Browsed by
Month: May 2014

Satu Kawanan, Satu Gembala

Satu Kawanan, Satu Gembala

Kis 11:1-18; Yoh 10:11-18

shepherd

Seorang umat Katolik Indonesia di Amerika pernah bercerita pada saya bagaimana di komunitasnya ada terbentuk kelompok-kelompok yang tidak begitu akur satu sama lain. Parahnya, jika ada orang yang masih netral dan ikut makan atau berkumpul dengan kelompok yang lain, kelompok yang satu akan mengganggap dia berpihak kepada yang lain itu. Umat ini menjadi bingung karena dia merasa tidak ada masalah dengan kelompok manapun, tapi bisa dijauhi oleh satu group kalau dia terlalu dekat dengan yang lain.

Sudah menjadi ciri alami manusia untuk membentuk kelompok, terutama dengan orang lain yang kurang lebih sama dengan mereka, mungkin dari daerah asal yang sama, berkarakter sama, atau mempunyai satu tujuan yang sama. Membentuk kelompok juga bisa untuk menyatukan suara atau kekuatan supaya bisa bertahan pada ancaman-ancaman dari luar. Ini semua bagus, tetapi yang bahaya adalah tendensi untuk menutup diri atau mengganggap kelompok lain sebagai musuh atau lawan. Di Indonesia masih sering terjadi konflik antar kelompok agama, suku, atau ras. Di masa pemilu ini kita juga melihat bagaimana antar partai saling menjatuhkan. Di Amerika dua partai besar Republik dan Demokrat seringkali tidak dapat menyatukan pendapat untuk menghasilkan suatu undang-undang. Di dalam umat Katolik sendiri kita sering mendengar perbedaan antara yang tradisional/konservatif dengan progresif/liberal. Masalah semuanya adalah sama, jika mereka menganggap kelompoknya yang paling benar dan tidak ada dialog yang jujur dan terbuka untuk mengerti satu sama lain.

Ternyata masalah ini sudah ada sejak jaman para rasul. Petrus dikritik karena makan-makan dengan orang yang bukan Yahudi. Kemungkinan juga dia disuguhi makanan yang haram menurut hukum Yahudi. Tapi sabda Tuhan datang padanya: “Apa yang sudah dinyatakan halal oleh Allah janganlah dikatakan haram.” Allah adalah pencipta segalanya, dan segala ciptaannya dianggap baik olehNya. Kitalah yang seringkali mengelompokkan mana yang baik dan tidak, mana yang halal dan haram. Siapakah orang-orang dalam hidup kita yang kita anggap haram? Mereka yang kita jauhi dan kita musuhi? Mereka yang kita anggap tidak pantas dikasihi oleh Allah yang sesungguhnya Mahakasih? Padahal Yesus sendiri berkata bahwa ia adalah Sang Gembala Baik yang akan manjadikan semuanya satu kawanan yang akan digembalakanNya. Dengan selalu mendengarkan Gembala kita, semoga kita bisa selalu hidup rukun dan damai di dalam kawanan yang sangat beragam ini.

 

Sejarah Gelap “Mother’s Day”

Sejarah Gelap “Mother’s Day”

Minggu ini seluruh mata dunia tertuju pada 273 para ibu Nigeria yang menangisi anak perempuan mereka hilang diculik kelompok Islam radikal, Boko Haram. Salah satu anak yang berhasil melarikan diri, tak mau lagi berangkat sekolah karena ketakutan dan mengalami trauma berat atas peristiwa penculikan yang dialaminya. Polisi setempat mengisahkan kalau sebagian anak telah dijual ke negara lain menjadi budak dan pekerja. Kisah tragis di hari Minggu “Mother’s Day.”

Hari ini, 11 Mei 2014 tepat orang Amerika memperingati 100 tahun dideklarasikan  hari ibu oleh Presiden Woodrow Wilson. Kisah ini dimulai ketika seorang ibu muda dari Boston, Anna Reeves Jarvis, mendirikan organisasi para perempuan tahun 1850 untuk membantu para ibu dalam soal kesehatan dan mengurangi angka kematian kelahiran setelah perang sipil. Para ibu juga terlibat dalam mempromosikan gerakan damai dalam penyelesaian konflik.

Saan Reeves Jarvis meninggal tahun 1905, Anna Jarvis, sang anak, melanjutkan gerakan ibunya meneruskan pembelaan pada perempuan. Selama beberapa tahun Anna sempat menolak dan mengkritik “Mother’s Day” yang sudah dideklarasikan oleh kongres, karena peringatan itu hanya menjadi perayaan semu, pesta makan, dan tradisi konsumerisme. Hari ini, orang Amerika telah membeli barang- barang untuk para ibu sebesar $ 18 juta. Mother Day  menjadi hari libur terbesar kedua setelah Natal  yang dipakai orang untuk belanja dan makan diluar, mentraktir para ibu.

Semoga disela-sela kegembiraan “Mother’s Day” kita masih ingat banyaknya ibu yang meninggal karena kesulitan mendapatkan sarana kesehatan dan obat, mengalami kekerasan rumah tangga, dan menagis sedih kehilangan anak-anak mereka yang diculik, dan belum kembali.

Selamat hari Ibu! Terima kasih atas segala curahan kasih dan perhatian serta pengurbanan para ibu untuk mendidik anak, mencintai suami, serta menjaga keutuhan rumah tangga. Tuhan memberkati anda semua!

Kebenaran dan Sakit Hati

Kebenaran dan Sakit Hati

Bacaan I               : Kisah Para Rasul 9: 31-42

Injil                         : Yohanes 6: 60-69

 

“Perkataan ini keras, siapa yang dapat mendengarkannya” … “Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu”…

Dalam kehidupan kita sehari-hari kita diminta untuk jujur baik dalam kata-kata maupun dalam perbuatan. Namun terkadang banyak orang yang tidak siap untuk menerima kejujuran kita baik dalam kata-kata maupun perbuatan. Ada kalanya orang lain akan shock maupun terluka karena perkataan dan perbuatan kita sekalipun hal itu jujur.

Hari ini Tuhan menunjukkan hal tersebut. Banyak orang yang mendengarkan Dia shock dan tidak siap mendengar kejujuran dan kebenaran yang Dia katakan. Meskipun perkataannya tidak menyenangkan dan sungguh keras namun Yesus tidak menarik kata-kataNya, karena Ia tahu bahwa apa yang dia katakana adalah kebenaran. Memang kebenaran tidak selalu menyenangkan, namun kita harus ingat, kebenaran membebasakan kita. Semoga kita sekalian tidak terlukakarena perkataan Tuhan yang terkadang keras menegur kita, dan semoga kitapun tidak patah semangat melihat tindakan Tuhan yang terkadang mengecewakan kita. Tujuan dari apa yang Ia lakukan adalah baik dan benar bagi kita. Amin.

Translate »