Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Malam Paskah

Malam Paskah


(Kej. 1:1-2:2; Kej. 22:1-18; Mat 28:1-10)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, malam ini kita memasuki malam yang paling suci, malam yang hening namun penuh makna, yakni Vigili Paskah. Malam di mana Gereja berjaga, menantikan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, tetapi diyakini oleh iman: kebangkitan Tuhan. Kata vigili sendiri berarti berjaga-jaga, menanti dengan setia dalam harapan. Maka malam ini bukan sekadar perayaan, melainkan perjalanan batin, dari gelap menuju terang, dari keheningan menuju sukacita, dari kematian menuju kehidupan.
Liturgi malam ini dimulai dalam kegelapan. Gereja sengaja memadamkan cahaya, seolah-olah mengajak kita masuk ke dalam realitas hidup manusia yang sering kali diliputi bayang-bayang ketakutan, kegelisahan, kekecewaan, luka batin, bahkan kehilangan harapan. Kegelapan itu bukan sekadar simbol, tetapi cermin dari pengalaman hidup kita sendiri. Ada saat-saat di mana kita merasa berjalan tanpa arah, di mana doa terasa hampa, di mana Tuhan seolah jauh dan diam. Itulah malam-malam batin yang kita alami.
Di tengah kegelapan itu, lilin Paskah dinyalakan. Cahaya kecil yang perlahan menyala, lalu dibagikan dari satu orang ke orang lain, hingga seluruh gereja dipenuhi terang. Betapa indahnya simbol ini. Terang tidak datang sekaligus memenuhi segalanya, tetapi tumbuh perlahan, menjalar dari hati ke hati. Inilah cara Allah bekerja: tidak memaksa, tetapi menyapa dengan lembut, menerangi sedikit demi sedikit, sampai akhirnya kita melihat dengan jelas. Dan ketika terang itu memenuhi seluruh ruang, kita menyadari satu kebenaran besar, yaitu kegelapan tidak pernah mampu mengalahkan terang.
Saudara-saudariku terkasih, Injil malam ini mengisahkan dua perempuan yang datang ke makam Yesus dengan hati yang masih diliputi duka. Mereka berjalan dalam kesedihan, membawa kenangan akan Guru yang mereka kasihi. Namun, yang mereka temukan bukanlah kematian, melainkan kehidupan. Malaikat berkata kepada mereka: “Jangan takut! Ia tidak ada di sini. Ia telah bangkit.” Kata-kata ini sederhana, tetapi mengguncangkan seluruh hidup mereka. Dari hati yang hancur, mereka dipulihkan. Dari langkah yang berat, mereka berlari penuh sukacita. Dari kehilangan, mereka menemukan harapan.
Perjalanan kedua perempuan itu adalah gambaran perjalanan iman kita. Kita pun sering datang kepada Tuhan dengan membawa luka, membawa kesedihan, membawa beban hidup. Tetapi peristiwa Paskah ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak tinggal di dalam kubur. Ia bangkit, dan kebangkitan-Nya mengubah segalanya. Kematian bukan akhir. Kegelapan bukan tujuan. Keputusasaan bukan jawaban terakhir, sebab selalu ada fajar setelah malam, selalu ada terang setelah gelap.
Kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa yang terjadi dua ribu tahun lalu. Kebangkitan itu adalah kenyataan yang terus berlangsung dalam hidup kita hari ini. Setiap kali kita berani bangkit dari kejatuhan, di situ Paskah terjadi. Setiap kali kita memilih mengampuni daripada membalas, di situ Paskah hidup. Setiap kali kita menyalakan kembali harapan di tengah keputusasaan, di situ Kristus yang bangkit hadir.
Saudara-saudariku terkasih, mungkin ada di antara kita yang saat ini sedang berada dalam “kubur” hidupnya sendiri: kubur kekecewaan, kubur luka hati, kubur kegagalan, kubur relasi yang retak, atau kubur iman yang mulai redup. Malam ini, Tuhan datang dan berkata kepada kita, “Jangan takut… Aku telah bangkit.” Ia mengundang kita untuk keluar dari kubur itu, untuk melangkah kembali ke dalam hidup dengan hati yang baru.
Paskah juga menggerakkan kita untuk tidak tinggal diam. Seperti kedua perempuan itu yang berlari untuk mewartakan kabar sukacita, kita pun diutus untuk membawa terang itu kepada dunia. Kita dipanggil untuk menjadi pembawa harapan, di dalam keluarga, di komunitas, di tempat kerja, di tengah masyarakat. Dunia ini haus akan terang, haus akan kasih, haus akan harapan. Dan melalui hidup kita, Kristus ingin terus menyatakan kebangkitan-Nya.
Malam ini, ketika kita melihat cahaya lilin yang menyala, marilah kita menyadari bahwa terang itu bukan hanya ada di luar kita, tetapi juga di dalam hati kita. Kristus yang bangkit tinggal dalam diri kita. Ia menguatkan, menyembuhkan, dan membimbing kita. Ia berjalan bersama kita, bahkan ketika jalan hidup terasa berat. Ia tidak pernah meninggalkan kita.
Akhirnya, Saudara-saudariku terkasih, Vigili Paskah mengingatkan kita satu hal yang sangat indah: bahwa pengharapan tidak pernah mati. Selama Kristus bangkit, selalu ada alasan untuk berharap. Selalu ada kemungkinan baru. Selalu ada masa depan yang terbuka. Maka, marilah kita melangkah keluar dari malam ini dengan hati yang diperbarui, hati yang penuh iman, penuh harapan, dan penuh kasih. Dan semoga, di setiap lorong hidup kita yang gelap, kita selalu percaya: di ujungnya, ada terang yang menanti, yakni Terang Kristus yang bangkit, yang tidak pernah padam. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Hari Jumat Agung

Hari Jumat Agung


(Yes. 52:13-53:12; Ibr. 4:14-16, 5:7-9, Yoh. 18:1-:19:42)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, dalam keheningan yang mendalam pada Hari Jumat Agung ini, Gereja mengundang kita untuk berhenti sejenak dari segala kesibukan hidup, untuk menatap Salib. Di sana, bukan hanya ada kisah penderitaan, melainkan misteri cinta yang paling dalam. Sejak Kamis Putih hingga kini, kita dibawa masuk ke dalam satu rangkaian peristiwa yang bukan sekadar kenangan, tetapi peristiwa keselamatan yang terus hidup dan menyapa kita. Hari ini, kita tidak hanya “mengingat” sengsara Tuhan, tetapi kita diajak untuk masuk, tinggal, dan merenungkan kasih yang tuntas, kasih yang tidak setengah-setengah, kasih yang diberikan sampai akhir.
Dalam kisah sengsara yang kita dengarkan, kita mendengar seruan yang mengguncangkan hati, “Ya Allah-Ku, ya Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Seruan ini bukan tanda keputusasaan, melainkan ungkapan terdalam dari kemanusiaan Yesus yang sungguh mengambil bagian dalam penderitaan kita. Ia tidak berdiri jauh dari luka manusia, tetapi masuk ke dalamnya. Ia merasakan apa yang sering kita rasakan: kesepian, ditinggalkan, tidak dimengerti, bahkan seolah-olah Allah pun jauh. Dalam seruan itu, Yesus merangkul semua jeritan manusia sepanjang zaman: jeritan orang sakit, orang miskin, orang yang kehilangan harapan, dan mungkin juga jeritan kita sendiri yang selama ini kita simpan dalam diam.
Namun, justru di dalam kegelapan itulah, terang kasih Allah bersinar paling kuat. Yesus tidak berhenti pada rasa ditinggalkan itu. Ia tetap melangkah dalam ketaatan yang total kepada kehendak Bapa. Seperti yang diwartakan dalam surat kepada orang Ibrani, Ia “taat sampai mati”, dan melalui ketaatan itulah Ia menjadi sumber keselamatan bagi kita semua. Di kayu salib, Yesus tidak hanya menderita; Ia mempersembahkan diri-Nya. Ia tidak sekadar menjadi korban, tetapi Ia menyerahkan hidup-Nya dengan bebas. Salib bukan tanda kekalahan, melainkan puncak ketaatan dan cinta yang sempurna.
Saudara-saudari, ketika kita merenungkan sengsara Tuhan, kita mungkin bertanya dalam hati: untuk siapa semua ini? Siapa yang layak menerima kasih sebesar ini? Dan dalam keheningan doa, kita perlahan menyadari: semuanya ini dilakukan untuk kita. Untuk setiap pribadi, tanpa kecuali. Untuk luka-luka kita yang tersembunyi, untuk dosa-dosa kita yang mungkin kita sesali, untuk kerapuhan kita yang sering kita sembunyikan. Yesus mengenal kita, dan tetap memilih untuk mengasihi kita sampai tuntas. Ia tidak menunggu kita menjadi sempurna, tetapi justru datang ketika kita lemah.
Dari salib, kita belajar bahwa Allah tidak menjauh dari penderitaan manusia. Ia justru hadir di tengahnya. Ia tidak menghapus penderitaan secara instan, tetapi Ia memberi makna baru di dalamnya. Penderitaan tidak lagi menjadi jalan buntu, tetapi menjadi jalan menuju kehidupan, jika kita menjalaninya bersama Dia. Maka ketika kita
memanggul salib hidup kita, (entah itu sakit, kegagalan, pergumulan keluarga, atau pergulatan batin), kita tidak berjalan sendirian. Kristus telah lebih dahulu berjalan di jalan itu, dan Ia berjalan bersama kita.
Hari ini, Salib juga menjadi cermin bagi hidup kita. Kita diajak tidak hanya untuk mengagumi kasih Kristus, tetapi juga untuk menghidupinya. Kita dipanggil untuk belajar taat seperti Dia, taat dalam hal-hal kecil, taat dalam kesetiaan sehari-hari, taat dalam mengampuni ketika hati kita terluka, taat dalam tetap berbuat baik ketika kita tidak dihargai. Ketaatan Kristus bukanlah ketaatan yang kaku, tetapi ketaatan yang lahir dari cinta. Dan hanya cinta yang mampu bertahan sampai akhir.
Lebih dari itu, peristiwa salib memanggil kita untuk menjadi pribadi yang solider. Di dunia ini masih banyak orang yang “tersalib”: mereka yang menderita dalam diam, yang merasa ditinggalkan, yang kehilangan martabatnya. Di wajah mereka, kita melihat wajah Kristus sendiri. Maka ketika kita hadir bagi mereka, dengan menguatkan, menemani, mendengarkan, dan mengasihi, kita sesungguhnya sedang menyentuh tubuh Kristus yang tersalib. Kasih yang kita renungkan hari ini tidak boleh berhenti sebagai perasaan haru, tetapi harus menjelma menjadi tindakan nyata.
Saudara-saudariku terkasih, pada akhirnya, misteri yang kita rayakan pada Jumat Agung ini mengingatkan kita bahwa kasih Allah adalah kasih yang tuntas, kasih yang tidak berhenti di tengah jalan, kasih yang tetap setia meskipun harus melalui penderitaan, kasih yang taat sampai akhir. Dari salib, Yesus tidak berkata banyak, tetapi Ia memberikan segalanya. Dan dalam keheningan itu, kita diajak untuk menjawab: apakah kita mau membuka hati, menerima kasih itu, dan menghidupinya dalam keseharian kita?
Mari kita memandang Salib dengan hati yang hening. Di sana, kita tidak hanya melihat penderitaan, tetapi kita menemukan cinta yang menyelamatkan. Dan semoga, dari permenungan ini, kita pulang dengan hati yang lebih lembut, iman yang lebih teguh, dan kasih yang lebih nyata, kasih yang siap kita bagikan kepada siapa pun yang kita jumpai dalam hidup kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Kamis Putih

Kamis Putih


(Kel. 12:1-8.11-14; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-15)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, malam ini kita diajak masuk ke dalam sebuah suasana yang hening, dekat, dan penuh makna yakni Perjamuan Malam Terakhir. Kita dapat membayangkan sebuah ruang sederhana di mana Yesus duduk bersama para murid-Nya. Mereka mungkin tidak sepenuhnya mengerti apa yang akan terjadi, tetapi Yesus tahu bahwa salib sudah semakin dekat. Justru dalam kesadaran akan penderitaan yang akan datang itulah, Yesus memilih untuk mengasihi sampai tuntas. Ia tidak menunjukkan kasih dengan cara yang megah atau penuh kuasa, melainkan melalui tindakan yang sederhana namun sangat dalam maknanya: membasuh kaki para murid-Nya.
Dalam budaya saat itu, membasuh kaki adalah tugas seorang hamba yang paling rendah. Namun Yesus, Sang Guru dan Tuhan, justru berlutut di hadapan murid-murid-Nya, menyentuh kaki mereka yang berdebu dan kotor, lalu membasuhnya dengan penuh kelembutan. Di sini kita melihat wajah Allah yang sesungguhnya, yakni bukan Allah yang jauh dan tak terjangkau, tetapi Allah yang mendekat, yang merendahkan diri, dan yang tidak takut menyentuh kerapuhan manusia. Tindakan ini menjadi pewahyuan bahwa kasih sejati selalu bersedia turun, bukan meninggi.
Sesudah itu Yesus bertanya, “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?” Pertanyaan ini tidak hanya ditujukan kepada para murid pada waktu itu, tetapi juga kepada kita saat ini. Apakah kita sungguh mengerti makna kasih yang diajarkan oleh Yesus? Sering kali kita berbicara tentang kasih, tetapi tidak selalu mudah untuk menjalaninya. Kita mudah mengatakan “saya mengasihi”, tetapi sulit untuk merendahkan diri, untuk mengalah, atau untuk melayani tanpa mengharapkan balasan. Kasih yang diajarkan Yesus bukanlah kasih yang berhenti pada kata-kata, melainkan kasih yang nyata, yang memberi diri, yang bekerja dalam diam tanpa mencari pengakuan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya sering menemukan bentuk kasih seperti ini. Seorang ibu yang bangun pagi setiap hari untuk menyiapkan kebutuhan keluarganya, bekerja tanpa banyak pujian, bahkan sering kali tanpa disadari pengorbanannya, adalah gambaran nyata dari kasih yang melayani. Ia tetap setia melakukan semuanya bukan karena kewajiban semata, tetapi karena cinta. Di situlah kita belajar bahwa “membasuh kaki” bukanlah sesuatu yang besar dan spektakuler, melainkan kesetiaan dalam hal-hal kecil yang dilakukan dengan kasih yang besar. Seperti yang diingatkan oleh Mother Teresa, “Tuhan tidak menuntut kita melakukan hal-hal besar, tetapi mengerjakan hal-hal kecil dengan cinta yang besar”.
Yesus tidak hanya memberi teladan, tetapi juga perintah, “Kamu harus saling membasuh kaki.” Artinya, iman kita tidak boleh berhenti pada perayaan liturgi, tetapi harus menjelma dalam kehidupan konkret. Membasuh kaki pada masa kini dapat berarti mengampuni orang yang melukai kita, bersabar terhadap mereka yang sulit, membantu tanpa diminta, mendengarkan tanpa menghakimi, atau hadir bagi mereka yang kesepian. Hal-hal ini mungkin tampak kecil, tetapi justru di situlah kasih Kristiani menjadi nyata. Yang sering kali paling sulit bukanlah melakukan hal besar, melainkan kerendahan hati untuk melakukan hal kecil dengan tulus.
Dalam Perjamuan Malam Terakhir itu pula, Yesus memberikan Ekaristi. Ia memberikan diri-Nya sepenuhnya dalam rupa Tubuh dan Darah-Nya. Ini bukan sekadar simbol, melainkan ungkapan kasih yang total, kasih yang tidak setengah-setengah. Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita tidak hanya mengenang peristiwa itu, tetapi kita sungguh mengambil bagian di dalamnya. Kita menerima kasih itu dan dipersatukan dengan-Nya. Namun Ekaristi tidak boleh berhenti di dalam gereja. Ekaristi harus menjadi hidup kita. Setelah menerima Tubuh Kristus, kita dipanggil untuk menjadi tubuh Kristus bagi sesama; setelah menerima kasih-Nya, kita diutus untuk membagikan kasih itu dalam kehidupan sehari-hari.
Maka pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: apakah Ekaristi yang kita terima sungguh mengubah cara kita hidup? Apakah kita semakin rendah hati, semakin peka, dan semakin siap melayani? Peristiwa malam ini mengingatkan kita bahwa kasih sejati selalu bersedia berlutut, selalu siap merendahkan diri demi kebaikan orang lain. Karena itu, marilah kita membangun tekad yang sederhana namun mendalam, yaitu: menjadi pribadi yang berani mengasihi dengan cara Yesus. Mungkin tidak mudah, mungkin tidak selalu dihargai, tetapi justru di situlah kita sungguh menjadi murid-Nya.
Semoga kita semakin setia untuk “membasuh kaki” sesama dalam kehidupan sehari-hari, semakin rendah hati dalam melayani, dan semakin menjadikan Ekaristi sebagai sumber kekuatan dalam perjalanan iman kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin

RENUNGAN: 31 MARET 2026

RENUNGAN: 31 MARET 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Yohanes 13:21-33.36-38

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Kita sudah memasuki Pekan Suci – masa yang sangat istimewa, di mana Gereja mengajak kita bukan hanya mengenang, tetapi masuk ke dalam misteri kasih Kristus. Injil hari ini membawa kita ke Perjamuan Terakhir. Suasana yang penuh keintiman, tetapi juga ketegangan. Di sana ada Yesus… ada para murid… dan ada dua tokoh yang sangat dekat dengan kita: Yudas dan Petrus. Hari ini, Sabda Tuhan tidak mengajak kita menghakimi mereka, tetapi bercermin. Karena kisah ini adalah kisah kita juga.

Saudara-saudari,

Dalam diri Yudas, kita melihat kemungkinan pengkhianatan. Ia bukan orang luar. Ia murid, ia dekat dengan Yesus. Namun ia memilih jalan yang menjauh. Bukankah ini juga bisa terjadi dalam hidup kita? Kita berdoa, kita datang ke Gereja, kita mengenal Tuhan. Tetapi dalam keputusan sehari-hari, kita bisa saja perlahan menjauh. Pengkhianatan itu sering kali tidak besar dan mencolok, tetapi halus – dalam kompromi kecil, dalam ketidakjujuran, dalam sikap hati. Maka Pekan Suci ini mengundang kita bertanya: Apakah ada bagian hidupku yang mulai menjauh dari Tuhan?

Namun Injil tidak berhenti pada Yudas. Ada juga Petrus. Ia adalah seorang yang penuh semangat. Ia berkata: “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Tetapi Yesus tahu bahwa ia akan menyangkal. Di sini kita juga dapat melihat diri kita. Kita mempunyai niat baik. Kita ingin setia. Tetapi kita juga lemah. Kita jatuh. Dan di sinilah refleksi dari Santo Agustinus menjadi sangat dalam. Ia mengatakan bahwa Petrus jatuh karena ia terlalu percaya pada dirinya sendiri, tetapi ia bangkit dan menangis di hadapan Tuhan. Sering kali akar kejatuhan kita adalah rasa percaya diri rohani – merasa kita kuat, kita mampu sendiri. Tetapi justru ketika kita jatuh dan menyadari kelemahan kita, di situlah rahmat mulai bekerja. Air mata pertobatan Petrus menjadi jalan kembalinya kepada Tuhan. Lalu bagaimana dengan Yudas? Santo Yohanes Krisostomus memberi peringatan yang sangat tajam. Ia mengatakan bahwa Yudas tidak binasa karena ia mengkhianati Kristus, tetapi karena ia tidak percaya bahwa ia masih bisa diampuni. Ini sangat penting. Masalah terbesar Yudas bukan hanya dosanya, tetapi keputusasaannya. Ia tidak kembali. Ia tidak percaya pada belas kasih Tuhan.

Saudara-saudari terkasih,

Perbedaan antara Yudas dan Petrus bukan pada jatuhnya. Keduanya jatuh. Perbedaannya adalah: Petrus kembali, Yudas tidak. Dan ini menjadi cermin bagi kita. Ketika kita jatuh – dan  kita semua pasti pernah jatuh – yang  terpenting bukanlah seberapa besar dosa kita, tetapi apakah kita masih mau kembali kepada Tuhan. Pekan Suci adalah saat yang sangat tepat untuk jujur melihat diri. Mungkin kita menemukan diri seperti Yudas – ada bagian hidup yang kita sembunyikan. Mungkin kita lebih seperti Petrus – mempunyai niat baik, tetapi sering gagal. Apa pun itu, Tuhan tetap mengasihi. Bahkan dalam Injil tadi, Yesus masih memberikan roti kepada Yudas – tanda kasih terakhir. Itu berarti Tuhan selalu membuka pintu, bahkan sampai detik terakhir. Maka hari ini, kita diajak untuk bertanya: Siapakah aku dalam kisah ini? Apakah aku sedang menjauh, atau sedang berjuang untuk setia? Dan yang paling penting: apakah aku masih mau kembali kepada Tuhan?

Saudara-saudari,

Dalam beberapa hari ke depan, kita akan merayakan sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan. Jangan biarkan Pekan Suci ini berlalu begitu saja. Mari kita masuk dengan hati yang jujur – hati  yang mengakui dosa, hati yang menerima kelemahan, dan hati yang percaya bahwa kasih Tuhan selalu lebih besar dari kegagalan kita.

Semoga kita diberi rahmat: bukan hanya untuk mengenali diri kita dalam Yudas dan Petrus, tetapi terutama untuk menjadi seperti Petrus – yang  kembali, bertobat, dan akhirnya setia.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

“Kasih yang Harum, Hati yang Menghitung”

“Kasih yang Harum, Hati yang Menghitung”

Yohanes 12:1–11

Para Saudara yang terkasih, Injil hari ini menceritakan Yesus yang datang ke Betania, ke rumah Lazarus yang telah dibangkitkan-Nya. Di sana diadakan perjamuan untuk-Nya. Lalu Maria mengambil minyak narwastu yang sangat mahal, meminyaki kaki Yesus, dan menyekanya dengan rambutnya. Injil mengatakan bahwa seluruh rumah dipenuhi oleh harum minyak itu.

Tindakan Maria adalah ungkapan kasih yang tulus dan total. Ia memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada Yesus tanpa perhitungan. Namun tindakan ini justru dikritik oleh Yudas Iskariot. Ia berkata bahwa minyak itu seharusnya dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin.

Sekilas alasan itu tampak baik dan masuk akal. Tetapi Injil menyingkapkan bahwa Yudas berkata demikian bukan karena sungguh peduli kepada orang miskin, melainkan karena ia sering mengambil uang dari kas yang dipegangnya.

Di sini tampak dua sikap yang sangat berbeda. Maria mencintai Yesus dengan hati yang tulus dan tanpa perhitungan. Yudas justru melihat semuanya dengan logika untung-rugi dan kepentingan diri sendiri.

Yesus membela Maria dan berkata bahwa apa yang ia lakukan adalah tanda kasih yang mempersiapkan hari penguburan-Nya. Dengan kata lain, Yesus melihat lebih dalam: kasih yang tulus tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita melihat hati kita sendiri. Dalam hidup iman, kita kadang juga bisa terjebak pada sikap yang terlalu menghitung: berapa waktu yang kita berikan kepada Tuhan, berapa tenaga yang kita keluarkan untuk pelayanan, atau seberapa besar pengorbanan yang kita rasa sudah kita lakukan.

Padahal kasih sejati kepada Tuhan tidak lahir dari perhitungan, tetapi dari hati yang bersyukur.

Pertanyaan refleksi

  1. Apakah saya memberi kepada Tuhan dengan kasih yang tulus atau masih sering menghitung-hitung pengorbanan saya?
  2. Apakah dalam pelayanan dan hidup iman saya lebih terdorong oleh kasih atau oleh kepentingan pribadi?
  3. Apakah hidup saya membawa “keharuman kasih” yang menguatkan orang lain?

Doa

Tuhan Yesus,
ajarilah aku mencintai Engkau dengan hati yang tulus,
bukan dengan perhitungan yang sempit.

Semoga hidupku juga menjadi harum
karena kasih dan pengorbanan bagi-Mu dan sesamaku.

Amin.

RD Yusuf Dimas Caesario

Translate »