Browsed by
Month: December 2013

“Mereka yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang”

“Mereka yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang”

Christmas-Garland1Baru saja saya merayakan Misa Natal bersama umat paroki St. Jerome di El Cerrito. Ada banyak wajah baru yang tak pernah terlihat dalam misa mingguan. Sebagian orang yang hadir dalam misa adalah mereka yang pernah dibesarkan di El Cerrito. Kini mereka tinggal terpisah dengan orang tua, dan menjalani kehidupan sendiri di kota lain. Bagi banyak orang Amerika, Natal adalah kesempatan untuk berkumpul kembali dengan sanak saudara dan tekan dekat. Ada suasana kekeluargaan yang mendalam saat merayakan misa sore ini karena sebagian dari umat mengenal satu sama lain semenjak mereka anak-anak.

Seusai misa, dalam pertemuan kecil umat, salah satu mereka berkata, “kami mengenal dia sejak sekolah dasar. Namun dalam perjalanan kami berpisah. Dia mengambil jalan terang, dan jalan saya lebih gelap.” Lalu mereka tertawa lepas! Meski saya tak tahu apa maksud kata-kata itu, tapi ada keyakinan bahwa setiap orang adalah peziarah yang menjalani kehidupan masing-masing. Terang dan gelap, buram, serta samar datang silih berganti dalam hidup kita.

Saat hati kita terbuka pada kasih Allah, kita berjalan pada terang dan mengerti pilihan hidup yang sedang kita lalui. Sebaliknya saak hati tertutup, kegelapan mendominasi dan menguasai kehidupan. Hasilnya adalah kesombongan, egoisme, dan pencarian nama diri. Yohanes berkata, “barang siapa membenci saudaranya, ia hidup dalam kegelapan (1 Yohanes 2:11). Sebaliknya, mereka yang membuka mata untuk sesama akan melihat terang dan berjalan dalam kebaikan Tuhan.

Kelahiran Yesus menegaskan bagaimana Allah masuk dalam sejarah hidup manusia. Paus Fransiscus dalam kotbahnya berkata, “Allah yang maha besar telah membuat dirinya kecil, ia  yang kaya membuat dirinya miskin, dan ia yang jauh menbuat dirinya dekat dengan kita.” Yesus menghadirkan Allah yang turut berjalan dalam peziarahan manusia di dunia.

Hari ini marilah kita berbagi kegembiraan dan rahmat yang kita terima dari Allah. Terlebih, tebarkanlah kebaikan dan pertolongan bagi mereka yang kekurangan dan tak beruntung seperti kita. Sebab hari ini, Allah telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Ia Yesus yang mengusir kegelapan dan memberi jalan terang bagi kita yang sedang berziarah di dunia.

Selamat Natal 2013! (renungan diinspirasi dari kotbah Paus Fransiscus di hari Natal 24 Desember 2013)

Selamat Hari Natal

Selamat Hari Natal

839738247_origSeluruh staff termasuk Romo dan Suster , mengucapkan “Selamat Hari Natal”, semoga terang Natal menyinari kehudpan kita , dan kita Bayi Yesus lahir juga didalam karya dan hati kita masing2.
Untuk meningkatkan pelayanan kami, kiranya mohon masukan /saran2 yang akan kami pakai sebagai acuan kami dalam melayani lebih baik,  mohon klik saran

Kami yang bertugas mengucapkan terima kasih,

Redaksi

Kidung Zakaria

Kidung Zakaria

Lukas 1: 67-79, “Kidung Zakaria”

Engkau, anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi,

Sebab engkau akan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalan-Nya,

Untuk menanamkan pengertian akan keselamatan dalam umat-Nya,

Berkat pengampunan dosa mereka.

Sebab Allah kita penuh rahmat dan berbelaskasihan,

Ia mengunjungi kita laksana fajar cemerlang,

Untuk menyinari orang yang meringkuk dalam kegelapan maut,

Dan membimbing kita ke jalan damai sejahtera.

Kata-katanya indah bagai aria dalam Opera. Saat melihat kelahiran anaknya, Zakariah bernyanyi. Ia berkidung mengalirkan sabda agung, membuat terkesima semua orang karena menyentuh namun tetap sederhana. Setelah 9 bulan bisu, ucapan pertama yang keluar dari mulutnya hanyalah pujian akan kebesaran karya Tuhan. Tak ada omelan atau kritik, bukan keluhan dan hujat, namun kata syukur dan terima kasih.

Allah dilukiskan sebagai cahaya cemerlang. Dia terang yang membawa kehidupan bagi dunia. Orang bisa melihat karena ada terang. Tumbuhan mampu berfotosistesis karena ada bantuan cahaya matahari. Terang itu memberi hidup dan pertumbuhan. Semua mahluk hidup membutuhkan terang. Sebaliknya, kegelapan identik dengan kematian dan berhentinya kehidupan. Makanya, manusia cenderung takut akan gelap! Ia membutuhkan cahaya di saat malam.

 

Allah yang mengunjungi manusia terwujud paling jelas dalam diri Yesus Kristus. Dia menjadi manusia dan tinggal diantara kita. Santo Anselmus bertanya, “Mengapa Allah menjadi manusia?” Ia menjadi sama seperti kita dan mengalami penderitaan manusia, agar lewat Kristus, kemanusiaan kita yang fana dan tak berharga bisa diangkat pada keilahian dan kehidupan kekal.

 

Esok hari kita merayakan Natal, Yesus yang lahir laksana fajar cemerlang dan menuntun orang pada jalan damai sejahtera. Kita memohon agar kehadiran Yesus juga menuntut dan mengembalikan kita pada jalan yang benar, pada perbaikan sikap hidup, pertobatan dan kegembiraan hati karena Tuhan beserta kita!

Diam

Diam

Lukas 1: 57-66, “Kelahiran Yohanes Pembaptis”

 

Kisah kelahiran Yohanes Pembaptis penuh dengan kejutan dalam suasana diam. Ayahnya berasal dari kelompok imam yang biasa mempersembahkan kurban dalam Bait Allah, dan ia menjadi bisu karena melihat malaikat Allah saat ia menjalankan tugasnya. Ia bisu, tak bisa omong selama 9 bulan. Namun ini bukan bisu biasa. Bisu membuat dia lebih bisa mendengarkan suara hati, dan sedikit komentar! Bisu menuntun pada suasana hening sehingga manusia bisa mendengar Allah yang berbicara.

Elisabet juga membisukan diri. Setelah dia tahu bahwa dia hamil di usia senja, Elisabet memilih mengurung diri di rumah. Ia ikut diam bersama suami, dan ingin tahu apa arti peristiwa yang baru saja dialaminya. Dia diam, tapi berfikir dan bermenung. Diam namun mendalam dan kaya pengalaman hati. Diam tapi bergelora dalam iman akan Allah.

Kata-katanya menjadi indah dan mempesona ketika Elisabet bertemu dengan Maria. “Terberkatilah engkau diantara semua wanita, dan terpujilah buah tubuhmu!” katanya pada Maria. Kata-kata ini terus bergema dalam mulut setiap orang ketika berdoa Salam Maria. Ucapan ini hanya akan keluar dari mulut seseorang yang telah bermenung dalam, masuk ke relung batin dan iman. Kata yang dalam dan berarti hanya keluar dari mulut orang yang hidupnya tenang dan mendalam. Kata tanpa arti hanya keluar dari mulut orang yang terlalu banyak bicara, tapi penuh kekosongan.

 

Dunia  kita memuja orang yang banyak omong dan pandai berargumentasi. “Words are powerful and silent is weakness!” Berapa kali setiap hari kita mengkritik orang lain, berargumentasi, dan mempertahankan diri dengan kata-kata yang membuat orang lain bertekuk-lutut, tak mampu menanggapi. Di saat seperti itu, kita merasa menang dan jaya.

Namun Elisabet dan Zakariah punya keyakinan berbeda. Silent is the most powerful one! Dalam kediaman mereka mengerti rencana Allah. Hening menuntut mereka pada batin yang jernih dan bening. Kata-kata mereka tidak kosong, tapi penuh arti, pun indah serta mempesona, karena dilahirkan dari kedalaman jiwa.

 

Semoga 1 hari menjelang Natal ini, batin kita bisa bening dan hening, mampu melihat Tuhan yang hadir dalam Yesus. Dialah, Tuhan beserta kita setiap hari!

Terberkati

Terberkati

annuncSabtu, 21 Desember 2013

Lukas 1: 39-45

Bacaan yang kita gunakan hari ini, yaitu Lukas 1: 39-45 juga digunakan sebagai bacaan pada Pesta Maria mengunjungi Elisabet. Perlu kita ketahui, bacaan Injil pada perayaan ini memuat dua bagian, yakni kisah Maria mengunjungi Elisabet dan Kidung Pujian Maria (“Magnificat”). Injil mengisahkan dua orang perempuan yang merasa “beruntung”. Elisabet beruntung karena ia tidak lagi disebut wanita mandul, wanita yang kena aib karena ia akan melahirkan Yohanes Pembaptis di usia senjanya. Dan Yohanes yang masih ada dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan mendengar salam yang diucapkan Maria yang datang berkunjung. Di lain pihak, Maria harus melewati hari-hari tidak mengenakkan memikirkan bagaimana menjelaskan keadaan dirinya kepada Yusuf, tunangannya. Ia bertanya kepada malaikat yang datang kepadanya, bagaimana mungkin semuanya terjadi. Mendapati Maria sangat bingung (bukan takut) malaikat menjawabi keraguan Maria. Jawaban malaikat menunjuk pada peran Roh Kudus. Maria membiarkan Roh Kudus bekerja dalam dirinya. Dia adalah Tuhan yang mengubah diri menjadi suara hati manusia. Dan suara hatinya itu jugalah yang membuatnya berkata “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu!”

Roh Kudus pula yang mendorong Maria mengungkapkan pujian yang dikenal sebagai magnificat. Kidung itu mulai dengan pujian bagi Tuhan yang turun untuk menyelamatkan. Ia membuat hidup ini berarti. Ia membuat penderitaan bermakna. Kemudian terungkap pengakuan bahwa Tuhan menyayangi orang-orang yang kecil sehingga mereka menjadi besar di mata orang. Dalam hal ini kita tidak perlu menafsirkan bahwa pujian Maria in merupakan kutukan bagi orang-orang besar, berkuasa ataupun kaya. Magnificat bukanlah teologi pembalikan nasib orang miskin jadi kaya dan orang kaya jadi miskin. Ayat itu mewartakan kebesaran Tuhan yang tidak takut berdekatan dengan orang kecil, pertama-tama karena orang kecil itu dapat memberinya naungan dan mengurangi kesepianNya! Orang sederhana biasanya ingat Tuhan dan itu cukup membuatNya menemukan kembali secercah kegembiraan bahkan dalam hal-hal sulit sekalipun.

Sering kita menganggap bahwa penderitaan, kemelaratan, dan segala hal buruk yang menimpa seseorang adalah hukuman atas kesalahan. Kita juga menganggap bahwa hukuman bisa juga diturunkan kepada keturunan orang yang bersalah. Hal ini berarti dosa diwariskan dan diturunkan. Hmmm … benarkah demikian? Tidak! Kidung Maria tidak mengenal hal demikian. Sebaliknya, ditegaskan bahwa Tuhan membela orang yang percaya kepadaNya yang meminta pertolongan dariNya. Bagaimana dengan orang yang hidupnya beruntung, menikmati kelebihan, tidak kurang suatu apa? Apakah mereka itu akan dikenai malapetaka? Kiranya bukan itulah yang dimaksud. Orang-orang yang beruntung dihimbau agar mengambil sikap seperti Tuhan sendiri, yakni memperhatikan mereka yang kurang beruntung. Kemapanan, keberuntungan, kemakmuran yang kita miliki dan alami justru diminta oleh Tuhan untuk digunakan membantu mereka yag tidak beruntung, mereka yang kesrakat. Tidak benar jika orang membiarkan kekayaan, kedudukan, kepintaran membuat sesama yang kurang beruntung menjadi terpojok atau kurang mendapat kesempatan untuk maju. Inilah yang kiranya hendak disampaikan bahwa orang congkak hati akan dicerai-beraikan, orang berkedudukan akan direndahkan, orang kaya akan disuruh pergi dengan tangan hampa. Kidung Magnificat mengajak orang-orang yang merasa beruntung diberkati oleh Tuhan dengan kelebihan bukan untuk menikmatinya melainkan untuk memungkinkan sesama ikut beruntung. Tuhan lewat kidung Maria tidak bermaksud menjungkirbalikkan nasib, melainkan meluruskan hakikat kehidupan yang seharusnya dan semetinya.

Lantas apakah yang dapat kita pelajari dari Injil ini untuk kehidupan kita saat ini? Kita dapat belajar bahwa kepercayaan akan kebesaran Tuhan tidak bisa diterapkan begitu saja untuk memerangi ketimpangan sosial yang mengakibatkan adanya ketidakadilan yang melembaga. Namun demikian, kepercayaan ini dapat membuat manusia makin peka dan mencari jalan memperbaiki kemanusiaan sendiri. Keterbukaan kepada dimensi ilahi akan membuat orang makin lurus. Kiranya pesan Injil ini semakin membuat kita bisa peka akan keadaan dan kebutuhan yang ada di sekitar kita. Amin.

Translate »