Rom 8:1-11/Luk 13:1-9
Sabtu, 24 Oktober 2015
Rom 8:1-11/Luk 13:1-9
Apa yang bisa bencana (seperti melapetaka politik atau bencana alam) ajarkan kita tentang Kerajaan Allah dan konsekuensi dari pilihan yang buruk dan perbuatan dosa? Yesus menggunakan dua kesempatan tersebut untuk mengatasi masalah dosa dan penghakiman dengan orang-orang Yahudi. Pilatus, gubernur Romawi Yerusalem pada saat itu, memerintahkan pasukannya untuk menyembelih sekelompok orang Galilea yang telah datang ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban di Bait Allah. Kita tidak tahu apa yang Galilea ini lakukan sehingga memantik kemarahan Pilatus, atau mengapa Pilatus memilih untuk menyerang mereka di tempat paling suci bagi orang Yahudi, di kuil mereka di Yerusalem. Untuk orang-orang Yahudi, ini adalah kebiadaban politik dan dosa berat terkutuk!
Insiden kedua yang ditujukan Yesus adalah bencana alam, sebuah menara di Yerusalem yang tiba-tiba runtuh, menewaskan 18 orang. Orang Yahudi sering mengaitkan bencana dan malapetaka sebagai konsekuensi dari dosa. Alkitab sungguh-sungguh memperingatkan bahwa dosa dapat mengakibatkan bencana! Meskipun orang benar jatuh tujuh kali, Dia pasti bangkit kembali; namun orang fasik dijatuhkan oleh bencana (Amsal 24:16).
Bahaya nyata dari bencana yang Yesus tekankan di sini adalah bahwa bencana yang tak terduga atau kematian mendadak tidak memberikan manusia kesempatan untuk bertobat dari dosa-dosa dan untuk mempersiapkan diri untuk menghadap Allah, Hakim adil semesta. Kitab Ayub mengingatkan kita bahwa kemalangan dan bencana bisa menimpa orang tidak benar maupun orang benar. Yesus memberikan peringatan yang jelas – bertanggung jawablah atas tindakan dan pilihan moral kita dan tutup segala kemungkinan dosa sebelum dosa tersebut merusak hati, pikiran, jiwa, dan tubuh kita. Dosa yang tidak diakui dan dibiarkan dapat menjadi seperti kanker yang merusak kita dari dalam. Jika tidak dihilangkan melalui pertobatan – melalui permohona pada Tuhan akan pengampunan dan kasih karunia kesembuhan, Dosa dapat mengarah ke kematian rohani yang jauh lebih buruk dari kerusakan fisik.
Tuhan, dalam rahmat-Nya, memberi kita waktu untuk senantiasa bertobat dan memperbaiki diri dan berdamai dengan-Nya dan sesama. Dan waktu itu adalah sekarang. Kita tidak perlu selalu harus buru-buru memaksakan proses tetapi kita juga tidak boleh menunda pertobatan dan perubahan hidup yang benar. Sebuah kematian mendadak dan tak terduga tidak memberikan manusia waktu untuk mempersiapkan diri sebelum berdiri di hadapan Tuhan pada hari penghakiman. Yesus memperingatkan kita bahwa kita harus siap setiap saat. Kebiasaan mentoleransi dosa dan memaafkan dosa-dosa berat akan menghasilkan buah yang tidak baik dan kehancuran. Tuhan dalam rahmat-Nya memberi kita baik rahmat dan waktu untuk berpaling dari dosa, tetapi waktu itu adalah sekarang. Jika kita menunda, bahkan untuk satu hari, kita bisa menemukan kasih karunia berlalu begitu saja dan kemudian kita menyesal bahwa waktu kita sudah habis. Pertanyaan bagi kita: Apakah saya lapar akan kebenaran dan kekudusan Tuhan dengan senantiasa menemukan kehendak-Nya dan menjalaninya?