Browsed by
Month: August 2014

“Mencintai Tuhan berarti menghargai kehidupan yang Tuhan anugerahkan kepada kita”

“Mencintai Tuhan berarti menghargai kehidupan yang Tuhan anugerahkan kepada kita”

Yehezekie 37:1-14
Matius 22:34-40

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini kita merayakan apa yang kita yakini bahwa Bunda Maria adalah Ratu Surga dan Bumi. Hal ini sudah menjadi keyakinan kita sebagai seorang katolik bahwa Maria bunda kita menghendaki, agar kita meminta bunda menyampaikan doa-doa permohonan kita kepada Puteranya. Kita semua diminta juga untuk mengikuti teladannya dan dapat berserah kepada kehendak Allah…bukan kehendakku, tetapi kehendak Allahlah yang terjadi.

Dalam bacaan pertama hari ini kita mendengar bagaimana nabi Yehezekiel berserah kepada kehendak Allah. Kita bisa membayangkan bagaimana kalau kita berada di tengah padang gurun yang panas dan tiba-tiba kita melihat setumpukan tulang belulang manusia. Tak seorangpun tahu sudah merapa lama manusia-manusia ini meninggal? Kehidupan macam apakah yang telah mereka alami? Kita juga bisa membayangkan apa yang nabi Yehezekiel rasakan ketika melewati dan melihat tumpukan tengkorak dan tulang belulang manusia itu. Saudara-i sekalian, tulang-tulang kering ini melambangkan keturunan bangsa Israel. Mereka adalah orang-orang yang telah menolak dan berdosa kepada Allah. Allah berfirman kepada Yehezekiel untuk bernubuat atas tulang belulang itu – agar mereka bisa kembali mendengarkan Allah. “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman Tuhan! Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali”…bukan saja supaya hidup kembali tetapi supaya kembali menjadi suatu bangsa, bangsa Israel. Bangsa ini diberi kesempatan lagi untuk mendengarkan sabda Tuhan, dan kembali kepada Tuhan serta mengakui Tuhan, Allah mereka.

Saudara-saudariku terkasih,

Sementara dipihak lain, dalam bacaan Injil hari ini, Yesus ditanya oleh seorang ahli Taurat, “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawaban Yesus begitu mudah dan langsung ketujuan: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Selanjutnya Yesus mengatakan…”yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Itulah yang dimaksud dengan pernyataan diatas, “Mencintai Tuhan berarti menghargai kehidupan yang telah Tuhan berikan kepada kita.” Kalau kita juga perlu bertanya siapakah “sesama kita”, dengan sangat gamblang kita kembali melihat cerita tentang “orang Samaritan” yang baik, yang membuat kita sadar bahwa siapa saja yang membutuhkan perhatian dan bantuan, merekalah sesama kita.

Pada hari yang istimewa ini, marilah kita dengan bantuan Bunda Maria mohon kepada Tuhan agar Tuhan mencurahkan rahmatNya kepada kita, agar kita mampu melihat setiap orang yang membutuhkan bantuan kita sebagai sesama kita. Dan masih ada banyak cara lain lagi dimana kita bisa menjadi sesama bagi sama saudara kita yang membutuhkan pertolongan – dan itu terserah kepada saudara-i sekalian untuk hidup sesuai dengan kehendak dan perintah Allah seperti yang sudah ditegaskan oleh Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Amin.

“Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih”.

“Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih”.

Yehezekiel 36:23-28
Matius 22:1-14

Beberapa penafsir Kitab Suci mempunyai kesan bahwa tuan rumah dalam perumpamaan hari ini adalah “pemungut cukai”. Pesta makan yang diadakannya adalah usaha tuan pesta untuk masuk ke dalam society dengan mengundang warga masyarakat yang ada di kota itu dan menyajikan suatu entertainment/hiburan yang mewah. Pada awalnya para tamu yang diundang telah menjawab undangannya (RSVP). Tetapi tidak lama setelah mereka menerima undangan itu, pada saat pesta makan telah tersedia para tamu itu justeru memberi alasan yang bukan-bukan dan yang membuat tuan pesta itu sedih.

Mereka yang mendengar perumpamaan Yesus ini sangat mungkin akan tersenyum sinis atas frustrasi yang dialami oleh si tuan pesta itu. Bahwa para tamu itu telah membuat si tuan pesta itu marah. Semakin ia marah atas keadaan itu, membuat keadaan itu semakin lucu. Ia lalu membuat sesuatu yang bisa membuat para tamu itu kapok dengan mengundang siapa saja yang ada di dalam kota itu.

Saudara-i sekalian,

Perumpamaan ini, seperti juga perumpamaan-perumpamaan yang lain selalu memberi kita suatu peringatan/pesan disatu pihak, di pihak lain perumpamaan itu bisa juga merupakan suatu berita gembira. Hal itu menjadi suatu peringatan kepada kita bahwa mereka yang pertama kali diundang ke pesta makan itu adalah kelompok orang yang suka memberi kesulitan kepada orang lain…suka menyusahkan orang lain. Kelompok orang ini menggambarkan kritik Yesus kepada kelompok orang yang punya kepercayaan diri yang besar bahwa tempat utama di perjamuan makan itu telah disiapkan untuk mereka. Mereka berpikir bahwa pasti masih ada kesempatan lain lagi kelompok orang ini akan diundang lagi. Mereka tidak menyadari bahwa ini adalah undangan yang terakhir bagi mereka.

Lalu berita gembira dari perumpaan ini termuat dalam deskripsi/gambaran yang dimainkan oleh para tamu yang diundang pada saat pesta makan itu sebagai gantinya. Mereka adalah gambaran komunitas Kristen menurut Matius: orang-orang miskin, orang buta, orang lumpuh dan orang timpang. Berita gembira dari perumpamaan ini sebagai suatu jaminan bagi kita bahwa Allah menerima/welcome bukan saja mereka yang dipandang kuat dan sehat, tetapi semua orang yang berakhlak baik (good moral character) yang bisa menjadi role models dan bahkan yang bisa menjadi pemimpin. Yesus yang telah disalahkan pada masa hidupNya dengan mengundang/welcome semua orang berdosa dan bahkan makan bersama mereka dinyatakan lagi dengan tegas dalam dan melalui perumpamaan ini. Untuk menduduki tempat di meja perjamuan makan itu, kita perlu menunjukkan kepada yang empunya pesta bukan saja keberhasilan kita dalam hidup, tetapi juga kegagalan-kegagalan kita; bukan kehebatan/kekuatan kita tetapi juga kelemahan kita; bukan saja bahwa kita sehat, tetapi juga penderitaan/sakit kita yang membutuhka bantuan, perhatian dan kasih.

Saudara-i ku terkasih,

Paus Benedictus XVI ketika berkhotbah tentang perumpaan diatas pada tahun 2006 pernah mengatakan dihadapan para uskup di Eropah Barat, bahwa banyak orang telah menolak undangan ke Perjamuan Tuhan. Dan pada kesempatan yang sama, Paus Benedictus mengatakan bahwa iapun telah mendengar, tegasnya di dunia ketiga, masih banyak orang yang membuka mata, hati dan telinga mereka atas undangan perjamuan Tuhan…Saudara-i terkasih, “Saya masuk dalam kelompok yang mana?”

Mystery Cinta dan Kasih Karunia Tuhan melampaui kemampuan daya pikir manusia

Mystery Cinta dan Kasih Karunia Tuhan melampaui kemampuan daya pikir manusia

Hari Rabu, Minggu ke 20 Masa Biasa.
20 Agustus, 2014

Yehezekiel 34:1-11
Matius 20:1-16

Saudara-i sekalian,

Bacaan-bacaan hari ini menekankan bahwa apa yang kita pikirkan tidak selamanya sesuai dengan jalan dan kehendak Tuhan. Misalnya dalam bacaan injil hari ini, dengan sangat mudah kita akan merasa kasihan (empathy) dengan mereka yang datang bekerja pagi-pagi, kita pikir mereka akan bisa mendapat bayaran yang lebih. Tetapi, ternyata mereka sudah punya perjanjian akan menerima sebesar yang telah disepakati; Sementara di pihak lain kita melihat bahwa mereka yang bekerja hanya beberapa jam saja menerima sama besarnya dengan mereka yang telah bekerja sejak pagi. Kalau menurut pendapat kita, mereka yang telah bekerja sejak pagi itu perlu diberikan bonus. Wajar, kalau mereka yang telah bekerja sejak pagi itu “menggerutu”. Apakah ini yang dibilang “adil”?

Disini Yesus memberikan suatu pelajaran tentang Kerajaan Allah, suatu kerajaan dimana “Kemurahan Hati Tuhan dan Dasar Kebesaran KasihNya” tidak selamanya sesuai atau cocok dengan apa yang kita pikirkan dan kita harapkan. Seperti tuan kebun dalam perumpamaan yang Yesus berikan, menunjukkan bahwa Allah tidak pernah berlaku curang kepada siapapun. Karena dalam kenyataannya, kalau kita ambil waktu sejenak, merenungkan dan melihat kehidupan yang Tuhan berikan kepada kita, seringkali membuat kita sadar bahwa sudah begitu banyak yang telah Tuhan berikan kepada kita dan itu sudah boleh kita katakan bahwa apa yang telah Tuhan berikan itu sudah tidak terhitung lagi. Pada saat kita mengalami kesulitan dalam hidup ini, atau dalam penderitaan sakit penyakit atau kita melihat pengalaman pada orang lain… tidak sedikit kitapun bisa mengatakan bahwa itu sungguh-sungguh suatu mukjizat. Ada beberapa teman di dalam komunitas kita yang telah sekian lama sakit, dan menurut pengalaman, latar belakang medis dan pengetahuan yang kita miliki kita sudah dapat mengatakan bahwa pasti orang itu akan sangat menderita karena sakit yang dideritanya itu sakiiiit sekali. Tetapi kenyataannya bisa lain sekali…teman kita yang sakit itu tidak menunjukkan bahwa ia kesakitan, kelihatannya selalu senyum…tidak menunjukkan rasa sakit sama sekali.

Saudara-i sekalian,

Apa yang dapat kita pelajari dari bacaan injil hari ini? Apa yang penting untuk kehidupan kita? Disamping kita boleh memahami perasaan dari mereka yang telah bekerja sejak pagi, sikap dan reaksi mereka terhadap situasi dan kenyataan yang mereka hadapi. Mereka yang telah bekerja sejak pagi itu perlu melihat kebaikan dan kasih setia Allah yang telah mereka terima sebagai suatu yang sudah pantas mereka terima. Sembari melihat betapa murah hatinya yang empunya kebun/tuan kebun kepada mereka yang datang kemudian. Dalam perspektip ini kiranya mereka kemudian dapat kembali ke rumahnya dengan penuh rasa syukur.

Sikap seperti inilah yang perlu kita gali untuk kita renungkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita perlu melihat kembali sikap macam apakah yang dapat saya terapkan dalam kehidupan dan pengalaman kehidupan saya sendiri? Karena dalam kehidupan ini ada banyak hal yang tetap merupakan suatu mystery, dan kalau kita menanggapi mystery itu suatu kebaikan dan kasih setiaNya, maka kita akan selalu berada dalam pelukan kasihNya.

Saudara-i sekalian,

Sungguh sangat menarik, bahwa hari ini Gereja merayakan pesta St. Bernard dari Clairvaux. Santu Bernard hidup pada abad keduabelas, pada masa yang berat dan banyak kesulitan. Penguasa Negara dan Gereja coba memanipulasi ketenarannya untuk kekudusannya yang pada akhirnya mereka sendiri bingung. Namun Santu Bernard tetap memusatkan perhatian dan pikirannya kepada injil, dan sebelum kematiannya ia berusaha menghentikan penganiayaan kepada kaum Yahudi di Eropah Tengah.

Meskipun St. Bernard mengalami banyak penderitaan pada masa hidupnya, dan sangat mungkin kita juga pernah mengalaminya dalam kehidupan kita masing-masing, jalan Tuhan selalu terbuka untuk kita sehingga kita tidak pernah mengalami kesendirian, kita selalu diselimuti dengan mystery cintaNya. Kita tidak perlu menyangkal rasa sakit dari apa yang kita derita/alami dalam kehidupan ini; yang paling penting bahwa kita akan selalu focus kepada mystery kasih Allah. Kasih Allah tak berkesudahan, Kerahiman dan PendampinganNya akan selalu menyertai perjalan kehidupan kita. Amin.

Translate ยป