Browsed by
Month: January 2015

HARI DOA NASIONAL UNTUK MELINDUNGI HAK HIDUP BAYI SEJAK DI DALAM KANDUNGAN

HARI DOA NASIONAL UNTUK MELINDUNGI HAK HIDUP BAYI SEJAK DI DALAM KANDUNGAN

Hari Kamis, 22 January, 2015

Ibrani 7:25-8:6
Markus 3:7-12

Kepada Umat Katolik di Amerika Serikat, hari ini secara khusus ditentukan sebagai Hari Doa Nasional untuk melindungi hak hidup anak-anak (bayi) sejak di dalam kandungan. Hari ini oleh U.S. Bishop Conference ditentukan sebagai hari doa, “doa pemulihan hak hidup setiap bayi yang masih berada dalam kandungan dan hari pertobatan serta pertobatan atas segala kesalahan dan dosa yang telah dilakukan, yang telah menginjak-injak martabat manusia dan rahmat kehidupan melalui pengguguran (aborsi).” Karena pada tahun 1973 Supreme Court (Mahkamah Agung) telah meresmikan pelaksanaan aborsi di Amerika Serikat.

Oleh karena itu sebagai umat Katolik yang taat kepada Tuhan, para uskup seluruh Amerika Serikat memohon agar umat Katolik secara istimewa membawa intensi ini dalam doa dan perayaan ekaristi, sejalan dengan ajaran Gereja tentang martabat dan hak hidup manusia sejak proses pembuahan (conception) sampai kematian alami (“Human life must be respected and protected abolutely from the moment of conception until natural death.”) Demikian himbauan para Uskup Amerika Serikat sejalan dengan apa yang telah ditegaskan juga dalam Katekismus Gereja Katolik no:2270; yang dengan sangat tegas berbicara tentang dosa pengguguran (aborsi). Karena sejak abad pertama, Gereja sudah dengan sangat tegas mengangkat masalah ini, bahwa aborsi adalah dosa, Katekismus Gereja Katolik no: 2271.

Jadi saudara-saudari terkasih, khususnya bagi sama saudara yang tinggal di Amerika Serikat, doa dan korban yang dilakukan secara bersama-sama sebagai suatu komunitas maupun doa-doa pribadi merupakan suatu partisipasi dan keprihatinan anda akan hak hidup dan martabat manusia yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita masing-masing; khususnya hak hidup dari bayi-bayi yang masih berada dalam kandungan. Selanjutnya kita semua dihimbau untuk berdoa juga untuk para hakim dan magistra di seluruh dunia agar mereka juga bisa lebih peka terhadap suara hatinya masing-masing, mengakui hak hidup dari setiap insan sejak awal hidup manusia mulai dari rahim ibunya sampai saatnya manusia itu dipanggil Tuhan Penciptanya ke kehidupan kekal.

Oleh karena itu pada hari ini secara khusus para uskup se Amerika Serikat menghimbau seluruh umat bersatu dalam doa, puasa dan matiraga; mendukung baik secara spiritual maupun material untuk pemulihan dan pertobatan, menjunjung martabat hidup manusia dan kesucian/kekudusan hidup manusia yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita masing-masing. Keprihatinan umat secara bersama-sama menanggapi himbauan Gereja mondial ini melalui kegiatan-kegiatan diatas akan sangat membantu dan memberikan dampak positip kepada saudara-saudari kita yang telah khilaf, dan atau terlanjur melakukan tindakan aborsi itu. Para uskup sebagai penanggungjawab iman umat (magisterium ecclesiae) menghimbau agar kita tak henti-hentinya berdoa, setiap hari, setiap minggu, bulan dan bahkan sepanjang tahun…sampai hak hidup mansia sejak dari rahim sampai matinya akan selalu diakui dan dihargai baik secara nasional maupun mondial. Amin.

Sebagai bahan referensi: bisa membaca dari Kitab Suci; Kejadian 1:1-2:2 atau 2 Makabe 7:1, 20-31; Ephesus 1:3-14; Matius 18;1-5…dan masih banyak kutipan Kitab Suci.

Tuhan menyembuhkan

Tuhan menyembuhkan

Ibrani 7:1-3, 15-17
Markus 3:1-6

Melihat tema renungan kita hari ini sangat boleh jadi andapun bertanya: “Kapan, dimana dan bagaimana peristiwa penyembuhan itu terjadi? Selama ini kita sering mendengar dan bahkan pernah menghadiri Misa Penyembuhan, Seminar tentang “penyembuhan” dan atau “penyembuhan yang dilakukan dalam dan melalui Persekutuan Doa dan lain sebagainya. Berita-berita tentang penyembuhan seperti itu membuat orang penasaran, ingin tahu, ingin lihat atau menyaksikan dan bagi yang sakit berusaha sedapat mungkin untuk hadir dalam peristiwa itu. Lebih lagi kalau kegiatan itu akan diberikan atau dipimpin oleh seseorang yang sudah sangat terkenal dan diketahui mempunyai charisma penyembuhan. Adapula sementara orang yang mau ikut ambil bagian secara langsung dalam proses penyembuhan seperti itu.
Saudara-i terkasih, pertanyaan kapan, dimana dan oleh siapa penyembuhan itu terjadi mengajak kita kembali melihat peristiwa penyembuhan yang terjadi seperti yang kita dengar dalam bacaan Injil hari ini.

Pertama, mari kita lihat bersama beberapa hal yang menjadi pokok renungan kita hari ini, berangkat dari peristiwa penyembuhan itu. “Pada hari Sabbath Yesus datang ke rumah ibadat. Di situ da seorang yang mati sebelah tangannya. Kaum Farisi yang hadir di rumah ibadat itu mengamati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Menghadapi sikap kaum Farisi itu, Yesus lalu bertanya: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang? Kaum Farisi tidak menjawab sepatah katapun. Setelah Yesus melakukan tindakan penyembuhan, kaum Farisi lalu mengadakan rencana untuk membunuh Yesus.”

Penyembuhan itu terjadi pada hari Sabbat; dilakukan oleh Yesus terhadap seseorang yang mati sebelah tangannya; dihadiri oleh kaum Farisi dengan motivasi yang tidak murni. Melalui mukjizat penyembuhan ini memberi kita kesempatan untuk merenung sembari bertanya seberapa kuat relasi kita dengan Yesus? Kita semua menyadari betapa kita sangat membutuhkan penyembuhan dari Tuhan. Pada waktu kita merasa sangat tertekan(depressed) bahkan putus asa, atau cemas dan gelisah tentang apa yang bakal terjadi dalam perjalanan hidup ini nanti? Kitapun lalu bertanya: apakah saya mampu menghadapi setiap persoalan dan tantangan demi tantangan dalam hidup ini? Rupanya kita perlu memiliki sikap dari orang yang mati sebelah tangannya dari cerita Injil hari ini, kita perlu mukjizat.

Kita tahu bahwa kekuasaan dan kebesaran serta kemahakuasaan Allah selalu hadir setiap saat, dan hari ini kita datang kepadaNya dalam sikap penyerahan secara total kepadaNya. Mukjizat yang terjadi dalam bacaan Injil hari ini begitu jelas bagi yang hadir, yang bisa dilihat dengan mata kepala sendiri; tetapi dalam kehidupan kita setiap hari ada juga mukjizat yang terjadi dan yang tidak kita sadari, yang tidak kita lihat. Kadangkala ada perubahan yang terjadi dalam diri dan kehidupan kita yang tidak sadari, tetapi kita rasakan ada sesuatu yang berubah. Misalnya kita menjadi sadar bahwa kita bisa menjadi lebih sabar, lebih mendalami dan menaruh kepercayaan/iman kepada Tuhan atau kita lebih khusuk kalau berdoa dan tidak hanya sebagai suatu yang routine. Seperti orang yang lumpuh sebelah tangan itu, kitapun bisa merasakan bahwa kelumpuhan rohani kita selama ini perlahan-lahan mengalami perubahan, mulai lebih hidup dan bahkan terjadi penyembuhan batiniah.

Satu hal lain lagi dari peristiwa itu bahwa setiap saat kitapun bisa menjadi alat penyembuhan dari Tuhan untuk orang lain. Misalnya, betapapun kita amat sangat sibuk, tetapi selalu bisa punya waktu untuk mendengarkan orang lain, menyalurkan kasih Tuhan kepada orang lain. Atau mungkin anda terlibat secara penuh dalam menyelesaikan konflik ataupun meredam kemarahan seseorang, dengan tenang menghadapinya, membantu orang lain memproseskan diri dan akhirnya bisa menemukan jalan keluar menyelesaikan persoalan yang dihadapi dan mengalami ketenangan serta kedamaian batin. Saudara-saudari terkasih, diluar sana masih ada banyak orang lain lagi yang benar-benar membutuhkan anda sebagai alat dan perpanjangan tangan kasih Tuhan.

Kekuasaan Tuhan dapat menyembuhkan hati kita yang sakit, kesakitan orang lain dan persoalan didalam keluarga ataupun dalam kehidupan komunitas. Hari ini, kita perlu mencari kesembuhan dalam dan dari Tuhan; menerima kekuatan rahmat Tuhan dalam perayaan Ekaristi, dan memulai hari baru ini dengan memberi kesaksian akan kehadiran Tuhan melalui hidup, sikap dan tingkahlaku hidup yang membawa kedamaian, kebahagiaan, dan ketenangan batin. Amin.

BERPEGANGLAH KEPADA TUHAN AGAR MENJADI KUAT DALAM PENGHARAPAN DAN KASIHNYA

BERPEGANGLAH KEPADA TUHAN AGAR MENJADI KUAT DALAM PENGHARAPAN DAN KASIHNYA

20 January, 2015

Ibrani 6:10-20
Markus 2:23-28

Beberapa minggu yang lalu, seluruh dunia teritimewa masyarakat Indonesia baik di dalam maupun di luar negeri dihebohkan dengan hilangnya AirAsia bersama penumpang dan awaknya yang berjumlah 162 orang itu. Kita semua menjadi sangat prihatin dengan musibah ini…semua tenaga, keahlian, ketulusan lewat tenaga-tenaga di dalam negeri dan tenaga sukarela berkeja keras membantu mencari pesawat naas ini. Bantuan dari luar negeripun luarbiasa. Satu hal yang ingin saya kemukakan disini, ialah peranan “jangkar atau sauh” yang diturunkan di lokasi penemuan puing pesawat AirAsia itu…”jangkar atau sauh” itu diturunkan ke dasar laut agar kapal yang melakukan pencarian puing pesawat itu tidak sampai dibawa ombak yang begitu tinggi dan dahsyat kekuatannya. Dengan demikian para awak dan penyelam akan merasa aman melakukan misi penyelamatan itu. “Jangkar atau sauh” berfungsi untuk menjaga keselamatan, dan kapal bisa mantap berada pada posisinya. Hal itu akan sangat bebahaya kalau tali jangkarnya putus.

Saudara-saudariku terkasih,

PENGHARAPAN adalah salah satu rahmat Allah yang diberikan kepada setiap orang; dan rahmat itu datang dari kasih Allah agar kita tetap tertambat, terikat dengan kuat kepada Allah sendiri yang adalah KASIH. Kasih Allah yang ada dalam diri kita membuat kita merasa aman menjalani kehidupan yang telah Tuhan anugerahkan dan percayakan kepada kita masing-masing umat pilihanNya. Oleh kebesaran KASIHNYA membuat kita selalu punya harapan. Dengan demikian kita akan selalu sadar akan kelemahan dan kekurangan kita, yang membuat kita sangat mudah jatuh kedalam kesalahan dan dosa dan lepas dari JANGKAR KASIHNYA. Setiap orang berharap bahwa mereka akan selalu memiliki hidup yang mantap, tentram, terjamin, aman dan tak tegoyahkan. Tetapi dipihak lain Tuhan telah melengkapi kita dengan segala sesuatu yang kita butuhkan agar HARAPAN kita akan selalu terpelihara…dalam dan dengan Kristus agar kita bisa selalu bertahan dalam harapan itu.

Saudara-saudari, tema utama dari bacaan hari ini: Tuhan selalu hadir dalam kehidupan kita kapan dan dimana saja kita memohon bantuannya meskipun Ia tidak kelihatan. Tuhan telah menyatakan kehadirannya, kebesaran dan kasih setiaNya lewat Kitab Suci, dan terutama melalui KASIHNYA yang luar biasa dan diluar kemampuan kita memahami secara manusiawi dalam diri Yesus Kristus. Tentu saja kita tidak bisa mengandalkan memampuan kita sendiri dalam proses untuk memupuk dan memelihara pengharapan kita. Kapan saja kita mendengar atau membaca firman Tuhan, diharapkan kita diteguhkan dan dikuatkan untuk memahaminya, percaya dan setia kepada janjiNya. Dalam bacaan pertama, dari surat Paulus kepada jemaat di Ibrani, penulis menjelaskan kepada mereka dimana surat ini dialamatkan “agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” (Ibrani 6:11). Selanjutnya dikatakan bahwa “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir,” (Ibrani 6:19). Selanjutnya, kesabaranpun menjadi salah satu faktor yang juga perlu kita pelihara untuk memperoleh apa yang Tuhan janjikan.

Saudara-saudari terkasih,

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa “pengharapan akan selalu memberikan kita kegembiraan betapapun kita masih menghadapi tantangan demi tantangan…(buku katekismus 1821). Kalau hari ini kita datang ke perayaan Ekaristi atau bagi anda yang mengawali hari barunya dengan dan melalui renungan ini, marilah kita panjatkan doa syukur kita kepada Tuhan yang telah memberikan HARAPAN dan apa saja yang kita butuhkan dalam kehidupan ini. Terimakasih bahwa kita semua diteguhkan dan dikuatkan dengan santapan rohani baik melalu Ekaristi Kudus maupun dalam dan melalui FirmanNya, yang membuat kita menjadi kuat dalam HARAPAN dan SETIA pada janjiNya. Amin.

Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.

Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.

19 January, 2015

Ibrani 5:1-10
Markus 2:18-22

Saudara-saudariku terkasih,

Melihat thema renungan hari ini, saya ingat akan pengalaman saya setiap hari minggu…pada saat saya mempersiapkan diri untuk mempersembahkan Ekaristi Kudus. Setiap hari minggu saya mendapat kesempatan merayakan misa tiga kali di tiga paroki berbeda di Keuskupan San Diego, California, USA. Di paroki St. Rafael, Rancho Bernardo, di sakristinya di depan meja persiapan untuk mengenakan pakaian misa, dihadapannya ada satu tulisan untuk setiap imam yang akan mempersembahkan misa dalam kata-katanya sebagai berikut:

“PRIEST of GOD, say this Mass as if it were your first Mass, as if it were your last Mass, as if it your only Mass.”

Saya sungguh-sungguh terkesan dan merasakan mendapat suatu kehormatan menerima rahmat yang luar biasa lewat tahbisan yang telah saya terima. Saya diberi kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam “priestly ministry,” karena dalam dan melalui sakramen Imamat, para imam mencontohi kehidupan Yesus Kristus sendiri, Imam Agung Abadi.

Tidak mustahil bahwa masih banyak orang bertanya-tanya apakah perbedaannya antara Imam (Priest) dan Pendeta (Minister)? Sementara orang berpikir bahwa kedua kata itu sama saja, dengan kata lain bisa ditukar-tukar; tetapi pendapat dan atau pandangan itu samasekali tidak benar. Karena menurut defenisinya, Imam (Priest) adalah seorang yang mempersembahkan kurban kepada Allah, atas nama umat; sedangkan Pendeta (Minister) adalah seseorang yang melayani orang lain, yang melakukan tugas pelayanan. Sudah sangat pasti di dalam Gereja Katolik seorang Imam melakukan kedua tugas itu., tetapi seseorang bisa menjalankan tugas pelayanan tanpa harus menjadi Imam. Di dalam bacaan pertama tadi, dari surat Rasul Paulus kepada jemaat di Ibrani, mengutip dari Mazmur 110:4 yang mengatakan: “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.”

Melkisedek telah mengambil roti dan anggur dan mempersembahkan itu kepada Allah sebagai kurban persembahan dan ucapan syukur untuk kemenangan Abraham atas musuh-musuhnya. Penulis surat kepada jemaat di Ibrani itu juga menggambarkan peranan imam di kenisah sebagai seseorang yang mempersembahkan kurban, kurban untuk penghapusan dosa-dosa kita. Ketika penulis itu (St. Paulus) coba menggambarkan Yesus Kristus sebagai orang yang menyelamatkan umat manusia, tetapi juga mengatakan bahwa korban Yesus Kristus yang dipersembahkan itu juga demi penghapusan segala kesalahan dan dosa, Yesus telah membuka pintu gerbang surga bagi kita, bagi seluruah umat manusia. Kehidupan, kematian di kayu salib dan kebangkitanNya sudah harus menjadi korban sempurna yang menjadi sumber keselamatan abadi bagi semua yang percaya.

Hari ini untuk anda yang selalu menghadiri perayaan Ekaristi, ataupun bagi anda yang secara rohani mempersatukan diri dengan Yesus lewat doa dan meditasi sudah sangat pasti anda akan selalu mempersiapkan diri, hati dan budi untuk masuk kedalam keintiman dengan Imam Agung kita Yesus Kristus. Sebagaimana imam yang mempersembahkan misa sadar akan “PRIESTLY MINISTRY” nya. Semoga kita akan selalu sadar, ingat akan persembahan dan korban Yesus Kristus yang telah dikurbankan untuk kita semua. Di dalam perayaan Ekaristi kita selalu diingatkan dengan “Mystery Iman kita;” “Kristus telah wafat, Kristus telah bangkit, Kristus akan kembali.” Mystery perutusan Yesus, Anak Allah menjadi manusia, masuk dalam kemanusiaan kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa agar kita semua dibebaskan dari segala kesalahan dan dosa, agar pada saatnya kita akan bersatu dengan Bapa di surga. Oleh karena itu hari ini melalui bacaan-bacaan hari ini kitapun akan selalu diingatkan bahwa Yesus Anak Allah adalah kurban yang sempurna. Hal itu ditegaskan lagi oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Ibrani: “dan sesudah Ia mencapai kesempurnaanNya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepadaNya, dan Ia dipanggil menjadi Imam besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.” (Ibrani 5:9-10)

Saudara-saudari terkasih, inilah beberapa pokok pikiran yang sejauhmana telah kita sadari akan mystery Allah menjadi manusia dan tinggal diantara kita…oleh penjelmaanNya menjadi manusia itu memungkinkan kita untuk bertobat dan kembali memulihkan hubungan kita dengan Bapa di surga. Setelah kita mendalami mystery agung ini, marilah kita kembali ingat akan Yesus Krsistus sendiri dalam dan melalui perayaan Ekaristi. Dengan demikian Ekaristi adalah suatu korban yang sempurna, yang akan selalu hadir, berbicara dan mewarnai perjalanan hidup iman kita akan Ekaristi, tanda keselamatan Allah…Amin.

Translate ยป