Browsed by
Month: June 2015

Menghadapi keseharian tantangan demi tantangan, kita perlu sabda Tuhan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

Menghadapi keseharian tantangan demi tantangan, kita perlu sabda Tuhan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

Kejadian 16:1-12, 15-16
atau 16:6b-12, 15-16
Matius 7:21-29
Saudara-saudari terkasih,
    Sementara orang berpendapat bahwa saya tidak perlu harus bernaung atau menganuti suatu agama. Yang penting saya percaya akan adanya Tuhan. Melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik dan tidak menyusahkan orang lain, serta tidak merugikan orang lain. Tetapi pernyataan diatas akan menjadi lebih berarti kalau kita bisa berpegang pada Sabda Tuhan. Abraham dalam bacaan pertama hari ini, sudah sering kita dengar dijuluki sebagai “Bapa Iman”; Tetapi pada suatu waktu diceritakan bahwa Abrahampun pernah tidak berbuat sesuai dengan imannya, lalu berbuat sesuatu yang hanya berdasarkan pada apa yang ia pikirkan.
    Abraham telah menjadi pengemban janji Allah, yang telah terpenuhi dalam Yesus Kristus. Abraham harus membangun suatu bangsa yang besar, nama yang  besar, dan menjadi berkat bagi semua orang…“Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” (Kejadian 12:1-3). Abraham telah diberi janji ini dengan syarat untuk meninggalkan negerinya, sanak keluarganya dan rumah bapanya. Semuanya itu menuntut suatu penyerahan yang total. Meskipun bagi Abraham, “iman,” atau penyerahan yang total kepada kehendak Allah, sudah tidak menjadi suatu yang asing lagi baginya, tetapi Abraham seperti kita juga sangat mungkin akan bimbang dan ragu-ragu terutama kalau sedang menghadapi percobaan/tantangan dalam perjalanan hidupnya.
    Disatu pihak Abraham dan isterinya Sarah sudah tahu bahwa untuk memenuhi janji Allah itu mereka harus mempunyai keturunan.  Dipihak lain mereka menyadari bahwa mereka sudah semakin tua, lalu bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi? Tentu saja hal itu mengingatkan kita juga akan apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri dalam injil Matius 19:26 yang mengatakan: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetatpi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Meskipun demikian, bagi Abraham dan Sarah tetap memikirkan seperti manusia lain pikirkan, dan penuh dengan tanda tanya kapan hal itu akan terjadi.
    Pengalaman Abraham dan Sarah ini bukan tidak mungkin terjadi juga dalam kehidupan kita masing-masing terutama yang sangat berhubungan dengan iman; Tetapi bacaan injil hari ini Yesus menunjukkan suatu point yang cukup jelas. “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapaku yang di sorga.” (Matius 7:21) Kita harus konsekuen terhadap apa yang kita mohon kepada Tuhan dengan rela melakukan apa yang dikehendaki Bapa di sorga. Kita harus melakukan kehendak Allah. Kalau kita bisa melakukan kehendak Allah maka kita boleh dibilang “sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.” Tetapi kalau kita tidak melakukan kehendak Allah dan tidak mendengar perkataanNya, maka kita “sama dengan orang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir,” dan tidak dibangun di atas batu.
Saudara-saudari terkasih,
    Bagi anda yang hari ini mendapat kesempatan mengikuti perayaan Ekaristi, maupun ada saudara-saudari yang hanya mempergunakan bahan renungan ini untuk mengisi kebutuhan hidup rohaninya, kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing, “apakah saya bersedia mendengarkan suara Tuhan hari ini dan melaksanakannya atau menerapkannya dalam kehidupanku?” Kalau kita katakan “ya”, maka sudah jelas bahwa kita benar-benar telah dibilang “bijaksana” dan bahkan kita tidak perlu bimbang dan ragu-ragu lagi untuk selalu berpegang kepada Tuhan, apapun tantangannya yang akan kita hadapi hari ini. Tuhan tak pernah akan meninggalkan kita, Tuhan tidak pernah ingkar akan janjiNya. Amin.
Hari Raya Kelahiran St Yohanes Pembaptis

Hari Raya Kelahiran St Yohanes Pembaptis

 

Yesaya 49:1-6
Kisah Para Rasul 13;22-26
Lukas 1:57-66, 80

“Melayani Tuhan dengan penuh kerendahan hati dan kasih”

Saudara-saudari terkasih,

Bacaan Injil Lukas hari ini kita diberi kesempatan untuk belajar dan lebih mengenal betapa Zacharia dan isterinya Elizabeth benar-benar adalah seorang yang jujur dan setia dihadapan Allah. Seperti yang telah kita ketahui bahwa mereka tidak dikaruniai anak sampai masa tuanya, karena mereka dikatakan mandul. Pada suatu hari ketika Zacharia sedang berada di dalam kenisah berdoa dan membakar kemenyan atau dupa, malaikat Gabriel menampakan diri kepadanya dan menyampaikan bahwa isterinya Elizabeth akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Dan dikatakan bahwa kepada Zacharia disampaikan juga oleh malaikat itu bahwa anak yang akan dilahirkan itu akan dinamai Yohanes, ia akan menjadi besar di hadapan Allah; iapun akan dipenuhi oleh Roh Kudus dan akan berjalan dalam kekuatan dan semangat nabi Elia, untuk menyiapkan semua orang akan kedatangan Tuhan; “dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orrang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagiNya.” (Lukas 1;17) Tetapi Zacharia menanggapi berita ini penuh dengan kebimbangan dan keragu-raguan, lau ia menanggapi berita itu dengan mengatakan: “Bagaimana aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya.” (Lukas 1:18) Dan karena Zacharia menanggapi berita malaikat Gabriel penuh dengan keragu-raguan, ia akhirnya menjadi bisu sampai pada saat kelahiran Yohanes Pembaptis.

Lalu untuk membuat injil hari ini jelas bagi kita bahwa janji-janji Allah akan selalu terpenuhi, bahwa Elizabeth isteri Zacharia benar-benar menjadi hamil seorang anak laki-laki. Pada saat Elisabeth melahirkan anaknya, ia ditanya oleh para tetangga dan kerabatnya, siapa nama anaknya itu? Elizabeth menjawab, namanya Yohanes. Pertanyaan yang sama oleh para tetangga dan kerabat ditujukan kepada Zacharia, siapakah nama anaknya yang baru dilahirkan itu? Zachariah menulis pada sebuah batu-tulis, namanya Yohanes dan serentak ia menjadi sembuh dari bisunya itu.

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini dan sebagaimana biasanya setiap tahun kita merayakan pesta kelahiran Yohanes Pembaptis, karena Yohanes Pembaptis memainkan peranan yang sangat penting dalam sejarah keselamatan Allah. Ia adalah seorang yang diutus untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan, dan suara yang berseru-seru tentang kedatangan Mesias. Yohanes dihormati karena kesetiaannya memenuhi rencana Tuhan, tetapi Yohanes juga dihormati karena ia hidup dalam kesederhanaan, kerendahan hati dan kasih kepada Allah. Dalam pelayanannya kepada Tuhan, ia tidak mencari nama, atau supaya dipuji atau untuk kepuasan/kesombongan rohani. Tetapi ia mau memuji dan memuliakan Tuhan dan mau menjalani apa yang telah Tuhan perintahkan kepadanya.

Seperti Yohanes Pembaptis, kita masing-masing telah dipanggil Tuhan sejak kita dalam kandungan ibu, sejak kita dilahirkan untuk mencintai dan melayani Tuhan dan sesama sesuai denan panggilan kita masing-masing yang telah kita jawab dan yang telah kita putuskan untuk menjawab panggilan Tuhan itu. Tantangan yang perlu kita perhatikan ialah kesetiaan dan kerendahan hati Yohanes Pembaptis. Pada kesempatan ini kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing, sudah sejauh mana saya memiliki semangat kerendahan hati dan kasih dalam menjawabi panggilan Tuhan? Dalam dan melalui Sakramen Permandian, melalui panggilan umum ini apakah semangat kerendahan hati dan kasih Yohanes Pembaptis telah mewarnai hidup, tugas dan pengabdian saya kepada Tuhan dan sesama sesuai dengan professi yang selama ini saya kenyami dan saya lakukan? Lalu sebagai imam, biarawan dan biarawati, dan ataupun sebagai rohaniwan – rohaniwati, apakah melalui panggilan khusus ini sayapun sudah mewarnai hidup panggilan saya dengan semangat dan jiwa pengabdian Yohanes Pemandi? Selamat bermeditasi!

 

“Kasih Persaudaraan Membawa Kedamaian dan Kegembiraan Hidup Komunitas, Keluarga Umat Allah”

“Kasih Persaudaraan Membawa Kedamaian dan Kegembiraan Hidup Komunitas, Keluarga Umat Allah”

Kejadian 13:2, 5-18
Mattius 7:6, 12-14
Saudara-saudariku terkasih,
    Abraham adalah contoh hidup yang mengutamakan kasih persaudaraan, dialah “pembawa damai” yang  boleh kita simak dari bacaan pertama hari ini. Untuk menghindari perselisihan dengan Lot, Abraham minta Lot kerabatnya untuk lebih dahulu memilih apa yang Lot mau atau yang Lot kehendaki, tanah yang berada di sebelah kanan atau di sebelah kiri mereka. Abraham sangat mungkin sudah punya pilihan, tetapi ia memberikan kesempatan dan membiarkan Lot terlebih dahulu membuat keputusan agar kedamaian atara mereka terjamin dan terpelihara. Sepertinya Abraham menyadari bahwa kalau kedamaian itu hilang dari relasi keluarga mereka maka hal itu akan sangat sulit diperoleh atau sulit akan pulih.
    Disini Abraham harus bertanya kepada diri sendiri, “mana yang lebih penting: sepenggal tanah yang Tuhan berikan kepada mereka untuk dibagi atau kasih persaudaraan yang langgeng dengan Lot saudaranya?” Abraham dengan tegas memilih kasih persaudaraan dan kegembiraanatau kebahagiaan yang diperoleh dari kasih persaudaraan itu. Abraham melakukan hal itu tidak hanya karena ia menghendaki kedamain dan kasih persaudaraan dengan saudaranya saja, tetapi karena ia mau supaya ia dapat meneruskan hubungan persaudaraan itu dan demi kesetiaannya kepada Allah.
Saudara-saudariku terkasih,
    Saya yakin bahwa anda juga pernah menghadapi pertimbangan yang pernah dialami Abraham dari bacaan pertama kita hari ini. Bahkan sangat mungkin anda pernah melihat atau tahu ada seseorang yang tega mempertaruhkan hubungan kekeluargaannya demi sesuatu yang diiinginkannya. Pernah terjadi ketika sang ibu dalam usia yang sudah sangat tua, janda, mempunyai banyak harta dan empat orang anak yang semuanya sudah bisa mandiri, mapan tetapi masih juga rebutan harta dan mengesampingkan hubungan kekeluargaan dan kasih antara mereka. Peristiwa itu meninggalkan kebencian, dendam dan rasa sakit hati yang sangat mendalam antara mereka; akibatnya hubungan kasih persaudaraanpun hilang musnah. Sungguh sangat memprihatinkan. Bukan tidak mungkin hubungan kasih persaudaraan dalam komunitas biarapun bisa hilang sama sekali kalau tidak ada tenggang rasa, cemburu dan irihati mewarnai hidup komunitas antar anggotanya…sementara kalau ada pemimpinnya pilih kasih, tidak menciptakan dialog yang sehat. Kadaannya akan menjadi lebih parah.

Pada kesempatan yang sangat istimewa ini dimana tahun ini tahta suci mencanangkan “the year of consecrated life”, dimana umat diminta berdoa bagi mereka yang telah menjawab panggilan khusus itu. Semoga pengalaman Abraham dari bacaan pertama hari ini memberikan inspirasi dan makna untuk direnungkan dan menjadi fokus perhatian kita khususnya para biarawan dan biarawati, rohaniwan-rohaniwati agar dapat mengutamakan hubungan kasih persaudaraan. Seperti Abraham yang mengutamakan relasi kasih persaudaraan dengan saudaranya Lot. Amin.

“Apakah saya juga akan menghakimi orang lain?”

“Apakah saya juga akan menghakimi orang lain?”

Kejadian 12:1-9
Matius 7:1-5
    Pertanyaan diatas mengingatkan saya akan pengalaman pribadi ketika saya dipanggil untuk “jury duty” di pengadilan Amerika Serikat. Sebagai warga negara Amerika, setiap warganya diwajibkan untuk memenuhi tugas diatas. Setelah lebih dari sepuluh tahun saya menjadi warga negara Amerika Serikat sudah kurang lebih empat kali saya dipanggil oleh pengadilan Negeri setempat untuk tugas tersebut. Tetapi setiap kali saya berkeberatan bahwa saya tidak dapat menjalankan tugas ini karena pertama saya adalah seorang pastor Katolik, dan kedua saya juga adalah seorang chaplain di rumah sakit. Dengan kedua tugas atau professi diatas saya menjelaskan bahwa saya bisa saja menjadi bias dalam membuat keputusan. Karena dari duabelas jury yang dipanggil itu harus benar sepakat untuk menjatuhkan hukuman, tetapi kalau ada satu saja yang tidak setuju maka penghakiman tidak dapat diputuskan.  Akhirnya hakim dan para pengacarapun mengiakan keberatan saya dan saya diperbolehkan untuk meninggalkan kantor pengadilan.
    Pengalaman diatas senantiasa mengingatkan saya akan perikope dari bacaan injil hari ini yang mengatakan: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”…”karena ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2) Kata-kata Yesus ini sungguh-sungguh mempunyai kekuatan dan telah menjadi pedoman bagi saya dalam menjalani tugas yang sekarang saya embani, sesuai dengan panggilan saya.
    Oleh karena itu Yesus pun dengan sangat gamblang mengatakan: “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamupun akan dihakimi,” Saya menyadari bahwa “jury duty” itu sungguh-sungguh suatu tugas yang sangat tidak mudah. Dalam tugas itu kita harus benar-benar bisa mendengarkan, menganalisa dan akhirnya harus bisa juga membuat suatu keputusan dengan segala konsekwensinya. Dalam kehidupan kita sehari-haripun kita akan selalu berhadapan dengan proses diatas sebelum membuat keputusan, pertama-tama kita harus tahu apa yang baik/benar dan apa yang tidak baik/benar, apa yang salah dan sebagainya. Yesus menghendaki agar kita dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan perbuatan atau tindakan kita, yang berhubungan dengan orang lain, kita harus berpedoman kepada keputusan untuk atau atas diri sendiri…“Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” Dengan kata lain kita harus benar-benar jujur dengan diri sendiri dalam menghakimi orang lain…atau benar-benar bisa memahami situasi dan kondisi hati seseorang.
    Dalam hal ini saudara-saudariku sekalian,
    Sikap dan tingkah laku manusia pada umumnya datang dari pelbagai macam sumber: misalnya dari lingkungan hidup seseorang dimana dia hidup dan berkembang dan juga sudah sangat pasti dalam dan dengan kehendak bebas. Hanya Tuhan yang tahu dari mana datangnya faktor-faktor itu yang muncul pada tingkah laku seseorang. Oleh karena itu penghakiman yang benar hanyalah penghakiman Tuhan. Satu hiburan dan sekaligus juga adalah sesuatu yang membuat kita tidak dengan mudah menghakimi orang lain kalau kita selalu bisa berpedoman kepada kehendak dan kasih Tuhan. Dalam kehidupan komunitas biara sekalipun bukan tidak mungkin keputusan dan penghakiman yang dilakukan para pemimpin komunitas berdasarkan pada kecurigaan semata, keputusan sebelah pihak, sambil memanipulasi bimbingan dan terang Roh Kudus. Renungan ini hanya suatu bahan untuk kita mawas diri, mengoreksi diri, sudah sejauh mana saya telah menjalani tugas dan panggilan saya dalam kehidupan berkomunitas baik awam maupun biarawan/ti. Semoga dalam kehidupan berkomunitas kita akan selalu berpedoman kepada pengampunan dan belaskasih Tuhan, bagaimana kita bisa mengenyami pengampunan dan belaskasih Tuhan kalau kita juga bisa mengampuni dan memaafkan sesama kita. Amin.



Translate »