Hari Jumat Agung

Hari Jumat Agung


(Yes. 52:13-53:12; Ibr. 4:14-16, 5:7-9, Yoh. 18:1-:19:42)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, dalam keheningan yang mendalam pada Hari Jumat Agung ini, Gereja mengundang kita untuk berhenti sejenak dari segala kesibukan hidup, untuk menatap Salib. Di sana, bukan hanya ada kisah penderitaan, melainkan misteri cinta yang paling dalam. Sejak Kamis Putih hingga kini, kita dibawa masuk ke dalam satu rangkaian peristiwa yang bukan sekadar kenangan, tetapi peristiwa keselamatan yang terus hidup dan menyapa kita. Hari ini, kita tidak hanya “mengingat” sengsara Tuhan, tetapi kita diajak untuk masuk, tinggal, dan merenungkan kasih yang tuntas, kasih yang tidak setengah-setengah, kasih yang diberikan sampai akhir.
Dalam kisah sengsara yang kita dengarkan, kita mendengar seruan yang mengguncangkan hati, “Ya Allah-Ku, ya Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Seruan ini bukan tanda keputusasaan, melainkan ungkapan terdalam dari kemanusiaan Yesus yang sungguh mengambil bagian dalam penderitaan kita. Ia tidak berdiri jauh dari luka manusia, tetapi masuk ke dalamnya. Ia merasakan apa yang sering kita rasakan: kesepian, ditinggalkan, tidak dimengerti, bahkan seolah-olah Allah pun jauh. Dalam seruan itu, Yesus merangkul semua jeritan manusia sepanjang zaman: jeritan orang sakit, orang miskin, orang yang kehilangan harapan, dan mungkin juga jeritan kita sendiri yang selama ini kita simpan dalam diam.
Namun, justru di dalam kegelapan itulah, terang kasih Allah bersinar paling kuat. Yesus tidak berhenti pada rasa ditinggalkan itu. Ia tetap melangkah dalam ketaatan yang total kepada kehendak Bapa. Seperti yang diwartakan dalam surat kepada orang Ibrani, Ia “taat sampai mati”, dan melalui ketaatan itulah Ia menjadi sumber keselamatan bagi kita semua. Di kayu salib, Yesus tidak hanya menderita; Ia mempersembahkan diri-Nya. Ia tidak sekadar menjadi korban, tetapi Ia menyerahkan hidup-Nya dengan bebas. Salib bukan tanda kekalahan, melainkan puncak ketaatan dan cinta yang sempurna.
Saudara-saudari, ketika kita merenungkan sengsara Tuhan, kita mungkin bertanya dalam hati: untuk siapa semua ini? Siapa yang layak menerima kasih sebesar ini? Dan dalam keheningan doa, kita perlahan menyadari: semuanya ini dilakukan untuk kita. Untuk setiap pribadi, tanpa kecuali. Untuk luka-luka kita yang tersembunyi, untuk dosa-dosa kita yang mungkin kita sesali, untuk kerapuhan kita yang sering kita sembunyikan. Yesus mengenal kita, dan tetap memilih untuk mengasihi kita sampai tuntas. Ia tidak menunggu kita menjadi sempurna, tetapi justru datang ketika kita lemah.
Dari salib, kita belajar bahwa Allah tidak menjauh dari penderitaan manusia. Ia justru hadir di tengahnya. Ia tidak menghapus penderitaan secara instan, tetapi Ia memberi makna baru di dalamnya. Penderitaan tidak lagi menjadi jalan buntu, tetapi menjadi jalan menuju kehidupan, jika kita menjalaninya bersama Dia. Maka ketika kita
memanggul salib hidup kita, (entah itu sakit, kegagalan, pergumulan keluarga, atau pergulatan batin), kita tidak berjalan sendirian. Kristus telah lebih dahulu berjalan di jalan itu, dan Ia berjalan bersama kita.
Hari ini, Salib juga menjadi cermin bagi hidup kita. Kita diajak tidak hanya untuk mengagumi kasih Kristus, tetapi juga untuk menghidupinya. Kita dipanggil untuk belajar taat seperti Dia, taat dalam hal-hal kecil, taat dalam kesetiaan sehari-hari, taat dalam mengampuni ketika hati kita terluka, taat dalam tetap berbuat baik ketika kita tidak dihargai. Ketaatan Kristus bukanlah ketaatan yang kaku, tetapi ketaatan yang lahir dari cinta. Dan hanya cinta yang mampu bertahan sampai akhir.
Lebih dari itu, peristiwa salib memanggil kita untuk menjadi pribadi yang solider. Di dunia ini masih banyak orang yang “tersalib”: mereka yang menderita dalam diam, yang merasa ditinggalkan, yang kehilangan martabatnya. Di wajah mereka, kita melihat wajah Kristus sendiri. Maka ketika kita hadir bagi mereka, dengan menguatkan, menemani, mendengarkan, dan mengasihi, kita sesungguhnya sedang menyentuh tubuh Kristus yang tersalib. Kasih yang kita renungkan hari ini tidak boleh berhenti sebagai perasaan haru, tetapi harus menjelma menjadi tindakan nyata.
Saudara-saudariku terkasih, pada akhirnya, misteri yang kita rayakan pada Jumat Agung ini mengingatkan kita bahwa kasih Allah adalah kasih yang tuntas, kasih yang tidak berhenti di tengah jalan, kasih yang tetap setia meskipun harus melalui penderitaan, kasih yang taat sampai akhir. Dari salib, Yesus tidak berkata banyak, tetapi Ia memberikan segalanya. Dan dalam keheningan itu, kita diajak untuk menjawab: apakah kita mau membuka hati, menerima kasih itu, dan menghidupinya dalam keseharian kita?
Mari kita memandang Salib dengan hati yang hening. Di sana, kita tidak hanya melihat penderitaan, tetapi kita menemukan cinta yang menyelamatkan. Dan semoga, dari permenungan ini, kita pulang dengan hati yang lebih lembut, iman yang lebih teguh, dan kasih yang lebih nyata, kasih yang siap kita bagikan kepada siapa pun yang kita jumpai dalam hidup kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Comments are closed.
Translate »