Pertobatan Paulus karya Nicolas Bernad (1767)
Apakah anda pernah bertemu seseorang yang membuat kita berubah, entah menjadi baik atau buruk. Seorang teman mengatakan, “Anak saya tak bisa bangun dari tempat tidur sejak dia berumur 2 tahun. Kini ia telah berbaring di kamar ini selama 9 tahun. Dulu saya merasa sedih melihat dia tak bisa riang berlarian seperti anak lain. Namun kini dia mengubah saya menjadi lebih sabar dan tak terlalu menuntut. Setiap kali ada persoalan, saya selalu memandang dia, kalau dia telah menanggung sakitnya selama ini tak pernah mengeluh. Tuhan mengubah saya lewat dia.”
Paulus tak pernah bertemu Yesus saat Yesus masih hidup. Saat Yesus berkarya di Galilea, Paulus masih menuntut ilmu di Damaskus, Syria. Dia hanya pernah menyaksikan seorang pengikut Yesus bernama Stefanus yang ditimpuki batu sampai mati karena dianggap menyimpang dari ajaran Yahudi.
Bahkan Paulus meminta surat dari penatua Yahudi untuk menangkapi para pengikut Yesus, dan memasukkan mereka dalam penjara. Orang-orang Kristen itu harus ditumpas karena menyesatkan agama. Meski mereka mengikuti aturan Yahudi dan beribadah di synagoga, mereka percaya bahwa Yesus bangkit dari mati dan menjadi penyelamat. Paulus tak bisa menerima ajaran demikian. Dia mengejar para pengikut Yesus mulai dari Damaskus sampai Yerusalem.
Dalam perjalanan ke Yerusalem, dia menjumpai pengalaman dramatis kalau Yesus menjumpainya di tengah jalan. “Saulus..Saulus, mengapa engkau menganiaya aku?” Lalu Paulus menjawab, “Siapakah engkau tuan?” “Akulah Yesus yang telah disalibkan itu!” Cahaya yang terlalu terang dalam pertemuan dengan Tuhan membutakan matanya selama 3 hari.
Ia tak lagi menganiaya orang Kristen. Tapi para pengikut Yesus juga tak bisa menerima dia. Akhirnya Paulus pulang ke rumahnya di Tarsus. Dalam kesendiriannya dia merenungkan seluruh pengalaman hidupnya, sampai akhirnya dia dicari oleh Barnabas dan diajak menyebarkan Injil ke Yunani dan Turki. Dalam akhir perjalananya ke Roma, Paulus meninggal dengan dipenggal kepalanya karena keberaniaannya mewartakan Yesus.
Dengan indah Paulus menuliskan transformasi yang terjadi dalam dirinya, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2: 19-20).
Kita memohon agar dalam doa-doa pribadi kita, kita sungguh bertemu dengan Yesus yang mengubah hidup kita menjadi semakin baik. Ekaristi dan perjumpaan dengan sesama umat beriman dan orang lain juga menjadi sarana untuk kita bertransformasi seperti Paulus, menemukan kobaran api Tuhan yang membakar semangat hidup menjadi pengikut Tuhan yang setia.



