Yesus heran karena ketidakpercayaan mereka
Mark 6:1-6
Injil hari ini menceritakan kejadian tentang orang-orang Nazaret yang tidak percaya dan menolak Yesus di kampung halaman-Nya sendiri, yakni Nazaret; tempat di mana Yesus tinggal dan besar bersama orang tua-Nya.
Menurut Injil Matius, Yesus dan orang tua-Nya beralih ke tempat ini setelah pengungsian di Mesir (Mat 2:19-23). Di sini Yesus bertumbuh menjadi orang dewasa. Sebagai seorang anak Yesus juga tentunya bermain dan bergaul bersama anak-anak yang lain. Di tempat ini Yesus menimba kebijaksanaan melalui didikan dan perhatian orang tua-Nya. Di sini Yesus melihat dan belajar bagaimana bekerja sebagai seorang tukang kayu seperti ayah-Nya, Yosef. Di sini juga Dia dikenal melalui sanak saudari dan saudara-Nya seperti Yakobus, Joses, Judas dan Simon. Dan dari kampung inilah nama-Nya selalu dikenang sebagai Yesus dari Nazaret.
Kisah tentang penolakan orang Nazaret terhadap Yesus sungguh bertolak belakang dengan sikap iman yang dimiliki oleh Yairus dan perempuan yang sakit pendarahan (kisah Injil kemarin). Penolakan atas Yesus di Nazaret terjadi di dalam rumah ibadat. Yesus sedang mengajar, dan Ia mengajar dengan penuh kuasa dan kebijaksanaan Allah. Orang-orang pun merasa kagum kepada-Nya. Tetapi meskipun demikian, orang-orang itu tidak percaya kepada-Nya. Mereka meragukan Yesus dan ajaran-Nya dengan bertanya: Bukankah Dia seorang (anak) tukang kayu? Bukankah ibu-Nya Maria? Bukankah saudara-saudara-Nya Yakobus, Joses, Yudas dan Simon? Dan saudari-saudari-Nya ada bersama kita di sini?
Pertanyaan-pertanyaan di atas memantulkan reaksi dan sikap batin orang terhadap Yesus dan Injil-Nya. Pada akhir Injil dikisahkan bahwa meskipun heran dengan penolakan orang-orang sekampung-Nya, Yesus terus melanjutkan tugas pelayanan-Nya dengan menyembuhkan lagi beberapa orang sakit yang dibawa kepada-Nya.
Setelah membaca dan memberi coretan sederhana tentang kisah Injil hari ini, muncul beberapa pertanyaan. Di bawah ini saya ajukan tujuh yang bisa menjadi penuntun refleksi (cukup pilih satu untuk direnungkan):
Apakah saya mencintai Yesus?
Apa yang sering mengganggu batin saya ketika mendengarkan Yesus berbicara?
Apakah yang menguatkan relasi dan komunikasi pribadi dengan Yesus?
Apakah saya mencintai doa dan Ekaristi?
Apakah saya sering membaca dan merenungkan Sabda Allah?
Apakah saya merasa sebagai bagian dari komunitas paroki di mana saya tinggal?
Apakah saya dengan jujur memberi apresiasi terhadap tindakan-tindakan Tuhan lewat sesama dalam hidup saya baik sebagai anggota keluarga, paroki, komunitas maupun di tempat saya kerja?