Pastor, engkau terlalu baik!

Pastor, engkau terlalu baik!

Luke 4:16-19

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku  untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Tahun kerahiman yang kita rayakan setahun ini bagaikan Yesus yang mengabarkan tahun rahmat Allah telah datang pada orang-orang di Nazaret. Dia membawa pengharapan baru pada orang yang putus asa, penghiburan bagi orang berduka.

Kisah Tuhan yang maha baik itu tercermin dalam cerita dua orang pastor yang menginspirasi Paus Fransiskus dalam merenungkan keinginan Allah yang selalu ingin merangkul hidup manusia, dan membawa kembali mereka pada keselamatan.

Adakah pastor/imam yang menginspirasi anda tentang Allah yang maha kasih? tanya Andrea Tornielly pada Paus Fransiskus.

Saya memiliki teman imam seorang Kapucin yang bekerja di Buenos Aires. Suatu hari, dia datang mengunjungi saya dan berkata, “Aku butuh bantuanmu! Aku selalu punya banyak orang dalam pengakuan dosa, berbagai orang dari segala golongan…banyak pula imam-imam. Aku mengampuni mereka semua, dan kadang kala aku ragu kalau aku terlau banyak mengampuni orang.”

Bergoglio bertanya, “Apa yang kamu lakukan saat kamu penuh keraguan?” Sang pastor menjawab, “saya pergi ke kapel Gereja, dan berdiri di depan tabernakel dan berkata pada Yesus, ‘Yesus, maafkan aku karena aku mengampuni orang terlalu banyak dalam pengakuan dosa. Tapi engkau sendirilah yang memberi aku contoh buruk untuk mengampuni banyak orang!”

Bergoglio melanjutkan, “Suatu saat seorang imam datang pada Pastor Leopold Mandic. Sesudah pengakuan dosa, sang imam berkata pada Pastor Leopold, ‘Bapa, engkau terlalu baik hati. Saya sangat senang telah mengaku dosa padamu. Tapi kelihatannya Engkau terlalu murah hati! Romo Leopold menjawab, “Anakku, siapakah yang murah hati? Yesus sendirilah yang murah hati. Dia yang mati di salib untuk dosa kita, bukan saya. Dia telah terlalu murah hati pada pencuri yang mati disampingnya!

Dalam ‘Year of Mercy’, melakukan pengakuan dosa menjadi sangat penting karena dalam sakramen rekonsiliasi, Tuhan ingin masuk dalam hati manusia. Dosa  yang kita buat tidak hanya meninggalkan noda, tapi luka yang perlu disembuhkan. Pengakuan dosa dihadapan imam sebagai wakil Allah menjadi tanda bahwa Tuhan yang maha kasih lebih kuat dan besar dari pada dosa kita, rahmatNya lebih hebat dari kesalahan manusia.

Comments are closed.
Translate »