Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Sabtu IV Pekan Prapaskah

Sabtu IV Pekan Prapaskah

Rm Gunawan Wibisono O.Carm
21 Maret 2026
Yer 11: 18-20 + Mzm 7 + Yoh 7: 40-53

Lectio
Suatu hari beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata: “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.” Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya. Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: “Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” Jawab mereka: “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya,

Meditatio
‘Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal’. Itulah komentar banyak orang yang merasa gerah dengan kehadiran Yesus. Sempat juga terjadi perselisihan di antara mereka. Supaya tidak ada kesulitan bagi umat Israel di kemudian hari, mengapa kali lalu Tuhan Allah tidak memanggil keluarga Yusuf, agar pulang kembali ke Betlehem, dan tidak tinggal di Nazaret? Apakah memang percekcokan semacam ini sengaja dibiarkan oleh Tuhan Allah sang Empunya kehidupan dengan membiarkan keluarga Yusuf tinggal di Nazaret? Yesus pun pernah membiarkan para murid hampir tenggelam dalam berperahu, dan Yesus tertidur di dalamnya.
Masa Prapaskah mengajak kita agar tidak mengandalkan kekuatan akal budi dan insani dalam menikmati hidup. Aneka peristiwa kehidupan akan selalu terbuka, dan Allah membiarkan kita untuk memilih dan menikmatinya. Dalam perjalanan hidup memang akan ada selalu perubahan jaman, malah tidak sesuai dengan kemauan dan rencana kita.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau menganugerahi kami aneka kemampuan insani, karena memang kami tercipta sesuai dengan gambarMu. Semoga kami mampu menggunakan segala anugerahMu itu dengan penuh syukur, dan tetap meminta bantuanMu yang membahagiakan dan menyelamatkan. Amin.

Contemplatio
‘Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal’.

“Bertobat dalam Rahmat”

“Bertobat dalam Rahmat”

Renungan Lubuk Hati – Jumat, 20 Maret 2026

Injil Yohanes 7:1-2.10.25-30

Saudara dan saudari yang dikasihi dan mengasihi Kristus, dalam perikop Injil hari ini, kita dapat melihat dan merasakan bagaimana Yesus menghadapi keraguan dan penolakan dari orang-orang Yerusalem terhadap-Nya. Mereka mempertanyakan asal-usul-Nya, seolah-olah ingin menilai apakah Ia layak dipercaya. Namun, Yesus dengan tegas menyatakan bahwa Ia datang bukan atas kehendak diri-Nya sendiri, melainkan diutus oleh Bapa sendiri. Di sini kita belajar bahwa misi Yesus sepenuhnya berakar pada kehendak Allah, bukan pada ambisi pribadi atau kepentingan duniawi.

Di masa prapaskah ini, kita sungguh diarahkan untuk merefleksikan kembali arti pertobatan yang sesungguhnya itu seperti apa. Pertobatan adalah panggilan yang terus-menerus dalam hidup iman kita. Namun, bacaan ini mengingatkan bahwa pertobatan tidak boleh didorong oleh motivasi yang salah. Ada orang yang bertobat karena ingin terlihat saleh, ingin dipuji, atau sekadar mencari keuntungan pribadi. Pertobatan semacam itu rapuh karena tidak bersumber dari Allah. Pertobatan sejati adalah perubahan hati yang lahir dari kesadaran bahwa kita ingin kembali kepada Allah, menyerahkan diri pada kehendak-Nya, dan hidup sesuai dengan ajaran Gereja.

Ada banyak bahaya yang dapat kita cermati dalam upaya pertobatan kita sebagai orang yang mengaku beriman. Pertobatan karena ambisi pribadi menjadikan iman sebagai alat manipulasi. Pertobatan karena keinginan sendiri tanpa mendengarkan Allah bisa membuat kita jatuh pada kesombongan rohani. Pertobatan karena ingin pamer diri menjauhkan kita dari kerendahan hati yang sejati. Pertobatan yang tidak sesuai dengan ajaran iman dan Gereja berisiko menyesatkan, karena kita menafsirkan kehendak Allah menurut selera kita sendiri.

Yesus menunjukkan bahwa segala karya-Nya bersumber dari Bapa. Ia tidak mencari kemuliaan diri, melainkan kemuliaan Allah. Demikian pula, pertobatan kita harus berakar pada kehendak Allah. Pertobatan sejati menuntun kita pada kerendahan hati, penyerahan diri, dan kesetiaan pada ajaran Gereja. Maka dari itu, marilah kita memeriksa kembali motivasi pertobatan kita. Apakah kita sungguh ingin kembali kepada Allah, atau sekadar mencari pengakuan manusia? Pertobatan sejati adalah jalan menuju kehidupan baru, di mana kehendak Allah menjadi pusat, bukan ambisi kita. Dengan demikian, kita tidak hanya berubah secara lahiriah, tetapi sungguh mengalami pembaruan batin yang membawa kita semakin dekat kepada Kristus. Tuhan memberkati. (RD Daniel Aji Kurniawan)

Melaksanakan Kehendak Allah

Melaksanakan Kehendak Allah

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Yohanes 5:17-30

Rabu, 18 Maret 2026

Kita pasti akrab dengan semboyan dalam Bahasa Latin, “ora et labora”, berdoalah dan bekerjalah. Keduanya harus berjalan seimbang, yang satu dilakukan, yang lain jangan diabaikan. Hari ini Tuhan Yesus menegaskan kepada orang – orang Yahudi: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”  Dengan penegasan tersebut, Yesus mau menyampaikan pesan kepada para pendengar-Nya bahwa Bapa-Nya tidak pernah istirahat dari pekerjaanNya.  Setiap saat Dia selalu bekerja, misalnya: menciptakan manusia baru; memberi daya hidup untuk setiap mahluk hidup; mendengarkan permohonan manusia; menyembuhkan orang sakit, dalan lain sebagainya.

Itulah sebabnya, meskipun hari sabat Yesus tetap bekerja menyembuhkan orang sakit. Sebab bagi-Nya hari sabat adalah untuk berbuat baik, menyelamatkan orang, dan bukan sebaliknya [bdk. Mark 3:4]. Akan tetapi bagi kebanyakan orang Yahudi di jaman Yesus memahami sabat secara aturan saja, di mana pada hari Sabat orang harus istirahat total tanpa kerja, termasuk tidak boleh melakukan pelayanan kasih. Bagi Yesus hal tersebut sama sekali tidak tepat. Sebab realitanya manusia butuh makan, minum, jika sakit butuh sembuh, dll. Karenanya,Yesus tetap menjalankan misi-Nya, kehendak Bapa-Nya setiap saat, sepanjang waktu. Kasih-Nya tidak bisa dihalangi oleh apapun dan siapapun. Hidup harian-Nya tertata dengan baik: pada pagi dan malam hari Dia selalu berkomunikasi dengan Bapa-Nya lewat doa, sedangkan pada siang hari Dia mengajar dan menyembuhkan orang sakit. Pekerjaan yang lebih besar atau lebih agung, sebagai Anak, Yesus akan menderita, wafat dan bangkit dengan mulia. Karena itu, Iapun akan menajdi hakim agung yang datang untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Semua ini dilakukan-Nya karena kasih dan kuasa Bapa dalam Roh Kudus, sebagaimana ditegaskan St Paulus, ‘Segala lidah akan mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa’ (Flp 2:11).

Hidup kristiani menjadi sungguh bermakna ketika dijalani sebagai pelaksanaan kehendak Allah, yakni berusaha hidup di dalam dan karena Yesus Kristus serta mengalami kasih-Nya. Namun hidup dan kehidupan sebagai wujud melaksanakan “pekerjaan ALLAH” mungkin menakutkan bagi mereka yang dihinggapi rasa iri hati, cemburu dan berpikir sempit. Sebaliknya bagi orang beriman, mengamalkkan “pekerjaan ALLAH” itu membuat tenang, aman dan damai. Semoga kita ditemukan Allah sebagai pribadi-priobadi yang melaksankan kehendak-Nya!

RENUNGAN: 17 MARET 2026

RENUNGAN: 17 MARET 2026

Rm Ignasius Joko Purnomo

Yohanes 5:1-16

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini dalam Injil  Yohanes 5:1–16, kita mendengar kisah tentang seorang yang telah lumpuh selama tiga puluh delapan tahun. Ia berada di kolam Betesda bersama banyak orang sakit lainnya yang menunggu kesempatan untuk disembuhkan. Namun selama puluhan tahun itu, tidak ada seorang pun yang menolongnya. Kita bisa membayangkan hidup orang ini. Ia hidup dalam penderitaan yang panjang, dalam kesepian, dan dalam perasaan bahwa tidak ada lagi harapan.  Di tengah situasi itulah Yesus datang.

Sering kali kita juga mengalami situasi seperti itu dalam hidup. Ada orang yang sudah lama bergumul dengan penyakit. Ada yang lama memikul masalah keluarga. Ada yang berkali-kali jatuh dalam dosa yang sama. Ada yang merasa hidupnya tidak berubah, seolah-olah terjebak di tempat yang sama. Kadang kita pun bisa berkata seperti orang lumpuh itu: “Tuhan, tidak ada orang yang menolong saya.”

Namun Injil hari ini menunjukkan sesuatu yang sangat indah: ketika manusia merasa sendirian, Yesus sebenarnya sudah datang mendekat. Yesus datang kepada mereka yang tidak punya harapan.  Lalu Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi juga  sangat mendalam: “Maukah engkau sembuh?” Mungkin kita berpikir: tentu saja orang sakit ingin sembuh.  Mengapa Yesus masih bertanya? Tetapi pertanyaan ini sebenarnya menyentuh hati  manusia yang paling dalam. Kadang-kadang, setelah bertahun-tahun hidup dalam suatu keadaan, manusia bisa  menjadi terbiasa dengan luka, dengan kelemahan, bahkan dengan dosa. Perubahan justru terasa menakutkan. Bangkit kembali terasa berat. Karena itu Yesus tidak langsung menyembuhkan. Ia terlebih dahulu mengajak orang  itu untuk menyadari keinginannya sendiri: “Apakah kamu sungguh ingin sembuh?”

Saudara-saudari terkasih.

Pertanyaan ini juga ditujukan kepada kita di masa Prapaskah ini. Prapaskah bukan hanya masa pantang dan puasa. Prapaskah adalah saat Tuhan  bertanya kepada kita masing-masing: “Apakah kamu sungguh ingin sembuh?” Apakah kita sungguh ingin sembuh dari kemarahan yang kita pelihara? Dari kebiasaan buruk yang terus kita ulangi? Dari dosa yang membuat kita jauh dari Tuhan? Dari luka batin yang membuat kita sulit mengasihi? Sering kali kita seperti orang lumpuh itu: kita punya banyak alasan. Ia berkata  kepada Yesus: “Tidak ada orang yang menolong saya untuk masuk ke kolam. Selalu orang lain mendahului saya.” Itu adalah alasan yang sangat manusiawi. Tetapi Yesus tidak berhenti pada alasan itu. Ia berkata dengan tegas: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Sabda Yesus memberi kehidupan baru. Orang yang selama puluhan tahun tidak bisa berjalan, tiba-tiba bangkit dan berjalan. Di sini kita melihat sesuatu yang penting: Kesembuhan tidak hanya terjadi karena kolam Betesda, tetapi karena sabda Yesus.

Saudara-saudari, dalam kehidupan rohani kita pun demikian. Sering kali kita menunggu keadaan yang sempurna untuk berubah. Kita menunggu orang lain membantu kita. Kita menunggu situasi menjadi lebih baik. Tetapi Tuhan berkata kepada kita hari ini: Mulailah sekarang. Bangunlah. Kadang langkah pertama menuju kesembuhan rohani adalah langkah yang kecil: mungkin mulai kembali berdoa, mungkin berani mengampuni, mungkin datang menerima sakramen tobat, mungkin memutuskan untuk memulai hidup yang baru. Yesus juga memberi peringatan kepada orang yang telah sembuh itu: “Jangan berbuat dosa lagi supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” Ini menunjukkan bahwa kesembuhan yang Tuhan berikan selalu mengarah pada  pertobatan hidup.

Saudara-saudari terkasih,

Injil hari ini memberi kita dua kabar gembira besar. Pertama, Yesus datang kepada mereka yang tidak punya harapan. Tidak ada penderitaan yang terlalu lama bagi Tuhan. Tidak ada hidup yang terlalu  rusak bagi Tuhan. Kedua, Tuhan menanyakan kepada kita: “Maukah engkau sembuh?” Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan kita, tetapi untuk membangunkan kita. Mungkin hari ini ada di antara kita yang merasa seperti orang lumpuh itu: lelah, putus asa, atau merasa tidak ada jalan keluar. Jika demikian, dengarkanlah Sabda Tuhan hari ini: Yesus sedang berdiri di dekat kita dan berkata: “Bangunlah… angkatlah tilammu… dan berjalanlah.” Semoga masa Prapaskah ini menjadi saat di mana kita berani menjawab pertanyaan  Tuhan dengan tulus: “Ya Tuhan, saya mau sembuh.” Dan ketika kita membuka hati kepada-Nya, Tuhan sendiri akan memberi kita  kekuatan untuk bangkit dan berjalan dalam hidup yang baru.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

“Terlalu Kenal, Lalu Meremehkan?”

“Terlalu Kenal, Lalu Meremehkan?”

Yohanes 4:43–45

Saudara-saudari terkasih. Injil hari ini menceritakan Yesus yang kembali ke Galilea. Dalam perjalanan itu Yesus mengatakan sesuatu yang tajam: “Seorang nabi tidak dihormati di tempat asalnya.” Namun anehnya, ketika Yesus tiba di Galilea, orang-orang justru menyambut Dia. Mereka menerima-Nya karena mereka telah melihat apa yang dilakukan-Nya di Yerusalem.

Ada ironi, dimana orang-orang menerima Yesus, tetapi bukan karena mereka sungguh memahami siapa Dia. Mereka menerima Dia karena mukjizat yang pernah mereka lihat. Artinya, penerimaan itu bisa jadi bukan iman yang mendalam, melainkan kekaguman pada tanda-tanda.

Dalam Injil Yohanes, mukjizat disebut “tanda” (semeion). Tanda seharusnya menunjuk pada sesuatu yang lebih dalam: pada identitas Yesus sebagai Putra Allah. Namun sering kali orang berhenti pada tandanya saja. Mereka kagum pada kuasa Yesus, tetapi belum sungguh percaya kepada pribadi-Nya.

Itulah sebabnya Yesus mengingatkan bahwa seorang nabi sering tidak dihargai di tempat asalnya. Ketika orang merasa terlalu mengenal, mereka justru kehilangan rasa hormat dan iman.

Pengalaman ini sebenarnya sangat dekat dengan hidup kita.

Kita mungkin sudah lama menjadi orang beriman. Kita mengikuti Misa, berdoa rosario, membaca Kitab Suci, dan terlibat dalam pelayanan. Namun ada bahaya yang sering muncul tanpa kita sadari: Tuhan menjadi terlalu “biasa”.

Kita bisa hadir dalam liturgi, tetapi hati kita tidak sungguh terarah kepada Tuhan. Kita mendengar Sabda Tuhan, tetapi rasanya seperti mendengar sesuatu yang sudah sering kita dengar. Kita mengenal Yesus, tetapi kedekatan itu tidak selalu berarti kedalaman iman.

Padahal dalam iman Katolik, setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita sungguh berjumpa dengan Kristus yang hidup. Dalam Sabda-Nya Ia berbicara. Dalam Tubuh dan Darah-Nya Ia memberikan diri-Nya. Namun jika hati kita tidak terbuka, kita bisa saja berada sangat dekat dengan Tuhan, tetapi tetap tidak sungguh menyadari kehadiran-Nya.

Maka Injil hari ini menjadi undangan yang sederhana namun tajam: jangan sampai kita terlalu terbiasa dengan Tuhan sehingga kehilangan rasa kagum dan iman.

Iman sejati bukan hanya mencari mukjizat. Iman sejati adalah mengenal Yesus, mempercayakan hidup kepada-Nya, dan melihat karya-Nya bahkan dalam hal-hal yang kecil dan sederhana.

Pertanyaan refleksi

  • Apakah saya mencari Tuhan hanya ketika membutuhkan mukjizat atau pertolongan?
  • Apakah kehidupan rohani saya mulai terasa sekadar rutinitas tanpa kedalaman?
  • Ketika mengikuti Misa atau doa, apakah saya sungguh sadar bahwa saya sedang berjumpa dengan Tuhan?
  • Dalam peristiwa-peristiwa sederhana hidup saya, apakah saya masih mampu melihat kehadiran dan karya Tuhan?

Doa

Tuhan Yesus,

sering kali aku merasa sudah mengenal Engkau,

tetapi hatiku mudah menjadi biasa dan tumpul.

Bukalah kembali hatiku

agar aku dapat melihat kehadiran-Mu

dalam Sabda, dalam Ekaristi,

dan dalam peristiwa-peristiwa kecil hidupku.

Ajarlah aku untuk percaya kepada-Mu

bukan hanya karena tanda-tanda,

tetapi karena Engkaulah Tuhan dan Juruselamatku.

Amin.

RD. Yusuf Dimas Caesario

Translate »