Browsed by
Month: June 2014

Rahasia 60 tahun

Rahasia 60 tahun

Bacaan Matthew 6:19-23  “Janganlah mengumpulkan harta untuk dirimu di dunia, di mana rayap dan karat dapat merusaknya dan pencuri datang mencurinya.  Sebaliknya, kumpulkanlah harta di surga, di mana rayap dan karat tidak merusaknya, dan pencuri tidak datang mencurinya. Karena di mana hartamu, di situ juga hatimu!” “Mata adalah lampu untuk badan. Kalau matamu jernih, seluruh badanmu terang-benderang.  Tetapi kalau matamu kabur, seluruh badanmu gelap-gulita. Jadi kalau lampu di dalam dirimu itu gelap, alangkah pekatnya kegelapan itu!”

Pagi ini saat saya merayakan Ekaristi di St. Jerome,  Pat dan Rita merayakan 60 tahun perkawinan mereka. Setiap hari mereka datang misa harian, dan duduk di tempat yang sama, baris kedua sebelah kiri dekat piano. Saya tak memberi homili, hanya mengundang pasangan ini dan mewawancari mereka. Ini kutipannya:

Rm: Apa rahasisa bisa menjaga perkawinan sampai 60 tahun?

Rita: Cinta dan pengertian. Setelah sekian lama kami makin tahu satu sama lain, sifat yang berbeda, dan belajar mengerti pasangan saya sampai sekarang.

Pat: Hormat, menghargai, dan sabar. Perkawinan ini adalah sakramen Gereja, dan kami belajar sabar satu sama lain, hormat serta sabar terhadap sikap pasangan yang kadang berbeda dengan apa yang saya inginkan.

Romo: Apa tantangan terberat selama ini?

Pat: menjaga komitmen bahwa perkawinan ini sekali untuk selamanya, itu berat tapi juga membahagiakan saat bisa menjalaninya. Kami menikmati. Kini pasangan saya ini adalah kawan terbaik dan teman mengisi hidup sampai mati.

Rita: Mendidik anak dan cucu adalah salah satu tantangan besar dalam penjalanan perkawinan kami. Tapi kami bisa!

Romo: Apa kegembiraan paling mendalam dalam hidup rumah tangga?

Rita: kami sangat bahagia ketika melihat anak dan cucu bisa berhasil dan menemukan hidup mereka sendiri. Itu yang membuat kami bersyukur pada Allah.

Pat: “Kini saatnya kami menuai cinta!” Seperti bacaan Injil hari ini, kami mengumpulkan harta yang tak akan habis di dunia. CInta kami tabur dihati anak dan cucu, serta teman. Sekarang kami bergembira saat bisa menuai cinta itu, mereka mengasihi kami kembali sama seperti saat kami mengasihi mereka.

Hidup Pat dan Rita sudah menjadi kotbah yang hidup di misa pagi ini. Semoga menginspirasi kita semua dalam  menjalani kehidupan ini. Saya bahagia sebagai imam yang bisa melihat umat yang setia sampai akhir seperti mereka.

Bapa Kami

Bapa Kami

Bacaan Mateus 6:7-15: “Doa Bapa Kami”

Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu

Kita bisa menyebut Tuhan sebagai bapa karena Yesus yang mengajarkan bahwa Allah itu dekat dan melindungi kita seperti seorang bapa melindungi anak-anaknya. Bahkan Yesus membandingkan orang tua kita dengan Bapa di surga, “kalau seorang bapak memberikan apa yang diminta oleh anaknya, apalagi Bapa di surga akan memberikan Roh Kudus pada yang meminta padaNya.

Datanglah kerajaanmu, jadilah kehendakmu di bumi seperti di dalam surga:

Seorang teman berkisah, “hidup yang saya alami penuh dengan kepalsuan, sering melelahkan bagaimana menghadapi hidup yang tak berdamai dengan saya.” Kerajaan Allah yang hadir membawa damai dalam batin, menenangkan jiwa karena orang dekat dengan Allah dan sesama. Kalau bumi ini dibuat seperti surga, orang tak akan menemukan lagi perang dan pertikaian, tapi suka cita dan cinta, damai serta kegembiraan.

Berilah kami rejeki pada hari ini!

Sebenarnya kata “rejeki” dalam bacaan aslinya adalah “berilah kami makanan (roti) pada hari ini.” Makanan yang cukup untuk menjadi bekal kekuatan menjalani tugas harian. Mintalah Tuhan memberi kita cukup bekal, tak berlebihan, tak kekurangan.

Ampunilah kesalahan kami, seperti kami mengampuni yang bersalah pada kami:

Ada persyaratan bila kesalahan dan dosa kita ingin diampuni, yaitu mengampuni dan mengasihi orang yang terlah bersalah pada kita. Ada teman berkomentar, “kenapa sih kita memusuhi sesama. Padahal kita di USA ini sendirian, tak punya saudara, kok masih membuat masalah dengan membenci tatangga sesama orang Indonesia!Sudah sedikit, tak akur lagi!

Janganlah masukkan kami dalam percobaan, tapi bebaskan kami dari yang jahat:

Betapa banyak percobaan dan godaan yang dialami setiap hari. Sudah berapa kali anda jatuh dalam godaan dan dosa yang sama? Tidak kreatif bukan, dosanya selalu sama, dan itu-itu saja. Mintalah agar kita bisa waspada pada godaan, dan bisa mengantisipasi untuk menangkalnya saat godaan itu datang. Minta Roh Kudus untuk menguatkan kita agar kita tak jatuh lagi pada dosa yang sama.

Kebutuhan terdalam

Kebutuhan terdalam

Dari sebuah buku klasik “how to win friends & Influence people” disebutkan 5 buah kebutuhan terdalam hidup manusia. 5 kebutuhan itu ada dalam keinginan terdalam setiap orang. Dan kalau anda tahu itu, anda akan tahu bagaimana memperlakukan orang lain agar kebutuhan mereka bisa dipenuhi, dan akhirnya kita bisa mempengaruhi mereka.

Sejak kecil kita memiliki “desire to be great” and “desire to be important”. Makanya kita akan selalu mendengar setiap hari bagaimana orang Amerika akan berkata, “Great!”, “Excelent!” saat mereka memuji orang lain. Ada perasaan bangga dan senang mendengarnya, karena kita merasa berharga dan penting di mata orang lain.

Namun orang harus bisa mengelola keinginan untuk selalu berharga dan penting. Kalau tidak, dia akan terlalu hidup berpusat pada diri, egois, dan ingin selalu merasa penting dan dipakai. Bila hal itu tidak didapatkan, dia akan marah dan menjatuhkan orang lain sehingga tetap merasa menang.

Bacaan dari Matius 6 berkata,”Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang.”

Yesus mengkritik orang yang melalukan perbuatan baik hanya demi memenuhi kebutuhannya untuk merasa penting dan berharga di mata orang lain. Keinginan itu selalu ada dalam diri seseorang, hanya saja perlu diwaspadai dan dikelola dengan baik, agar tidak jatuh pada pencarian kepuasan pujian dan penghargaan. Orang perlu mengimbangi dengan melakukan perbuatan baik yang sungguh tulus, punya motivasi yang benar, serta dilakukan dengan jujur hati.

Bagaimana anda mengelola dan mengendalikan keinginan untuk merasa penting dan haus akan pujian agar bisa dikontrol dan dipenuhi secara proporsional?

Translate »