Browsed by
Month: August 2014

Sombong

Sombong

pic2-300x172

SELASA, 26 AGUSTUS 2014

2 Tes 2:1-3a,13b-17

Mat 23:23-26

Melihat kekurangan sesama itu lebih mudah dari pada melihat kekurangan diri sendiri. Jika orang menghakimi sesamanya namun tidak mengakui segala kelemahannya dan tidak berniat untuk mengubahnya maka hal itu adalah kemunafikan. Apabila orang sering mengolok-olok orang lain bahkan menghakiminya, maka hal itu menunjukkan kemunafikan dan kejahatan dirinya sendiri. Tindakan orang Farisi diperingatkan dengan keras oleh Yesus karena mereka menempatkan diri mereka bersikap sombong dan munafik. Mereka merasa lebih dibanding sesamanya yang lain dan lebih sering melihat, menilai serta mengecam kekurangan sesama, sementara diri mereka sendiri lebih buruk keadaannya daripada orang yang mereka kecam.

Kesombongan dan kemunafikan bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Yesus. Dia menanamkan kepada kita sikap kerendahan hati, kemurahan hati, dan cinta kasih. Hal itu bisa terjadi ketika Yesus Kristus menjadi pusat hidup kita. Oleh karena itu orang yang hidup dalam kesombongan dan kemunafikan hidup diluar kasih Kristus. Buah dari kemunafikan dan kesombongan adalah kejahatan dan ketidakadilan.

Bagaimana agar kita tidak jatuh pada sikap yang demikian? Jalan yang harus ditempuh adalah memberikan ruang yang lebih besar pada kehadiran Yesus Kristus dalam hidup kita. Karena dengan kekuatan Dia-lah,kita mampu meperjuangkan yang baik dan benar. Kedua berani bertekat untuk membangun kesadaran diri dengan banyak waktu untuk merenung melihat diri sendiri. Dengan merenung kita memiliki kesempatan untuk mengkoreksi diri sendiri, sehingga hal ini membuat kita tidak akan menghakimi orang lain.

Tuhan ajarilah kami untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan penuh cinta kasih, agar kemunafikan tidak membelenggu kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

SENIN, 25 AGUSTUS 2014

SENIN, 25 AGUSTUS 2014

 

2Tes 1:1-5,11b-12

Mat 23:13-22

 

Siapakah pribadi yang berbahagia? Yaitu orang yang bisa menghadirkan kebaikan dan cinta kasih Allah. Dan sebaliknya orang yang celaka adalah mereka yang suka dengan kejahatan. Orang Farisi walaupun dianggap orang menguasai Taurat dan adat-istiadat Yahudi, namun bukanlah pribadi yang berbahagia karena apa yang dilakukan adalah hal-hal yang jahat; munafik, tidak jujur, sombong, tidak adil, sewenang-wenang, dll.

Dimata Tuhan, orang yang baik adalah mereka yang dengan ketulusan hati hidup dalam kesetiaan melakukan segala yang baik demi kemuliaan Tuhan semata dengan benar dan penuh ketulusan dan cinta kasih. Banyak yang dilakukan orang Farisi, namun sebenarnya semuanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan bukan untuk kemuliaan Nama Allah.

Orang yang baik adalah mereka yang menempatkan Allah sebagai pusat hidupnya dan bukan berpusat pada dirinya sendiri dan kepentingan-kepentingan nya. Oleh karena itu relasi dengan Kristus adalah fondasinya. Sekalin dalam relasi kita dengan Tuhan Yesus semakin hidup kita diubah menjadi pribadi yang rendah hati, tulus hati, murah hati, lembut hati, dan cinta kasih.

Tuhan Yesus, tumbuhkanlah dalam diri kami kerinduan untuk selalu datang kepadaMu, sebab Engkaulah pusat hidup kami. Semoga kami, akhirnya terus menerus berubah menjadi semakin berkenan kepadaMu. Bimbinglah kami selalu, Amin.

Hari Sabtu Minggu ke 20 Masa Biasa 23 Agustus, 2014

Hari Sabtu Minggu ke 20 Masa Biasa 23 Agustus, 2014

Yehezekiel 43:1-7a
Matius 23:1-12

Salah satu kelemahan manusia ialah mudah memberikan teori tetapi belum tentu bisa melaksanakan/mempraktekannya dalam kehidupan nyata.

Saudara-saudari terkasih,

Injil hari ini menghantar kita masing-masingmenghadapi dua pilihan praktek hidup rohani; pertama, “apakah saya mempraktekan apa yang saya ajarkan?” atau pilihan yang lain, “apakah praktek hidup iman saya kepada Tuhan dengan tujuan untuk memperoleh pahala di surga atau supaya dipuji orang?”

Statement diatas membuat saya sendiri yang menulis renungan ini spontan mengatakan “kurang asem”, karena Matius, dalam bacaan injil hari ini menyampaikan bahwa Yesus memberi contoh kehidupan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang mempertunjukkan/mendemonstrasikan ketidakjujuran dalam kehidupan rohani mereka.

“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.” Mereka sendiri tidak mempraktekan apa yang mereka ajarkan. Yesus menasehati para muridNya untuk menghargai wewenang yang telah diberikan kepada kaum Farisi oleh Musa, tetapi janganlah mengikuti perbuatan-perbuatan mereka, karena dalam kehidupan mereka sehari-hari, “mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukakannya.” Kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat menampilkan dirinya sendiri sebagai pemimpin rohani tetapi sangat rendah dan dangkal dalam kehidupan imannya.

Saudara-saudari terkasih,

Jaman sekarang sepertinya sudah tidak asing lagi kita melihat seseorang yang dalam kehidupan nyata bisa menampilkan kepribadian ganda. Keadaan seperti itu bisa saja akan sangat mengganggu bagi kita yang menghadapi mereka. Kepribadian macam apakah yang akan kita percaya/pegang? Apakah type bunglon seperti ini yang dapat kita pegang/percaya? Bukan tidak mungkin bahwa kadang-kadang kita bisa saja terperangkap karena sementara orang dalam komunitas sudah begitu percaya kepada pribadi itu dan kita sendiri tidak bisa menerimanya. Dalam keadaan seperti ini apakah kita masih punya kemampuan untuk mengambil resiko bahwa kita akan ditolak karena kita punya keyakinan yang berbeda dengan mereka? Dilema seperti ini sungguh sangat tidak mudah bagi kita yang hidup didalam dan dengan orang lain (dalam suatu komunitas).

Saudara-saudari terkasih,

Orang Farisi dalam bacaan injil hari ini terperangkap dalam kekuasaan dan status kehidupan yang mewah/menyenangkan. Yang penting bagi mereka ialah bisa menampilkan peranan mereka sebagai pemimpin rohani daripada menunjukkan praktek hidup rohani yang sesungguhnya. Mereka sudah biasa menunjukkan praktek hidup doanya supaya dilihat orang, dan suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan. Mereka suka menerima penghormatan dan nama besar daripada mendalami dan menghayati panggilannya untuk menghantar sesama/orang lain kepada Tuhan dan membantu orang lain melaksanakan kehendak Allah.

Renungan ini sungguh-sungguh menjadi suatu peringatan kepada saya sendiri dan anda…”Apakah saya telah menjadi seperti orang Farisi dan ahli Taurat dalam kehidupan ini dan dalam praktek kehidupan rohani, iman/kepercayaan saya?” Have a blessed weekend and God bless you all and your family. Amen.

Translate ยป