Browsed by
Month: July 2015

Matius 12: 1-8

Matius 12: 1-8

Mat. 12:1-8

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.”

Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Philip Neri dalam bukunya: The Fire of Joy mengatakan “ketika orang-orang Farisi berusaha untuk membimbing orag dengan hal-hal lahiriah, melalui undang-undang, peraturan, dan kebiasaan, Yesus melihat hati orang, pusat dari pribadinya”.

Yesus beberapa kali mengkritik kemunafikan imam-imam kepala, para tua-tua, dan farisi. mereka yang sebenarnya memimpin dan menuntun orang-orang dengan contoh yang baik malah menggunakan kekuasaan dan statusnya untuk menindas komunitasnya. Bahkan Yesus sendiri menjadi korban dari kemunafikan mereka dengan hukuman yang kejam: kematian.

Yesus juga menunjukkan bahwa walaupun mayoritas pemimpin public adakah koruptor dan selalu munafik, masih ada yang kembali dari kesalahannya dan mengikuti Yesus.

Dalam hidup harian kita, kita juga mengalamai hal yang sama. Sering kita dihadapkan dengan pimpinan kita yang tidak bersih lalu orang dengan mudah mengeneralisasi semua pimpinan tidak baik walau kita sendiri lihat bahwa masih ada juga pemimpin kita yang baik. Jangan biarkan satu sikap/contoh yang buruk menghancurkan relasi kita dengan yang lain. Kadang kita jua butuh orang laing untuk mengingatkan kita agar kita tidak merasa selalu benar. Dengan kritik dari orang lain mungkin kita lebih mawas diri untuk berbuat lebih baik untuk orang lain.

Kemunafikan dapat merusak dan menyakitkan relasi dengan orang lain. Kemunafikan jaman Yesus tidak beda dengan kemunafikan jaman kita. Adalah sangat penting untuk disadari dan mengerti bahwa kemunafikan adalah satu hal yang bisa menjerumuskan kita kearah yang tidak baik kalau kita tidak berhati-hati. kemunafikan sangat mudah mengancurkan relasi dan opini. Oleh karena itu berhati-hatilah. Janganlah membiarkan kemunafikan membuat hati kita mengeras atau menghancurkan reputasi komunitas kita. Sebagaimana Yesus mencintai semua orang, mari kita lakukan hal yang sama. Lihatlah hati orang sebagai pusat dari pribadi orang itu.

Pilih: Kuk Yesus atau Kuk sendiri

Pilih: Kuk Yesus atau Kuk sendiri

Kamis, 16 Juli 2015:

Kel. 3:13-20;

Mat. 11:28-30.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

Yesus berkata: Pikulah kuk yang kupasang dan belajarlah daripadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Ini adalah sebuah tawaran dari Yesus yang sangat tepat buat hidup kita jaman ini dimana hari-hari kita selalu disibukan dengan berbagai hal dan hampir tidak mempunyai waktu untuk diri kita sendiri dan keluarga, dan terutama buat kita yang tidak menemukan kedamaian dalam hati dan pikiran kita.

Tawaran Yesus in sangat sederhana sebenarnya akan tetapi manusia modern selalu bertanya: apakah sangat saya butuhkan? Seperti apa kuk Yesus itu buat saya? Yesus mengatakan Kuk yang Dia pasang itu enak dan beban-Ku pn ringan. Kuk Yesus tidak lain adalah Kasih/Cinta: cintailah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, pikiran dan tenagamu dan sesamamu seperti dirimu sendiri.; mengikuti sepuluh perinah Allah. Yesus mengajak kita untuk memakai dan mengenakan kuk-Nya karena Dia menghendaki agar kita hidup bahagia dengan dalam naungan kasihnya. Dia menghendaki agar kuk-Nya membuat hidup kita lebih baik dan membawa orang lain juga mengalami hal yang sama.

Yesus mengajak kita untuk memikul kuk-Nya sebenarnya juga Dia menghendaki agar kita selalu berjalan bersama-Nya, belajar dari padaNya; Yesus menawarkan kepada kita agar kita membagikan beban kita dengan-Nya; bersama Yesus kita men-sharing-kan tugas yang Dia percayakan kepada kita. Dengan kata lain, Dia adalah partner kita, satu team dengan kita, teman kita dalam suka dan duka hidup kita.

Dalam hidup harian kita, kita mempunyai bermacam-macam kuk dan beban sendiri seperti: cemas, takut, kecewa, kesulitan dalam berelasi, sakit dan penyakit, kehilangan orang yang kita cintai dan sebagainya. Yesus secara personal tahu beban hidup kita, Dia sangat tahu pergumulan kita dan frustrasi dalam hidup kita. Dia mengerti beban yang selalu kita pikul dibahu kita. Dan Dia mau meringankan beban kita itu. Dia mau membantu kita untuk menghadapinya bersama. Hanya dengan cinta Yesus meringankan beban kita dan lewat kita meringankan beban orang lain. Dengan cinta Yesus memampukan kita untuk meringankan beban kita sendiri karena sebagian beban hidup kita berasal dari diri kita sendiri. Dia selalu meyakin kita bahwa tidak ada beban yang berat ketika kita hadapi dengan cinta dan dalam cinta. Tidak ada beban yang yang tidak dapat dipikul apabila kita pikul bersama Dia. Sekarang tinggal kita membuat keputusan sendiri: mau memikul kuk Yesus dan bersama Yesus agar hidup kita lebih enteng, ringan dan bahagia atau memikul kuk kita sendiri dan tidak mengijinkan Yesus membantu kita?

Peringatan St.Bonevantura, Uskup dan Doctor gereja

Peringatan St.Bonevantura, Uskup dan Doctor gereja

Kel. 3:1-6, 9-12

Mat. 11:25-27

Smart dan Bijak

Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

Dalam bacaan injil hari ini, Yesus memuji BapaNya karena Dia telah menyembunyikan hal-hal surgawi bagi orang pintar dan terdidik, tetapi memperlihatkannya kepada orang kecil, untuk pengajarannya yang mudah diterima oleh orang-orang sederhana daripada mereka yang pintar dan smart pada jamannya

Dalam liturgi hari ini kita menemukan dua orang yang sungguh bijak: Musa dalam bacaan pertama dan Bonaventura yang peringatannya kita rayakan hari ini

Moses dibesarkan dalam keluarga Firaun dan barangkali menerima pendidikan yang lebih baik pada jaman itu. Dia barangkali juga seorang muda yang masuk dalam kategori pintar. Bagaimanapun juga, pengalamanya mengajarkan dia akan keterbatasannya. Keinginan untuk membantu orang-orang Israel membuat dia harus keluar dari istana raja dan kabur. Ketika Tuhan memanggil dia kembali ke mesir untuk membebaskan orang Israel, Musa bertanya kepada Tuhan “siapakah saya, sehingga saya harus membebaskan bangsa Israel dari Mesir? Tuhan hanya menjawab “saya akan menyertaimu! Dengan kata lain, bukan kepintaran Musa tetapi kekuatan Tuhan yang bekerja melalui Musa yang akan membebaskan Israel. Musa hanya butuh iman, percaya. Bonaventura adalah seorang terdidik pada era skolastik. Dia mengajarkan kebijaksanaan sejati terletak pada ketidakpercayaan akan kebijaksanaan dan pengetahuan sendiri, akan tetapi percayakan dirimu sepenuhnya dalam bimbingan Roh Allah.

Kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas segala pemberiannya terutama pengetahuan, kebijaksanaan dan iman. Semoga segala karunia dan pemberian ini kita gunakan untuk membawa semakin banyak orang lebih dekat dengan Tuhan. Mari kita belajar dari dua tokoh ini untuk semakin bijak dalam melakukan segala sesuatu yang Tuhan telah percayakan kepada kita masing-masing.

Translate »