Mental Priyayi

Mental Priyayi

Bacaan Mat 21:23-27

Anda pasti kenal analisa klasik Clifford Geertz yang meneliti kehidupan masyarakat Jawa tahun 1960. Dia membagi kelompok masyarakat Jawa berdasarkan praktik agama yang dilakukan yaitu santri, abangan, dan priyayi. Kelompok santri adalah mereka yang serius menjalankan ibadat dan hukum Islam. Sedangkan abangan dan priyayi adalah orang muslim yang mempraktekkan agama Islam bercampur dengan adat  budaya Hindu dan tradisional Jawa.

Priyayi adalah kelompok elite masyarakat yang mengatur jalannya pemerintahan, kaum aristokrat ini sudah hidup di masa pra kolonial dan terus dijaga existensinya di masa penjajahan Belanda. Bahkan Belanda sengaja membuat kelompok “pegawai pemerintah” ini menjadi kelompok yang dihormati publik, dekat dengan penguasa, dan berada di atas hirarki sosial masyarakat. Orang belanda memanfaatkan para priyayi untuk kepentingan mereka demi menjaga kekuasaan.

Geertz berargumen kalau kelompok priyayi ini dijaga keberadaannya dengan meneruskan sistem hirarki “kerajaan” saat Belanda menguasai Mataram (Yogya) dan Surakarta. Seorang yang bekerja untuk pemerintah itu kelompok terpandang, dilayani, dan punya martabat lebih tinggi dari orang kebanyakan. Orang yang tidak bekerja sebagai pegawai pemerintah dianggap orang biasa, tak berpangkat. Pandangan seperti itu membuat orang Jawa berkompetisi dan saling sikut mengalahkan sesamanya demi menjadi pegawai pemerindah dan duduk dalam kelompok aristokrat priyayi.

Pandangan seperti itulah yang diwariskan dalam mentalitas para pegawai pemerintah sekarang ini. Mereka menganggap diri priyayi, pejabat yang harus dilayani dan dihormati, tapi tidak melayani. Mereka beranggapan kalau stasus mereka lebih tinggi dari orang kebanyakan, punya gengsi serta kedudukan, malas melayani dengan tulus, malah sering mempersulit rakyat kebanyakan.

Persis inilah yang dikritik oleh Jokowi dan Ahok pada pegawai pemerintah yang bermental priyayi, malas melayani dan enggan ringan tangan. Kinerja pegawai pemerintah yang bermental priyayi menjadi rendah, tak produktif dan efisien, tidak kompetitif, dan kurang cekatan.

Saat Yesus membubarkan orang yang berdagang di Bait Allah, dia ditantang oleh para pejabat Bait Allah karena para pejabat itu kehilangan mata pencaharian dan keuntungan. Mereka bertanya, “Atas kuasa apa engkau berbuat demikian?” Mereka ketakukan karena cara hidup yang enak diusik oleh Yesus, kebiasaan memeras dan mempersulit orang yang beribadah dibabat habis oleh Yesus. Dikemudian hari Yesus mengingatkan para murid kalau para pemimpin negara minta dilayani dan dihormati, tetapi diantara kamu, “yang paling besar adalah mereka yang melayani dan menjadi yang terakhir di mata dunia.”

Ayo hilangkan mentalitas priyayi! Menjadi pejabat itu bukan hanya untuk dihormati dan terima gaji, tapi mau melayani serta berproduksi demi kemajuan negeri!

 

 

3 thoughts on “Mental Priyayi

  1. Terima kasih atas renungannya ini Romo Anton Galih. Saya mencoba membandingkan nya dengan mereka yang menjadi pengurus di hirarki gereja dari anggota Dewan Paroki Inti sampai ke para anggota seksi di lingkungan Katholik. Mereka tidak digaji,mereka dipilih oleh umat atau Pastor Kepala Paroki atau Chaplain. Waktu dipilih mereka terkadang menolaknya. Tapi terkadang pula setelah terpilih, mulailah mereka menjadi seorang prijaji. Yah memang tidak semuanya tentunya. Dan bahkan setelah tdk menjabat pun masih punya mental priyayi itu.

  2. Halo Pak Andi Gan,
    semoga baik adanya! Kita bersyukur bahwa masih banyak orang mau voluntir di Gereja dan menjad pengurus paroki tanpa gaji. Iktikat baik mereka perlu didukung oleh spiritualitas pelayanan, dan juga dukungan dari pastor paroki untuk mengungkapkan apresiasi atas kerja mereka bagi Gereja.
    Selamat berkarya untuk anda semua yang terus setia pada pelayaan di KKI.

  3. Saya ingin numpang share sedikit… sebagian berdasarkan pengalaman pribadi tapi sebagian besar karena hasil pengamatan. Mungkin orang2 yang masih punya mental priyayi itu perlu di expose kepada sarana untuk mendapatkan bahan renungan harian seperti ini.. saya sangat percaya, dengan mendengar dan membaca renungan yang berdasarkan bacaan dari alkitab, akan perlahan2 merubah orang yang tinggi hati dan maunya dilayani, menjadi lebih rendah hati dan jadi lebih ingin melayani. Tapi memang jd volunteer itu berat.. banyak godaan untuk jadi emosional.. makanya saya sendiri membatasi diri untuk kegiatan rutin volunteer.. karena masih belum yakin kuat..:) . Mungkin perlu minta umat di luar volunteer untuk mendoakan para pengurus, supaya lebih dikuatkan niat melayani-nya.
    Romo, seperti biasa, terima kasih untuk mengaitkan bacaan injil dengan kejadian umum di hidup kita.

Comments are closed.

Comments are closed.
Translate »