“Apakah saya juga akan menghakimi orang lain?”

“Apakah saya juga akan menghakimi orang lain?”

Kejadian 12:1-9
Matius 7:1-5
    Pertanyaan diatas mengingatkan saya akan pengalaman pribadi ketika saya dipanggil untuk “jury duty” di pengadilan Amerika Serikat. Sebagai warga negara Amerika, setiap warganya diwajibkan untuk memenuhi tugas diatas. Setelah lebih dari sepuluh tahun saya menjadi warga negara Amerika Serikat sudah kurang lebih empat kali saya dipanggil oleh pengadilan Negeri setempat untuk tugas tersebut. Tetapi setiap kali saya berkeberatan bahwa saya tidak dapat menjalankan tugas ini karena pertama saya adalah seorang pastor Katolik, dan kedua saya juga adalah seorang chaplain di rumah sakit. Dengan kedua tugas atau professi diatas saya menjelaskan bahwa saya bisa saja menjadi bias dalam membuat keputusan. Karena dari duabelas jury yang dipanggil itu harus benar sepakat untuk menjatuhkan hukuman, tetapi kalau ada satu saja yang tidak setuju maka penghakiman tidak dapat diputuskan.  Akhirnya hakim dan para pengacarapun mengiakan keberatan saya dan saya diperbolehkan untuk meninggalkan kantor pengadilan.
    Pengalaman diatas senantiasa mengingatkan saya akan perikope dari bacaan injil hari ini yang mengatakan: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”…”karena ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2) Kata-kata Yesus ini sungguh-sungguh mempunyai kekuatan dan telah menjadi pedoman bagi saya dalam menjalani tugas yang sekarang saya embani, sesuai dengan panggilan saya.
    Oleh karena itu Yesus pun dengan sangat gamblang mengatakan: “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamupun akan dihakimi,” Saya menyadari bahwa “jury duty” itu sungguh-sungguh suatu tugas yang sangat tidak mudah. Dalam tugas itu kita harus benar-benar bisa mendengarkan, menganalisa dan akhirnya harus bisa juga membuat suatu keputusan dengan segala konsekwensinya. Dalam kehidupan kita sehari-haripun kita akan selalu berhadapan dengan proses diatas sebelum membuat keputusan, pertama-tama kita harus tahu apa yang baik/benar dan apa yang tidak baik/benar, apa yang salah dan sebagainya. Yesus menghendaki agar kita dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan perbuatan atau tindakan kita, yang berhubungan dengan orang lain, kita harus berpedoman kepada keputusan untuk atau atas diri sendiri…“Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” Dengan kata lain kita harus benar-benar jujur dengan diri sendiri dalam menghakimi orang lain…atau benar-benar bisa memahami situasi dan kondisi hati seseorang.
    Dalam hal ini saudara-saudariku sekalian,
    Sikap dan tingkah laku manusia pada umumnya datang dari pelbagai macam sumber: misalnya dari lingkungan hidup seseorang dimana dia hidup dan berkembang dan juga sudah sangat pasti dalam dan dengan kehendak bebas. Hanya Tuhan yang tahu dari mana datangnya faktor-faktor itu yang muncul pada tingkah laku seseorang. Oleh karena itu penghakiman yang benar hanyalah penghakiman Tuhan. Satu hiburan dan sekaligus juga adalah sesuatu yang membuat kita tidak dengan mudah menghakimi orang lain kalau kita selalu bisa berpedoman kepada kehendak dan kasih Tuhan. Dalam kehidupan komunitas biara sekalipun bukan tidak mungkin keputusan dan penghakiman yang dilakukan para pemimpin komunitas berdasarkan pada kecurigaan semata, keputusan sebelah pihak, sambil memanipulasi bimbingan dan terang Roh Kudus. Renungan ini hanya suatu bahan untuk kita mawas diri, mengoreksi diri, sudah sejauh mana saya telah menjalani tugas dan panggilan saya dalam kehidupan berkomunitas baik awam maupun biarawan/ti. Semoga dalam kehidupan berkomunitas kita akan selalu berpedoman kepada pengampunan dan belaskasih Tuhan, bagaimana kita bisa mengenyami pengampunan dan belaskasih Tuhan kalau kita juga bisa mengampuni dan memaafkan sesama kita. Amin.



One thought on ““Apakah saya juga akan menghakimi orang lain?”

  1. Romo, saya senang membaca renungan Romo, yang saya bertanya tanya didalam hati saya dengan masalah hari ini, eh saya mendapat jawaban dari renungan Romo yang tgl 24 itu, meskipun saya bacanya sudah lewat dari tanggalnya. Yang membuat saya menjadi tenang kembali yang Tuhan tidak pernah meninggalkan kita!

    Terima kasih Romo! Mudah2an Romo punya rencana ke L A untuk retreat yang pasti bermanfaat untuk warga Indo di LA.

Comments are closed.

Comments are closed.
Translate »