Satu Kawanan, Satu Gembala
Kis 11:1-18; Yoh 10:11-18
Seorang umat Katolik Indonesia di Amerika pernah bercerita pada saya bagaimana di komunitasnya ada terbentuk kelompok-kelompok yang tidak begitu akur satu sama lain. Parahnya, jika ada orang yang masih netral dan ikut makan atau berkumpul dengan kelompok yang lain, kelompok yang satu akan mengganggap dia berpihak kepada yang lain itu. Umat ini menjadi bingung karena dia merasa tidak ada masalah dengan kelompok manapun, tapi bisa dijauhi oleh satu group kalau dia terlalu dekat dengan yang lain.
Sudah menjadi ciri alami manusia untuk membentuk kelompok, terutama dengan orang lain yang kurang lebih sama dengan mereka, mungkin dari daerah asal yang sama, berkarakter sama, atau mempunyai satu tujuan yang sama. Membentuk kelompok juga bisa untuk menyatukan suara atau kekuatan supaya bisa bertahan pada ancaman-ancaman dari luar. Ini semua bagus, tetapi yang bahaya adalah tendensi untuk menutup diri atau mengganggap kelompok lain sebagai musuh atau lawan. Di Indonesia masih sering terjadi konflik antar kelompok agama, suku, atau ras. Di masa pemilu ini kita juga melihat bagaimana antar partai saling menjatuhkan. Di Amerika dua partai besar Republik dan Demokrat seringkali tidak dapat menyatukan pendapat untuk menghasilkan suatu undang-undang. Di dalam umat Katolik sendiri kita sering mendengar perbedaan antara yang tradisional/konservatif dengan progresif/liberal. Masalah semuanya adalah sama, jika mereka menganggap kelompoknya yang paling benar dan tidak ada dialog yang jujur dan terbuka untuk mengerti satu sama lain.
Ternyata masalah ini sudah ada sejak jaman para rasul. Petrus dikritik karena makan-makan dengan orang yang bukan Yahudi. Kemungkinan juga dia disuguhi makanan yang haram menurut hukum Yahudi. Tapi sabda Tuhan datang padanya: “Apa yang sudah dinyatakan halal oleh Allah janganlah dikatakan haram.” Allah adalah pencipta segalanya, dan segala ciptaannya dianggap baik olehNya. Kitalah yang seringkali mengelompokkan mana yang baik dan tidak, mana yang halal dan haram. Siapakah orang-orang dalam hidup kita yang kita anggap haram? Mereka yang kita jauhi dan kita musuhi? Mereka yang kita anggap tidak pantas dikasihi oleh Allah yang sesungguhnya Mahakasih? Padahal Yesus sendiri berkata bahwa ia adalah Sang Gembala Baik yang akan manjadikan semuanya satu kawanan yang akan digembalakanNya. Dengan selalu mendengarkan Gembala kita, semoga kita bisa selalu hidup rukun dan damai di dalam kawanan yang sangat beragam ini.


