Browsed by
Month: December 2014

4 Perempuan Leluhur Yesus

4 Perempuan Leluhur Yesus

Bacaan: Silsilah Yesus (Mat 1:1-17)

Nama-nama leluhur Yesus mulai dari Abraham sampai Yesus berjumlah 76 nama. Tidak semua nama itu kita kenal, kecuali nama-nama terkenal yang dikenal dalam kisah-kisah kepahlawanan orang Israel. Setidaknya ada 4 nama perempuan diantara mayoritas nama lelaki, dan mereka punya reputasi tak baik.

Pertama, Tamar yang berelasi dengan ayah mertuanya Yehuda sampai punya anak Peres dan Zerah. Dalam kitab Kejadian 38, Yehuda memilih Tamar menjadi istri anaknya Er. Tapi keburukan Er menyembabkan ia mati, dan Tamar ditinggal sendirian menjanda, merana,  bahkan sampai menjadi seorang pelacur. Saat dia menderita di jalanan, Yehuda yang tak mengelanya lagi merawat Tamar, bahkan relasi mereka membuahkan anak kembar.

Kedua, Rahab seorang wanita Kanaan yang menyembunyikan mata-mata orang Israel. Ia adalah seorang pelacur dan pembohong. Saat Yosua akan menguasai kota Kanaan, dia menyuruh dua mata-mata orang Israel mengintai kota. Kedua mata-mata dipergoki oleh tentara Kanaan, dan mereka bersembunyi di rumah Rahab. Akhirnya, Rahab mengikuti kedua tentara itu menjadi penyembah Yahwe, dan dia menjadi nenek buyut dari Raja Daud.

Ketiga, Ruth seorang Moab yang dikenal sebagai kelompok orang yang melakukan incest, relasi sexual antar anggota keluarga. Singkat cerita, Ruth mengikuti Naomi kembali ke Israel, dan dia menikah dengan Boaz, leluhur Daud.

Keempat, Bathsheba yang dikenal sebagai seorang perempuan yang berhubungan diluar nikah dengan Daud. Dialah yang menyebabkan Daud jatuh hati dan berdosa karena membunuh suami Bathsheba di peperangan, sehingga Daud bisa menjadikannya sebagai istrinya. Bathsheba memberinya seorang anak, Salomo yang menjadi raja pengganti Daud.

Kisah hidup para perempuan diatas membuat kita memahami bagaimana liku-liku cara kerja Allah dalam usaha menyelamatkan manusia. Kisah yang memalukan juga tabu dari leluhur dan orang tua kita sering kita tutupi karena membuat kita tak ingin menceritakan hal itu pada orang lain. Bahkan banyak orang sengaja menutup masa lalu dan memutus ikatan persaudaraan dengan sanak saudara karena skandal yang mencemarkan nama baik kita.

Ternyata, dibalik kisah sedih, skandal, serta kehidupan yang tak baik dari para perempuan itu tersembunyi mutiara yang berkilau dalam sejarah di kemudian. Kita bisa belajar dari mereka bahwa dibalik kejadian hidup masa lalu yang buruk dan ingin kita hapus dan hilangkan dari ingatan, tersimpan makna dan nilai pembelajaran yang luar biasa untuk kehidupan di masa depan.

First things first

First things first

Covey habit #3 – put the first things firstBacaan Lukas 15:3-6

Dia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,  dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.

Seven Habit no 3 dari Steve Covey adalah “First things first.” Kerjakan dahulu apa yang urgent, baru yang penting, kemudian pekerjaan yang kurang mendesak dan tidak penting. Namun sering orang melakukan aktivitas yang tidak penting dan kurang mendesak karena lebih menyenangkan dibanding tugas yang urgen dan perlu dikerjakan segera. Akibatnya orang tak bisa tepat waktu menyerahkan tugas, tidak bisa menepati deadline, dan menjadi kaum penunda pekerjaan.

Setiap orang punya kewajiban dan pekerjaan yang harus dilakukan, entah suka atau tidak. Saat kita mengerti kalau pekerjaan itu begitu penting dan harus dilakukan segera menjadi tanda bahwa kita mempraktekkan “First things first.” Dari sana kita bisa membedakan mana pekerjaan yang urgen dan harus dikerjakan segera, dan mana pekerjaan yang penting tapi bisa ditunda. Pekerjaan yang urgent biasanya mudah dikenali karena hal itu menuntut untuk segera dilakukan.

Bacaan hari ini, sang gembala meninggalkan 99 domba di kandang dan mencari yang seekor yang hilang di padang. Bagi dia, menjaga 99 yang sudah baik adalah penting tapi tidak urgen, sedang menyelamatkan yang 1 ekor adalah urgen dan harus dilakukan segera. Sang gembala tahu mana tugas yang urgen dan harus dieksekusi segera, dan mana pekerjaan yang penting, namun bisa ditunda.

Disaat kita bisa mempraktekkan “First things first”, kita akan menjadi orang yang lebih produktif, bisa bertangungjawab atas tugas seharian yang dipercayakan pada kita, serta mampu melihat prioritas dalam hidup.

Ingatlah, “Apa yang kita pilih dan lakukan hari ini, akan mempengarui hidup kita dikemudian hari.”

Mental Priyayi

Mental Priyayi

Bacaan Mat 21:23-27

Anda pasti kenal analisa klasik Clifford Geertz yang meneliti kehidupan masyarakat Jawa tahun 1960. Dia membagi kelompok masyarakat Jawa berdasarkan praktik agama yang dilakukan yaitu santri, abangan, dan priyayi. Kelompok santri adalah mereka yang serius menjalankan ibadat dan hukum Islam. Sedangkan abangan dan priyayi adalah orang muslim yang mempraktekkan agama Islam bercampur dengan adat  budaya Hindu dan tradisional Jawa.

Priyayi adalah kelompok elite masyarakat yang mengatur jalannya pemerintahan, kaum aristokrat ini sudah hidup di masa pra kolonial dan terus dijaga existensinya di masa penjajahan Belanda. Bahkan Belanda sengaja membuat kelompok “pegawai pemerintah” ini menjadi kelompok yang dihormati publik, dekat dengan penguasa, dan berada di atas hirarki sosial masyarakat. Orang belanda memanfaatkan para priyayi untuk kepentingan mereka demi menjaga kekuasaan.

Geertz berargumen kalau kelompok priyayi ini dijaga keberadaannya dengan meneruskan sistem hirarki “kerajaan” saat Belanda menguasai Mataram (Yogya) dan Surakarta. Seorang yang bekerja untuk pemerintah itu kelompok terpandang, dilayani, dan punya martabat lebih tinggi dari orang kebanyakan. Orang yang tidak bekerja sebagai pegawai pemerintah dianggap orang biasa, tak berpangkat. Pandangan seperti itu membuat orang Jawa berkompetisi dan saling sikut mengalahkan sesamanya demi menjadi pegawai pemerindah dan duduk dalam kelompok aristokrat priyayi.

Pandangan seperti itulah yang diwariskan dalam mentalitas para pegawai pemerintah sekarang ini. Mereka menganggap diri priyayi, pejabat yang harus dilayani dan dihormati, tapi tidak melayani. Mereka beranggapan kalau stasus mereka lebih tinggi dari orang kebanyakan, punya gengsi serta kedudukan, malas melayani dengan tulus, malah sering mempersulit rakyat kebanyakan.

Persis inilah yang dikritik oleh Jokowi dan Ahok pada pegawai pemerintah yang bermental priyayi, malas melayani dan enggan ringan tangan. Kinerja pegawai pemerintah yang bermental priyayi menjadi rendah, tak produktif dan efisien, tidak kompetitif, dan kurang cekatan.

Saat Yesus membubarkan orang yang berdagang di Bait Allah, dia ditantang oleh para pejabat Bait Allah karena para pejabat itu kehilangan mata pencaharian dan keuntungan. Mereka bertanya, “Atas kuasa apa engkau berbuat demikian?” Mereka ketakukan karena cara hidup yang enak diusik oleh Yesus, kebiasaan memeras dan mempersulit orang yang beribadah dibabat habis oleh Yesus. Dikemudian hari Yesus mengingatkan para murid kalau para pemimpin negara minta dilayani dan dihormati, tetapi diantara kamu, “yang paling besar adalah mereka yang melayani dan menjadi yang terakhir di mata dunia.”

Ayo hilangkan mentalitas priyayi! Menjadi pejabat itu bukan hanya untuk dihormati dan terima gaji, tapi mau melayani serta berproduksi demi kemajuan negeri!

 

 

Menyiapakan Kedatangan Sang Imanuel.

Menyiapakan Kedatangan Sang Imanuel.

Sir 48:1-4,9-11
Mat 17:10-13

Yohanes adalah nabi yang datang untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan. Orang Yahudi dan ahli Taurat sebenarnya sudah tahu dari Kitab Taurat mereka, bahwa seorang nabi seperti Nabi Elia akan datang mendahului Tuhan Yesus. Nabi yang dimaksudkan oleh mereka sudah datang yaitu Yohanes Pembaptis. Namun tokoh-tokoh orang Yahudi menolak kehadiran Yohanes dan juga Yesus.

Mengapa mereka menolak pewartaan Yohanes pembaptis? Penolakan terhadap Yohanes disebabkan oleh kesombongan hati mereka. Jalan menuju pada keselamatan terjadi apabila manusia mau bekerja sama dengan Roh Kudus dengan cara menyangkal diri meninggalkan kesombongan dan membuka pintu hati untuk kehadiran Tuhan. Hanya pribadi yang mengambil sikap seperti seorang hamba yang layak untuk menerima kehadiran Tuhan dalam hidupnya.

Justu dengan kerendahan hati, manusia akan dimuliakan dan ditinggikan oleh Allah. Sebaliknya sikap sombong dan meninggikan diri membuat mereka jauh dari Tuhan. Dengan demikian mereka yang sombong juga jauh dari kemuliaan dari Allah. Pada akhirnya jawaban manusia menentukan jalan keselamatanya sendiri. Jika kita rendah hati dan merindukan kasih Tuhan, maka Tuhan akan mencurahkan apa yang menjadi kerinduan kita itu.

Sang Imanuel yang segera kita rayakan kelahirannya membutuhkan palungan yang hangat, yaitu hati yang penuh dengan damai dan kerendahan hati.

Translate »