Browsed by
Month: June 2015

Keadilan

Keadilan

Tobit 2:9-14
Mazmur 112
Markus 12:13-17

Dalam Kitab Tobit dikisahkan bahwa dia orang Yahudi yang sangat taat dan baik hidupnya. Hidup pada zaman penjajahan kerajaan Asyur atau Assyria atas Israel, Tobit diasingkan ke Niniwe, ibukota Assyria. Walaupun hidup dalam pengasingan, dia tetap membantu orang-orang Israel lainnya, menolak makanan yang haram, memberi makan kepada yang lapar dan pakaian kepada yang berkekurangan, sampai menguburkan orang-orang Israel yang dijatuhi hukum mati oleh raja Assyria, yang mayatnya dibuang begitu saja di luar tembok kota Niniwe.

Tetapi semua kesetiaan Tobit ini tidak setara dengan nasibnya. Suatu waktu ia menjadi buta karena matanya dijatuhi kotoran burung ketika dia tidur di halaman rumahnya. Mungkin kita teringat juga cerita Ayub yang mengalami kesengsaraan yang besar walaupun dia orang yang baik dan taat pada Tuhan. Karena Tobit buta, istrinya Anna harus bekerja untuk mencari nafkah. Pada suatu hari, Anna pulang membawa seekor kambing sebagai hadiah atas pekerjaannya. Tobit, karena begitu taatnya pada hukum Tuhan, curiga bahwa Anna telah mencuri kambing itu. Kemarahannya meledak, yang disambut balik oleh Anna. Kata-kata Anna cukup pedas. Tobit yang membanggakan dirinya telah berbuat baik pada orang-orang sebangsanya sekarang begitu mudah curiga pada istrinya sendiri dan memarahinya dengan kasar.

Dalam Injil, Yesus akan dicobai oleh orang-orang Farisi. Menurut mereka, kalau Yesus benar-benar orang suci, Ia pasti tidak setuju dengan keharusan orang Israel membayar pajak pada kekaisaran Romawi. Ternyata Yesus menjawab dengan tak terduga. Uang itu yang membuat adalah bangsa Romawi, maka kembalikankanlah pada mereka lagi.

Kambing yang dibawa Anna adalah miliknya yang diperoleh dengan adil. Uang Romawi adalah buatan pemerintahan Roma yang digunakan di seluruh wilayahnya, dan dengan demikian adalah hak mereka untuk mengatur sirkulasinya. Tapi Tobit dan orang Farisi mempunyai pandangan sempit tentang hukum dan keadilan. Karena begitu bersemangatnya mereka untuk mentaati semua hukum Allah, mereka buta pada situasi yang sesungguhnya. Akibatnya, hubungan antar sesama pun menjadi tidak harmonis, seperti Tobit yang malahan bertengkar dengan istrinya.

Kadang kita terlalu berpaku pada aturan atau kebiasaan sampai kita buta pada apa makna sesungguhnya dari aturan itu. Sebagai konsekuensinya, hubungan pun menjadi renggang dan perselisihan terjadi. Inilah masalah orang Farisi yang dikoreksi oleh Yesus. Kisah Tobit menggunakan ilustrasi hubungan suami istri. Tetapi hal ini bisa terjadi di setiap hubungan kita dengan orang lain, dengan teman, keluarga, rekan kerja, dan lainnya. Jika kita merasa bahwa mereka telah berbuat sesuatu yang tidak adil dan kita mencoba menjauhi mereka, dapatkah kita memperluas wawasan kita dan mencoba mengerti keadaan mereka yang sesungguhnya sebelum kita menghakimi mereka?

Martir

Martir

Hari Raya Pesta Santo Yustinus Martir

St. Justin icon by Aidan Hart (http://aidanharticons.com)
St. Justin icon by Aidan Hart (http://aidanharticons.com)

Tobit 1:3; 2:1A-8
Mazmur 112
Markus 12:1-12

Martir adalah istilah dari bahasa Yunani yang berarti “saksi.” Kemudian, kata ini digunakan oleh umat Kristen awal untuk mereka yang rela mati demi mempertahankan iman Kristiani mereka, atau dengan kata lain mati karena kesaksian mereka akan Kristus. Hari ini kita memperingati salah satu martir gereja awal, Santo Yustinus.

Yustinus hidup sekitar tahun 100 Masehi. Dia banyak menulis tentang kepercayaan Gereja awal, terutama dalam konteks untuk menjelaskan iman Gereja pada orang-orang Yahudi dan Romawi. Orang Yahudi menganggap sesat anggapan bahwa Yesus adalah mesias yang dijanjikan oleh para nabi. Orang Romawi memaksa orang Kristen untuk menyembah Kaisar dan para dewa. Karena menolak untuk melakukan hal ini, Yustinus dihukum mati oleh penguasa Romawi.

Kisah dalam Injil Markus hari ini mengumpamakan seorang pemilik kebun anggur yang meminta hasil panen kepada para penggarap tanah. Tetapi semua utusan si pemilik, termasuk anaknya sendiri, mati dibunuh oleh para penggarap. Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk melukiskan bagaimana para nabi datang pada bangsa Israel untuk membuat mereka bertobat, tetapi banyak dari mereka tidak didengarkan, dibuang, bahkan dibunuh. Pada akhirnya Sang Putra sendiri diutus ke dunia, tapi Ia pun dihukum mati di salib. Dan pada kenyataannya, setelah Yesus pun banyak lagi tokoh Gereja awal yang mati sebagai martir.

Di masa sekarang, masih ada juga martir yang tewas karena keyakinan mereka akan Kristus: orang-orang Kristen di Timur Tengah yang dibunuh oleh ISIS, mereka yang dibunuh di Afrika oleh Boko Haram, bahkan di Indonesia sendiri masih terjadi pengejaran dan penganiayaan terhadap mereka yang mau mendirikan gereja. Kesaksian para martir adalah kekuatan yang menyokong Gereja Kristus di dunia. Semoga kisah mereka mampu menguatkan iman kita dan tekad kita untuk melayani Tuhan dan sesama secara lebih lagi, siap berkorban dengan segala cara.

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13)

Translate ยป