Keadilan

Keadilan

Tobit 2:9-14
Mazmur 112
Markus 12:13-17

Dalam Kitab Tobit dikisahkan bahwa dia orang Yahudi yang sangat taat dan baik hidupnya. Hidup pada zaman penjajahan kerajaan Asyur atau Assyria atas Israel, Tobit diasingkan ke Niniwe, ibukota Assyria. Walaupun hidup dalam pengasingan, dia tetap membantu orang-orang Israel lainnya, menolak makanan yang haram, memberi makan kepada yang lapar dan pakaian kepada yang berkekurangan, sampai menguburkan orang-orang Israel yang dijatuhi hukum mati oleh raja Assyria, yang mayatnya dibuang begitu saja di luar tembok kota Niniwe.

Tetapi semua kesetiaan Tobit ini tidak setara dengan nasibnya. Suatu waktu ia menjadi buta karena matanya dijatuhi kotoran burung ketika dia tidur di halaman rumahnya. Mungkin kita teringat juga cerita Ayub yang mengalami kesengsaraan yang besar walaupun dia orang yang baik dan taat pada Tuhan. Karena Tobit buta, istrinya Anna harus bekerja untuk mencari nafkah. Pada suatu hari, Anna pulang membawa seekor kambing sebagai hadiah atas pekerjaannya. Tobit, karena begitu taatnya pada hukum Tuhan, curiga bahwa Anna telah mencuri kambing itu. Kemarahannya meledak, yang disambut balik oleh Anna. Kata-kata Anna cukup pedas. Tobit yang membanggakan dirinya telah berbuat baik pada orang-orang sebangsanya sekarang begitu mudah curiga pada istrinya sendiri dan memarahinya dengan kasar.

Dalam Injil, Yesus akan dicobai oleh orang-orang Farisi. Menurut mereka, kalau Yesus benar-benar orang suci, Ia pasti tidak setuju dengan keharusan orang Israel membayar pajak pada kekaisaran Romawi. Ternyata Yesus menjawab dengan tak terduga. Uang itu yang membuat adalah bangsa Romawi, maka kembalikankanlah pada mereka lagi.

Kambing yang dibawa Anna adalah miliknya yang diperoleh dengan adil. Uang Romawi adalah buatan pemerintahan Roma yang digunakan di seluruh wilayahnya, dan dengan demikian adalah hak mereka untuk mengatur sirkulasinya. Tapi Tobit dan orang Farisi mempunyai pandangan sempit tentang hukum dan keadilan. Karena begitu bersemangatnya mereka untuk mentaati semua hukum Allah, mereka buta pada situasi yang sesungguhnya. Akibatnya, hubungan antar sesama pun menjadi tidak harmonis, seperti Tobit yang malahan bertengkar dengan istrinya.

Kadang kita terlalu berpaku pada aturan atau kebiasaan sampai kita buta pada apa makna sesungguhnya dari aturan itu. Sebagai konsekuensinya, hubungan pun menjadi renggang dan perselisihan terjadi. Inilah masalah orang Farisi yang dikoreksi oleh Yesus. Kisah Tobit menggunakan ilustrasi hubungan suami istri. Tetapi hal ini bisa terjadi di setiap hubungan kita dengan orang lain, dengan teman, keluarga, rekan kerja, dan lainnya. Jika kita merasa bahwa mereka telah berbuat sesuatu yang tidak adil dan kita mencoba menjauhi mereka, dapatkah kita memperluas wawasan kita dan mencoba mengerti keadaan mereka yang sesungguhnya sebelum kita menghakimi mereka?

Comments are closed.
Translate ยป