Browsed by
Month: October 2015

Titik

Titik

black-dot

Bacaan I : Roma 8:12-17
Bacaan Injil : Lukas 13: 10-17

Pernahkah Anda tidak sengaja menginjak barang tajam seperti paku dengan kaki telanjang? Kita bisa bayangkan, seketika itu juga, sampai beberapa saat yang cukup panjang, seluruh perhatian kita tertuju pada bagian kaki yang luka tersebut. Sejenak seakan dunia berhenti berputar, dan tidak ada yang lebih penting daripada luka yang menyerap seluruh perhatian, perasaan dan pikiran. Hal yang kurang lebih sama jika mendapat berita bahwa kita menderita sakit yang serius mengancam hidup kita, seperti tumor atau kanker. Atau saat kita mengalami patah hati entah karena perilaku kekasih hati atau kehilangan orang yang dicintai, entah keluarga atau sahabat. Seluruh tatanan hidup seakan menjadi runtuh karena satu titik yang tidak harmonis, tidak selaras. Seluruh hidup seakan ditentukan oleh satu titik itu saja.

Kehilangan kemampuan melihat gambar besar dan tali temali kehidupan yang komplex juga dialami mereka yang sangat menekankan aspek hukum dan aturan seperti kepala rumah ibadat dalam kisah Injil hari ini. Baginya, tidak bekerja untuk alasan apapun adalah peraturan beragama yang mutlak harus dijaga demi menjaga ungkapan iman yang utuh, penuh dan benar. Memuliakan Allah datang dari disiplin menjalankan segala tradisi dan hukum yang dibuat untuk menjaga agar kita tidak jatuh dalam dosa melawan kehendak Allah seperti leluhur kita, Adam dan Hawa. Setiap pengecualian dari hukum yang dicanangkan adalah noda yang mengganggu putih bersihnya kain penutup altar persembahan korban syukur dan pujian. Persoalannya, tak ada yang tidak berubah di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Tatanan hukum dan organisasi penting dan perlu untuk membadani roh, tetapi semangat dasar yang menggerakkan kehidupan dan kebenaran lebih penting, lebih pokok, dan lebih sulit dipahami, karena “angin bertiup kemana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu darimana ia datang atau kemana ia pergi (Yoh 3:8)”. Namun sungguh, “Rohlah yang memberi hidup” (Yoh 6:63).

Lewat tindakan kasihNya membebaskan wanita yang menderita selama 18 tahun dari cengkeraman roh jahat di hari Sabat, Yesus mengingatkan kita, belas kasih lebih penting dari pada kesempurnaan menjalankan huruf-huruf hukum. Kasih adalah hukum tertinggi. Ada prinsip-prinsip yang harus teguh dipegang, tetapi dalam segala, “keselamatan jiwa-jiwa … harus selalu menjadi hukum yang tertinggi “ (Kitab Hukum Kanonik 1983 nomer 1752). Dengan semangat yang sama, Paus Fransiskus mengingatkan dalam pidato penutupan Sinode tentang Keluarga dua hari lalu, proses Sinode membuat kita menyadari dengan lebih baik, bahwa “pembela doktrin yang sejati bukanlah mereka yang kaku beku menjaga huruf-huruf hukum, tetapi yang menjunjung tinggi semangatnya; bukan pemikiran-pemikirannya tetapi manusianya; bukan rumusan kata-katanya tetapi kemurahan kasih dan pengampunan Tuhan.” Semoga kita pun demikian, senantiasa membuka diri untuk dibimbing Roh dalam mengarungi lautan kehidupan, senantiasa siap menguji dan mengkaji roh (discernment), tidak ragu dan takut untuk menjadi kreatif, dan tidak berhenti berkutat pada satu titik (aturan) saja. Karena “semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah (Roma 8:14-15)”.

Rom 8:1-11/Luk 13:1-9

Rom 8:1-11/Luk 13:1-9

Sabtu, 24 Oktober 2015

Rom 8:1-11/Luk 13:1-9

Apa yang bisa bencana (seperti melapetaka politik atau bencana alam) ajarkan kita tentang Kerajaan Allah dan konsekuensi dari pilihan yang buruk dan perbuatan dosa? Yesus menggunakan dua kesempatan tersebut untuk mengatasi masalah dosa dan penghakiman dengan orang-orang Yahudi. Pilatus, gubernur Romawi Yerusalem pada saat itu, memerintahkan pasukannya untuk menyembelih sekelompok orang Galilea yang telah datang ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban di Bait Allah. Kita tidak tahu apa yang Galilea ini lakukan sehingga memantik kemarahan Pilatus, atau mengapa Pilatus memilih untuk menyerang mereka di tempat paling suci bagi orang Yahudi, di kuil mereka di Yerusalem. Untuk orang-orang Yahudi, ini adalah kebiadaban politik dan dosa berat terkutuk!

Insiden kedua yang ditujukan Yesus adalah bencana alam, sebuah menara di Yerusalem yang tiba-tiba runtuh, menewaskan 18 orang. Orang Yahudi sering mengaitkan bencana dan malapetaka sebagai konsekuensi dari dosa. Alkitab sungguh-sungguh memperingatkan bahwa dosa dapat mengakibatkan bencana! Meskipun orang benar jatuh tujuh kali, Dia pasti bangkit kembali; namun orang fasik dijatuhkan oleh bencana (Amsal 24:16).

Bahaya nyata dari bencana yang Yesus tekankan di sini adalah bahwa bencana yang tak terduga atau kematian mendadak tidak memberikan manusia kesempatan untuk bertobat dari dosa-dosa dan untuk mempersiapkan diri untuk menghadap Allah, Hakim adil semesta. Kitab Ayub mengingatkan kita bahwa kemalangan dan bencana bisa menimpa orang tidak benar maupun orang benar. Yesus memberikan peringatan yang jelas – bertanggung jawablah atas tindakan dan pilihan moral kita dan tutup segala kemungkinan dosa sebelum dosa tersebut merusak hati, pikiran, jiwa, dan tubuh kita. Dosa yang tidak diakui dan dibiarkan dapat menjadi seperti kanker yang merusak kita dari dalam. Jika tidak dihilangkan melalui pertobatan – melalui permohona pada Tuhan akan pengampunan dan kasih karunia kesembuhan, Dosa dapat mengarah ke kematian rohani yang jauh lebih buruk dari kerusakan fisik.

Tuhan, dalam rahmat-Nya, memberi kita waktu untuk senantiasa bertobat dan memperbaiki diri dan berdamai dengan-Nya dan sesama. Dan waktu itu adalah sekarang. Kita tidak perlu selalu harus buru-buru memaksakan proses tetapi kita juga tidak boleh menunda pertobatan dan perubahan hidup yang benar. Sebuah kematian mendadak dan tak terduga tidak memberikan manusia waktu untuk mempersiapkan diri sebelum berdiri di hadapan Tuhan pada hari penghakiman. Yesus memperingatkan kita bahwa kita harus siap setiap saat. Kebiasaan mentoleransi dosa dan memaafkan dosa-dosa berat akan menghasilkan buah yang tidak baik dan kehancuran. Tuhan dalam rahmat-Nya memberi kita baik rahmat dan waktu untuk berpaling dari dosa, tetapi waktu itu adalah sekarang. Jika kita menunda, bahkan untuk satu hari, kita bisa menemukan kasih karunia berlalu begitu saja dan kemudian kita menyesal bahwa waktu kita sudah habis. Pertanyaan bagi kita: Apakah saya lapar akan kebenaran dan kekudusan Tuhan dengan senantiasa menemukan kehendak-Nya dan menjalaninya?

 

 

Rom 7:18-25a/Luk 12:54-59

Rom 7:18-25a/Luk 12:54-59

Jumat, 23 Oktober 2015

Rom 7:18-25a/Luk 12:54-59

Seberapa baik kita mampu membaca tanda? Apakah kita mampu membawa setiap tanda sederhana yang Tuhan tunjukkan pada kita dalam keseharian rutinitas hidup kita? Yesus mengharapkan murid-muridnya untuk secara akurat membaca tanda-tanda zaman! Pelaut dan petani mengetahui pentingnya membaca dan menganalisis kondisi cuaca untuk pelayaran perjalanan yang aman dan rencana penanaman. Dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak upaya dilakukan akhir-akhir ini, untuk membaca dan memprediksi bahaya alam potensial, seperti badai, topan, banjir, tornado, gempa bumi, dan letusan gunung berapi. Semakin baik tanda dibaca, semakin cepat dan akurat orang diperingatkan untuk berjaga-jaga dan berlindung sebelum diserang bencana. Jadi, pembacaan tanda yang cepat dan tepat adalah kunci untuk berjaga-jaga.

Kita sebagai orang Kristen juga harus jeli membaca situasi spiritual dan moral di sekitar kita jika kita ingin menghindari krisis spiritual dan bencana moral. Tuhan lewat Sabda dan juga lewat sesama kita membantu kita membaca tanda zaman tersebut dengan menawarkan Kerajaan Allah; kerajaan kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus (Roma 14:17). Yang dituntut dari kita adalah sikap yang siap dan tidak menunda. Kita dapat kehilangan kesempatan membaca tanda jika kita membiarkan sikap permisif terhadap setiap bentuk pengingkaran dan pengabaian, jika kita sering kali merasa tidak perlu menyesali dosa-dosa ringan dan kesalahan-kesalahan kecil harian kita..

Yesus menggunakan ilustrasi yang sangat jelas tentang bagaimana membaca tanda sebelum berhadapan dengan gugatan hukum. Mengapa tetangga dalam cerita Yesus melakukan upaya untuk mencapai kesepakatan dengan musuh sebelum masalah itu dilanjutkan di pengadilan? Terdakwa tahu bahwa ia memiliki kasus buruk yang kemungkinan akan membahayakannya di pengadilan. Dengan cepat, Dia berusaha mencapai kesepakatan dengan lawannya agar terhindar dari hukuman yang lebih buruk yakni dilemparkan ke dalam penjara dan dikenakan denda mahal.

Kita semua membutuhkan belas kasihan, kasih karunia, dan perlindungan Tuhan. Tuhan Yesus adalah dokter dan penyembuh kita dan dia rela membebaskan kita dari segala pola berpikir, pola bertindak dan berbicara yang dimotivasi oleh tendensi kedosaan kita. Jika kitamempercayakan hidup hidup kita pada-Nya, dia akan mengisi kita dengan Roh Kudus-Nya dan memberi kita hati yang baru dan pikiran yang berubah yang dipenuhi dengan kebenaran-Nya, cinta, dan kebaikan. Jika Anda ingin perdamaian abadi dan sukacita dengan Allah, maka memungkinkan Tuhan Yesus untuk mengubah setiap bidang kehidupan Anda, rumah Anda, pekerjaan Anda, hubungan Anda, dan harta sehingga ia dapat benar-benar menjadi alat Tuhan untuk mengalirkan rahmat hidup yang berkelimpahan. Apakah Anda siap untuk menyerahkan semua kepadanya – dan untuk menerima semua dari dia?

 

 

Translate »