Browsed by
Month: February 2015

Yesus heran karena ketidakpercayaan mereka

Yesus heran karena ketidakpercayaan mereka

 

Mark 6:1-6

Injil hari ini menceritakan kejadian tentang orang-orang Nazaret yang tidak percaya dan menolak Yesus di kampung halaman-Nya sendiri, yakni Nazaret; tempat di mana Yesus tinggal dan besar bersama orang tua-Nya.

Menurut Injil Matius, Yesus dan orang tua-Nya beralih ke tempat ini setelah pengungsian di Mesir (Mat 2:19-23). Di sini Yesus bertumbuh menjadi orang dewasa. Sebagai seorang anak Yesus juga tentunya bermain dan bergaul bersama anak-anak yang lain. Di tempat ini Yesus menimba kebijaksanaan melalui didikan dan perhatian orang tua-Nya. Di sini Yesus melihat dan belajar bagaimana bekerja sebagai seorang tukang kayu seperti ayah-Nya, Yosef. Di sini juga Dia dikenal melalui sanak saudari dan saudara-Nya seperti Yakobus, Joses, Judas dan Simon. Dan dari kampung inilah nama-Nya selalu dikenang sebagai Yesus dari Nazaret.

Kisah tentang penolakan orang Nazaret terhadap Yesus sungguh bertolak belakang dengan sikap iman yang dimiliki oleh Yairus dan perempuan yang sakit pendarahan (kisah Injil kemarin). Penolakan atas Yesus di Nazaret terjadi di dalam rumah ibadat. Yesus sedang mengajar, dan Ia mengajar dengan penuh kuasa dan kebijaksanaan Allah. Orang-orang pun merasa kagum kepada-Nya. Tetapi meskipun demikian, orang-orang itu tidak percaya kepada-Nya. Mereka meragukan Yesus dan ajaran-Nya dengan bertanya: Bukankah Dia seorang (anak) tukang kayu? Bukankah ibu-Nya Maria? Bukankah saudara-saudara-Nya Yakobus, Joses, Yudas dan Simon? Dan saudari-saudari-Nya ada bersama kita di sini?

Pertanyaan-pertanyaan di atas memantulkan reaksi dan sikap batin orang terhadap Yesus dan Injil-Nya. Pada akhir Injil dikisahkan bahwa meskipun heran dengan penolakan orang-orang sekampung-Nya, Yesus terus melanjutkan tugas pelayanan-Nya dengan menyembuhkan lagi beberapa orang sakit yang dibawa kepada-Nya.

Setelah membaca dan memberi coretan sederhana tentang kisah Injil hari ini, muncul beberapa pertanyaan. Di bawah ini saya ajukan tujuh yang bisa menjadi penuntun refleksi (cukup pilih satu untuk direnungkan):

Apakah saya mencintai Yesus?

Apa yang sering mengganggu batin saya ketika mendengarkan Yesus berbicara?

Apakah yang menguatkan relasi dan komunikasi pribadi dengan Yesus?

Apakah saya mencintai doa dan Ekaristi?

Apakah saya sering membaca dan merenungkan Sabda Allah?

Apakah saya merasa sebagai bagian dari komunitas paroki di mana saya tinggal?

Apakah saya dengan jujur memberi apresiasi terhadap tindakan-tindakan Tuhan lewat sesama dalam hidup saya baik sebagai anggota keluarga, paroki, komunitas maupun di tempat saya kerja?

Talitha koum

Talitha koum

cover1-9

Mark 5:21-43

 

Injil hari ini mengisahkan dua peristiwa penyembuhan yang dilakukan Yesus yakni peristiwa penyembuhan putri Yairus, seorang pegawai rumah ibadat (sinagog) dan seorang wanita yang menderita pendarahan.

Yairus sangat mencemaskan anaknya yang sakit. Ia datang kepada Yesus agar Yesus segera ke rumahnya karena putrinya hampir saja mati. Yesus menerima permintaan itu dan segera ke sana. Tapi dalam perjalanan ke sana mereka diinterupsi di jalan oleh seorang perempuan yang juga sakit. Perempuan ini ada bersama orang banyak yang mengikuti Yesus. Ia sakit pendarahan. Barangkali melihat bahwa Yesus sedang menuju rumah Yairus untuk menyembuhkan anaknya maka perempuan yang ada dalam kerumunan itu pun terdorong untuk disembuhkan dari sakitnya. Yang dilakukan perempuan ini adalah semacam pergumulan dalam dirinya tentang penyakit yang diderita. Bagaimana cara agar ia sembuh? Yesus sedang bersama dengan dia. Apalagi sakit pendarahannya sudah diderita cukup lama. Mungkin juga ia tidak terang-terangan untuk mengatakan penyakitnya selain karena orang banyak yang berdesak-desakan tapi juga karena ini adalah penyakit yang diderita oleh perempuan. Maka dengan diam-diam tapi berani ia mendekati Yesus dengan harapan menyentuh jumbai jubahnya saja. Apa yang terjadi? Seketika itu juga penyakitnya lenyap. Merasa bahwa kekuatan-Nya keluar, Yesus pun bertanya siapa yang menyentuh-Nya. Ia bertanya kepada orang-orang yang mengikuti Dia. Maka perempuan yang telah menyentuh pakaiannya itu dengan jujur datang dan menceritakan semua yang telah dialaminya. Yesus pun memberkati dia bahwa imannya telah menyembuhkan dia.

Setelah itu Yesus melanjutkan perjalanan ke rumah Yairus. Tapi masih di tengah jalan datang kabar bahwa anak itu sudah meninggal dan meminta Yairus agar tidak merepotkan Yesus yang dipanggilnya, Guru. Yesus mendengar kabar tersebut tapi tidak diharaukan-Nya. Yesus sebaliknya meyakinkan hati Yairus agar jangan cemas: Do not be afraid, just have faith! Yesus menguatkan iman Yairus agar tetap percaya. Inilah kata-kata yang memberi kesejukan tapi juga harapan bagi orang yang hampir putus asa, dalam dilemma dan sangat membutuhkan pertolongan. Jadi Yesus sungguh-sungguh menekankan adanya IMAN dari pihak manusia agar kuasa Allah bisa bekerja. Ketika tiba Yesus melihat banyak orang menangis dan mereka sangat sedih atas apa yang terjadi. Yesus bertanya kepada orang-orang yang bersedih dan menangis dan memastikan mereka bahwa anak itu tidak mati tapi tertidur. Hal ini membuat mereka tertawa. Yesus mengubah suasana kesedihan menjadi tawa. Yesus memasuki rumah Yairus. Sambil memegang tangan anak itu, Yesus berkata: Talitha Koum – A little girl, I say to you, arise! Anak itu segera bangun dan berjalan-jalan. Suasana kematian berubah secara total menjadi kehidupan. Kecemasan dan putus asa berubah menjadi kegembiraan dan sukacita. Yesus membuat segalanya indah.

Terima kasih dan syukurku kepada Yesus, Dokterku yang ajaib, yang membuatku hidup lagi. Semoga aku juga menjadi perpanjangan tangan kasih-Mu untuk membagikan sentuhan kesembuhan bagi sesamaku yang sakit; untuk menjadi mulut-Mu membagikan kata-kata penghiburan dan penguatan mereka yang bersedih dan putus asa; untuk menjadi teman dalam perjalanan mereka yang butuh pertolongan; dan untuk mereka sudah mati berbelas kasihlah. Doaku Tuhan, Amin.

Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Suci

Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Suci

presentation-of-jesus-at-the-temple
Luk 2:22-40

Empat Puluh Hari setelah pesta Natal, Gereja merayakan Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah Jerusalem. Pesta ini mengandung makna yang sangat dalam karena di balik kisah ini tersimpan misteri keselamatan dan penebusan yang sudah lama dinanti-nantikan sisa kecil bangsa Israel.

Injil Lukas mengisahkan kepada kita tentang Yesus yang dibawa oleh ayah dan ibunya untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Sebagai keluarga Yahudi yang beriman dan taat akan ajaran keagamaan yang mereka hayati, Maria dan Josef pergi memenuhi kewajiban ini. Di sana ada Simeon dan Hana yang adalah wakil dari sisa kecil bangsa Israel yang setia pada janji keselamatan Tuhan. Keduanya sudah tua tapi dipenuhi oleh Roh Tuhan sendiri. Injil menyebut bahwa mereka sudah lama menanti kedatangan Mesias. Meski demikian iman mereka tidak pudar. Semakin tua keduanya semakin kuat beriman. Harapan mereka pun semakin kuat. Keduanya saleh dan yakin bahwa Tuhan tak akan pernah ingkar akan janji-Nya. Tuhan akan bertindak dan tindakan-Nya selalu pada saat yang tepat. Iman seperti inilah yang membuat Simeon dan Hana mampu memandang ke depan. Mereka memiliki ketajaman mata iman yang mampu menerobos kedatangan Tuhan yang selalu dirindukan. Harapan mereka bahwa Tuhan pasti datang.

Tuhan yang dirindukan itu benar-benar datang. Dia datang sebagai Bayi yang kecil. Bayi yang merealisasikan masa depan Israel. Bayi yang polos dan murni dalam rupa manusiawi. Perjumpaan mereka dengan Bayi Yesus tidak lain adalah persatuan dengan janji keselamatan yang kini hadir di depan mata mereka. Inilah kehadiran Tuhan yang selalu membawa pembaharuan bagi manusia. Sebagaimana diungkapkan Simeon sendiri:

Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripadamu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu Israel.

Simeon juga bernubuat tentang rencana keselamatan Allah yang bersifat universal karena terbuka bagi siapa saja, yaitu semua bangsa termasuk bangsa Israel sendiri. Tetapi Simeon yang dipenuhi Roh Tuhan menubuatkan juga misteri kedatangan Yesus sebagai tanda perbantahan:

Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.

Sebagai tanda perbantahan, Yesus kecil dinubuatkan sejak awal untuk menjadi batu sandungan bagi orang Yahudi yang tidak percaya kepada-Nya; sementara bagi orang Yunani adalah tanda kebodohan (1 Cor 1:23). Akan tetapi bagi yang percaya akan Dia, kontradiksi ini adalah tanda dan kekuatan salib yang membawa hidup dan keselamatan. Sedangkan bagi ibu-Nya, Maria, salib adalah pedang yang menembusi jiwanya sendiri.

Inilah misteri Ilahi yang menuntut dari manusia kesetiaan iman untuk bisa mengalami belas kasih keselamatan yang ditawarkan Tuhan. Sebagai bagian dari Gereja yang adalah sakramen keselamatan Allah, kita diminta agar terus membagikan kasih dan kesetiaan Allah yang telah kita terima terutama bagi mereka yang terlupakan dan jauh dari perhatian. Semoga!

Translate ยป