Seorang hamba tidak lebih besar dari tuannya.
Kis 13:13-25; Yoh 13:16-20

karya Ketut Lasia
Di Indonesia masih banyak terjadi korupsi bahkan sampai tingkat pemerintahan yang paling bawah. Jika kita berurusan dengan pejabat yang mata duitan, sudah tidak aneh lagi, karena dari atasannya juga bermentalitas sama. Kalau ada anak yang berperilaku buruk, kita sering bilang, “Nggak heran, karena orang tuanya juga begitu.” Sikap dan perilaku pemimpin, orang tua, atau atasan sangat mempengaruhi mereka yang di bawahnya.
Karena itulah dalam kotbahnya, Santo Paulus menceritakan secara singkat sejarah keselamatan manusia, dari pembebasan bangsa Yahudi dari Mesir sampai kebangkitan Yesus. Paulus menggambarkan Tuhan macam apakah yang telah mengasihi dan menyelamatkan kita. Sikap dan tindakan kita sebagai umatnya sangat tergantung dengan pengertian kita akan Tuhan. Kalau kita percaya akan Tuhan yang pendendam atau pemarah, akan mudah bagi kita untuk berperilaku kasar pada orang lain. Tapi jika kita sadar bahwa Tuhan memaafkan dan mencintai kita walaupun kita pernah berpaling daripadaNya dan bahkan menolakNya, kita pun akan menjadi orang yang sudi memaafkan dan mengasihi orang lain.
Bacaan dari Injil Yohanes hari ini terjadi setelah Yesus membasuh kaki para muridnya pada malam perjamuan terakhir. Dia meminta mereka untuk mengikuti teladannya untuk melayani orang lain. Jika mereka memanggilnya Guru atau Tuhan, dan sang Guru atau Tuhan itu mau berlutut dan membasuh kaki muridnya yang begitu kotor, mereka pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama. Yesus melakukan ini karena Bapanya yang mengutus dia. Sekarang Yesus lah yang mengutus kita.



