Kasih adalah sumber damai


http://www.youtube.com/watch?v=pQztFd6W1fs
Pagi-pagi setelah membaca renungan, seorang pembaca setia lubuk hati mengirimkan link lagu ini:
Terima kasih Tuhan atas pencobaan hidup setiap hari,
thanks Riana!
Bacaan I: James 1:2-8 , Injil Markus 8: 11-13
saudara-saudara, anggaplah suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit ,maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.
Dua minggu ini, Tuhan mempertemukan saya dengan sahabat-sahabat yang mengalami banyak kesulitan hidup karena penyakit dan penderitaan. Seorang teman datang pagi-pagi ke pasturan, “Romo berilah saya minyak suci, karena saya kena tumor otak stadium akhir.” Dia berkisah kalau semenjak kena tumor, pekerjaannya hilang, karena ia sulit mengingat memo-memo dari bos! Tak bisa konsentrasi karena kesulitan mengingat tugas dan tanggung jawab kerja. Kini ia punya banyak waktu untuk diri sendiri, menyibukkan hiidup dalam kegiatan paroki, dan ikut misa harian setiap pagi.
Setelah bergulat dengan rasa sedih berkepanjangan, ia mengalahkan kesakitannya, bisa menerima apa yang dialami dengan lapang dada. “Menerima dengan hati terbuka adalah kunci kegembiraan hidup” katanya sambil tersenyum. Tak ada aura kesedihan atau nada kasihan pada diri sendiri. Ia tegar dan menatap hidup dengan berani! Jangan pernah menyerah! Ia melihat penyakitnya ini sebagai tanda agar makin hidup dekat dengan Allah dan sesama yang menderita. Dulu penyakit dilihat sebagai kutukan, kini dipandang sebagai tanda.
Pada orang-orang Farisi yang tidak percaya, Jesus tidak memberi tanda. Pada angkatan yang jahat ini, Yesus tak memberi satupun tanda. Namun Ia membuat banyak tanda dan mukjijat untuk orang yang percaya dan mencintaiNya. “Berdoalah dengan berani, dan mintalah tanda dari Allah!” Pasti ia akan memberi pada orang yang percaya padaNya!
Suatu kali nabi Elia berdiri di sebuah gunung tinggi dan ia ingin melihat tanda kehadiran Allah. “Pastilah Tuhan hadir dalam badai guruh yang mengerikan!” Katanya. Namun Tuhan ternyata hadir dalam angin sepoi yang menidurkan Elia, sehingga hampir-hampir ia tak merasakan tanda dari Yahwe. Dia tidak hadir dalam taifun yang dasyat, namun Allah ada dalam tiupan angin sepoi pegunungan.
Seberanya berulangkali Tuhan memberi tanda dalam hidup ini. Hanya saja kita kadang tak melihatnya, atau tak memandang hal itu sebagai tanda, dan kita mengabaikan begitu saja. Hari ini berdoalah dengan berani, “Tuhan ajari aku melihat tanda ajaibMu dalam hidup setiap hari!” Kalau kita bisa melihat tanda itu, niscaya kesusahan dan kegembiraan, suka dan derita, serta ratap tangis air mata tetap akan menjadi sarana dan tanda Allah yang menyampaikan pesannya pada kita setiap hari. Amin.
Mrk 8:1-10
Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?”Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.
Bacaan injil hari ini sangat menarik karena ketika Yesus tergerak hatiNya oleh belaskasihan melihat begitu banyak orang yang tidak mempunyai makanan, para murid dengan nada pesimis berkata “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada para muridnya, berapa roti dan ikan yang mereka miliki. Mereka menjawab 7 roti dan beberapa ikan. Yesus memberkati ikan roti dan ikan kemudian dia meminta para muridNya untuk membagikannya dan hasilnya sangat luar biasa, tubuh bakul penuh.
Dalam hidup sehari-hari, kita bertemu dengan begitu banyak orang yang tidak mempunyai makanan yang cukup. Begitu banyak orang, kelompok atau organisasi berusaha untuk menolong orang-orang tersebut. Akan tetapi masih banyak orang juga tidak peduli akan situasi ini. Banyak alasan yang dipakai untuk untuk tidak mau menolong orang yang sungguh membutuhkan.
Sebagaimana Yesus bertanya kepada para muridNya berapa roti yang kamu miliki, Yesus juga menantang kita untuk membantu orang-orang disekitar kita yang sungguh membutuhkan. Yesus menantang kita untuk menggunakan berkat yang kita terima untuk dipakai untuk membantu dan melayani mereka yang sungguh memerlukan bantuan.
Yesus bertanya kepada kita masing-masing, berapa duit di bank yang kamu miliki? Berapa banyak harta yang kamu punyai? Berapa banyak Berkat yang telah kamu terima? Apa jawaban mu? Apa pun jawabanmu, Yesus mengajak kita untuk memakainya demi menolong dan membantu mereka yang kekurangan. Dari sedikit yang kita miliki, Yesus akan menambahkannya menjadi seratus kali lipat. Kita akan sangat surprise dengan kelimpahan berkat yang belum pernah kita alami sebelumnya.
Mari kita gunakan berkat yang kita terima dari Tuhan tidak hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk menolong orang-orang yang sungguh membutuhkan pertolongan.
Tuhan berkati.
