Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Renungan 15 Januari 2025

Renungan 15 Januari 2025

Saudara-saudari masa Natal telah berakhir dengan Hari Pesta Pembaptisan Tuhan Yesus. Kita masuk pada Liturgi Masa Biasa. Di awal tahun ada banyak cita-cita yang ingin kita bangun bersama di keluarga atau perusahaan. Salah satunya boleh disebut hidup sehat. Hidup sehat impian setiap orang. Olahraga, istirahat, makan minum, cek kesehatan rutin sering dilakukan banyak orang, agar tidak tiba-tiba divonis sakit tertentu. Orang yang hidup sehat dapat beraktivitas secara normal dan mandiri. Sudahkah kita berusaha menjalankan hidup sehat selama ini? Ataukah masih kita rencanakan untuk tahun ini?

Injil hari ini berkisah tentang Ibu mertua Simon yang sakit demam. Aktivitasnya terganggu untuk melayani kebutuhan anggota keluarga. Ia terbaring di tempat tidur. Aktivitasnya sangat terbatas. Mungkin ia pun kesulitan keluar kamar. Ia membutuhkan bantuan anggota keluarga lainnya untuk makan, minum, ke kamar mandi dan lainnya. Peristiwa sakit ini menggugah hati Yesus untuk menyembuhkan Ibu mertua Simon. Pertolongan Yesus untuk menyembuhkannya tepat pada waktunya. Inisiatif penyembuhan datang dari Yesus. Yesus memegang tangan dan membangunkan Ibu Mertua yang akhirnya sembuh. Kuasa Ilahi tercurah dan memulihkan sakit penyakit yang ada pada dirinya. Yesus sungguh berkuasa memulihkan kehidupan yang rapuh dan layu. Ia menguatkan dan menegakkan kembali tubuh insani dan kehidupan yang dijalani tiap orang.

Bagi orang tertentu, terutama bagi kepala keluarga. Kesehatan dan kesembuhan adalah hal yang utama dalam hidup. Ia menjadi tulang punggung keluarga untuk kehidupan keluarga yang layak. Bagi seorang ibu atau istri seperti halnya Ibu Mertua Simon, sehat dan sembuh menjadi hal yang berguna untuk dirinya dan keluarganya. Ia menjadi orang terdepan yang mengatur kehidupan di internal keluarga. Segala hal yang praktis untuk berlangsungnya hidup sehari-hari, sejak pagi hingga malam. Peran itu pula yang dilakukan untuk menjamu Yesus dan beberapa murid yang bersama-Nya. Bersama Yesus dan di dalam Yesus ada kesembuhan dan hidup baru untuk melayani. Melayani Yesus dan para murid. Ada relasi yang baik antara mertua, menantunya, Yesus dan para murid.

Peristiwa penyembuhan yang dilakukan Yesus kepada Ibu Mertua Simon telah didengar banyak orang. Sekali lagi, orang banyak berdatangan ke rumah Ibu Mertua Simon. Orang banyak itu punya harapan yang sama agar boleh mengalami kesembuhan dari segala penyakit dan kuasa kegelapan. Yesus adalah Sang Terang yang mengusir dan membebaskan kehidupan manusia dari segala kuasa jahat dan gelap.

Sang Terang telah hadir datang ketika senja merayap di kehidupan manusia. Sang Terang memberikan kehangatan dan kesembuhan bagi setiap jiwa dan raga yang membutuhkan sentuhan Ilahi. Sang Terang mengusir dan melepaskan setiap insan yang terbelenggu oleh dosa dan kuasa jahat. Semoga Yesus Sang Terang Sejati selalu hadir dalam setiap kehidupan kita dan memberikan karunia kesehatan. Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria melindungi kita di peziarahan sepanjang Tahun Yubileum.
(rm. medyanto, o.carm)

Refleksi 14 Januari 2025: Markus 1:21-28

Refleksi 14 Januari 2025: Markus 1:21-28

Rm. Max Agung Wahyudianto O.Carm
“Pengajaran-Nya sangat mengherankan mereka, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.”

Di pagi yang cerah di pegunungan Andes, seorang curandero memulai ritual mesa. Ia duduk dengan tenang di hadapan batu-batu yang disusun rapi, daun koka, dan lilin-lilin kecil. Para peserta datang dengan membawa harapan: beberapa ingin kesembuhan fisik, yang lain ingin mengusir “energi buruk” yang mereka rasakan mengganggu hidup mereka. Dengan penuh keyakinan, sang penyembuh berbicara lembut, memberikan doa dan restu, dan dengan perlahan membimbing para peserta kembali ke harmoni yang lebih dalam. Masyarakat Andes percaya bahwa sang penyembuh tidak bekerja dengan kekuatannya sendiri, tetapi dengan kuasa spiritual yang mengalir melalui dirinya—kuasa yang berasal dari hubungan dengan alam semesta.

Ketika saya merenungkan Injil hari ini, saya melihat Yesus di rumah ibadat di Kapernaum seperti sang curandero. Namun, kuasa yang ada pada Yesus jauh lebih besar. Ia tidak hanya berbicara dengan hikmat, tetapi juga dengan otoritas yang memancarkan terang dan kebenaran. Perkataan-Nya bukanlah sekadar kata-kata, tetapi kata-kata yang memiliki kuasa untuk mengubah. Ketika seorang yang kerasukan roh jahat mulai berteriak di hadapan-Nya, Yesus menghardiknya dan roh itu pergi. Orang-orang yang melihat itu tercengang. “Siapakah ini?” mereka bertanya.

Bagi saya, kisah ini lebih dari sekadar pengusiran roh jahat. Itu adalah gambaran tentang kuasa kasih Tuhan yang mampu membawa kedamaian dan pemulihan dalam hidup kita. Ada saat-saat dalam hidup saya di mana saya merasa seperti “kerasukan”—bukan oleh roh jahat, tetapi oleh kekhawatiran, ketakutan, atau tekanan hidup yang membuat hati saya gelisah. Dalam momen-momen itu, saya teringat bahwa Yesus memiliki kuasa untuk mengusir semua itu, bukan dengan kekuatan yang memaksa, tetapi dengan kehadiran-Nya yang penuh kasih.

Seperti dalam tradisi mesa, di mana masyarakat Andes menemukan kembali keseimbangan dalam hidup mereka, Injil hari ini mengundang saya untuk kembali kepada Yesus, Sang Penyembuh sejati. Ia tidak hanya mengusir kegelapan, tetapi memulihkan kita ke dalam terang. Bagi saya, hal ini bukan sekadar tentang keajaiban fisik, tetapi tentang pengalaman batin di mana saya diingatkan bahwa kasih Tuhan tidak pernah jauh.

Di mana kita merasa gelap hari ini? Ketakutan apa yang membebani hati kita? Hari ini, saya diundang untuk datang kepada Yesus dan membiarkan terang-Nya membawa damai. Sama seperti orang-orang di rumah ibadat di Kapernaum, saya juga diajak untuk terpesona oleh kasih Tuhan yang bekerja dalam hidup saya, mengusir kegelapan dan membawa saya ke dalam hidup yang penuh terang dan kasih.

Menanggapi Panggilan Allah

Menanggapi Panggilan Allah

RP Yakobus Hugo Susdiyanto O.Carm

Mark 1:14-20

13 Januari 2025

Yohanes Pembaptis berkata, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” [Mark 1:7]. Apa yang dikatakan Yohanes menjadi kenyataan. Sesudah Yohanes ditangkap dan dipenjara, Yesus ke Galilea dan melakukan dua hal.

Pertama, Ia memberitakan Injil Allah, sebagaimana difirmankan,  “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” [Mark 1:15]. “Saat” kiranya menunjuk waktu Allah, bukan waktu manusia. Tampaknya orang Yahudi jaman dulu membayangkan bahwa sejak awal Yahwe sudah menentukan kurun waktu sebelum datang zaman baru yang ditandai dengan kehadiran-Nya di dalam kehidupan para utusan-Nya. “Saat” yang telah ditentukan itu kini dinyatakan telah genap, telah terpenuhi, masa menunggu sudah selesai. Zaman baru, yang diungkapkan dengan gagasan “Kerajaan Allah” sudah ada di tengah-tengah manusia, yakni di dalam diri Yesus, Putra-Nya. Di dalam Dia “Allah meraja, Allah berkarya” [bdk.Yoh 1:3].

Kedua, Ia memilih para murid-Nya, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” [Mark 1:17]. Simon Petrus dan Andreas dipanggil ketika mereka tengah menangani pekerjaan mereka menjala ikan. Mereka meninggalkan jala mereka dan mengikuti Yesus. Selanjutnya Yakobus dan Yohanes juga meninggalkan perahu serta ayah mereka dan mengikuti Yesus. Dengan mengikuti Yesus berarti mereka berpindah gaya hidup. Perpindahan gaya hidup mereka dalam bahasa rohani “bertobat”. Perubahan gaya hidup atau pertobatan mereka pasti juga mengalir dari kenyataan “percaya kepada Injil, percaya akan kabar keselamatan”. Kenyataan tersebut menegaskan kepada kita bahwa “Kerajaan Allah” mulai hidup dalam diri orang-orang di sekitar Yesus.

Simon Petrus dan Andreas, serta Yakobus dan Yohanes antusias menanggapi sabda kenabian Yesus. Tanpa pikir panjang, tanpa menunggu lama, mereka meanggapi panggilan Allah. Apakah di jaman modern ini suara panggilan Allah masih terdengar jelas? Apakah orang modern, termasuk kita mau mendengarkan panggilan Allah, menanggapinya dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata? Semoga!

Jumat sesudah Penampakan

Jumat sesudah Penampakan

Fr. Gunawan Wibisono O.Carm


10 Januari 2025
1Yoh 5: 5-13 + Mzm 147 + Luk 5: 12-16

Lectio
Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.

Meditatio
‘Aku mau, jadilah engkau tahir’. Jawaban Yesus kepada seseorang yang minta disembuhkan. Dia meminta, dan seketika itu juga di mendapatkan kesembuhan. Selama permohonan baik adanya, Tuhan akan selalu mengabulkan aneka doa permohonan, walau tak dapat disangkal, Dia ama lamban menjawabnya, sehingga kita menjadi kecewa. Namun mengapa orang kusta itu segera mendapatkan jawaban? Kembali kita hanya bisa mengatakan, bahwa semua itu adalah seturut kehendak sang Empunya kehidupan. Iman kepada Tuhan Allah mengandaikan kepasrahan pada sabda dan kehendakNya.
Tak dapat disangkal, orang yang disembuhkan tadi sepertinya hendak menceritakan kepada banyak orang tentang anugerah indah yang dikerjakan Yesus kepada dirinya. Walaupun Yesus sempat melarangnya, orang yang disembuhkan itu berkeras hati berbagi kepada banyak orang. Maka kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Apakah orang yang disembuhkan itu melawan kehendak Allah? Apakah dia pendosa baru?
Kalau berani kita sampaikan, bahwasannya Yesus mewartakan keberadaan diriNya dalam dan melalui kelemahan umatNya. Dalam kelemahan, setiap orang malah diminta untuk menyadari kehadiran sang Ilahi di tengah-tengah umatNya. Dalam kelemahan, setiap orang diajak untuk berani berkata-kata seperti Paulus, bahwa aku kuat (2Kor 12, 10); yang semuanya itu bisa terjadi, bila kita selalu bermegah dalam Yesus Kristus, sang Empunya kehidupan.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau menyatkan kemuliaan dan keperkasaanMu dalam dalam aneka peristiwa yang menggelegar, melainkan dalam diri umatMu yang lemah, Engkau pun memberi kesempatan mereka untuk memuliakan namaMu. Syukur kepadaMu, ya Yesus. Amin.

Contemplatio
Datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.

PENGIKUT KRISTUS YANG MENGASIHI DAN MELAYANI

PENGIKUT KRISTUS YANG MENGASIHI DAN MELAYANI


Kamis 9 Januari 2025
Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan
Bacaan: I Yohanes 4:19-5:4; Lukas 4:14-22a

Rm Ignatius Adam Suncoko O.Carm

Pada hari ini, kita diberi kesempatan untuk merenungkan dua bacaan yang sangat mendalam yang mengajak kita untuk menyelami inti dari panggilan hidup Kristen kita, yakni kasih dan pelayanan. Bacaan pertama, dari surat pertama Yohanes, mengingatkan kita tentang panggilan kita untuk mengasihi karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita. Kasih yang Mengubah Dunia. Kita mendengar bahwa “kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:19). Ini adalah ungkapan yang sangat menggugah kita, karena kasih yang sejati berasal dari Allah sendiri. Tanpa kasih-Nya, kita tidak akan mampu untuk mengasihi. Kasih Allah yang mengalir kepada kita melalui Yesus Kristus adalah dasar bagi segala kasih yang kita tunjukkan kepada sesama. Ketika kita mengasihi sesama, kita tidak hanya mencerminkan kasih Allah, tetapi kita juga menjadi saksi hidup akan kasih yang tak terbatas itu.

Kasih yang dimaksudkan bukanlah kasih yang bersifat egois atau terbatas, melainkan kasih yang memberi tanpa mengharapkan imbalan. Yohanes mengingatkan kita bahwa “jika seseorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ tetapi membenci saudaranya, ia adalah seorang pendusta” (1Yoh 4:20). Kata-kata ini mengajak kita untuk merefleksikan apakah kasih yang kita miliki benar-benar terwujud dalam tindakan kita kepada sesama.

Lebih lanjut, Yohanes juga menjelaskan bahwa iman kepada Yesus adalah jalan untuk mengatasi dunia ini (1Yoh 5:4). Menerima kasih Allah dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari adalah kemenangan yang mengalahkan dunia. Kemenangan ini bukan hanya soal mencapai sukses duniawi, tetapi tentang hidup sesuai dengan ajaran kasih yang diberikan oleh Kristus.

Bacaan Injil dari Lukas mengisahkan tentang misi Yesus yang dimulai di Nazaret, kota kelahirannya, yang memulai pewartaan-Nya dengan penuh kuasa dan otoritas. Setelah dibimbing oleh Roh Kudus, Yesus datang ke Nazaret dan memulai pewartaan-Nya di rumah ibadat. Dia mengutip nubuat dari Kitab Yesaya yang mengisahkan tentang Mesias yang diurapi oleh Tuhan untuk membawa pembebasan dan keselamatan bagi umat-Nya. Yesus menyatakan bahwa nubuat tersebut telah digenapi dalam diri-Nya. Dia adalah Mesias yang dijanjikan itu.

Perkataan Yesus ini sungguh mengejutkan banyak orang, sebab mereka mengenal-Nya sebagai anak tukang kayu dari Nazaret. Namun, Yesus dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa Ia datang bukan hanya untuk orang-orang tertentu, tetapi untuk semua orang yang tertindas, miskin, dan terpinggirkan. Yesus membawa kabar gembira yang membebaskan. Itulah misi-Nya: untuk mewartakan keselamatan dan memberikan kebebasan bagi mereka yang terikat oleh berbagai bentuk ketidakadilan dan penderitaan.

Kita sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk meneladani Yesus dalam kasih dan pelayanan. Pertama-tama, kita harus mengasihi sesama kita, terutama mereka yang miskin, tertindas, dan membutuhkan perhatian kita. Kasih ini bukanlah kasih yang bersifat sementara atau hanya untuk orang-orang yang dekat dengan kita, melainkan kasih yang mencakup semua orang tanpa terkecuali.

Kedua, kita diundang untuk menghidupi panggilan pelayanan yang sejati, seperti yang dilakukan Yesus. Kita dipanggil untuk membawa kabar gembira, untuk memberikan penghiburan kepada yang berduka, untuk memperjuangkan keadilan, dan untuk memberikan harapan kepada mereka yang kehilangan arah. Marilah kita menjadi pribadi yang penuh kasih, seperti Yesus yang penuh kuasa dan otoritas, yang mengabarkan keselamatan bagi semua orang. Semoga kita selalu menjadi saksi kasih Kristus dalam segala tindakan dan kata-kata kita. Tuhan Memberkati.

Translate »