Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Sabtu Pekan Biasa XX

Sabtu Pekan Biasa XX

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
22 Agustus 2026
Yeh 43: 1-7 + Mzm 85 + Mat 23: 1-12

Lectio
Suatu hari berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”.

Meditatio
Salah satu kemunafikan kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat yang diputar balik orang jaman ini adalah perihal duduk di tempat terdepan di rumah ibadat. Banyak orang malahan tidak mau duduk di bangku-bangku bagian depan dengan alasan tidak mau bersikap seperti kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat. Namun mereka tetap dikecam oleh Yesus, karena memang mereka tidak sepenuh hati untuk berdoa dan memuji Tuhan dalam gerejaNya yag kudus. Bukan kerendahanhati yang mereka tunjukkan dengan mencari duduk di bangku bagian belakang, sebaliknya kemalasan dan kesombongan diri yang mereka suarakan tanpa kata-kata. Mereka bukannya duduk manis dalam gereja, malahan nongkrong, dan menyempatkan diri bermain gadget di dalam gereja. Inilah kemunafikan kaum Farisi yang diputar-balik oleh orang-orang jaman ini. Apakah dosa kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat mendapatkan pengampunan karena pemutarbalikan ini?
Ada banyak orang pun enggan disebut rabi, bapa ataupun pemimpin, karena memang harus disertai dengan komitmen tinggi, tetapi tak dapat disangkal banyak orang beseru lihat aku, keren kan saya, tetapi tanpa menggunakan kata-kata; caranya dengan foto selfi. Kebanggaan diri tidaklah boleh diabaikan, sebagai tanda percaya diri, tetapi tentunya mampu menempatkan diri di mana seseorang berada. Apakah dosa kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat semakin diperberat, karena memberi contoh yang kurang baik bagi banyak orang?
Pada hari Sabtu ini kita Gereja diajak menghormati Maria Ratu. Dia tidak mencari kedudukan, tetapi Maria sada sungguh bahwa Allah memperhatikan kerendahan hambaNya. Maria meminta kita untuk bersikap sebagai hamba Tuhan yang siap sedia melakukan kehendakNya.

Oratio
Yesus Kristus, kami mohon pengampunan daripadaMu, karena kami sering berpura-pura dalam hidup. Kami benar-benar munafik. Ampunilah dosa kami, dan ajarilah kami untuk selalu berkata-kata dan bertindak benar.
Santa Maria, Raru surge, doakanlah kami. Amin.

Contemplatio
‘Hanya satu rabimu dan kamu semua adalah saudara’.

RENUNGAN: 18 Agustus 2026

RENUNGAN: 18 Agustus 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Matius 19:23-30

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Dalam Injil hari ini, Yesus mengatakan sesuatu yang cukup keras: “Alangkah sukarnya seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Sabda ini mungkin membuat kita bertanya: apakah menjadi kaya itu salah? Apakah memiliki harta berarti kita jauh dari Kerajaan Allah?

Tentu bukan itu maksud Yesus. Kekayaan bukanlah dosa. Harta, pekerjaan, jabatan, kemampuan, dan berbagai keberhasilan dalam hidup pada dirinya sendiri adalah sesuatu yang baik. Yang menjadi persoalan adalah ketika hati kita terikat pada semua itu, sampai-sampai kita tidak lagi menjadikan Allah sebagai yang utama. Karena itu, persoalannya bukan pertama-tama berapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa kuat kita terikat pada apa yang kita miliki. Kita bisa memiliki banyak harta, tetapi tetap dekat dengan Tuhan. Sebaliknya, kita mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi hati kita bisa sangat terikat pada uang, kenyamanan, gengsi, jabatan, keberhasilan, atau keinginan untuk dihargai orang lain. Maka pertanyaan penting bagi kita hari ini bukan hanya: “Apa yang saya miliki?” tetapi: “Apa yang menguasai hati saya?”

Saudara-saudari,

Kadang-kadang kita berpikir bahwa yang harus kita lepaskan hanyalah harta benda. Padahal, ada banyak hal lain yang bisa menjadi “harta” yang mengikat hati kita: ambisi pribadi, keinginan untuk selalu menang, sulit mengampuni, rasa gengsi, jabatan, popularitas, bahkan keinginan untuk mengendalikan hidup dan orang lain. Semua itu bisa menjadi penghalang bagi kita untuk sungguh-sungguh mengikuti Kristus. Sebab mengikuti Kristus berarti memiliki hati yang bebas. Bebas bukan berarti tidak memiliki apa-apa, tetapi tidak diperbudak oleh apa yang kita miliki. Yesus mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang ada pada kita pada adalah pemberian dan titipan Allah. Karena itu, kita tidak dipanggil untuk menjadi pemilik yang serakah, melainkan pengelola yang bertanggung jawab. Harta yang kita miliki, pekerjaan yang kita jalankan, jabatan yang dipercayakan kepada kita, pendidikan yang kita terima, kemampuan yang kita miliki—semuanya dapat menjadi sarana untuk menghadirkan kebaikan Allah. Di sinilah kita memahami bahwa kekayaan bukan hanya soal apa yang kita simpan untuk diri sendiri, tetapi juga tentang apa yang kita lakukan bagi orang lain. Kalau Tuhan memberi kita rezeki lebih, mungkin Tuhan sedang mempercayakan kepada kita kesempatan untuk menolong mereka yang berkekurangan. Kalau Tuhan memberi kita kemampuan, mungkin Tuhan menghendaki agar kemampuan itu dipakai untuk melayani. Kalau Tuhan memberi kita jabatan atau tanggung jawab, mungkin Tuhan sedang memberi kita kesempatan untuk menghadirkan keadilan, kebaikan, dan kepedulian. Maka, orang yang kaya bukanlah hanya orang yang memiliki banyak. Orang yang sungguh kaya di hadapan Allah adalah orang yang mampu berbagi.

Saudara-saudari yang terkasih,

Yesus juga berkata, “Yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” Sabda ini mengingatkan kita bahwa ukuran keberhasilan menurut dunia tidak selalu sama dengan ukuran keberhasilan menurut Allah. Dunia sering mengukur seseorang berdasarkan kekayaan, jabatan, prestasi, popularitas, dan pengaruhnya. Tetapi Tuhan melihat hati. Di hadapan Tuhan, mungkin orang yang sederhana tetapi setia, orang yang tidak dikenal tetapi suka menolong, orang yang tidak memiliki banyak tetapi rela berbagi, justru menjadi orang yang besar di hadapan-Nya. Karena itu, jangan sampai kita mengejar menjadi “yang terdahulu” menurut ukuran dunia, tetapi justru menjadi “yang terakhir” dalam kasih dan pelayanan. Pertanyaan yang perlu kita bawa pulang adalah: Untuk apa Tuhan memberikan semua yang saya miliki? Untuk apa saya memiliki uang? Untuk apa saya memiliki kemampuan? Untuk apa saya memiliki jabatan? Untuk apa saya memiliki kesempatan dan keberhasilan? Jawabannya bukan semata-mata untuk membuat hidup kita semakin nyaman, tetapi supaya melalui semuanya itu semakin banyak orang mengalami kasih Allah.

Saudara-saudari,

Benang merah Injil hari ini sederhana tetapi sangat dalam: mengikuti Kristus berarti membebaskan hati dari segala keterikatan dan menempatkan Allah sebagai yang terutama.

Kita tidak dipanggil untuk membenci harta atau menolak keberhasilan. Kita dipanggil untuk memastikan bahwa harta tidak menguasai kita. Kita boleh memiliki banyak, tetapi jangan sampai apa yang kita miliki menguasai hati kita. Sebab pada akhirnya, yang penting bukanlah berapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa bebas hati kita untuk mencintai Allah dan seberapa rela kita menggunakan apa yang kita miliki untuk melayani sesama. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang tidak diperbudak oleh harta, jabatan, dan kepentingan diri. Sebaliknya, semoga semua yang Tuhan percayakan kepada kita menjadi jalan untuk berbagi, melayani, dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah kehidupan bersama.

HR SP MARIA DIANGKAT KE SURGA

HR SP MARIA DIANGKAT KE SURGA

(Why: 11:19a;12:1.3-6a.10ab;1Kor. 15:20-26; Luk 1:39-56)

Rm. Yohanes Endi, Pr.

Saudara-saudariku terkasih, hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Gereja mengajak kita bergembira karena dalam diri Maria kita melihat sebuah janji Allah yang telah menjadi nyata yakni kehidupan manusia tidak berakhir dalam kematian, penderitaan, dan kehancuran, tetapi diarahkan menuju kemuliaan bersama Allah. Maria yang sepanjang hidupnya setia kepada Allah kini mengambil bagian dalam kemuliaan Putranya. Karena itu, perayaan hari ini bukan hanya berbicara tentang apa yang terjadi pada Maria, tetapi juga tentang harapan yang menanti kita semua. Maria adalah gambaran Gereja dan gambaran setiap orang beriman yang berjalan dalam kesetiaan menuju rumah Bapa. Apa yang telah Allah kerjakan dalam diri Maria menjadi tanda bahwa kesetiaan kepada-Nya tidak pernah sia-sia.

Bacaan pertama dari Kitab Wahyu memperlihatkan kepada kita suatu gambaran yang sangat indah, di mana seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dua belas bintang di atas kepalanya. Perempuan itu menghadapi naga yang besar dan mengerikan.

Gambaran ini berbicara tentang pergulatan antara kebaikan dan kejahatan, antara kehidupan dan kematian, antara Allah dan segala kekuatan yang melawan-Nya. Dalam tradisi Gereja, gambaran perempuan ini juga dipahami dalam kaitannya dengan Maria sekaligus Gereja. Maria tidak pernah hidup tanpa perjuangan. Ia bukan seorang perempuan yang dibebaskan dari kesulitan hanya karena dipilih Allah. Sebaliknya, justru karena kesetiaannya kepada Allah, ia harus melewati banyak jalan yang tidak mudah. Namun pada akhirnya, kejahatan tidak memperoleh kemenangan. Allah-lah yang menang. Gambaran itu menemukan penjelasan yang sangat nyata dalam Injil hari ini. Setelah menerima kabar dari malaikat bahwa ia akan menjadi ibu Sang Juruselamat, Maria tidak tinggal diam menikmati kebahagiaan panggilannya. Ia segera berangkat menuju pegunungan untuk mengunjungi Elisabet. Di sinilah kita melihat sesuatu yang sangat indah, Maria yang sedang mengandung Yesus justru pergi membawa Yesus kepada orang lain. Ia tidak menjadikan rahmat yang diterimanya sebagai milik pribadi. Ia menjadikan rahmat itu sebagai berkat bagi orang lain. Ketika Maria memberi salam, anak dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan dan Elisabet pun dipenuhi Roh Kudus. Kehadiran Maria menjadi kehadiran yang membawa sukacita karena di dalam dirinya hadir Kristus.

Di sinilah kita dapat memahami mengapa Maria disebut berbahagia. Kebahagiaan Maria bukan terutama karena hidupnya bebas dari masalah. Justru kita tahu bahwa sejak menerima panggilan Allah, hidup Maria penuh dengan 1 ketidakpastian. Ia harus menghadapi situasi yang secara manusiawi tidak mudah dipahami. Ia harus berhadapan dengan kemungkinan penolakan, kesalahpahaman, bahkan penderitaan. Namun di tengah semuanya itu Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Maria tidak mengetahui seluruh jalan yang akan ditempuhnya. Ia hanya mengetahui bahwa Allah memanggilnya dan ia memilih untuk percaya. Iman tidak selalu berarti mengetahui seluruh jawaban; iman berarti berani berjalan bersama Allah meskipun kita belum mengetahui seluruh jalan yang ada di depan kita.

Karena itulah setelah Elisabet menyapanya, Maria tidak berkata, “Lihat, akhirnya saya berhasil!” Maria justru menyanyikan Magnificat, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.” Maria tidak memusatkan perhatian kepada dirinya sendiri, tetapi kepada Allah yang berkarya dalam hidupnya. Ia sadar bahwa segala sesuatu yang terjadi bukan karena kehebatannya, melainkan karena Allah telah memperhatikan kerendahan hati hamba-Nya. Inilah salah satu alasan mengapa Maria menjadi teladan iman yang begitu indah. Semakin besar rahmat yang diterimanya, semakin besar pula kerendahan hatinya.

Saudara-saudariku terkasih, bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus membawa kita lebih dalam lagi kepada makna Hari Raya ini. Paulus berkata bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Artinya, kebangkitan Kristus bukanlah sebuah peristiwa yang hanya menyangkut Yesus sendiri. Kebangkitan-Nya adalah awal dari kebangkitan kita. Kristus adalah yang sulung; kita semua dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan-Nya. Karena itu, pengangkatan Maria ke surga harus kita lihat dalam terang kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Maria yang sejak awal menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah kini menjadi tanda pengharapan bagi Gereja, bahwa mereka yang setia kepada Kristus akan mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya.

Dengan demikian, Hari Raya Maria Diangkat ke Surga bukanlah sekadar perayaan devosi kepada Maria. Hari raya ini justru mengarahkan mata kita kepada Kristus yang telah mengalahkan maut. Maria menjadi tanda bahwa karya keselamatan Allah sungguh menghasilkan buah. Apa yang terjadi pada Maria mengingatkan kita bahwa tujuan akhir hidup kita bukanlah sekadar menjadi tua, memiliki banyak harta, mencapai jabatan, memperoleh kesuksesan, atau mengumpulkan sebanyak mungkin kenyamanan di dunia. Semua itu boleh kita usahakan, tetapi semuanya bukan tujuan terakhir. Tujuan terakhir hidup kita adalah persatuan dengan Allah. Karena itu, betapapun indahnya dunia ini, hati kita tidak boleh kehilangan arah menuju kehidupan kekal.

Saudara-saudariku terkasih, kalau kita memperhatikan kehidupan Maria, ada satu hal yang sangat kuat, Maria tidak hanya menerima rahmat, tetapi juga menjalani tanggung jawab dari rahmat itu. Ia menerima panggilan, lalu melayani. Ia menerima Yesus, lalu membawa Yesus kepada orang lain. Ia menerima sukacita, tetapi juga bersedia berjalan bersama Putranya sampai kaki salib. Ia tidak melarikan diri ketika 2 hidup menjadi sulit. Kesetiaan Maria tidak hanya tampak ketika segala sesuatu berjalan baik, tetapi justru menjadi semakin nyata ketika ia harus berdiri di bawah salib dan melihat Putranya menderita. Di sanalah kita melihat bahwa iman sejati bukanlah iman yang hanya kuat ketika hidup menyenangkan. Iman sejati adalah iman yang tetap bertahan ketika kita tidak memahami mengapa Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi dalam hidup kita.

Karena itu, perayaan hari ini juga menjadi penghiburan bagi kita yang sedang mengalami berbagai pergumulan. Mungkin ada di antara kita yang sedang sakit, sedang menghadapi persoalan keluarga, sedang mengalami kesulitan ekonomi, merasa kecewa karena harapan belum terwujud, atau bahkan sedang kehilangan orang yang kita cintai. Jangan merasa bahwa air mata dan penderitaan kita tidak memiliki arti di hadapan Tuhan. Maria sendiri berjalan melalui jalan yang penuh air mata. Tetapi jalan itu tidak berakhir di bawah salib. Jalan itu berakhir dalam kemuliaan. Demikian pula hidup kita. Kita mungkin sedang berada dalam suatu tahap yang berat, tetapi jangan mengira bahwa itulah akhir dari semuanya. Bersama Kristus selalu ada harapan.

Ada sebuah ilustrasi sederhana. Ketika kita melihat sebuah perjalanan yang panjang melalui jendela kendaraan, kita mungkin hanya melihat jalan yang sedang kita lalui: tanjakan, tikungan, hujan, bahkan jalan yang rusak. Tetapi pengemudi mengetahui bahwa jalan itu sedang membawa kita menuju tujuan. Demikian juga kehidupan kita. Kita sering hanya melihat bagian hidup yang sedang kita jalani hari ini. Kita tidak mengetahui seluruh jalan di depan kita. Tetapi Allah mengetahui tujuan akhirnya. Maria mengajarkan kepada kita untuk percaya kepada Sang Pengemudi kehidupan. Kita mungkin tidak memahami setiap tikungan yang harus kita lewati, tetapi kita percaya bahwa tangan Allah tidak pernah kehilangan kendali.

Karena itu, saudara-saudariku, marilah kita belajar dari Maria untuk menjadi pribadi yang semakin dewasa dalam iman. Jangan hanya meminta Tuhan mengubah keadaan kita; mintalah juga agar Tuhan mengubah hati kita menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, lebih mampu mengampuni, lebih peka terhadap penderitaan orang lain, dan lebih setia menjalankan tanggung jawab kita. Maria tidak menyimpan rahmat Allah untuk dirinya sendiri. Setelah menerima Yesus, ia segera pergi membawa sukacita kepada Elisabet. Maka pertanyaan sederhana bagi kita hari ini adalah: setelah menerima Kristus dalam Ekaristi, apakah kehadiran kita juga membawa sukacita dan pengharapan bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah keluarga kita menjadi lebih damai karena kehadiran kita? Apakah orang yang sedang mengalami kesulitan merasa dikuatkan ketika bertemu dengan kita? Apakah kehadiran kita membuat orang lain semakin dekat kepada Tuhan?

Inilah yang juga menjadi aplikasi nyata dari bacaan kedua. Karena Kristus telah bangkit dan kita percaya akan kebangkitan, maka kita tidak boleh hidup tanpa harapan. Kita dipanggil untuk hidup sebagai orang-orang yang percaya bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian, pengampunan lebih kuat daripada dendam, kehidupan lebih kuat daripada kematian, dan Kristus lebih kuat daripada segala kekuatan yang 3 melawan-Nya. Keyakinan akan kebangkitan seharusnya membuat kita berani menjalani kehidupan sekarang dengan penuh iman. Kita bekerja dengan sungguhsungguh, mengasihi dengan tulus, melayani dengan rendah hati, mengampuni dengan hati yang lapang, dan tetap berbuat baik meskipun kadang kebaikan kita tidak dihargai. Sebab kita tahu, tidak ada satu pun kesetiaan dan kebaikan yang sia-sia di hadapan Allah.

Saudara-saudariku terkasih, Maria diangkat ke surga bukan karena hidupnya tanpa penderitaan, tetapi karena ia setia sampai akhir dalam kasih kepada Allah. Karena itu, jangan takut ketika hidup kita tidak selalu mudah. Jangan kecewa ketika doa kita belum segera mendapatkan jawaban. Jangan berhenti berbuat baik hanya karena kebaikan kita tidak selalu dihargai. Jangan kehilangan harapan hanya karena kita sedang berada dalam masa yang gelap. Pandanglah Maria. Ia telah berjalan lebih dahulu di jalan iman itu. Dari Nazaret menuju Betlehem, dari Betlehem menuju Mesir, dari kehidupan sederhana di Nazaret menuju pelayanan Yesus, dari kebahagiaan mengikuti Putranya menuju kesedihan di Kalvari, dan akhirnya menuju kemuliaan. Jalan kesetiaan memang tidak selalu mudah, tetapi jalan itu tidak pernah sia-sia.

Hari ini Maria berkata kepada kita melalui hidupnya, percayalah kepada Allah, meskipun engkau belum memahami semuanya; tetaplah setia, meskipun jalanmu berat; tetaplah mengasihi, meskipun engkau pernah terluka; dan tetaplah berharap, sebab hidupmu berada dalam tangan Allah. Semoga seperti Maria, kita pun semakin mampu berkata dalam setiap keadaan hidup, “Jadilah padaku menurut kehendakMu.” Dan semoga suatu hari nanti, setelah menyelesaikan perjalanan iman kita di dunia ini, kita pun boleh mengambil bagian dalam kemuliaan yang telah disediakan Allah bagi semua orang yang setia kepada-Nya. Maria yang telah sampai pada tujuan menjadi tanda bagi kita bahwa tujuan itu sungguh ada. Karena itu, marilah kita berjalan dengan iman, bertumbuh dalam kasih, dan jangan pernah kehilangan harapan. Tuhan memberkati kita semua. Amin. 4

Sabtu Pekan Biasa XIX

Sabtu Pekan Biasa XIX

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
15 Agustus 2026
Yeh 18: 1-10 + Mzm 51 + Mat 19: 13-15

Lectio
Pada waktu itu beberapa orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.

Meditatio
Mengabaikan anak-anak, yang terlahir sesuai dengan gambarNya (Kej 1) berarti perlawanan kepada Tuhan sendiri sang Empunya ciptaan. Bukankah anak-anak kita juga umat Allah yang kudus? ‘Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya!’ (Yeh 18: 4). Maka ‘biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga’, tegas Yesus. Ketaatan dan keberundukan mereka terhadap orangtua adalah wujud kerinduan mereka akan belaskasih dan perlindunganNya. Sebagaimana kita renungkan kemarin, sikap keberundukkan inilah yang membuat orang dapat masuk Kerajaan Surga.

Oratio
Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu, karena Engkau selalu memperhatikan kami, demikian juga keluarga kami. Semoga kami sungguh-sungguh semakin merasakah, bahwa kasihMu Engkau limpahkan kepada semua orang, dan kami pun Engkau minta untuk menjabarkannya dalam keseharian hidup kami. Bantulah selalu dalam kasihMu. Amin.

Contemplatio
‘Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga’.

Bertanggungjawab atas keselamatan sesama

Bertanggungjawab atas keselamatan sesama

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Rabu 12 Agustus 2026

Mat 18:15-20

Kesombongan adalah salah satu akar dosa pokok. Orang sombong cenderung mencari makna bagi diri sendiri. Kitab Suci menegaskan bahwa dosa manusia pertama adalah dosa kecongkakan, kesombongan (Sir 10:13-15, Rm 5:19, Tob 4:14). Sementara Katekismus Gereja Katolik menegaskan menegenai “dua jenis kesombongan: manusia menilai kemampuannya terlalu tinggi, dengan berharap bahwa ia dapat mencapai keselamatan tanpa bantuan dari atas; atau ia berharap terlalu berani bahwa ia dapat menerima pengampunan dari kemahakuasaan dan kerahiman Allah, tanpa transformasi, dan menjadi bahagia, tanpa jasa apa pun” [KGK 2092].

Dalam warta hari ini, Tuhan Yesus memberikan cara-cara memperbaiki keadaan hidup bersama. Kalau ada seorang saudara yang berdosa maka yang pertama-tama dilakukan adalah duduk bersama, empat mata dan saling berbicara satu sama lain. Inilah kiranya cara yang terbaik dan saat yang tepat untuk memberikan koreksi persaudaraan. Dengan cara tersebut diharapkan saudara yang berdosa mau bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Jika saudara yang berdosa itu tidak mendengar koreksi persaudaraan, maka mengikutsertakan satu atau dua orang lain untuk duduk bersama dan memberikan koreksi persaudaraan. Karena pendapat dua atau tiga orang bisa dianggap valid [Ul 19:1]. Kalau koreksi persaudaraan dengan beberapa orang juga tidak didengar maka perlu mencari waktu untuk duduk bersama sebagai satu komunitas persaudaraan. Alangkah menyedihkan jika tahap-tahap tersebut tidak diperhatikan.

Perlu kita sadari bahwa dalam kehidupan bersama, tugas kita adalah mengingatkan, bukan mengubah seseorang, sebagaimana telah difirmankan Tuhan melalui nabi Yeheskiel, “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu” [Yeh 3:18]. Berubah atau tidak itu sangat tergantung dari pribadi, tanggung jawab pribadi. Sebaliknya, “apabila engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu” [Yeh 3:19].

Dunia, masyarakat atau komunitas kita akan menjadi indah jikalau kita saling mendoakan, saling memberi koreksi persaudaraan jika ada yang berdosa atas dasar kasih. Mari kita bertanggungjawab atas kebaikan dan keselamatan sesama.

Translate »