Browsed by
Month: November 2014

Jangan takut menjadi pengurus Gereja!

Jangan takut menjadi pengurus Gereja!

KetutLasia-MeredakanAnginRibut

Bacaan Titus 2:1-12

Inilah karakter yang harus dimiliki dan ditumbuhkan dalam diri seorang pemuka jemaat, orang tua, serta pengikut Kristus yang digariskan oleh Paulus:

Para orang tua: hidup sederhana, bijaksana, sehat dalam iman-kasih-ketekunan, jangan memfitnah, mengajarkan hal baik pada orang muda. Pasangan suami-istri: hidup saling mengasihi, rajin mengatur rumah tangga, baik hati dan saling taat. Orang muda: mampu menguasai diri, menjadi teladan bagi sesama, tidak bercela, tidak curang, tulus dan setia.

Betapa sulitnya kita mencari penggati ketua atau pengurus gereja! Banyak orang berkata, “saya mau membantu dibelakagn layar saja!” atau “saya tak perlu ditulis di organisasi, cukuplah membantu langsung.” Dan masih banyak kata-kata baik lain untuk meloloskan diri dari tanggungjawab menjadi pengurus lingkungan atau organisasi Gereja. Mengapa hal ini terjadi?

Bisa jadi karena orang merasa tak punya mengalaman dalam organisasi sehingga ia merasa ragu dan tak mau melakukan. Alasan  lain karena melihat bahwa  ketua dan pengurus Gereja menjadi sasaran kritik dan omongan orang lain. “Sudah tidak digaji, masih dikritik dan digosipkan orang lain pula.” Ada pula yang menolak karena melihat persoalan hidup jemaat yang besar, dan tidak berani ikut bertanggungjawab langsung untuk menyelesaikan.

Saat menjadi pengurus Gereja, kita perlu sadar bahwa organisasi Gereja bukanlan murni organisasi perusahaan/corporasi. Gereja adalah kumpulan orang yang percaya dan beriman pada Allah lewat Yesus Kristus. Ada sisi rahmat dan karunia yang diberikan pada tiap orang yang bekerja dalam Gereja.

Saat menulis suratnya, Paulus mungkin sadar kalau sulit menemukan karakter pemimpin yang sempurna. Di bagian akhir surat dia menulis, kasih karunia Allah itu menyelamatkan semua orang. Dia membantu kita sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan buruk duniawi.

Semoga kita yang bekerja dalam organisasi Gerja diyakinkan bahwa meski karakter kita jauh dari sempurna, kita punya niat baik untuk memperbaiki diri guna melayani Tuhan dan sesama. Jangan takut untuk bekerja dan jadi pengurus Gereja karena rahmat Allah cukup dicurahkan bagi kita. “Cukuplah rahmatku bagimu” sabda Yesus.

Seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan

Seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan

Filipi 4:10-19
Lukas 16:9-15

Saudara-saudari terkasih,

Di zaman ini, sementara orang yang sudah mapan dalam hidupnya, kalau boleh dibilang telah hidup berkecukupan merasa sudah tidak memerlukan orang lain lagi…dengan prinsip tidak mau merepotkan orang lain, atau tidak suka/tidak mau merepotkan orang lain….ataupun bergantung kepada orang lain. Di satu pihak sikap diatas bisa dibilang positip kalau memang tidak mau sampai terlalu jauh mencampuri, reseh, (crossing the boundaries of others) dengan urusan orang lain. Namun di pihak lain kita harus menyadari akan salah satu aspek hidup kita sebagai mahluk sosial yang hidup diantara dan dengan orang lain; akan selalu menunjukkan bahwa kita masih akan selalu mendapat arti kalau kita mau dan bersedia melihat bahwa kita masih memerlukan orang lain; atau kita masih bisa selalu bergantung dan menggantungkan diri dalam relasi kita dengan orang lain. Lalu sebagai orang beriman, sejauh mana hubungan kita dengan Tuhan? Dimana kita menempatkan Tuhan dalam hidup kita? Apa yang membuat kita harus selalu bergantung dan menggantungkan hidup kita kepada Tuhan?

Kegagalan kita untuk melihat ketergantungan kita kepada Tuhan; pertama kalau kita bersibuta akan kehadiran Tuhan dalam hidup dan kehidupan kita. Misalnya, sejak awal kehidupan kita, tak seorangpun pernah bisa menentukan sendiri kapan ia akan dilahirkan, dari keluarga yang macam apa, atau dari lingkungan sosial yang seperti apa kita mau dilahirkan; ataupun dalam kehidupan berbisnis anda sebagai pegawai, buruh/pekerja tak pernah tahu kapan anda dipecat atau diberhentikan. Kedua, kegagalan lain kalau kita tidak dapat melihat dan menghargai bahwa kehidupan yang kita jalani ini adalah rahmat dan berkat Tuhan. Kalau setiap orang bisa melihat kehidupannya sebagai rahmat dan berkat dari Tuhan, maka kitapun akan saling menghargai kehidupan kita sendiri dan kehidupan orang lain.

Saudara-saudari terkasih,

Sebagai orang Kristen yang benar-benar beriman dalam kata dan perbuatan melalui kehadiran Allah baik dalam Kitab Suci dan Tradisi Gereja, sakramen-sakramen dan yang terutama dalam dan melalu sesama memberi kita kemampuan dan kesadaran akan kehadiran kita di dunia ini, bahwa “kita masing-masing diciptakan menurut gambar dan rupa Allah”.(Kejadian 1:27) Oleh karena itu ketika manusia pertama berdosa dan melalu proses sejarah keselamatan Allah mengutus PuteraNya, Yesus, untuk menyelamatkan dan membebaskan kita dari dosa; disini kita melihat bahwa Allah selalu memenuhi segala sesuatu yang kita butuhkan, yang kita perlu. Pernyataan ini ditegaskan lagi oleh Santu Paulus dalam bacaan pertama hari ini: …”sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpaan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan,”…(Filipi 4:11-12)

Sejalan dengan pernyataan St. Paulus diatas, Yesus dalam bacaan injil hari inipun menekankan betapa kita harus menempatkan kasih Allah diatas segala-galanya dan menempatkan kepercayaan kita sepenuhnya hanya kepada Tuhan daripada hanya mengandalkan pada harta benda duniawi. Oleh karena itu Yesus mengatakan: “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon.”

Saudara-saudara terkasih,

Kata-kata Santu Paulus dan Yesus diatas akan menjadi sangat penting untuk disimak kalau kita menyadari bahwa kita hanya memiliki satu tuan dalam kehidupan ini. Kata-kata Yesus itu mengingat kita akan kebenaran bahwa kita akan gagal dalam kehidupan ini kalau kita menaruh harapan dan mengandalkan sepenuhnya hanya kepada harta benda duniawi. Hanya satu yang abadi dan mutlak kita andalkan ialah Tuhan dan KerajaanNya. Oleh karena itu, hari ini dan selanjutnya diharapkan kita dapat selalu menaruh kepercayaan yang penuh kepada Allah dan mencintaiNya lebih dari segala sesuatu yang gampang musnah. Dengan sikap dan keputusan ini kita akan menjalani kehidupan kita dengan penuh damai dan kegembiraan; dan yang selanjutnya akan kita peroleh dan kita nikmati ketika kita masuk ke dalam kehidupan abadi di surga, Amin.

Selamat ber weekend!!!

Translate »