Rahasia 60 tahun

Bacaan Matthew 6:19-23 “Janganlah mengumpulkan harta untuk dirimu di dunia, di mana rayap dan karat dapat merusaknya dan pencuri datang mencurinya. Sebaliknya, kumpulkanlah harta di surga, di mana rayap dan karat tidak merusaknya, dan pencuri tidak datang mencurinya. Karena di mana hartamu, di situ juga hatimu!” “Mata adalah lampu untuk badan. Kalau matamu jernih, seluruh badanmu terang-benderang. Tetapi kalau matamu kabur, seluruh badanmu gelap-gulita. Jadi kalau lampu di dalam dirimu itu gelap, alangkah pekatnya kegelapan itu!”
Pagi ini saat saya merayakan Ekaristi di St. Jerome, Pat dan Rita merayakan 60 tahun perkawinan mereka. Setiap hari mereka datang misa harian, dan duduk di tempat yang sama, baris kedua sebelah kiri dekat piano. Saya tak memberi homili, hanya mengundang pasangan ini dan mewawancari mereka. Ini kutipannya:
Rm: Apa rahasisa bisa menjaga perkawinan sampai 60 tahun?
Rita: Cinta dan pengertian. Setelah sekian lama kami makin tahu satu sama lain, sifat yang berbeda, dan belajar mengerti pasangan saya sampai sekarang.
Pat: Hormat, menghargai, dan sabar. Perkawinan ini adalah sakramen Gereja, dan kami belajar sabar satu sama lain, hormat serta sabar terhadap sikap pasangan yang kadang berbeda dengan apa yang saya inginkan.
Romo: Apa tantangan terberat selama ini?
Pat: menjaga komitmen bahwa perkawinan ini sekali untuk selamanya, itu berat tapi juga membahagiakan saat bisa menjalaninya. Kami menikmati. Kini pasangan saya ini adalah kawan terbaik dan teman mengisi hidup sampai mati.
Rita: Mendidik anak dan cucu adalah salah satu tantangan besar dalam penjalanan perkawinan kami. Tapi kami bisa!
Romo: Apa kegembiraan paling mendalam dalam hidup rumah tangga?
Rita: kami sangat bahagia ketika melihat anak dan cucu bisa berhasil dan menemukan hidup mereka sendiri. Itu yang membuat kami bersyukur pada Allah.
Pat: “Kini saatnya kami menuai cinta!” Seperti bacaan Injil hari ini, kami mengumpulkan harta yang tak akan habis di dunia. CInta kami tabur dihati anak dan cucu, serta teman. Sekarang kami bergembira saat bisa menuai cinta itu, mereka mengasihi kami kembali sama seperti saat kami mengasihi mereka.
Hidup Pat dan Rita sudah menjadi kotbah yang hidup di misa pagi ini. Semoga menginspirasi kita semua dalam menjalani kehidupan ini. Saya bahagia sebagai imam yang bisa melihat umat yang setia sampai akhir seperti mereka.


