Browsed by
Month: March 2015

Allah dapat melunakkan kekerasan hati setiap orang.

Allah dapat melunakkan kekerasan hati setiap orang.

KAMIS PEKAN III MASA PRAPASKAH
12 Maret, 2015

Yeremia 7:23-28
Lukas 11:14-23

Kitab Suci seringkali berbicara tentang kekerasan hati. Kita bisa membayangkan bagaimana kalau hati kita terbuat dari marmar atau batu, atau sesuatu material dimana tak ada satu alatpun yang bisa menembusinya. Seseorang yang keras hatinya, atau mungkin anda pernah melihat atau pernah mengalami hidup bersama dengan orang seperti yang akan kita renungkan hari ini, sudah sangat pasti akan sangat mempengaruhi sikap dan mental kita berkomunikasi atau berinteraksi dengan yang bersangkutan. Orang yang keras hatinya selalu melihat bahwa pikirkannyalah yang paling benar, atupun pendapatnya akan sangat sulit dipengaruhi atau juga beranggapan bahwa pendapatnyalah yang paling sempurna.

Orang banyak yang menyaksikan Yesus mengusir setan yang membisukan dan membuat orang yang kerasukan setan yang membisukan itu dapat berbicara dalam bacaan injil hari ini, adalah suatu mukjizat yang Yesus lakukan untuk menantang kebandelan, kekerasan hati si setan yang luar biasa. Selain itu sementara orang yang menyaksikan peristiwa itu mempunyai pendapat bahwa kuasa yang Yesus miliki itu bukan berasal dari Allah. Mereka berpendapat bahwa kuasa yang Yesus miliki itu berasal dari Setan atau Beelzebul, penghulu setan. Bagi mereka apa saja yang Yesus lakukan, tidak peduli sudah berapa banyak orang yang Yesus selamatkan atau kembali menjadi sembuh, tetap tidak berkenan karena mereka sudah mempunyai sikap hati yang keras, atau memiliki kekerasan hati. Sepertinya sudah tidak ada apa-apa lagi yang baik, karena bagi mereka tidak ada kuasa dari surga yang bisa mengubah hati dan pikiran mereka.

Kitapun sudah bisa membayangkan bagaimana kalau kita sendiri pernah bersikeras terhadap sesama saudara atau saudari kita. Masih ingatkah anda akan seseorang yang pernah menyakiti hatimu, atau yang pernah berprasangka negatip terhadap anda berdasarkan gosip atau berita-berita burung semata-mata? Atau juga mungkin anda pernah dipersalahkan oleh seseorang tanpa ada suatu bukti yang jelas dan pasti, yang membuat anda sulit untuk mengampuninya atau menerima permohonan maafnya? Apa kita pernah bersikeras juga terhadap seseorang sampai kita tidak bisa melihat hal-hal yang positip pada orang yang bersangkutan?

Saudara-saudari terkasih,

Kekerasan hati tidak hanya dialami pada satu pihak saja, kalau kita sendiri tidak pernah akan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk masuk; dengan kata lain kita sendiripun harus bisa melembutkan hati kita atau bersedia untuk merubah. Kiranya kata-kata Tuhan dapat menyentuh hati kita melalui ucapan para nabiNya ataupun kita pernah diingatkan: “katakanlah kepada mereka: inilah bangsa yang tidak mau mendengarkan suara Tuhan, Allah mereka, dan yang tidak mau menerima penghajaran! Ketulusan hati mereka sudah lenyap, sudah hapus dari mulut mereka.” (Yeremiah 7:28); atau Nabi Yehezkiel pernah mengatakan: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” (Yehezkiel 36:26). Semoga kata-kata Tuhan ini dapat menembusi hati semua orang yang keras, dengan demikian tak seorangpun akan mengakhiri hidupnya dengan hati yang keras. Amin.

RABU PEKAN III MASA PRAPASKAH

RABU PEKAN III MASA PRAPASKAH

11 Maret, 2015

Ulangan 4:1, 5-9
Matius 5:17-19

“Contoh dan sikap hidup kita menjadi bukti betapa baik dan sempurnanya ajaran Yesus kepada kita.”

Saudara-saudari terkasih,

Ayat pertama dari bacaan pertama kita hari ini memberi kita inspirasi akan komitment kita mengikuti Yesus. Moses sendiri mendesak bangsa Israel untuk hidup sesuai dengan ketetapan dan peraturan yang diajarkannya kepada mereka sebagaimana Allah telah berikan sebagai suatu persiapan mereka masuk ke Tanah Terjanji. Moses mengingatkan bangsa Israel bahwa hukum Allah telah datang dengan suatu perjanjian: “Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksnaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.” (Ulangan 4:6)

Selanjutnya dari bacaan Injil hari inipun, Yesus mengingatkan kita semua bahwa Hukum Perjanjian Lama masih tetap berlaku: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17).

Sebagai seorang Kristen yang berusaha hidup menurut dan sesuai dengan hukum-hukumnya, apakah sudah bisa dibilang bahwa yang lain hidupnya menyimpang? Apakah orang lain menganggap bahwa komunitas umat beriman ini adalah suatu komunitas yang hidup sesuai dengan hukum Tuhan? Saudara-saudariku terkasih, pandangan ini akan dapat dikatakan benar tergantung pada kesanggupan kita memberi kesaksian sesuai dengan hidup iman kita sendiri.

Apakah kita memiliki kepercayaan diri yang kuat dan mantap untuk memberi kesaksian setelah kita menerima tubuh dan darah Kristus dalam perayaan Ekaristi hari ini? Apakah kita mampu memberi kesaksian dalam dan melalui hidup kita masing-masing, atau bersediakah kita membagi kemampuan, bakat dan talenta yang Tuhan berikan kepada kita untuk orang lain? Semuanya ini tidak hanya tinggal dalam pikiran atau ingatan tetapi kita sungguh-sungguh mau buktikan bahwa apa yang kita lakukan hari ini sungguh-sungguh merupakan hasil kesatuan kita dengan Yesus dalam perayaan Ekaristi, dalam Komuni Kudus yang kita terima hari ini. Amin.

KEDAMAIAN DI DALAM KASIH TUHAN

KEDAMAIAN DI DALAM KASIH TUHAN

HARI SELASA PEKAN III MASA PRAPASKAH
10 Maret, 2015

Daniel 3:25, 34-43
Matius 18:21-35

Akhir-akhir ini perasaan sakit hati, kesal, marah dan bahkan speechless, bengong telah mewarnai kehidupan setiap orang yang mau mengikuti berita dari media baik cetak maupun elektronik tentang keadaan dunia terutama di Timur Tengah, Afrika dan Eropah Timur. Begitu banyak korban kekerasan, pembunuhan, pembacokan, pembakaran sesama manusia dengan cara yang amat sangat keji dan sudah tidak berperikemanusiaan lagi yang dihadapi oleh sesama manusia termasuk kaum wanita dan anak-anak. Korban-korban penculikan, pemenggalan, penembakan ini dilakukan oleh kelompok-kelompok orang yang mengatasnamakan Allah. Timbul banyak pertanyaan yang selalu diawali dengan kata: “mengapa?”, “apakah benar Allah menghendaki hal seperti itu terjadi?” atau “mengapa Allah membiarkan hal ini terjadi?” Dunia ini sudah tidak aman lagi, kedamaian sudah mulai hilang…dan bahkan dirasakan sudah tidak mungkin akan pernah dinikmati lagi. Keadaan dunia sekarang ini, keadaan yang mencemaskan, membuat orang hidup dalam keadaan yang gelisah, takut, saudara, sepertinya bahan pembicaraan kita hari ini tidak pernah akan selesai kita kupas…

Lalu melihat bacaan pertama hari ini, keadaan yang sama dialami juga oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Kalau kita membaca kisahnya secara lengkap dari Daniel 3:1-30, diteruskan dalam Tambahan-Tambahan Pada Kitab Daniel 3: 24-50 sudah sangat pasti kita akan dapat mengatakan mengapa Allah tidak tunjukkan lagi kepada kelompok terorist sekarang ini? Biarlah mereka juga tahu bahwa Allah kita adalah Kasih. Kedua puluh satu sesama kita yang dipenggal kepalanya di Libya dan masih banyak lagi yang dibunuh dan bahkan dibakar, kita bisa mengatakan atau berkesimpulan bahwa mereka adalah para martyr.

Saudara-saudari terkasih,

Pada bagian terakhir dari bacaan pertama hari ini Azarya atau Abednego (bdk. Daniel 1:7) berdoa: “Lepaskanlah kami sesuai dengan perbuatanMu yang ajaib, dan nyatakanlah kemuliaan namaMu, ya Tuhan.” (Tambahan-Tambahan pada Kitab Daniel 3:43). Ayat ini bisa membantu kita yang lagi penasaran, kiranya Tuhan bisa melakukan mukjizat untuk mengatasi situasi dunia yang semakin parah, keadaan yang semakin tidak aman, tidak ada kedamaian lagi. Keprihatinan kita atas keadaan dunia saat ini mengajak kita semua untuk tekun berdoa agar keadaan yang mencekam ini akan segera berlalu. Sebagai umat Katolik/Kristen tentu saja kita tidak menghendaki perang, tetapi perbuatan yang biadab ini harus dihentikan. Semoga para pemimpin negara-negara di dunia ini bisa bersatu untuk mengatasi kemelut ini.

Lalu selama masa prapaskah ini bersama Azarya kitapun berdoa bersama mereka yang telah dibunuh dan dianiaya agar mereka benar-benar memperoleh belaskasihan Allah kepada kehidupan kekal abadi di surga: “Semoga kami diterima baik, karena jiwa yang remuk redam dan roh yang rendah, seolah-olah kami datang membawa korban-korban bakaran domba dan lembu serta ribuan anak domba tambun.” (Daniel 3:39). Doa ini kemudian dimasukan dalam perayaan Ekaristi pada Doa setelah Pengunjukkan bahan persembahan, imam berdoa dalam hati: “Dengan rendah hati dan tulus, kami menghadap kepadaMu, ya Allah, Bapa kami. Terimalah kami dan semoga persembahan yang kami siapkan ini berkenan kepadaMu…(Tata Perayaan Ekaristi halaman 38).

Saudara-saudariku tekasih,

Pesan apakah yang dapat kita peroleh dari pengalaman Sadrakh, Mesakh dan Abednego serta sesama saudara-saudari kita yang telah menjadi korban kekejian kelompok terorist dimana kita secara pribadi maupun bersama-sama dalam komunitas ini, mempersiapkan batin hati kita selama masa Prapaskah ini? Marilah kita datang ke hadirat Allah baik secara bersama-sama maupun pribadi berdoa, agar dalam disiposisi bathin yang lagi kacau, bimbang, kesal, kecewa, marah dan sakit hati, kita semua masih diberikan kekuatan untuk memperoleh kerendahan hati dan mau terbuka hati kita mendapatkan pengampunan dan belakasihan Allah baik untuk diri kita masing-masing maupun untuk mereka yang telah bersalah kepada kita. Inilah dasar pengampunan yang bisa kita simak dari bacaan Injil hari ini tentang ‘pengampunan’. Bagaimana kita bisa melanjutkan ‘pengampunan’ yang pernah kita peroleh dari Tuhan kepada sesama kita? Sudah sangat pasti kita punya pengalaman pahit, rasa sakit hati yang sangat mendalam, kecewa dengan sesama saudara atau saudari kita di keluarga atau di komunitas. Masa Prapaskah ini adalah kesempatan yang sangat baik bagi kita bersama Kristus untuk bisa mengampuni sesama kita dengan segenap hati kita, (Matius 18:35). Amin.

HARI SENIN, PEKAN III PRAPASKAH

HARI SENIN, PEKAN III PRAPASKAH

9 Maret, 2015

2 Raja-Raja 5:1-15ab
Lukas 4:24-30

“Sikap rendah hati merupakan suatu modal untuk menyalurkan rahmat dan berkat Tuhan kepada sesama.”

Saudara-saudari terkasih,

Cerita tentang Naaman panglima raja Aram dalam bacaan pertama hari ini yang sakit kusta, dapat membuka mata kita melihat suatu contoh konkrit akan mystery campurtangan Allah yang luar biasa dan dahsyat dalam proses penyembuhannya. Naaman digambarkan sebagai seorang yang gagah perkasa. Seorang yang sangat disegani dan dihargai baik oleh sang raja maupun oleh sesama warganya. Ia dikenal sebagai seorang yang mempunyai kedudukan sangat penting dan bahkan diakui juga oleh raja Israel, yang sebelumnya beranggapan bahwa misi Naaman sangat mungkin hanya untuk menghasut perselisihan antara kedua bangsa/negara.

Tetapi kedatangan Naaman ke Israel semata-mata untuk memperoleh pertolongan karena ia sakit. Naaman sakit kusta; suatu penyakit yang sangat menakutkan banyak orang dan sangat besar kemungkinan untuk jangkit. Sebagai orang asing sangat boleh jadi bahwa Naaman sudah pernah mendapat perawatan baik oleh keluarganya sendiri maupun oleh orang lain dimana dia berada. Kegagahan dan besarnya kedudukan Naaman tidak menjadi jaminan untuk luput dari penyakit ini. Oleh karena itu Naaman berusaha mencari, menyelidiki segala kemungkinan untuk mendapatkan perawatan tidak hanya untuk memperoleh kesembuhan dari penyakitnya itu tetapi juga untuk memperoleh pemulihan rohani dan jasmani.

Ketika ia tidak memperoleh kesembuhan diantara bangsanya sendiri, Naaman diberi petunjuk oleh pembantu istrinya yang berketurunan Yahudi untuk menemui Elisa, seorang nabi di Israel. Nabi Elisa dikenal tidak hanya sebagai utusan Allah tetapi juga karena kesucian dan kebijaksanaannya. Pengobatan yang nabi Elisa berikan amat sangat sederhana, tetapi menuntut keyakinan dan kepercayaan dari pihak Naaman sendiri, dan persyaratan ini pada awalnya tidak benar-benar diyakini oleh Naaman. Bahwa ia harus mandi tujuh kali di sungai Yordan. Ketika diberi tahu langkah-langkah pengotabatan itu, Naaman merasa jengkel dan menolak nasihat serta pentunjuk nabi Elisa. Tetapi pada akhirnya ia percaya juga dan menerima petunjuk yang diberikan nabi Elisa. Hasilnya sungguh-sungguh menakjubkan dan ia sembuh total. Setelah Naaman sembuh; Naaman akhirnya percaya kepada Allah dan mengatakan: “Sekarang aku tahu, bahwa di serluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel.”

Saudara-saudariku terkasih,

Pelajaran apa yang dapat kita simak dari peristiwa dalam bacaan pertama kita hari ini? Pertama-tama kita menyadari bahwa Allah menghendaki semua orang selamat dan atau diselamatkan. Dan pelajaran yang lain ialah kita semua mempunyai tugas dan tanggungjawab menyalurkan kebaikan Tuhan kepada sesama kita. Seperti yang telah dilakukan oleh Elisa, kita pun bisa melihat dan memperhatikan sesama yang berada disekitar kita yang sungguh-sungguh membutuhkan perhatian dan kasih Allah lewat perhatian dan uluran tangan kita untuk membantu. Amin.

Cemburu yang indah

Cemburu yang indah

setiaJohn 2:15-17

Dia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.”

Pernah anda merasa cemburu pada pasangan? Suami cemburu karena istrinya dekat dengan lelaki lain. Seorang cewek cemburu pada pacarnya karena sang pacar tak datang malam minggu, dan pergi dengan gadis lain. Hingga kadang cemburu yang tak terkendali berubuah menjadi kemarahan buta yang mengakibatkan orang kehilangan kendali, menyakiti pasangan bahkan sampai menghilangkan nyawa orang yang dicemburi. Tragis!

Kata “Cinta untuk rumahMu menghanguskan Aku” – dalam bahasa English sebenarnya bukan cinta tapi “Zeal”: yang berarti passion, energi yang besar untuk melakukan sesuatu, lebih dari sekedar cinta, ada faktor cemburu juga di dalamnya.

Ketika  Yesus mengusir para pedagang dari Bait Allah, Ia melakukan karena rasa cemburu Allah bahwa tempat untuk memuji dan menyembah dipakai untuk berdagang. Cemburu, cinta, dan passion Yesus terkendali, dia tidak melakukan kemarahan dengan buta dan tak terkontrol. Dalam kemarahan dan “Zeal”, Yesus masih bisa menahan marah ketika menghadapi pedagang burung dara, tapi dia membalik meja para penukar uang!

Rasa marah, cinta, dan cemburu yang terkontrol itu mengalir dari kasih dan pengampunan Allah. Syukurlah kalau orang masih punya rasa cemburu, berarti dia masih mencintai pasangannya. Hanya saja semoga cemburu kita menjadi cemburu Allah, cemburu yang indah karena terkontrol dan kerelaan untuk memperbaiki relasi karena kebesaran hati untuk mengampuni.

Translate »