Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

MENJADI ALAT PILIHAN TUHAN

MENJADI ALAT PILIHAN TUHAN

Rm Ignatius Adam Suncoko
Jumat 9 Mei 2025
Hari Biasa Pekan Paskah III
Kis 9:1-20; Yoh 6:52-59

Suatu kesempatan, saya melihat ada lukisan pemandangan yang indah dalam bacaan pertama hari ini, tentang panggilan Paulus. Dalam lukisan tersebut seorang seniman tidak hanya menggambarkan Tuhan Yesus yang bangkit dan berpengaruh besar terhadap Saulus sebelum menjadi Paulus. Paulus berbaring di tanah dengan tangan terangkat ke atas saat cahaya jatuh padanya. Seekor kuda besar berdiri di belakang Paulus yang tengkurap, menempati bagian tengah lukisan.

Lukisan itu menyampaikan pesan seorang sosok lelaki yang kuat, yakni Paulus tidak berdaya di hadapan Tuhan Yesus yang bangkit. Dalam kelemahannya, Paulus siap untuk diarahkan oleh Tuhan. Ketidakberdayaan dan kelemahan Paulus disampaikan dalam bacaan pertama bagaimana Paulus yang buta harus dituntun dengan tangan kasih ke kota Damaskus, kota yang dia harapkan untuk menampilkan kepercayaan diri dan wibawa. Namun, Tuhan memiliki rencana yang indah untuk sosok yang hampir tak berdaya ini.

Seperti yang Tuhan katakan kepada Ananias: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagiKu untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain, kepada raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku”. Seolah-olah Paulus harus menjadi seperti anak kecil, perlu dipimpin, sebelum Tuhan dapat bekerja melalui dia dengan kuasa yang besar.

Yesus pernah bersabda “jika kita tidak menjadi seperti anak kecil, kita tidak dapat masuk ke dalam kerajaan surge”. Terkadang, kelemahan kitalah yang memberi ruang lingkup untuk Tuhan bekerja melalui kita sepenuhnya. Ketika kita terlalu percaya diri dan terlalu yakin akan kemampuan dan kesuksesan kita sendiri, kita dapat menghalangi Tuhan bekerja dalam hidup kita dan bekerja melalui kita.

Dalam bacaan Injil, Yesus menyatakan: “Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia”. Ketika kita datang ke hadapan Tuhan dalam kelemahan kita, dalam kebutuhan kita, menyadari kelaparan rohani di dalam diri kita, kita akan tinggal di dalam Dia. Kemudian, seperti Paulus, kita juga menjadi alat pilihan Tuhan untuk membawa kehadiranNya kepada orang lain.

Maukah kita tetap setia bersatu dengan Dia? Merayakan dan menyambut Ekaristi adalah bukti nyata kita bersatu dengan Dia. Tuhan memberkati.

Cewek cantik parasnya menawan
Tetap anggun nan mempesona
Setialah jadi alat pilihan Tuhan
Meskipun diri belum sempurna.

Kamis, 08 Mei 2025

Kamis, 08 Mei 2025

Injil Yohanes 6:44-51

“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.” (Yoh 6:44)

          Satu ungkapan yang membawa setiap umat beriman menyadari arti penting dari keselamatan. Inisiatif keselamatan berasal dan berawal dari Allah sendiri. Campur tangan Allah begitu besar bagi umat beriman yang sungguh merindukan keselamatan iman dalam hidupnya. Kasih karunia Allah menjadi bentuk nyata bahwa rahmat pengampunan, belas kasih, kerahiman jauh lebih besar daripada segala macam usaha manusia mengupayakan keselamatan itu sendiri. Mengupayakan keselamatan merupakan bagian penting dari tanggapan iman untuk terus belajar mengenal siapa melalui Yesus dalam seluruh kisah hidupnya. Namun, pada akhirnya misteri keselamatan tetaplah menjadi karunia luar biasa bagi setiap orang beriman karena cara Allah dan waktu Allah tetap unik dan personal, tak seorang pun bisa menebak dan mengaturnya. Apa yang kita pandang baik dan benar bisa saja dalam rangkaian rencana Allah sebaliknya.

          Hari ini Yesus memberikan pernyataan yang lebih tegas lagi yaitu “Akulah Roti Kehidupan” (ayat 48). Yesus adalah santapan rohani yang memberikan nutrisi iman, harapan, dan kasih tak berkesudahan. Bagaimana nutrisi ini dialirkan dalam diri manusia? Yesus sungguh dalam Doa, Sabda serta Ekaristi Kudus yang dirayakan sebagai ungkapan keintiman relasi antara Allah dan manusia yang mengimaninya. Lebih dari itu, relasi yang semakin mendalam mengarahkan setiap pribadi semakin mengenal maksud dan makna sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Kita menyebutnya sebagai misteri Paskah Kristus. Maka dari itu, merenungkan pernyataan Yesus sebagai Roti Hidup tidak dapat kita lepaskan untuk menimba inspirasi dan kekuatan rohani dari peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus sendiri. Bentuk pemberian diri secara nyata demi menanggung dosa para pendosa.

          Apakah saya dan Anda yang mengaku pengikut dan murid-murid Tuhan Yesus ini sudah memperlakukan “Roti Hidup” dengan bijaksana? Inilah saatnya merenung dan berefleksi bersama. Bagaimana kita menempatkan dan memperlakukan hidup doa baik pribadi dan bersama, Sabda Allah serta Ekaristi Kudus dalam keseharian hidup kita ini? Cara kita memperlakukan kebiasaan olah rohani yang sederhana ini tentunya menjadi gambaran konkret bagaimana kita memperlakukan Yesus sebagai makanan rohani yang memberikan kehidupan kekal. Hidup kekal bukan saja dimaknai sebagai hidup setelah peziarahan di dunia ini berakhir, melainkan hidup kekal yang dimaknai sebagai peziarahan di dunia yang selalu mengandalkan Allah dan dalam penyertaan Allah. Marilah saudara dan saudariku yang dikasihi dan mengasihi Kristus, Yesus Kristus tidak hanya membuat kita kenyang secara rohani, tetapi membawa kita untuk berkarya dan bersaksi akan kebenaran iman kepada semakin banyak orang setelah kita dikenyangkan oleh berkat dan rahmat Allah sendiri.

(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)

RENUNGAN: TGL. 6 MEI 2025

RENUNGAN: TGL. 6 MEI 2025

Rm Ignasius Joko Purnomo

        Yohanes 6:30-35

  1. Saudara-saudari terkasih. Kita tahu bahwa makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, karena makanan menyediakan energi dan zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi vital seperti bernapas, bergerak, berpikir, dan menjaga sistem imun. Tanpa makanan, tubuh tidak dapat bertahan hidup dalam waktu cukup lama atau tidak dapat berkembang secara optimal. Makanan bukan hanya soal mengisi perut, tetapi juga soal menjaga hidup dan kesehatan secara menyeluruh.
  • Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa ketika Yesus berada di rumah ibadat di Kapernaum, orang banyak meminta tanda dari Yesus agar mereka percaya kepada-Nya. Mereka membandingkan Yesus dengan Musa yang telah memberi nenek moyang mereka manna di padang gurun. Terhadap permintaan dan pernyataan  mereka itu, Yesus menjelaskan bahwa bukan Musa yang memberikan roti dari surga, melainkan Bapa di surga yang memberikan roti sejati yang memberi hidup kepada dunia. Rupanya pernyataan Yesus tersebut membuat mereka penasaran, sehingga mereka berkata: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Yesus kemudian menyatakan bahwa Dialah roti hidup: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh 6:35). Dengan pernyataan-Nya ini Yesus mengundang mereka untuk melihat lebih dalam, untuk memahami bahwa hanya dalam diri-Nya ada kepenuhan hidup. Yesus-lah sumber kehidupan sejati. Manna di padang gurun memang memberi makan tubuh, tetapi Roti Hidup, yaitu Yesus sendiri, memberi kehidupan kekal.
  • Saudara-saudari terkasih. Seperti orang-orang pada zaman Yesus yang larut dalam pencarian dan pemenuhan kebutuhan jasmani, mungkin demikian juga kita. Tidak jarang tanpa kita sadari kita menghabiskan seluruh waktu hidup kita – pikiran dan tenaga kita – untuk usaha pemenuhan kebutuhan jasmani kita. Kita terjebak hanya berfokus pada kebutuhan jasmani; lupa bahwa yang paling penting adalah kebutuhan rohani kita. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sungguh mengandalkan Yesus sebagai sumber kehidupan kita? Apakah kita mendekat kepada-Nya dalam doa, dalam sabda-Nya, dan terutama dalam Ekaristi?
  • Dalam setiap Perayaan Ekaristi, kita menerima Yesus sebagai Roti Hidup. Ia memberikan diri-Nya bagi kita dalam Sakramen Mahakudus agar kita dikuatkan, dihidupkan, dan disatukan dengan-Nya. Oleh karena itu, marilah kita memperbaharui iman kita kepada Yesus, percaya bahwa hanya dalam Dia kita memperoleh kepenuhan hidup dan kebahagiaan sejati. Seperti manna yang menopang bangsa Israel di padang gurun, Yesus menjadi kekuatan kita dalam perjalanan menuju tanah air surgawi.

“Tuhan Yesus, Engkaulah Roti Hidup yang turun dari surga. Penuhilah kami dengan rahmat-Mu, agar kami selalu bersatu dengan-Mu dalam Ekaristi Kudus. Amin.”

============================================================

MUKJIZAT PERGANDAAN

MUKJIZAT PERGANDAAN

Jumat, 02 Mei 2025

Yohanes 6:1-15

Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm

Mukjizat 5 roti dan 2 ikan sedemikian terkenal. Mari kita mencoba menaknainya:

(1) Makna Pergandaan

Mukjizat pergandaan bermula dari yang ada lantas dilipatgandakan. Bukan dari sesuatu yang kosong (nol). Sebagaimana seorang anak kecil yang menyerahkan 5 roti dan 2 ikan miliknya, demikian Allah melimpahkan dari yang kita serahkan dengan sukarela.

(2) Makna Ekaristi

Penyerahan selalu berkaitan dengan iman. Allah telah memberi bukti cinta sampai mengorban diri-Nya sebagai santapan bagi kehidupan kita. Maka, pergandaan 5 roti dan 2 ikan juga bisa melambangkan Ekaristi. Persoalannya, apakah setelah menerima roti Ekaristi, kita juga berani menyerahkan hidup kita kepada Allah demi kebaikan sesama sebagaimana yang dilakukan Yesus sendiri?

(3) Makna Potongan Sisa

Potongan sisa tidak dibuang, tetapi dikumpulkan menjadi 12 bakul penuh. Barangkali hal ini adalah lambang bangsa Israel yang terbuang, tetapi berharga di mata Allah. Dengan demikian, bukankah kita juga orang buangan karena dosa, tetapi dipikirkan oleh Allah dan dilimpahi oleh-Nya dengan aneka anugerah? Semoga pergandaan 5 roti dan 2 ikan menjadikan kita bahagia, karena kita dilimpahi anugerah dan dicintai oleh Allah.

RENUNGAN 1 MEI 2025

RENUNGAN 1 MEI 2025

Kis 5:27-33; Yoh 3:31-36 Santo Yosef pekerja

Hari ini kita berada pada masa Paskah dan hari pertama bulan Mei yang dipersembahkan kepada Bunda Maria sebagai Bulan Maria. Gereja Katolik masih dalam suasana dukacita karena Paus Fransiskus istirahat di keabadian dalam kasih bersama Allah dan para kudus. Hari ini pula kita bersyukur atas teladan hidup Santo Yosef pelindung setiap orang yang bekerja.  

Berita Paskah adalah sukacita dan keberanian para murid menceritakan pengalaman hidup dan pengalaman iman tentang Yesus Kristus yang bangkit. Pribadi Yesus yang mereka alami secara langsung pada saat hidup bersama lewat kata-kata dan perbuatan-Nya. Kata-kata dan perbuatan Yesus baru terasa berdaya guna oleh para murid, setelah peristiwa kematian dan kebangkitan-Nya. Peristiwa kebangkitan menjadi titik tolak semangat baru bagi para murid untuk memberikan kesaksian kepada banyak orang Yahudi, hingga akhirnya meluas sampai ke Asia dan Eropa.  

Petrus dan para rasul tidak gentar di hadapan Mahkamah Agama, ketika mereka diminta oleh Imam Besar untuk berhenti berbicara tentang Yesus. “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia.” Itulah ungkapan kesaksian Petrus dan teman-temannya. Tidak ada ketakutan dalam diri Petrus dan teman-teman. Sebuah keberanian berkata-kata yang lahir dari pengalaman iman dan pengalaman hidup bersama Yesus.

Kita membutuhkan sikap berani seperti pada awal mula pewartaan kebangkitan Yesus. Tentu saja pada masa itu, pewartaan Yesus yang bangkit mengubah cara pikir dan tatanan hidup yang sudah terbentuk. Kehidupan yang mapan agak terganggu dengan semangat berkobar-kobar yang dibawa oleh Petus dan teman.

Rasul Petrus dan teman-temannya mendapat kekuatan dari mana? Yesus yang bangkit dan mencurahkan Roh Kudus bagi mereka itulah yang membuat berani. Berani keluar dari ketakutan dan putus asa, keluar dari zona nyaman dan mapan. Cara berpikir dan cara hidup para rasul pun berubah.

Dalam bacaan Injil hari ini kita merenungkan kesaksian Yohanes tentang pribadi Yesus, yang dapat semakin menambah iman dan kepercayaan kita akan Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup.

Yesus datang dari sorga adalah Anak Tunggal Bapa yang menjadi manusia demi keselamatan manusia. Ia bangkit dan kembali ke sorga sambil membawa orang-orang yang percaya kepada-Nya. Yesus menggenapi janji keselamatan Allah Bapa. Yesus telah memberikan kesaksian tentang diri-Nya kepada para rasul yang setia. Para rasul yang setia boleh mengalami rahmat Roh Kudus yang berkelimpahan atas hidupnya.

Dunia membutuhkan kesaksian yang mendukung peradaban hidup, bukannya peradaban kematian. Dunia kita membutuhkan ornag-orang yang memberitakan perdamaian bukannya perang, saling bekerjasama bukannya berkompetisi untuk menjatuhkan. Kita adalah pribadi yang telah ditebus, merdeka dan bebas dari kuasa kejahatan dan dosa. Selayaknya kita ikut memberikan kesaksian tentang kehidupan baru bersama Yesus yang bangkit.

Marilah bersama Bunda Maria, kita tekun berdoa menantikan datangnya Roh Kudus pada hari Pentakosta. Bersama Bunda Maria, kita menjadi saksi kebangkitan dan kehidupan. Bersama Bunda Maria, kita berdoa agar para Kardinal dapat memilih Paus pengganti Rasul Petrus untuk mendampingi peziarahan iman umat Katolik di dunia ini sampai kepada Allah. Tuhan Yesus memberkati pergumulan Saudara Saudari dalam iman, harapan dan kasih. Semoga Santo Yosef mendoakan kita dari surga mulia (rm. Medyanto, o.carm)

Translate »