Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Minggu Biasa XIIA

Minggu Biasa XIIA


(Yer. 20:10-13; Rom. 5:12-15; Ma.t 10:26-33)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, pernahkah kita berjalan sendirian pada malam hari di tempat yang gelap? Padahal jalan itu sebenarnya aman dan sudah sering kita lewati. Namun karena gelap, bayangan pohon terlihat seperti sosok yang menakutkan, suara angin terdengar seperti ancaman, dan langkah kaki sendiri terasa mencemaskan. Sering kali ketakutan bukan lahir dari kenyataan yang ada di depan kita, melainkan dari apa yang kita bayangkan dalam hati.
Demikian pula hidup kita. Banyak orang memikul ketakutan yang tidak terlihat oleh orang lain. Ada yang takut kehilangan pekerjaan, takut sakit, takut gagal mendidik anak, takut masa depan tidak seindah harapan, takut ditinggalkan orang yang dicintai, bahkan takut karena merasa dirinya tidak cukup baik dibandingkan orang lain. Ketakutan-ketakutan itu perlahan menguras kegembiraan hidup dan membuat hati menjadi sempit. Karena itu sabda Tuhan hari ini terasa begitu dekat dengan pengalaman kita. Di tengah berbagai kecemasan hidup, Tuhan berulang kali berkata, “Jangan takut.”
Dalam bacaan pertama, kita mendengar keluh kesah Nabi Yeremia. Ia mengalami penolakan, fitnah, bahkan ancaman dari orang-orang di sekitarnya. Yang menyakitkan, bukan hanya musuh yang memusuhinya, tetapi juga sahabat-sahabat yang menantikan kejatuhannya. Yeremia merasa sendirian. Ia takut, ia terluka, ia gentar. Namun di tengah semuanya itu, ia tidak lari dari Tuhan. Justru di saat paling gelap, ia semakin berpegang pada Tuhan. Karena itu di akhir bacaan, ratapannya berubah menjadi pujian, “Bernyanyilah bagi Tuhan, pujilah Tuhan!” Ketakutan tidak menghilang seketika, tetapi kehadiran Tuhan membuatnya mampu melewati ketakutan itu.
Pengalaman Yeremia menjadi gambaran dari apa yang dikatakan Yesus dalam Injil. Tiga kali Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Jangan takut.” Yesus tidak menjanjikan hidup yang bebas masalah. Ia tahu bahwa para murid akan menghadapi penolakan, ejekan, bahkan penganiayaan. Namun Yesus mengingatkan bahwa hidup mereka berada dalam tangan Bapa. Bahkan rambut di kepala mereka pun terhitung semuanya. Gambaran
ini sangat indah. Tuhan bukan hanya mengenal kita secara umum; Ia mengenal kita secara pribadi. Ia mengetahui air mata yang tidak kita ceritakan kepada siapa pun, pergumulan yang kita sembunyikan di balik senyum, dan doa-doa yang hanya kita bisikkan dalam keheningan malam.
Lalu apa dasar keyakinan kita untuk tidak takut? Di sinilah bacaan kedua memberikan jawabannya. Santo Paulus mengingatkan bahwa melalui Adam dosa masuk ke dalam dunia dan membawa penderitaan serta kematian. Namun melalui Yesus Kristus datanglah rahmat yang jauh lebih besar daripada dosa itu sendiri. Artinya, bagi orang beriman, kejahatan tidak pernah memiliki kata terakhir. Dosa bukanlah akhir cerita. Kegagalan bukanlah akhir perjalanan. Salib bukanlah tujuan terakhir. Dalam Kristus, kasih Allah selalu lebih besar daripada luka manusia. Karena itu, ketika kita merasa takut, kita tidak berjalan sendirian. Kita berjalan bersama Dia yang telah mengalahkan dosa dan maut.
Saudara-saudariku terkasih, mungkin hari-hari ini ada di antara kita yang sedang memikul beban tertentu. Ada yang cemas memikirkan kesehatan, ekonomi keluarga, masa depan anak-anak, atau persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Sabda Tuhan hari ini tidak mengatakan bahwa masalah itu akan langsung hilang. Namun Tuhan mengingatkan satu hal yang sangat penting, engkau tidak sendirian. Sebagaimana Tuhan menyertai Yeremia, sebagaimana Tuhan mendampingi para rasul, demikian pula Ia berjalan bersama kita. Ketika kita merasa tidak mampu, Tuhan berkata, “Aku ada di sini.” Ketika kita merasa sendirian, Tuhan berkata, “Engkau berharga di mata-Ku.” Dan ketika kita takut menghadapi hari esok, Tuhan berkata, “Jangan takut, sebab Aku menyertaimu.”
Maka dalam Ekaristi ini, marilah kita meletakkan segala kecemasan dan ketakutan kita di hadapan Tuhan. Semoga melalui Tubuh dan Darah Kristus yang kita sambut, hati kita diteguhkan untuk percaya bahwa kasih Allah selalu lebih besar daripada segala ketakutan kita. Sebab bersama Yesus, kita tidak selalu bebas dari badai kehidupan, tetapi yang pasti bersama Yesus kita tidak akan tenggelam oleh badai itu. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa XI

Sabtu Pekan Biasa XI

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
20 Juni 2026
Taw 24, 17-24 + Mzm 89 + Mat 6: 24-34

Lectio
Dalam suatu kesempatan bersabdalah Yesus kepada para muridNya: ‘’tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Meditatio
‘’Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain’, tegas Yesus kepada orang-orang yang mendengarkan pengajaranNya. Kemampuan insani yang amat terbatas akan memecah perhatian kita, bila mengabdi dua tuan. Karena itu, ‘kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon’. Setiap orang tidak bisa mengabdi Tuhan dan kekayaan; malah lebih baik kalau kita menyimpan harta yang kita miliki itu dalam surga, sebagaimana yang kita renungkan kemarin.
Mengabdi dua-tuan memang dikerjakan mengingat kekuatiran yang menyelimuti banyak orang. Iman kepercayaan kepada Tuhan yang tidak bersifat matematis membuat mereka mendua-hati dlam menghayati panggilannya. ‘Karena itu Aku berkata kepadamu: janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai’. Tuhan Allah akan atur. Yesus kemudian mempertajam persoalan dan membandingkannya dengan burung di udara, bunga bakung di ladang dan Salomo sendiri. ‘Janganlah kamu kuatir, Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu’, tegas Yesus.
Pernahkah kita mendua-hati sebagaimana dinyatakan Yesus? Kita diundang untuk benar-benar mempunyai iman kepercayaan yang teguh. Rasa kuatir dan gelisah memang seringkali tidak bisa kita hindari, kiranya kita tetap yakin juga bahwasannya iman akan mampu memindahkan gunung ke tengah lautan. Karena itu, ‘carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu’.

Oratio
Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu atas segala berkatMu yang engkau limpahkan bagi kami, walau tidak dapat disangkal kami seringkali kurang sabar dalam menghadapi segala sesuatu; malah mengkondisikan diri kami kuatir dan gelisah. Kami mohon, tambahkanlah iman kepercayaan kami kepadaMu. Amin.

Contemplatio
’Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain’

RENUNGAN: 16 JUNI 2026

RENUNGAN: 16 JUNI 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Matius 5:43-48

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Kita semua menyadari bahwa kita adalah manusia yang penuh keterbatasan. Bahkan para kudus pun bukan orang-orang yang tidak pernah berbuat salah. Mereka juga pernah mengalami kelemahan, pergumulan, dan jatuh bangun dalam hidup rohani mereka. Namun hari ini kita mendengar Sabda Yesus yang seakan tidak masuk akal dan cukup menantang kita. Dia berkata: “Kalian harus sempurna sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya.” (Mat. 5:48)   Mengapa demikian? Sebab ketika mendengar kata “sempurna”, seringkali yang terlintas dalam pikiran kita adalah seseorang yang tidak pernah berbuat salah, tidak pernah jatuh dalam dosa, tidak pernah marah, tidak pernah gagal. Jika demikian pengertiannya, tentu kita akan merasa bahwa tuntutan Yesus terlalu tinggi dan hampir mustahil untuk dicapai.

Lalu, apa yang dimaksud Yesus dengan kesempurnaan? Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat konteks Injil hari ini. Sebelum mengucapkan kalimat tersebut, Yesus berbicara tentang mengasihi musuh, mendoakan mereka yang menganiaya kita, dan berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik kepada kita. Dengan kata lain, kesempurnaan yang dimaksud Yesus bukan pertama-tama kesempurnaan tanpa cacat, melainkan kesempurnaan dalam kasih. Yesus berkata bahwa Allah Bapa menerbitkan matahari bagi orang baik dan orang jahat. Hujan turun bagi orang benar maupun orang yang tidak benar. Allah tidak memilih-milih kepada siapa Ia akan menunjukkan kasih-Nya. Kasih-Nya melampaui perhitungan manusia. Biasanya kita mengasihi orang yang mengasihi kita. Kita baik kepada orang yang baik kepada kita. Kita menghormati orang yang menghormati kita. Itu adalah sesuatu yang wajar dan manusiawi. Tetapi Yesus meminta sesuatu yang lebih. Murid Kristus dipanggil untuk mengasihi bahkan ketika tidak menerima balasan. Mengampuni bahkan ketika tidak diminta maaf.  Mendoakan bahkan mereka yang menyakiti hati kita. Mengapa? Karena itulah cara Allah mengasihi.

Saudara-saudari,

Kalau kita melihat perjalanan hidup kita masing-masing, bukankah kita semua pernah mengalami kasih Allah yang demikian? Berapa kali kita jatuh dalam kelemahan? Berapa kali kita mengecewakan Tuhan? Berapa kali kita kurang setia dalam doa, kurang sabar, kurang mengasihi? Namun Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi kita. Setiap pagi kita masih diberi kehidupan. Setiap hari kita masih menerima berkat-Nya. Setiap kali datang kepada-Nya dengan hati yang bertobat, Ia selalu membuka pintu pengampunan. Kalau Allah memperlakukan kita seperti itu, maka Yesus mengajak kita memperlakukan sesama dengan cara yang sama. Tentu ini tidak mudah. Mungkin ada orang yang pernah melukai hati kita. Mungkin ada anggota keluarga yang membuat kita kecewa. Mungkin ada sahabat yang mengkhianati kepercayaan kita. Bahkan mungkin ada luka yang sudah bertahun-tahun kita simpan. Yesus tidak mengatakan bahwa luka itu tidak nyata. Yesus juga tidak meminta kita berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tetapi Yesus mengundang kita untuk tidak membiarkan luka itu berubah menjadi kebencian yang menguasai hati kita. Karena kebencian pertama-tama melukai diri kita sendiri. Yesus mengundang kita untuk mengambil satu langkah kecil lagi: lebih sabar daripada kemarin, lebih murah hati daripada kemarin, lebih mudah mengampuni daripada kemarin, lebih setia kepada Tuhan daripada kemarin. Jika kita terus berjalan dalam kasih, maka sedikit demi sedikit kita akan semakin menyerupai Bapa di surga.

Marilah kita memohon kepada Tuhan agar sedikit demi sedikit hati kita semakin menyerupai hati Bapa: hati yang penuh kasih, belas kasih, dan pengampunan. Sebab di situlah letak kekudusan dan kesempurnaan sejati.

Sebaliknya, pengampunan membebaskan hati kita. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Mengapa harus berdoa? Karena sering kali kita tidak mampu mengampuni dengan kekuatan kita sendiri. Kita membutuhkan rahmat Tuhan. Ketika kita mulai mendoakan seseorang yang menyakiti kita, perlahan-lahan Tuhan melembutkan hati kita. Mungkin luka itu belum langsung hilang, tetapi hati kita mulai dibebaskan dari kepahitan.

Saudara-saudari,

Para kudus memahami bahwa inti kekudusan bukanlah melakukan hal-hal yang luar biasa, melainkan bertumbuh dalam kasih.

Santo Alfonsus Maria de Liguori berkata:

“Seluruh kekudusan dan kesempurnaan jiwa terdiri dalam mengasihi Yesus Kristus.”

Kalimat ini sangat indah. Santo Alfonsus tidak mengatakan bahwa kesempurnaan terletak pada pengetahuan yang luas, jabatan yang tinggi, atau karya yang besar. Kesempurnaan terletak pada kasih kepada Yesus.

Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita ingin hidup seperti Dia. Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita mampu mengampuni. Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita belajar mengasihi orang lain.

Hal yang sama ditegaskan oleh Santa Theresia dari Lisieux. Ia berkata:

“Aku tidak mengetahui jalan lain untuk mencapai kesempurnaan selain kasih.”

Santa Theresia tidak melakukan karya-karya besar yang menggemparkan dunia. Ia hidup sederhana di biara. Namun Gereja mengakui dia sebagai orang kudus yang besar karena ia melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.

Inilah pelajaran penting bagi kita.

Kadang-kadang kita berpikir bahwa untuk menjadi kudus kita harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Padahal Tuhan lebih melihat kasih yang ada di dalam hati kita.

Senyum yang tulus.

Kata-kata yang menghibur.

Kesabaran menghadapi anggota keluarga.

Kesediaan mengampuni.

Kesetiaan dalam doa.

Semua itu mungkin tampak kecil, tetapi sangat berharga di mata Tuhan bila dilakukan dengan kasih.

Maka ketika Yesus berkata, “Hendaklah kamu sempurna,” Ia sebenarnya mengundang kita untuk semakin sempurna dalam mengasihi Tuhan dan sesama.

Saudara-saudari terkasih,

Kesempurnaan Kristen bukanlah keadaan yang langsung dicapai dalam satu hari. Itu adalah perjalanan seumur hidup.

Memberi Lebih dari yang Diminta

Memberi Lebih dari yang Diminta

(Matius 5:38-42)

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,

Suatu hari seorang tukang ojek mengantar penumpang yang cukup merepotkan. Sepanjang perjalanan penumpang itu banyak mengeluh: jalan terlalu macet, motor terlalu pelan, bahkan sempat menyalahkan si pengemudi karena terlambat. Sesampainya di tujuan, penumpang itu turun tanpa mengucapkan terima kasih.

Teman-teman pengemudi yang melihat kejadian itu berkata, “Kalau aku jadi kamu, sudah kubalas dengan kata-kata yang pedas.”

Namun pengemudi itu hanya tersenyum dan menjawab, “Kalau saya ikut marah, berarti dia menentukan siapa saya hari ini. Saya tidak mau hidup saya dikendalikan oleh kemarahan orang lain.”

Jawaban sederhana itu menyimpan kebijaksanaan yang dalam. Ternyata kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil membalas, melainkan ketika kita tetap menjadi diri yang baik meskipun diperlakukan tidak baik.

Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus menyampaikan ajaran yang sering kali terdengar tidak masuk akal: jika ditampar pipi kanan, berikan juga pipi kirimu; jika seseorang memaksa berjalan satu mil, berjalanlah dua mil; jika diminta sesuatu, berilah.

Banyak orang mengira Yesus sedang mengajarkan sikap pasif, lemah, atau membiarkan diri diinjak-injak. Padahal bukan itu maksud-Nya.

Yang menarik, Yesus tidak sedang berbicara tentang kalah atau menang. Ia sedang berbicara tentang kebebasan batin.

Biasanya ketika seseorang menyakiti kita, ia sebenarnya sedang berusaha mengendalikan reaksi kita. Ia ingin kita marah, membenci, dendam, atau membalas. Ketika kita bereaksi persis seperti yang ia harapkan, sesungguhnya kita telah kehilangan kebebasan. Hidup kita dikendalikan oleh tindakan orang lain.

Di sinilah letak kebaruan ajaran Yesus. Yesus tidak hanya meminta murid-Nya menjadi baik. Ia mengajak murid-Nya menjadi pribadi yang tidak diperbudak oleh perilaku orang lain.

Orang yang membalas kejahatan dengan kejahatan masih bergerak dalam logika yang sama dengan pelaku kejahatan. Sebaliknya, orang yang tetap memilih kasih sedang menciptakan logika baru. Ia memutus rantai kebencian yang biasanya terus berputar dari satu orang ke orang lain.

Ada hal lain yang jarang disadari. Yesus tidak berkata, “Berjalanlah satu mil saja.” Ia justru berkata, “Berjalanlah dua mil.” Artinya, murid Kristus tidak hidup berdasarkan ukuran minimum. Kasih Kristen selalu melampaui kewajiban.

Banyak orang bertanya, “Apa kewajiban saya?” Sedangkan Yesus mengajak kita bertanya, “Apa lagi yang dapat saya lakukan demi kebaikan?”

Karena itu kekudusan bukan sekadar memenuhi aturan. Kekudusan adalah kemampuan memberi lebih daripada yang dituntut. Allah sendiri mengasihi manusia dengan cara demikian. Ia tidak memberi kita sekadar apa yang pantas kita terima, melainkan jauh lebih banyak daripada yang kita butuhkan.

Di salib, Yesus tidak hanya mengampuni mereka yang layak diampuni. Ia mengampuni bahkan mereka yang sedang menyalibkan-Nya.

Kasih yang seperti itulah yang diminta dari para murid-Nya.

Poin Refleksi

  1. Apakah saya masih membiarkan sikap buruk orang lain menentukan suasana hati dan tindakan saya?
  2. Dalam keluarga, komunitas, atau tempat kerja, apakah saya hanya melakukan yang wajib atau bersedia memberi lebih demi kebaikan bersama?
  3. Adakah seseorang yang saat ini sulit saya ampuni, sehingga saya masih terikat oleh luka dan kemarahan terhadapnya?

Doa Singkat

Tuhan Yesus, ajarlah kami memiliki hati yang bebas, sehingga tidak dikuasai oleh kemarahan, dendam, atau keinginan membalas. Berilah kami keberanian untuk mengasihi lebih dari yang diwajibkan dan menghadirkan damai di tengah dunia yang sering dipenuhi permusuhan. Amin.

RD. Yusuf Dimas Caesario

Minggu Biasa XIA

Minggu Biasa XIA


(Kel 19:2-6a; Rom 5:6-11; Mat 9:36-10:8)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, pernahkah kita melihat seorang anak kecil yang tersesat di keramaian? Wajahnya kebingungan, matanya mencari-cari seseorang yang bisa menolongnya, sementara orang-orang berlalu-lalang tanpa memperhatikannya. Gambaran itu kiranya membantu kita memahami perasaan Yesus dalam Injil hari ini. Ketika melihat orang banyak, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, sebab mereka “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” Mereka hidup, tetapi kehilangan arah. Mereka berjalan, tetapi tidak tahu ke mana harus melangkah. Mereka berada di tengah banyak orang, tetapi merasa sendirian.
Belas kasih Allah yang kita lihat dalam diri Yesus sesungguhnya sudah tampak sejak Perjanjian Lama. Dalam bacaan pertama, Allah memanggil bangsa Israel di Gunung Sinai dan berkata bahwa mereka akan menjadi “harta kesayangan”, “kerajaan imam”, dan “bangsa yang kudus”. Allah tidak memilih Israel karena mereka bangsa terbesar atau terkuat, melainkan karena kasih-Nya. Mereka dipanggil bukan untuk menikmati pilihan itu bagi diri sendiri, tetapi untuk menjadi tanda kehadiran Allah bagi bangsa-bangsa lain. Dengan kata lain, sejak awal Allah selalu memanggil suatu umat agar menjadi saluran kasih-Nya bagi sesama.
Panggilan yang sama diteruskan oleh Yesus dalam Injil. Ia memanggil dua belas rasul dari berbagai latar belakang, ada nelayan sederhana, ada pemungut cukai yang dipandang rendah, ada pribadi-pribadi dengan karakter yang berbeda-beda. Pilihan Yesus ini mengandung pesan yang sangat indah, dimana Allah tidak menunggu seseorang menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum dipanggil. Justru melalui orang-orang biasa, Allah melakukan karya-karya yang luar biasa. Karena itu, jangan pernah merasa terlalu kecil, terlalu lemah, atau terlalu tidak pantas untuk melayani Tuhan. Yang dicari Tuhan pertama-tama bukanlah kemampuan kita, melainkan kesediaan hati kita.
Lalu dari mana kekuatan untuk menjalankan panggilan itu? Di sinilah bacaan kedua memberi jawabannya. Santo Paulus mengingatkan bahwa Kristus telah mengasihi kita ketika kita masih lemah dan berdosa. Ia menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan kita. Artinya, dasar dari setiap perutusan bukanlah kehebatan manusia, melainkan kasih Kristus yang lebih dahulu menyelamatkan kita. Orang yang sungguh menyadari dirinya telah dikasihi akan lebih mudah mengasihi. Orang yang pernah merasakan pengampunan Tuhan akan lebih mudah mengampuni. Orang yang pernah diteguhkan oleh Tuhan akan terdorong untuk meneguhkan sesamanya.
Karena itu, tugas perutusan tidak selalu berarti berkhotbah di mimbar atau melakukan hal-hal besar. Sering kali perutusan dimulai dari hal-hal sederhana yang lahir dari belas kasih: menjadi pendengar bagi mereka yang sedang terluka, menghibur mereka yang kehilangan harapan, mendamaikan anggota keluarga yang bertengkar,
membantu mereka yang sedang kesulitan, atau sekadar menyapa seseorang yang merasa dilupakan. Di sekitar kita ada begitu banyak orang yang hidup seperti domba tanpa gembala, mereka yang cemas akan masa depan, orang tua yang khawatir memikirkan pendidikan anak-anaknya, kaum muda yang kehilangan arah hidup, mereka yang terluka oleh konflik keluarga, atau mereka yang merasa tidak lagi dicintai. Kehadiran kita yang penuh perhatian bisa menjadi tanda bahwa Allah belum meninggalkan mereka.
Memang, tidak jarang ketika berusaha melakukan kebaikan, kita mengalami penolakan. Ada yang menertawakan, ada yang salah paham, bahkan ada yang membalas kebaikan dengan sikap yang tidak menyenangkan. Namun, Santo Paulus mengingatkan bahwa kita telah diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus. Karena itu, jangan biarkan penolakan memadamkan semangat pelayanan kita. Yesus sendiri mengalami penolakan, tetapi Ia tidak berhenti mengasihi. Ia tetap berjalan, tetap menyembuhkan, tetap mengajar, dan tetap menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan dunia.
Saudara-saudariku terkasih, setiap kali kita melihat penderitaan, kebingungan, dan kesepian di sekitar kita, jangan hanya bertanya, “Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi?” Mungkin Tuhan justru sedang bertanya kepada kita, “Maukah engkau menjadi jawaban-Ku bagi mereka?” Sebab melalui tangan kita, Tuhan ingin menolong. Melalui kata-kata kita, Tuhan ingin menghibur. Melalui hati kita, Tuhan ingin menghadirkan belas kasih-Nya.
Semoga dalam Ekaristi ini kita semakin menyadari bahwa kita adalah umat pilihan Allah, yang telah dikasihi dan diselamatkan oleh Kristus, serta diutus untuk menjadi pembawa harapan bagi dunia. Dan semoga ketika orang lain berjumpa dengan kita, mereka dapat merasakan sedikit dari belas kasih Yesus yang sama, yang dahulu menggerakkan hati-Nya ketika melihat domba-domba yang terlantar. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Translate »