kiranya bukan ditujukan kepada orang yang sedang berduka karena kematian ayahnya, melainkan justru ayahnya masih hidup, yang kemungkinan memiliki harta yang banyak. Dengan kata lain tenggang waktu untuk menganggapi panggilan, “Ikutlah Aku!” menjadi kabur, tidak jelas. Karenanya dengan ungkapan tersebut, Yesus mau menegaskan bahwa siapapun yang mau mengikut-Nya harus bersedia berkorban dan rela meninggalkan segala sesuatu yang terkait dengan diri sendiri, termasuk warisan orang tua dengan segala kenyamanannya. Ketiga, petani yang membajak tidak akan menoleh kebelakang, melainkan fokus ke depan. Sebab kalau orang yang sedang membajak menoleh ke belanag, memperhatikan hasilnya, maka arah sapi, kerbau atau traktor akan kacau. Hal ini menggambarkan bahwa orang yang mau mengikut Yesus harus memiliki komitmen yang kokoh, tidak berubah-ubah, konsisten, dan berkualitas.

Apakah kita mampu memenuhi syarat pemuridan yang diajukan Yesus? Ia menginginkan pengikut-Nya bermutu, berkomitmen, berintegritas. Kekuatan manusiawi kita pasti tidak mencukupi. Karenanya, marilah kita memohon kepada Tuhan agar menolong kita untuk mengenal-Nya dengan sungguh sehingga mau mengikut-Nya dengan setia sekalipun ada konsekuensi yang harus ditanggung. Untuk itu, mari kita saling menguatkan sehingga apabila ada yang jatuh dapat bangkit lagi untuk setia mengikut Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah, kabar keselamatan-Nya.

Minggu Biasa XXVIA

Minggu Biasa XXVIA


(Yeh. 18:25-28; Flp. 2:1-11; Yoh. 21:28-32)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, ada perbedaan kecil tetapi sangat menentukan dalam
hidup kita: perbedaan antara mengatakan “ya” dan sungguh-sungguh melakukannya.
Kita mudah berkata, “Ya, saya siap. Ya, saya akan berubah.” Tetapi ketika waktunya tiba,
sering kali kata-kata itu berhenti di bibir dan tidak sampai pada tindakan.
Yesus hari ini berbicara tentang dua anak yang diminta ayahnya bekerja di kebun
anggur. Anak pertama berkata “tidak”, tetapi kemudian menyesal dan pergi. Anak kedua
berkata “ya”, tetapi tidak pergi. Pertanyaannya, siapa yang melakukan kehendak
ayahnya? Jawabannya jelas, bukan yang paling indah perkataannya, melainkan yang
melakukan kehendaknya.
Di sinilah bacaan pertama dari Yehezkiel membantu kita memahami Injil. Allah tidak
mengunci manusia dalam masa lalunya. Orang yang pernah salah masih dapat berbalik
dan hidup. Masa lalu bukan penjara dan kegagalan bukan kalimat terakhir. Yang penting
ialah ke mana hati kita diarahkan hari ini. Pertobatan bukan sekadar merasa bersalah,
tetapi berani mengubah arah hidup.
Karena itu, Injil hari ini sebenarnya adalah cermin bagi kita. Jangan-jangan kita sering
berkata “ya” kepada Tuhan, tetapi belum sungguh-sungguh pergi ke “kebun anggurNya”.

Kita rajin berdoa, berbicara tentang kasih, bahkan aktif dalam Gereja, tetapi
apakah semua itu sungguh mengubah cara kita memperlakukan sesama, menjalankan
tanggung jawab, dan menggunakan hidup kita?
Bacaan kedua menunjukkan kepada kita bagaimana “ya” itu seharusnya
diwujudkan. Paulus mengajak kita memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat dalam
Kristus Yesus. Kristus tidak berhenti pada kata-kata. Ia mengosongkan diri, mengambil
rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di kayu salib. Ketaatan-Nya menjadi
pemberian diri.
Jadi, ketiga bacaan hari ini bertemu dalam satu pesan: iman harus menjadi tindakan.
Yehezkiel berbicara tentang perubahan arah; Injil tentang melakukan kehendak Bapa;
dan Filipi menunjukkan Kristus sebagai teladan ketaatan dan pemberian diri.
Saudara-saudariku terkasih, kebun anggur Tuhan ada di tempat kita hidup. Bagi
orang tua, itu keluarga; bagi guru, ruang kelas; bagi imam, umat dan pelayanan; bagi
mahasiswa, kampus, persahabatan, tugas, dan masa depan. Tuhan mungkin tidak
meminta kita melakukan sesuatu yang besar. Ia meminta kesetiaan dalam hal-hal kecil:
jujur, bertanggung jawab, mau meminta maaf, mengampuni, menolong, dan menjaga
perkataan.
Yang indah dari Injil hari ini ialah bahwa anak pertama tidak berhenti pada kata
“tidak”. Ia berubah. Maka, jika hari ini kita merasa pernah gagal, jangan berhenti di sana.
Jika doa kita mulai kering, mulailah lagi. Jika ada relasi yang rusak, beranilah berdamai.
Jika ada kesalahan yang perlu diperbaiki, lakukanlah. Tuhan tidak menutup pintu bagi
orang yang mau kembali.
Dan jangan pula kita sibuk menghakimi orang lain. Kita tidak mengetahui seluruh
perjalanan hidup seseorang. Yang saleh masih membutuhkan pertobatan, dan yang
pernah jauh dari Tuhan selalu mempunyai kesempatan untuk kembali. Pertanyaan
terpenting bukan, “Siapa yang lebih baik daripada saya?” melainkan, apa yang hari ini
Tuhan minta saya lakukan?
Saudara-saudariku terkasih, setiap kali kita merayakan Ekaristi, Tuhan kembali
berkata, “Pergilah ke kebun anggur-Ku.” Mungkin selama ini “ya” kita belum sempurna.
Tetapi hari ini Tuhan memberi kesempatan baru. Semoga kita tidak hanya pandai
berkata “ya” kepada Tuhan, tetapi berani menjadikan “ya” itu nyata dalam kehidupan.
Semoga seperti Kristus, kita belajar merendahkan diri, melayani, dan memberikan
diri. Dan semoga seperti anak pertama dalam Injil, kita tidak takut mengubah arah ketika
sadar bahwa kita sedang berjalan menjauh. Sebab iman yang hidup bukan hanya
berkata “ya”, tetapi bangun, melangkah, dan melakukan kehendak Bapa. Tuhan
memberkati kita semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa XXV

Sabtu Pekan Biasa XXV

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
26 September 2026
Pengk 12: 1-8 + Mzm 90 + Luk 9: 43-45

Lectio
Pada suatu kali ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.

Meditatio
‘Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia’. Penegasan Yesus yang amat sulit dipahami orang-orang sejamanNya, tetapi mereka pun tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. Pada akhirnya memang Yesus menyampaikannya kembali dalam aneka perumpamaan seperti para penggarap kebun anggur.
Program keselamatan, bahwasannya Anak Manusia diserahkan ke dalam tangan manusia di luar pikiran dan kebiasaan manusia pada umumnya. Anak Manusia sendiri melawan arus yang rutin dan mengalir, sehingga dikatakan oleh Pengkotbah, bahwa segala-galanya adalah kesia-siaan. Biasanya manusia diserahkan kepada Allah, sebagaimana dilambangkan dalam aneka kurban persembahan, tetapi tidaklah demikian sekarang ini, Anak Manusia malahan diserahkan ke dalam tangan manusia. Paulus menyebut Anak Manusia menjadi tebusan bagi banyak orang.
Mengikuti Yesus memang bagi seseorang berarti harus berani melawan arus.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau memang menjdi kurban pelunasa dosa bagia setiap orang, umat yang Engkau kasihi. Semoga kami menjadi orang-orang yang mau menikmati karya penyelamatanMu itu, sehingga pada akhirnya kami menikmati keselamatan bersamaMu. Amin.

Contemplatio
‘Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia’.

Mengandalkan Allah

Mengandalkan Allah

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Lukas 9:1-6

Pw St.Pius dr Pietrelcina

Ada ungkapan filosofi Jawa, “Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake” berarti berjuang menghadapi musuh tanpa mengerahkan pasukan besar, meraih kemenangan tanpa mempermalukan pihak lain. Ungkapan tersebut kiranya selaras dengan semangat perutusan yang diberikan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya.

Bekal seorang murid adalah tenaga dan kuasa Allah. Pada jaman kita, tenaga dan kuasa Allah itu adalah rahmat dan martabat Baptisan. Dengan dibaptis, kita diurapi Allah sebagai imam, nabi dan raja; dengan dibaptis kita ambil bagian dalam tri tugas Kristus dalam pengudusan [imam], pewartaan [nabi] dan penggembalaan [raja]. Kita diundang untuk menghidupi, menghayati martabat baptisan tersebut. Larangan membawa tongkat, tas, roti, uang, atau baju ganti lebih mengungkapkan seorang murid hendaknya percaya pada penyelenggaraan ilahi, sebagaimana difirmankan, “seorang pekerja patut mendapat upahnya” [Mat 10:10].

Pesan pokok perutusan para murid dari dahulu sampai sekarang adalah mewartakan damai. Kebenaran ini tampak peristiwa pemberian tenaga dan kuasa kepada para murid adalah untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Damai tercipta ketika manusia bebas dari pengaruh kuasa setan dan sakit penyakit. Sebuah penerimaan utusan mendandakan bahwa damai sudah ada di tempat itu. Sementara penolakan merupakan tanda bahwa damai belum ada di tempat itu. Karenanya mengebaskan debu dari kaki bukan tanda ancaman atau hukuman, melainkan sebagai peringatan tanggung jawab moral bagi pendengar, sekaligus mengajar murid agar tidak membawa beban atau kepahitan masa lalu. Artinya seolah-olah belum pernah sampai ke tempat tersebut, sehingga pada kesempatan lain bisa didatangi lagi. Selain itu, makna mengebaskan debu tidak menimbulkan trauma ketika menuju ke tempat pelayanan baru.

Melalui warta hari ini, Tuhan mengajak kita untuk senantiasa mengandalkan Dia dalam setiap langkah hidup kita, dalam setiap tugas yang dipercayakan kita.  Sikap dan semangat kesederhaan, kerendahan hati, dan cinta kasih akan sangat membantu mengandalkan Tuhan.

Translate »