Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Kolaborasi Renungan Jalan Salib

Kolaborasi Renungan Jalan Salib

Pengantar Kolaborasi Renungan Jalan Salib
oleh Romo Galih PR

Renungan Jalan Salib ini dibuat oleh para Romo dan Suster:

Romo Antonius Galih Aryanto PR, Romo FX Sulis HP OCarm , Romo Alm. AM Ardi SJ, Romo Didik Setyawan CM, Romo Samuel Nasada OFM, Romo Lusius Nimu SSCC dan Para Suster Putri Karmel serta dibantu narasi oleh Adi dan Linda.

Narasi ini dibuat terpisah2 agar bisa dinikmati serta bisa di download bila diperlukan , sebagai bahan renungan jalan salib pribadi.

Mohon doa untuk Almarhum Romo Ardi SJ yang telah berpartisipasi dalam mengisi acara kita di Lubukhati.  

Jesus di jatuhi hukuman mati
oleh Romo Galih PR
Jesus memanggul kayu salib
oleh Romo FX Sulistya HP OCarm narasi oleh Adi W
Jesus jatuh pertama kalinya
oleh Romo Lusius Nimu SSCC
Jesus bertemu dengan IbuNya
oleh Suster Putri Karmel
Jesus ditolong Simon dari Kirene
oleh Romo Alm AM Ardi SJ narasi oleh Romo Didik CM
Veronica mengusap wajah Jesus
oleh Romo Samuel Nasada OFM
Jesus jatuh kedua kalinya
oleh Romo Didik S CM
Jesus menghibur perempuan yang menangis
oleh Romo Galih PR
Jesus jatuh ketiga kalinya
oleh Romo FX Sulistya HP OCarm narasi oleh Linda Santoso
Jesus ditanggalkan pakaiannya
oleh Romo Lusius Nimu SSCC
Jesus dipaku di kayu salib
oleh Suster Putri Karmel

Jesus wafat dikayu salib
oleh Alm Romo AM Ardi SJ narasi oleh Romo Didik CM
Jesus diturunkan dari kayu salib
oleh Romo Samuel Nasada OFM
Jesus dimakamkan
oleh Romo Didik S CM
Musa

Musa

Minggu ke-3 Masa Prapaskah [C]

23 Maret 2025

Keluaran 3:1-8a, 13-15

Musa adalah salah satu tokoh terbesar dalam Perjanjian Lama. Ia memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir, menjadi perantara perjanjian Sinai, mengajarkan hukum-hukum Allah, dan bahkan melakukan mukjizat. Kehidupan dan ajarannya dicatat dalam empat kitab: Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Namun, ketika kita melihat lebih dalam ke dalam kehidupannya, kita menemukan bahwa kisahnya tidak selalu tentang kehebatan dan kesuksesan. Musa juga memiliki masa lalu yang kelam.

Musa dilahirkan sebagai suku Lewi pada saat Mesir memerintahkan pembunuhan terhadap semua bayi laki-laki Ibrani. Untuk menyelamatkannya, ibunya menyusun rencana untuk menempatkannya di dalam keranjang di Sungai Nil, di mana ia ditemukan oleh seorang putri Firaun. Putri itu menariknya dari air dan menamainya “Musa” (Kel 2:10). Meskipun lahir sebagai orang Israel, Musa diadopsi oleh sang putri dan dibesarkan sebagai bagian dari keluarga kerajaan, menikmati hak-hak istimewa yang disediakan untuk bangsawan Mesir.

Kisah Musa mungkin saja memiliki “akhir yang bahagia” seandainya ia tidak melibatkan dirinya dalam penderitaan para budak Ibrani. Dia bisa saja hidup dengan nyaman sebagai seorang pejabat Mesir, menikahi seorang wanita Mesir, membesarkan sebuah keluarga, dan menikmati masa tua yang berkelimpahan. Namun, dia tidak bisa mengabaikan ketidakadilan yang menimpa bangsanya. Dalam sebuah momen kemarahan, dia membunuh seorang Mesir yang menindas seorang Israel. Musa percaya bahwa dia telah menyembunyikan kejahatannya, tetapi dia salah. Ketika dia mencoba menengahi perselisihan antara dua orang Israel, mereka justru membongkar rahasianya, mengekspos dia sebagai seorang pembunuh. Kehidupannya yang nyaman hancur, dan dia terpaksa melarikan diri dari Mesir. Setelah ditarik dari air, Musa kini menemukan dirinya tenggelam dalam keputusasaan.

Di Midian, Musa memulai hidup baru. Dia melindungi anak perempuan seorang imam Midian dari gangguan para gembala, dan sebagai tanda terima kasih, imam itu menyambutnya dan memberikan putrinya, Zippora sebagai istri Musa. Hal ini menandai kehidupan Musa yang kedua. Meskipun tidak semewah kehidupannya di Mesir, namun kehidupan Musa di sana terasa tenang. Namun, ketika Musa berusia sekitar 80 tahun, Tuhan menampakkan diri kepadanya di semak yang menyala dan memanggilnya untuk menjadi alat-Nya dalam membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Musa sangat meragukan dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang pembunuh dan buronan yang telah mengkhianati kebaikan hati orang Mesir, dan juga tidak mempercayai rekan-rekannya sesama orang Israel. Dia juga sudah tua dan puas dengan kehidupannya di Midian.

Terlepas dari masa lalu Musa yang kelam dan penuh dosa, dan juga penuh keraguannya, Allah tetap memilihnya. Mengapa? Karena kisah Musa pada akhirnya bukanlah tentang Musa, melainkan tentang Allah, yang menebus Israel melalui seorang manusia yang tidak sempurna dan rapuh. Namun, Musa bukanlah sekadar alat. Ketika ia melakukan perjalanan bersama Tuhan, ia juga menemukan penebusannya sendiri.

Seperti Musa, kita juga jauh dari sempurna. Kita lemah dan bergumul dengan dosa dan keterikatan yang tidak teratur. Kita gagal sebagai orang tua, pasangan, anak, dan teman. Kita menyakiti orang lain dan diri kita sendiri. Kita meragukan diri kita sendiri dan sering kali merasa kurang. Namun, Tuhan tetap memilih kita. Dia ingin kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri dan mengundang kita untuk berjalan bersama-Nya untuk menemukan penebusan. Pada akhirnya, kita hanya dapat bersyukur, karena terlepas dari kehancuran dan ketidaksempurnaan kita, Tuhan menjadikan kita indah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Nilai apa yang kita temukan saat kita mengingat cerita tentang Musa?  Apakah kita memiliki kesamaan dengan Musa? Jika ya, apakah itu? Apakah kita memiliki masa lalu yang kelam seperti Musa? Apakah kita mengalami kegagalan seperti Musa? Apakah kita meragukan rencana Allah bagi kita, seperti Musa? Apa yang dapat kita pelajari dari Musa ketika ia menerima panggilan Allah? 

Renungan, 21 Maret 2025

Renungan, 21 Maret 2025

Matius 21:33-43.45-46

Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm

NYANYIAN KEBUN ANGGUR

Perumpamaan hari ini berbicara tentang cinta Allah yang besar berbanding terbalik dengan sikap manusia yang jahat. Berulangkali dan dengan berbagai cara, Allah menegur dengan sabar dan memberi kesempatan, tetapi kejahatan manusia justru menjadi-jadi. Bahkan, Putra-Nya juga menjadi kurban atas kejahatan manusia. Mengapa hal itu bisa terjadi?

  1. CARA BERPIKIR

Manusia pertama dapat digoda setan karena pikiran Hawa telah dikeruhkan. Kata-kata larangan Tuhan dianggap sebagai upaya Tuhan agar tidak disaingi. Kain membunuh Habel akibat pikirannya sudah keruh, seakan Tuhan hanya menerima persembahan Habel. Tindakan para penggarap menyiksa dan membunuh utusan disebabkan oleh cara pikir yang salah terhadap tuannya.

Pikiran itu adalah anugerah agung nan luhur. Namun, ketika pikiran tidak lurus dan menjadi keruh, maka mata dan hati menjadi gelap. Tindakan jahat pun bisa dilakukan tanpa merasa bersalah.

  • KETAMAKAN

Satu pembelajaran penting hari ini adalah manusia tidak pernah puas akan pencapaian dirinya. Pikiran dan hati ingin terus menjangkau seluruhnya secara tak terbatas. Hal tersebut dibakar oleh setan, sehingga manusia semakin haus dan lapar. Bahkan, ia ingin menjadi Tuhan, agar segala-galanya dapat dikuasai sebagai miliknya.

Demikianlah ketamakan sungguh-sungguh menggeroti diri manusia. Pada dirinya sendiri, manusia akan terus gelisah dan cemas. Terhadap Tuhan, seorang yang telah tamak akan mengabaikan suara Tuhan. Selain dipenuhi oleh keinginan memenuhi hasrat dirinya, ketamakan akan mendorong seseorang untuk tidak beriman.

  • MATIRAGA

Masa Prapaskah adalah saat mengekang kecenderungan tak teratur yang bercokol di dalam diri kita. Sebagaimana Yesus yang adalah Allah tetapi tulus ikhlas menjadi hamba yang menderita, demikianlah kita mencontoh cara Tuhan dalam melepaskan diri dari kejahatan dan ketamakan kita.

Maka, merenungkan jalan salib Tuhan menjadi sesuatu yang amat penting. Permenungan ini bukan dengan maksud mengeksploitasi perasaan, sehingga menjadi terharu dan meneteskan air mata. Lebih daripada itu, permenungan jalan salib adalah cara belajar seperti Tuhan untuk mengekang keinginan tak teratur yang menjadi kelemahan kita.

RENUNGAN 20 MARET 2025

RENUNGAN 20 MARET 2025


Yer 17:5-10; Luk 16: 19-31

Saudara saudari terkasih, kita sampai di hari ke enam belas masa Prapaskah. Ajakan pembaharuan diri, rekonsiliasi, belaskasih, kemurahan hati, pertobatan dan perdamaian sangat kuat gemanya di Tahun Yubileum Peziarah Pengharapan. Sebuah sikap yang mengantar kita pada pengosongan diri, melepaskan diri dari segala hal yang digenggam erat selama ini. Terkadang membuat kita merasa aman dan nyaman, dan kita merasa gelisah di saat lepas dari situasi itu.

Bacaan Injil hari ini diawali percakapan Bapa Abraham dengan pengemis bernama Lazarus dan seorang kaya. Lazarus seorang pengemis pada saat masih hidup di dunia ada dalam penderitaan berkepanjangan karena sakit badannya penuh luka dan kelaparan. Ia tak mampu memenuhi standar hidup yang paling dasar untuk dapat bertahan hidup. Di sisi lain ada seorang kaya yang hidup bersukaria dalam kemewahan. Ia tak berkekurangan apapun, segalanya tersedia baginya. Lazarus sering menunggu remah-remah makanan dari orang kaya tersebut, tetapi tidak pernah ia mendapatkan remah-remah roti.

Di alam maut, kehidupan berbalik keadaannya. Lazarus ada dalam pangkuan Bapa Abraham dan bersukacita. Sedangkan orang kaya itu ada dalam penderitaan. Dua sisi yang bertolak belakang sering terjadi dalam kehidupan ini. Kaya-miskin, sehat-sakit, untung-malang, suka-duka, laba-rugi, positif-negatif. Setiap orang tentu harapannya ada dalam situasi yang baik, positif, dan bahagia. Tidak ada orang yang siap sedia menanggung derita hidup.

Ketika kita ada dalam sukacita senang, ingatlah pada saat kita dalam dukacita susah. Sehingga kita tidak terlalu larut dalam euphoria. Demikian juga sebaliknya. Kehidupan silih berganti, datang dan pergi dengan berbagai suasana situasi kondisi yang dialami. Kita diajak dan diarahkan terus menerus membaharui diri, berdamai dengan keadaan dan diri sendiri, berbelaskasih dan bermurah hati terhadap sesama saudara saudari. Di saat kita ada dalam derita, kita membutuhkan orang lain untuk berdoa bagi Kesehatan, berdoa untuk pemulihan hidup yang sedang kita alami. Di saat kita ada dalam senang, kita diajak untuk berbagi kepada saudara lainnya. Tuhan menitipkan sebagian dari milik kita untuk dibagikan kepada lainya.
Seorang kaya mendapatkan hukuman setimpal bukan karena kekayaannya, melainkan karena ia tidak memiliki sikap berbagi pada saudara yang menderita, lemah, tersingkir, kecil tak berdaya. Kekayaan menutup dia semakin menutup diri, hanya memikirkan dirinya. Kemurahan hati dan belaskasih membuat orang punya sikap terbuka pada kesulitan saudaranya.

Andalan hidup kita adalah Tuhan Yesus, bukan pada harta benda. Ingatlah nubuat nabi Yeremia,”Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatan sendiri, dan yang hatinya menjaduh dari Tuhan! Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!”

Semoga Tuhan semakin mengubah diri kita dan memberkati segala niat baik di masa Prapaskah.
(rm. Medyanto, o.carm)

Renungan: Kesederhanaan yang Membebaskan

Renungan: Kesederhanaan yang Membebaskan


Romo Agung Wahyudianto O.Carm

(Refleksi berdasarkan Matius 1:16,18-21,24a Pesta santo Yoseph, 19 maret 2025)

Di paroki tempat saya bertugas di Peru, pastor paroki kami bernama Jorge Villegas, tetapi hampir semua orang memanggilnya Padre Pepe. Nama ini terasa sangat cocok untuknya, bukan hanya karena tradisi di Peru di mana banyak José atau Jorge dipanggil “Pepe”, tetapi juga karena ia benar-benar mencerminkan semangat Santo Yosef—hidup dalam kesederhanaan yang tulus. Pakaian yang ia kenakan hampir tidak pernah berubah, seolah-olah ia hanya memiliki dua atau tiga setel yang dipakai bergantian. Kemana-mana, ia lebih memilih berjalan kaki atau naik kendaraan umum daripada mencari kenyamanan dengan kendaraan pribadi. Hidupmya jauh dari kontaminasi , tiktok dan social media lain yang akhir akhir ini juga dimintai para imam. Tidak ada kemewahan dalam hidupnya, tetapi justru dalam kesederhanaannya itu, ada sesuatu yang dalam, sesuatu yang memberi ketenangan bagi siapa pun yang bertemu dengannya.

Dalam Injil hari ini, kita melihat bagaimana Santo Yosef menghadapi kenyataan yang sulit dipahami. Maria, tunangannya, mengandung oleh Roh Kudus. Dalam kebingungan dan mungkin kegelisahan, Yosef tidak bertindak dengan tergesa-gesa. Ia tidak menuntut penjelasan lebih lanjut atau mencoba mengendalikan situasi. Sebaliknya, ia diam, mendengarkan, dan akhirnya menerima. Ia tidak memerlukan kepastian absolut untuk melangkah. Dalam keterbukaannya, ia membiarkan hidup mengalir sebagaimana mestinya.

Santo Yosef, seperti Padre Pepe, menunjukkan bahwa kebebasan sejati tidak datang dari memiliki banyak pilihan, tetapi dari kesediaan untuk menerima apa yang ada tanpa menuntut lebih. Dunia modern sering mengajarkan bahwa semakin banyak yang kita miliki, semakin kita merasa aman. Tetapi sering kali, justru dalam kesederhanaan, kita menemukan sesuatu yang lebih mendalam—kedamaian yang tidak tergantung pada benda atau status, tetapi pada kesadaran bahwa kita sudah cukup.

Di Peru, setiap 19 Maret, mereka yang bernama José, Josefina, atau Pepe menerima ucapan selamat, bukan karena mereka telah melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi hanya karena mereka memiliki nama itu. Ini mengingatkan bahwa ada hal-hal dalam hidup yang tidak perlu diperjuangkan atau dibuktikan. Seperti nama yang diberikan tanpa usaha, keberhargaan kita juga tidak tergantung pada pencapaian. Santo Yosef mengajarkan bahwa hidup tidak perlu selalu dikendalikan, karena dalam keheningan dan penerimaan, ada kebebasan yang sejati.

Mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita benar-benar menjalani hidup, atau masih sibuk mempertahankan sesuatu yang tidak perlu? Seberapa sering kita merasa harus terus membuktikan diri, padahal sesungguhnya kita sudah cukup? Yosef tidak mencari pengakuan, tidak mengejar kepastian yang sempurna, tetapi justru dalam kesederhanaannya, ia menemukan bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

Seperti Padre Pepe yang menjalani hari-harinya dengan ringan, tanpa banyak beban atau kepentingan pribadi, kita pun diajak untuk berjalan dalam hidup dengan lebih sederhana. Tidak berarti kita harus memiliki sedikit barang atau membatasi diri dari kenyamanan, tetapi lebih kepada sikap batin—bersedia menerima apa adanya, tanpa terus-menerus menuntut lebih. Sebab dalam kesederhanaan itulah, kita menemukan bahwa segala yang kita cari sebenarnya sudah ada di sini.

Translate »