Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Roh Kudus dan Padang Gurun

Roh Kudus dan Padang Gurun

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [C]

9 Maret 2025

Lukas 4:1-13

Ketika kita memulai masa Prapaskah, kita sekali lagi diajak untuk merenungkan kisah Yesus yang diuji di padang gurun selama empat puluh hari. Namun, Injil Lukas memberikan detail yang menarik: Roh Kuduslah yang membawa Yesus ke padang gurun, tempat di mana Ia berpuasa dan menghadapi si jahat. Apa artinya ini?

Dengan membawa Yesus ke padang gurun selama empat puluh hari, Roh Allah bermaksud agar Yesus menghidupkan kembali peristiwa penting dalam Perjanjian Lama, yaitu perjalanan bangsa Israel di padang gurun. Seperti bangsa Israel, Yesus juga menghadapi tantangan dan kesulitan. Cuaca padang gurun yang sangat keras, dengan panas yang menyengat di siang hari dan dingin yang menusuk tulang di malam hari. Makanan dan air sangat langka, dan padang gurun merupakan rumah bagi binatang-binatang buas yang mengancam kehidupan manusia. Yesus menghidupkan kembali pengalaman bangsa Israel, yang mengalami kondisi yang sama sulitnya. Tetapi selain itu, Iblis melihat kesempatan untuk mencobai Yesus, karena ia tahu bahwa Dia sedang lapar dan lemah secara badani. Ini adalah roh jahat yang sama yang mencobai bangsa Israel di padang gurun. Lukas mengungkapkan tiga pencobaan yang dihadapi Yesus: kenikmatan jasmani (membuat roti), kekayaan duniawi (asal menyembah setan), dan kemuliaan pribadi (dengan mempertunjukkan mukjizat di tempat umum).

Bangsa Israel di padang gurun menghadapi tiga godaan yang sama. Ketika mereka lapar dan haus, mereka bersungut-sungut kepada Allah, bahkan menyalahkan-Nya karena telah membebaskan mereka dari Mesir (Kel. 16). Ketika Musa berdoa di atas gunung, orang Israel menuntut ilah baru, menggantikan Allah yang hidup dengan anak lembu emas-sesuatu yang secara materi berharga dan menarik, tetapi pada akhirnya tidak bernyawa (Kel. 32). Beberapa orang Israel, yang dipenuhi dengan kesombongan, mencari kemuliaan untuk diri mereka sendiri. Harun dan Miryam mencoba mengklaim kepemimpinan atas Musa (Bil. 12), sementara Korah dan para pengikutnya berusaha merebut posisi imam besar (Bil. 16). Dengan memasuki padang gurun dan menghidupkan kembali peristiwa ini, Yesus menjadi Israel yang baru dan sempurna. Secara fisik Dia lemah, diuji, dan dicobai, tetapi Dia tidak jatuh. Dia bahkan mengalahkan Iblis dalam peperangan rohani yang pertama ini.

Injil mengatakan bahwa Yesus dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun, di mana Dia “dicobai” oleh Iblis. Apakah ini berarti bahwa adalah kehendak Allah untuk “mencobai” Yesus? Kata Yunani yang digunakan di sini adalah “πειράζειν” (peiratsein), yang dapat diterjemahkan sebagai “menggoda”, tetapi juga “menguji”. “Menggoda” dan “menguji” ini bukan sinonim, tetapi keduanya berkaitan erat karena saat pengujian sering kali mencakup kesempatan untuk godaan. Sama seperti dalam ujian sekolah, kita mungkin merasakan godaan untuk berbuat curang.

Injil mengajarkan kita bahwa Tuhan, dalam hikmat-Nya yang tak terbatas, tidak selalu melindungi kita dari masa-masa sulit, tetapi mengizinkan kita untuk menghadapi ujian hidup. Ujian-ujian ini, seperti kelaparan, masalah keuangan, penyakit, dan relasi yang sulit, sering kali digunakan oleh roh-roh jahat untuk menggoda kita untuk mencuri, menipu, tidak setia, dan menyalahkan Tuhan. Namun, kita harus ingat bahwa Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus ketika Dia memasuki padang gurun. Satu-satunya cara untuk bertahan dalam ujian hidup dan melindungi diri kita dari godaan adalah dengan mengandalkan Roh Kudus. Ketika kita mengandalkan diri sendiri, kita pasti akan gagal, tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita akan menang, seperti Yesus.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apa saja pengalaman padang gurun kita? Ujian apa yang perlu kita hadapi dalam hidup? Godaan apa yang sering kita hadapi? Apakah kita mengandalkan Roh Kudus di masa-masa sulit ini? Bagaimana kita dapat lebih mengandalkan Tuhan? Hikmat apa yang kita peroleh setelah mengalami pencobaan?

RENUNGAN 8 MARET 2025 

RENUNGAN 8 MARET 2025 

Masa Prapaskah dimulai sejak hari Rabu Abu lalu. Masa retret agung dan kesempatan bagi kita merefleksikan diri dalam rangka relasi dengan Tuhan, semesta alam dan sesama saudara. Satu masa di mana kita diajak masuk ke dalam diri sendiri, melihat kembali pikiran dan perasaan yang tumbuh selama ini. Selaraskah pikiran dan perasaan kita dengan Tuhan? Masa Prapaskah mengantar kita pada pertobatan sejati agar siap menerima Penebusan Yesus Kristus.

Bacaan-bacaan hari ini mengantar kita pada refleksi semacam itu.  Betapa mudahnya kita menunjuk-menunjuk kekeliruan dan kesalahan orang lain. Kita menebarkan berita bohong dan fitnah tentang pribadi orang lain. Mungkin saja orang lain tidak melakukannya.   Bahkan orang lain diberi cap stempel sebagai pendosa, penjahat, penjilat, perampok dan sebagainya. Kita menghambat rahmat Tuhan bekerja melalui orang lain. Kitapun banyak melukai diri sendiri dengan sikap iri, benci dan dendam yang tak ada habisnya.

Setiap orang bisa salah dalam merencanakan dan memutuskan sesuatu. Tetapi dia tidak boleh dianggap sebagai pesakitan atau orang yang bersalah terus menerus, kecuali hukum dapat membuktikan kesalahannya.

Dalam Injil hari inipun kita mendengarkan bahwa Yesus mencari dan bertemu dengan Lewi pemungut cukai. Sebuah pekerjaan yang dianggap hina dina. Para pemungut cukai kerap mencari keuntungan untuk memperkaya dirinya sendiri dari rakyat. Betapa pedihnya ketika seseorang disingkirkan dari public. Tidak ada orang lagi yang mau percaya padanya. Ini sebuah penderitaan. Masa gelap yang dialaminya berakhir ketika Yesus menyapa dan berkata,”Ikutlah Aku.” Satu kalimat singkat yang menguhkan harapan masa depannya. Ada orang lain yang mau menyapa dan menjadikan Lewi bagian dari para murid Yesus. Kiranya ini sebuah keajaiban dan mukjizat dalam diri Lewi pemungut cukai.  Yesus datang, menyapa dan mengajaknya tinggal bersama, bergabung bersama komunitas para murid.

Bagi Yesus orang yang tersingkirkan, termarginalkan dan diabaikan seperti Lewi perlu disapa dan diyakinkan dengan hidupnya. Orang yang mungkin dianggap hina dan terkutuk karena perbuatannya, akhirnya dipulihkan oleh Yesus. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” Kalimat itulah yang dikatakan oleh Yesus kepada ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka bersungut-sungut kepada Yesus karena mau datang makan minum bersama pendosa. Orang sakit, orang berdosa perlu dipulihkan hidupnya agar mereka sehat dan sembuh dari beban fisik, beban mental dan rohani.

Setiap orang membutuhkan sapaan, agar dapat bangun dan berdiri tegak kembali dari keterpurukannya. Setiap orang pernah terjatuh dan tersungkur! Tidak jarang banyak kawan pergi meninggalkannya. Justru pada saat itulah dia sesungguhnya membutuhkan uluran tangan dari kawan dan sahabatnya. Yesus menunjukkan kepada kita arti yang sesungguhnya sebagai sahabat dan saudara pada orang yang terjatuh.

Mari kita membebaskan dan membaharui diri pada Masa Prapaskah ini. Bebaskan diri kita dari sikap menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain dan dari sikap memfitnah orang lain dari sesuatu yang tidak mereka lakukan. Dan pada akhirnya berani memulihkan semangat hidup dari saudara yang sedang menderita dan tersungkur. Tuhan Yesus memberkati setiap perjuangan kita untuk membaharui diri.

(rm. Medyanto, o.carm)

Renungan, 07 Maret 2025

Renungan, 07 Maret 2025

Matius 9:14-15

Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm

PUASA DAN MEMPELAI

Yesus berbicara tentang PUASA yang dikaitkan dengan MEMPELAI. Ketika mempelai itu ada bersama kita, puasa tidak berlaku. Yang ada hanyalah sukacita pesta. Begitu mempelai tidak bersama lagi, saat itulah diperlukan puasa. Bagaimana hal ini bisa dimaknai?

  1. SANG MEMPELAI

Lewat sabda hari ini, Yesus menunjuk pada diri-Nya sendiri sebagai mempelai laki-laki. Dan kita, umat-Nya adalah mempelai perempuan. Kita dan Yesus satu dalam kasih yang tak tergantikan. Kasih yang begitu mendalam seperti kasih suami dan istri.

Dengan gambaran ini, Yesus hendak menunjukkan hasrat cinta Allah yang ingin bersatu dengan manusia. Demikian halnya, dalam hati manusia tersemat cita-cita hidup rohani, yakni mencapai kekudusan, sehingga dipersatukan dengan Sang Mempelai.

  • BERPUASA

Meski terdapat hasrat Allah dan juga cita-cita manusia, namun dosa telah menjadi penghalang yang memisahkan kedua hasrat itu. Rahmat Allah yang begitu besar tidak menembus hati nurani manusia. Bahkan, manusia sulit melihat kebaikan dan cinta Allah.

Di sinilah puasa ditempatkan. Untuk bisa merasakan getaran cinta Allah, manusia mesti dibebaskan dari dosa dan kesalahan. Berpuasa adalah cara jitu untuk kembali kepada Sang Mempelai dengan meninggalkan keterikatan akan dosa dan kecenderungan jahat.

  • BUKAN SOAL JASMANI

Dengan cara pandang mempelai, berpuasa bukan semata-mata tidak makan dan tidak minum. Puasa adalah tindakan jasmani yang mengekspresikan olah rohani, agar bisa bersatu dengan Allah. Maka, puasa itu begitu ringan, indah, dan enak, karena kita sedang merindukan kesatuan dengan Sang Mempelai, yakni Allah.

Akhirnya, puasa bersentuhan erat dengan salib. Kita berpuasa seraya merenungkan salib atau bahkan belajar memikul salib. Karena dengan cara itu, kita akan semakin mengerti dan memahami betapa kuat-Nya cinta Allah, Sang Mempelai kepada kita.

Renungan Prapaskah: Puasa yang Membuka Kesadaran

Renungan Prapaskah: Puasa yang Membuka Kesadaran

Romo Agung Wahyudianto O.Carm


(Refleksi berdasarkan Matius 6:1-6,16-18, 5 maret 2025)

Di tengah kota Lima yang sibuk, masa Prapaskah membawa perubahan kecil yang terasa di banyak tempat. Restoran menawarkan lebih banyak menu tanpa daging, pasar-pasar lebih sering menjual ikan dan sayuran, dan keluarga-keluarga mulai menjalankan pantang dengan mengganti makanan mereka dengan sesuatu yang lebih sederhana, seperti “sopa de lentejas” atau “chupe de pescado”. Namun, di balik semua ini, ada pertanyaan yang lebih dalam: apakah puasa hanya tentang makanan, atau ada sesuatu yang lebih mendasar yang perlu kita sadari?

Dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan bahwa puasa bukanlah soal bagaimana orang lain melihat kita, tetapi tentang bagaimana kita hadir dalam keheningan bersama Tuhan. Ia menegur mereka yang berpuasa untuk mendapat pujian, seolah-olah pengorbanan mereka adalah sesuatu yang perlu diakui oleh dunia. Tetapi dalam keheningan, dalam ketidaktampakan, ada sesuatu yang lebih sejati yang dapat ditemukan. Puasa bukanlah sekadar ritual, tetapi undangan untuk melihat lebih dalam ke dalam diri—untuk menyadari apa yang benar-benar menggerakkan kita, apa yang kita genggam erat, dan di mana kita sering terjebak dalam permainan ego.

Di Lima, di mana kehidupan perkotaan bergerak cepat, banyak orang menjalankan puasa sebagai bagian dari kebiasaan tahunan. Namun, apakah puasa hanya tentang mengganti daging dengan ikan, ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi dalam diri kita? Ketika kita berhenti sejenak dari pola makan biasa, apakah kita juga berhenti sejenak dari pola pikir yang reaktif, dari dorongan untuk terus mengejar sesuatu, dari kebiasaan untuk selalu mempertahankan citra diri? Apakah puasa membantu kita mengenali bahwa banyak dari keputusan dan tindakan kita didorong oleh sesuatu yang lebih dalam, yang sering kali tidak kita sadari?

Yesus mengundang kita untuk masuk ke dalam ruang batin di mana tidak ada lagi kepalsuan—di mana kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun, di mana kita tidak perlu mempertahankan sesuatu yang sebenarnya rapuh. Dalam keheningan itulah kita menemukan bahwa puasa bukan sekadar tentang mengurangi sesuatu, tetapi tentang mengalami ruang yang lebih luas di dalam diri kita, ruang yang tidak lagi dikendalikan oleh dorongan ego yang ingin selalu memiliki, mengontrol, atau diakui.

Mungkin ini adalah tantangan terbesar dalam berpuasa: bukan menahan lapar, tetapi menahan dorongan untuk terus mempertahankan ilusi tentang siapa kita. Ketika kita melepaskan keterikatan itu, kita menyadari bahwa kita tidak kehilangan apa pun. Sebaliknya, kita menemukan sesuatu yang lebih besar—sebuah kesadaran yang jernih, kehadiran yang utuh, dan kebebasan untuk hidup tanpa dikendalikan oleh hal-hal yang selama ini kita anggap sebagai diri kita.

Masa Prapaskah bukan hanya tentang kepatuhan pada aturan, tetapi tentang perjalanan menuju kesadaran yang lebih dalam. Saat kita berpuasa, mari kita bertanya: Apa yang sebenarnya sedang kita lepaskan? Apa yang masih kita pertahankan karena takut kehilangan? Seberapa sering kita membiarkan diri kita diperbudak oleh keinginan yang sebenarnya tidak mendefinisikan siapa kita? Ketika kita berani memasuki keheningan tanpa mencari pengakuan, kita akan menemukan bahwa puasa bukan lagi beban, tetapi jalan menuju kebebasan yang sejati.

Menjadi Sarana Berkat

Menjadi Sarana Berkat

RP Yakobus Hugo Susdiyanto O.Carm

Mark 10:28-31

Selasa, 4 Maret 2025

Disadari atau tidak kebanyakan orang menyukai tembang kenangan. Tentu bukan sesuatu yang buruk. Akan tetapi sedikit banyak hal tersebut mengindikasikan bahwa kebanyakan orang menyukai, bahkan terbelenggu oleh kemapanan, zona nyaman.

Dalam perikop sebelumnya dikisahkan tentang orang yang ingin memperoleh hidup kekal tetapi terjebak dalam keadaannya sebagai orang kaya. Kepada orang itu, Yesus berkata, “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”[Mark 10:21]. Orang kaya itu keberatan. Ia tidak berani keluar dari zona mapan, nyaman. Ia gagal memperoleh hidup kekal!

Kegagalan orang kaya dalam mengikuti Yesus, tampaknya memicu Petrus menyampaikan isi hatinya mewakili  rekan-rekannya, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” [Mark 10:28]. Pernyataan tersebut mengacu pada kenyataan bahwa mereka telah meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan barang milik mereka [Mrk. 1:16-20]. Mungkin Petrus dan rekan-rekannya berpikir, “Jika orang kaya itu gagal, bagaimana dengan mereka yang sudah memenuhi permintaan-Nya? Apakah akan berhasil memperoleh hidup kekal?

Yesus menghibur Petrus dan rekan-rekannya dan menegaskan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal” [Mark 10:29-30]. Dengan kata lain, Tuhan menjanjikan berkat bagi mereka yang berani dan rela meninggalkan kemapanan, zona nyaman.

Warta hari ini mengajak kita semua untuk berpaling kepada Tuhan. Sebab Dialah yang menciptakan kita, dan kepada-Nyalah kita akan kembali. Segala sesuatu berasal dari pada-Nya [Sir 17:1-15]. Karenanya meninggalkan kemapanan berarti kembali kepada keadaan kita yang sebenarnya, ketika kita diciptakan. Saat itu kita bukanlah apa-apa. Namun ditangan Tuhan, kita menjadi  seperti kita yang sekarang ini. Karenanya semua yang ada pada kita, anugerah yang kita terima sekarang ini semestinya menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan. Dengan menyadari jati diri kita yang sebenarnya, kita akan semakin dipacu untuk menjadi kreatif dalam melayani Tuhan dan makin dimampukan untuk melihat karya Tuhan dalam hidup kita. Dengan berani meninggalkan kemapanan dan hidup dalam Terang Tuhan, kita akan dijadikan oleh Tuhan sebagai sarana berkat-Nya. Dan inilah makna hidup kekal yang sebenarnya, sebagaimana ditegaskan St. Yohanes, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”[Yoh 17:3].

Translate »