Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Engkau membuatku berubah

Posted by admin on January 25, 2016
Posted in renungan 

Pertobatan Paulus karya Nicolas Bernad (1767)

Apakah anda pernah bertemu seseorang yang membuat kita berubah, entah menjadi baik atau buruk. Seorang teman mengatakan, “Anak saya tak bisa bangun dari tempat tidur sejak dia berumur 2 tahun. Kini ia telah berbaring di kamar ini selama 9 tahun. Dulu saya merasa sedih melihat dia tak bisa riang berlarian seperti anak lain. Namun kini dia mengubah saya menjadi lebih sabar dan tak terlalu menuntut. Setiap  kali ada persoalan, saya selalu memandang dia, kalau dia telah menanggung sakitnya selama ini tak pernah mengeluh. Tuhan mengubah saya lewat dia.”

Paulus tak pernah bertemu Yesus saat Yesus masih hidup. Saat Yesus berkarya di Galilea, Paulus masih menuntut ilmu di  Damaskus, Syria. Dia hanya pernah menyaksikan seorang pengikut Yesus bernama Stefanus yang ditimpuki batu sampai mati karena dianggap menyimpang dari ajaran Yahudi.

Bahkan Paulus meminta surat dari penatua Yahudi untuk menangkapi para pengikut Yesus, dan memasukkan mereka dalam penjara. Orang-orang Kristen itu harus ditumpas karena menyesatkan agama. Meski mereka mengikuti aturan Yahudi dan beribadah di synagoga, mereka percaya bahwa Yesus bangkit dari mati dan menjadi penyelamat. Paulus tak bisa menerima ajaran demikian. Dia mengejar para pengikut Yesus mulai dari Damaskus sampai Yerusalem.

Dalam perjalanan ke Yerusalem, dia menjumpai pengalaman dramatis kalau Yesus menjumpainya di tengah jalan. “Saulus..Saulus, mengapa engkau menganiaya aku?” Lalu Paulus menjawab, “Siapakah engkau tuan?” “Akulah Yesus yang telah disalibkan itu!”  Cahaya yang terlalu terang dalam pertemuan dengan Tuhan membutakan matanya selama 3 hari.

Ia tak lagi menganiaya orang Kristen. Tapi para pengikut Yesus juga tak bisa menerima dia. Akhirnya Paulus pulang ke rumahnya di Tarsus. Dalam kesendiriannya dia merenungkan seluruh pengalaman hidupnya, sampai akhirnya dia dicari oleh Barnabas dan diajak menyebarkan Injil ke  Yunani dan Turki. Dalam akhir perjalananya ke Roma, Paulus meninggal dengan dipenggal kepalanya karena keberaniaannya mewartakan Yesus.

Dengan indah Paulus menuliskan transformasi yang terjadi dalam dirinya, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2: 19-20).

Kita memohon agar dalam doa-doa pribadi kita, kita sungguh bertemu dengan Yesus yang mengubah hidup kita menjadi semakin baik. Ekaristi dan perjumpaan dengan sesama umat beriman dan orang lain juga menjadi sarana untuk kita bertransformasi seperti Paulus, menemukan kobaran api Tuhan yang membakar semangat hidup menjadi pengikut Tuhan yang setia.

Pastor, engkau terlalu baik!

Posted by admin on January 23, 2016
Posted in renungan 

Luke 4:16-19

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku  untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Tahun kerahiman yang kita rayakan setahun ini bagaikan Yesus yang mengabarkan tahun rahmat Allah telah datang pada orang-orang di Nazaret. Dia membawa pengharapan baru pada orang yang putus asa, penghiburan bagi orang berduka.

Kisah Tuhan yang maha baik itu tercermin dalam cerita dua orang pastor yang menginspirasi Paus Fransiskus dalam merenungkan keinginan Allah yang selalu ingin merangkul hidup manusia, dan membawa kembali mereka pada keselamatan.

Adakah pastor/imam yang menginspirasi anda tentang Allah yang maha kasih? tanya Andrea Tornielly pada Paus Fransiskus.

Saya memiliki teman imam seorang Kapucin yang bekerja di Buenos Aires. Suatu hari, dia datang mengunjungi saya dan berkata, “Aku butuh bantuanmu! Aku selalu punya banyak orang dalam pengakuan dosa, berbagai orang dari segala golongan…banyak pula imam-imam. Aku mengampuni mereka semua, dan kadang kala aku ragu kalau aku terlau banyak mengampuni orang.”

Bergoglio bertanya, “Apa yang kamu lakukan saat kamu penuh keraguan?” Sang pastor menjawab, “saya pergi ke kapel Gereja, dan berdiri di depan tabernakel dan berkata pada Yesus, ‘Yesus, maafkan aku karena aku mengampuni orang terlalu banyak dalam pengakuan dosa. Tapi engkau sendirilah yang memberi aku contoh buruk untuk mengampuni banyak orang!”

Bergoglio melanjutkan, “Suatu saat seorang imam datang pada Pastor Leopold Mandic. Sesudah pengakuan dosa, sang imam berkata pada Pastor Leopold, ‘Bapa, engkau terlalu baik hati. Saya sangat senang telah mengaku dosa padamu. Tapi kelihatannya Engkau terlalu murah hati! Romo Leopold menjawab, “Anakku, siapakah yang murah hati? Yesus sendirilah yang murah hati. Dia yang mati di salib untuk dosa kita, bukan saya. Dia telah terlalu murah hati pada pencuri yang mati disampingnya!

Dalam ‘Year of Mercy’, melakukan pengakuan dosa menjadi sangat penting karena dalam sakramen rekonsiliasi, Tuhan ingin masuk dalam hati manusia. Dosa  yang kita buat tidak hanya meninggalkan noda, tapi luka yang perlu disembuhkan. Pengakuan dosa dihadapan imam sebagai wakil Allah menjadi tanda bahwa Tuhan yang maha kasih lebih kuat dan besar dari pada dosa kita, rahmatNya lebih hebat dari kesalahan manusia.

Teman sejati: belajar dari Daud & Yonatan

Posted by admin on January 22, 2016
Posted in renungan 

2 Samuel 1:17-18, 26-27

Daud menyanyikan nyanyian ratapan ini karena Saul dan Yonatan, anaknya, dan ia memberi perintah untuk mengajarkan nyanyian ini kepada bani Yehuda; itu ada tertulis dalam Kitab Orang Jujur.  Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran! Yonatan mati terbunuh di bukit-bukitmu. Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan. Betapa gugur para pahlawan dan musnah senjata-senjata perang!

Suatu kali sebuah publisher di England mengadakan sayembara dengan memberi pertanyaan, “Apa arti seorang teman?” Dari ratusan jawaban, sebagian besar orang menjawab: teman adalah mereka yang membawa kegembiraan, berbagi kesedihan, dan berkata jujur; sahabat adalah mereka yang tahu arti mengapa kita diam membisu, yang tak pernah mengkianati, dan membiarkan kita jatuh terpuruk.

Pemenang sayembara itu mendefinisikan teman adalah mereka yang datang pada kita saat seluruh dunia hilang dan meninggalkan kita.

Setelah Daud mengalahkan orang Filistin, tentara musuh Israel, dia menjadi panglima perang raja Saul. Namun ketenaran Daud membuat Saul iri hati dan berniat membunuh Daud. Jonatan, anak Saul memperingatkan Daud kalau ayahnya akan membunuh Daud. Jonathan menemani Daud melarikan diri ke pegunungan, menghindari kejaran Saul dan tentaranya.

Di saat kebencian Saul pada Daud makin menguat, Daud merasakan kasih dari Jonathan dan Michal, adik Jonothan yang jatuh hati pada Daud. Bahkan Jonathan memberikan pedang, panah, dan ikat pinggangnya pada Daud, seolah dia menyerahkan singgasana raja yang menjadi haknya pada Daud. Jonathan tak membiarkan Saul membutuh Daud karena dia tahu kalau Daud tak bersalah.

Daud menangisi sahabatnya Jonathan dan ayahnya Saul yang mati terbunuh oleh orang Filistin. Daud meraung keras karena dia tak bisa melindungi sahabatnya yang telah memberi perlindungan di saat dia hidup dalam pengasingan dan dikejar-kejar tentara Saul.

Bahasanya indah saat membahasakan bagaimana kasih Jonathan padanya. Pengurbanan Jonathan  melebih kasih seorang wanita. Kini sang teman meninggalkan Daud, dan membuka jalan untuk Daud menjadi Raja  orang Israel menggantikan Saul.

The Year of Mercy

Posted by admin on January 21, 2016
Posted in renungan  | 2 Comments

Bacaan

Mazmur 57:1 Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran

Kutipan wawancara Andrea Tornielly dengan Paus Fransiskus tentang makna tahun kerahiman2016.

Apa arti “Mercy” bagi anda?

Kata ‘mercy’ berasal dari kata misericordis yang berarti membuka hati seseorang untuk ikut merasa berduka atau menderita. Mercy adalah tindakan ilahi yang merangkul, tindakan Allah sendiri yang memberikan diri pada kita, menerima kita, dan menunduk untuk mengampuni. Yesus datang bukan untuk mereka yang baik, tapi untuk para pendosa. Ia datang bukan untuk orang sehat, tapi untuk orang sakit. Karena alasan itu, kita bisa mengatakan bahwa identititas Allah adalah mercy, maha rahim.

Apa anda punya pengalaman pribadi tentang ‘mercy’?

Saya punya memori tentang kerahiman saat saya masih muda. Saya kira Romo Carlos Duarte Ibrra, Romo pemberi pengakuan dosa di paroki saya yang saya temui 21 September 1953. Saya berumur 17 tahun saat itu. Saat saya mengaku dosa padanya, saya merasa diterima oleh kasih Allah. Dia meninggal dunia beberapa waktu kemudian karena keukemia. Saya masih ingat bagaimana saya menangis semalaman setelah pemakamannya. Saya merasa ditinggalkan, dan saya mengurung diri di kamar. Mengapa? karena saya merasa kehilangan seseorang yang menolong saya untuk merasakan kasih Allah, orang yang membantu saya untuk mengenal Allah yang mencintai.

Mengapa kita manusia membutuhkan kasih dan kerahiman?

Kita butuh karena kemanusiaan kita penuh luka, luka yang dalam. Kita tak tahu bagaimana menyembuhkannya atau tak yakin bahwa luka itu bisa disembuhkan. Ini tidak hanya luka sosial yang disebabkan oleh kemiskinan atau perbudakan. Relativisme juga membuat orang luka karena merasa semua sama, dan semua kelihatan tak berbeda. Terlebih sekarang ini, tragedi terjadi karena penyakit, kedosaan,d an sesuatu yang tak bisa disembuhkan atau diampuni. Kita kurang pengalaman akan kerahiman.. kita tidak percaya bahwa ada kesempatan untuk menebus dosa, ada tangan yang memegang dan mengangkat, ada seseorang yang memeluk untuk menyelamatkan, ada kasih yang mengampuni, ada kekuatan yang membuat kita berdiri lagi. Kita membutuhkan kasih dan kerahiman.

Benci dan Iri

Posted by admin on January 20, 2016
Posted in renungan 

Born_Again_by_DodgeNBurn

Bacaan Markus 3:1-6

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya.  Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu diam saja.

Kalau mata dan hati kita dipenuhi iri dan benci, segala perbuatan baik orang lain akan terlihat tetap buruk di mata kita. Kebencian membuat mata kabur dan buta. Tak bisa melihat hal baik. Hanya rasa tidak puas dan dengki menguasai perasaan. Bahkan kita mencari-cari alasan untuk membenarkan diri, dan meneruskan mencari kesalahan orang. Kalau rasa benci itu membuncah, kita tak mau lagi diajak berdamai lagi.

Itulah yang terjadi pada orang Farisi dan ahli Taurat, sejak awal mereka mengamati Yesus kalau dia membuat kesalahan dan melaporkannya pada pihak berwenang. Yesus menyembuhkan orang yang tangannya mati rasa, tak bisa digerakkan, mungkin dia kena stroke dalam bahasa kita sekarang.

Yesus tidak menyentuh orang itu, dia hanya berkata padanya, “ulurkan tanganmu!’ dan saat sang sakit mengulurkan tangan, ia menjadi sembuh. Namun, orang Farisi tak melihat penyembuhan itu sebagai tindakan baik. Mereka menuduh Yesus melanggar hukum karena menyembuhkan di hari Sabat.

Yesus mengajak berdialog dengan orang Farisi, “mana yang lebih baik berbuat baik atau berbuat jahat di hari Sabat?” Namun orang Farisi tak mau menjawab, hanya diam. Mereka tak ingin berdamai dan mencari jalan keluar yang baik bersama Yesus. Mata mereka buta oleh kebencian dan rasa iri. Rasa benci itu tak bisa pupus, hingga akhirnya mereka bersekongkol dengan pengikut raja Herodes untuk membunuh Yesus.

Apakah ada perasaan iri dan benci yang tak tersembuhkan dalam hati kita? Dua hal itu akan merusak relasi dan hidup bila tak ditangani. Hari ini mintalah agar Allah juga menyembukan hati kita yang tak bisa bergerak menjadi baik, beku dan tak bisa melihat hal baik dalam hidup orang lain.

Translate »