Browsed by
Month: May 2014

Seorang hamba tidak lebih besar dari tuannya.

Seorang hamba tidak lebih besar dari tuannya.

Kis 13:13-25; Yoh 13:16-20

Yesus Membasuh Kaki Muridnya karya Ketut Lasia
Yesus Membasuh Kaki Muridnya
karya Ketut Lasia

 

Di Indonesia masih banyak terjadi korupsi bahkan sampai tingkat pemerintahan yang paling bawah. Jika kita berurusan dengan pejabat yang mata duitan, sudah tidak aneh lagi, karena dari atasannya juga bermentalitas sama. Kalau ada anak yang berperilaku buruk, kita sering bilang, “Nggak heran, karena orang tuanya juga begitu.” Sikap dan perilaku pemimpin, orang tua, atau atasan sangat mempengaruhi mereka yang di bawahnya.

 

Karena itulah dalam kotbahnya, Santo Paulus menceritakan secara singkat sejarah keselamatan manusia, dari pembebasan bangsa Yahudi dari Mesir sampai kebangkitan Yesus. Paulus menggambarkan Tuhan macam apakah yang telah mengasihi dan menyelamatkan kita. Sikap dan tindakan kita sebagai umatnya sangat tergantung dengan pengertian kita akan Tuhan. Kalau kita percaya akan Tuhan yang pendendam atau pemarah, akan mudah bagi kita untuk berperilaku kasar pada orang lain. Tapi jika kita sadar bahwa Tuhan memaafkan dan mencintai kita walaupun kita pernah berpaling daripadaNya dan bahkan menolakNya, kita pun akan menjadi orang yang sudi memaafkan dan mengasihi orang lain.

 

Bacaan dari Injil Yohanes hari ini terjadi setelah Yesus membasuh kaki para muridnya pada malam perjamuan terakhir. Dia meminta mereka untuk mengikuti teladannya untuk melayani orang lain. Jika mereka memanggilnya Guru atau Tuhan, dan sang Guru atau Tuhan itu mau berlutut dan membasuh kaki muridnya yang begitu kotor, mereka pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama. Yesus melakukan ini karena Bapanya yang mengutus dia. Sekarang Yesus lah yang mengutus kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

Jesus, my BFF

Jesus, my BFF

Hari Pesta Rasul St. Matias

Kis 1:15-17, 20-26; Yoh 15:9-17

jesus bff

Di Amerika ada istilah yang populer di kalangan anak muda: BFF atau Best Friend Forever. Istilah ini dipakai kalau ada dua orang teman yang sangat dekat dan saling berjanji bahwa mereka akan jadi teman baik selama-lamanya. Tapi yang namanya manusia, seringkali persahabatan ini bukan forever. Entah karena timbul masalah, irihati, kesalahpahaman, dua orang yang dulunya teman baik bisa menjadi musuhan atau menolak untuk berbicara lagi. Saya sendiri tidak pernah mengklaim punya BFF, tapi ada beberapa teman yang dulunya sangat dekat sekarang menjadi seperti orang asing bagi saya. Ada yang sampai membikin sakit hati karena satu perkataan atau perbuatan. Kita hanya bisa mengenang masa-masa indah persahabatan kita dulu.

Hari ini kita memperingati Santo Matias, murid Yesus yang menggantikan Yudas Iskariot yang telah mengkhianatiNya. Mungkin bisa kita bayangkan bagaimana perasaan Yesus ketika melihat teman baiknya sendiri menyerahkannya untuk ditangkap. Di Injil Yohanes kita membaca semacam surat cinta dari Yesus pada para rasul: “Kalian tidak lagi kupanggil hamba…. Kalian kupanggil sahabat, sebab semua yang kudengar dari Bapa sudah kuberitahukan kepadamu. Bukan kalian yang memilih Aku. Akulah yang memilih kalian.” Yudas adalah satu orang yang Yesus pilih, orang yang dia panggil sahabat, orang yang berjalan dan hidup bersama dia beberapa tahun, tertawa dan menderita sama-sama. Walaupun demikan, dia tega untuk mengkhianati teman baiknya.

Mungkin dalam hidup kita tidak ada teman yang sampai hati menyerahkan kita untuk disiksa dan dihukum mati, tapi banyak yang mungkin mengecewakan atau menyakiti hati kita. Dan sebaliknya, mungkin kita tidak bisa menjadi teman yang mereka harapkan. Hubungan persahabatan itu akhirnya harus merenggang atau putus. Hanya Yesus lah yang berjanji dan menepati janjinya untuk menjadi teman baik kita, forever. Apapun perlakuan kita, apapun dosa kita, dia tidak akan menjauhkan dirinya dari kita.

 

Mujizat memang nyata, tapi pekerjaan kita lebih nyata.

Mujizat memang nyata, tapi pekerjaan kita lebih nyata.

Hari Raya Santa Perawan Maria dari Fatima

Kis 11:19-26; Yoh 10:22-30

FatimaGr

Siapa yang tidak merindukan mujizat? Jika ada saudara kita yang sakit parah, kita mengharapkan mujizat supaya dia langsung sembuh. Jika ada konflik atau peperangan, kita mengharap suatu tanda dari langit supaya pihak yang bertikai langsung berhenti. Jika saya sedang mencari pekerjaan atau greencard supaya bisa langsung dapat tanpa melalui proses panjang. Begitu pula orang Yahudi di jaman Yesus, dalam penantian mereka akan seorang Mesias yang dijanjikan para nabi, yang akan membebaskan mereka dari jajahan Romawi dan menjadikan mereka bangsa yang jaya kembali seperti jaman Daud dan Salomo. Karena itulah mereka ingin Yesus menyatakan dirinya secara gamblang bahwa dia adalah mujizat itu sendiri, Mesias, Penyelamat yang dijanjikan. Tapi Yesus menjawab bahwa pekerjaanNya yang dilakukan sehari-harilah yang merupakan mujizat. Mereka melihat tapi tidak percaya. Mereka masih menunggu-nunggu sesuatu yang fenomenal, yang luar biasa. Padahal dalam kesehariannya itulah Yesus mewujudkan karya keselamatan Allah.

 

Hari ini 97 tahun yang lalu di Fatima, Portugal, tiga anak desa mengalami suatu mujizat, penampakan dari Bunda Maria sendiri. Penampakan itu diulangi kembali setiap bulan sampai Oktober. Dalam pesan-pesannya, Bunda Maria menyatakan kesedihan akan perilaku manusia yang melawan Tuhan. Ia juga mengatakan akan terjadi peperangan dan malapetaka jika manusia tidak bertobat dan berdoa. Penampakan di Fatima adalah salah satu yang paling terkenal di abad yang lalu dan sampai sekarang masih menjadi tempat ziarah yang paling populer. Mujizat besar semacam ini tidak sering terjadi, tapi kita seakan-akan selalu haus dan menunggu mujizat berikutnya. Ketika ada kabar ada patung Maria menangis darah beberapa waktu lalu, orang-orang gempar dan berbondong-bondong mendatangi patung itu.

 

Tapi apakah ini inti hidup iman kita, menantikan mujizat besar berikutnya? Apakah kita mau berdoa hanya jika Yesus atau Maria sendiri menampakkan dirinya langsung pada kita? Jika demikian apa bedanya kita dengan orang-orang Yahudi yang meminta Yesus menyatakan diri sebagai Mesias tapi menutup mata terhadap hal-hal yang sudah dilakukanNya?

 

Dalam bacaan dari Kisah Para Rasul hari ini, seorang nabi Agabus bernubuat akan ada kelaparan di seluruh dunia. Nubuat ini tidak membuat para murid panik atau depresi, tapi justru mereka menggalang dana untuk umat yang tinggal di Yudea. Mendengar pesan-pesan dari Fatima kadangkala bisa membuat kita takut atau cemas karena masa depan yang kelihatan suram. Tapi jika demikian kita melupakan suatu hal paling penting yang dipesankan Bunda Maria: berdoa. Mujizat bisa terjadi sewaktu-waktu, tapi yang lebih penting adalah hidup kita sehari-hari. Berdoa, berbuat kebaikan, inilah yang bisa kita lakukan setiap hari. Pertobatan dunia tidak bisa hanya tergantung dari mujizat, tapi dari apa yang bisa kita mulai hari ini dalam hidup kita.

 

Marilah kita berdoa doa yang diajarkan Bunda Maria di Fatima:

Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka, dan hantarkanlah jiwa-jiwa ke surga, terutama mereka yang sangat membutuhkan kerahimanMu.

 

 

Translate »