Browsed by
Month: March 2016

Menghakimi

Menghakimi

Yoh 5:17-30

Allah yang berbelaskasih menjadi tema yang dipilih Paus Frasiskus untuk mengajak umat katolik mengalami dan mempraktekkan belas kasih Allah. Tema ini mengajak kita untuk merenungkan, membatinkan dan mempraktekkan belaskasih. Injil hari ini menegaskan relasi intim antara Bapa dan PuteraNya. Belas kasih Allah hadir secara nyata dalam pribadi Yesus. Kata ‘menghakimi’ muncul sebanyak tiga kali dalam bacaan injil hari ini. Salah satu tugas yang diberikan Bapa kepada PuteraNya adalah menghakimi. Oleh karena itu baik kiranya kita merenungkan bahwa penghakiman itu hanya menjadi hak Allah.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita mudah menghakimi orang lain, berprasangka buruk, membicarakan keburukan orang lain dan mengungkapkan kelemahan-kelemahan orang lain. Tantangan jaman sekarang adalah orang tergoda memberi penilaian buruk ketika melihat kelemahan dan kekurangan orang lain bahkan seringkali kita pun dengan mudahnya memberi penilaian negatif terhadap kebaikan-kebaikan orang lain. Marilah kita memulai mengubah cara pendang kita untuk mengapresiasi kebaikan orang lain dan mencoba memahami kekurangan dan kelemahan orang lain. Allah yang maha adil, berikanlah Roh KudusMu agar kami mampu melihat kebaikan-kebaikan dalam diri orang lain. Amin.

Kelumpuhan hati lebih mengerikan daripada kelumpuhan fisik

Kelumpuhan hati lebih mengerikan daripada kelumpuhan fisik

Yoh 5.1-16

Injil hari ini mengkisahkan seorang lumpuh yang disembuhkan Yesus di kolam Betesda. Kita bisa membayangkan bagaimana menderitanya apabila kita mengalami kelumpuhan selama 38 tahun.  Orang lumpuh ini sudah lama berada di dekat kolam Betesda itu, namun tidak ada orang yang peduli atau membantunya.  Yesus berkehendak supaya orang lumpuh tersebut bisa berjalan dan mengalami hidup yang penuh sukacita.
Dari bacaan injil hari ini kita bisa memetik beberapa refleksi. Pertama, Kita perlu memahami dialog antara Yesus dan orang lumpuh itu. Yesus tidak secara langsung mengatakan ‘sembuh’, tetapi Yesus mengatakan kepadanya ‘bangunlah’ dan ‘berjalanlah’ artinya Yesus hendak menunjukkan bukan hanya orang lumpuh secara fisik yang membutuhkan kesembuhan tetapi orang yang mengalami kelumpuhan hati : ketidakpedulian, kebencian, balas dendam , kebutaan hati nurani. Sapaan ‘bangunlah’ dan ‘berjalanlah’ ditujukan kepada kita semua agar selalu berjaga dan berjalan dalam terang SabdaNya.  Kedua, Yesus juga hendak menunjukkan kepada kita betapa pentingnya mempunyai hati yang peduli terhadap penderitaan sesama. Orang lumpuh tersebut mempunyai keinginan untuk sembuh tetapi tidak ada orang yang mempedulikannya. Yesus mengajak kita untuk mendengarkan, melihat dan merasakan penderitaan sesama. Seiring merenungkan tahun belas kasih Allah, kita diundang untuk mempunyai hati yang berbelaskasih dan mempraktekkannya dalam hidup kita sehari-hari. Allah berilah kami hati seperti hatiMu yang berbelas kasih dan tangan seperti tanganMu yang melayani sesama. Amin

Belas kasih Yesus untuk semua orang

Belas kasih Yesus untuk semua orang

Yoh 4:43-54

Injil hari ini mengkisahkan karya pelayanan Yesus di Kana, Galilea dan sekitarnya. Suatu saat datanglah seorang pegawai kepada Yesus dan ia memohon kesembuhan bagi anaknya. Dalam konteks ini jaman itu, pegawai istana adalah seorang asing, di luar bangsa Yahudi. Mereka sering dikatakan sebagai kalangan orang yang tidak mengenal Allah. Jadi apa yang dilakukan pegawai istana ini adalah sesuatu yang tidak biasa.  Yesus mengabulkan permohonan pegawai istana tersebut. Karya keselamatan Yesus hadir untuk semua orang tanpa kecuali. Yesus senantiasa menghadirkan keselamatan bagi semua orang.
Apa yang dapat kita refleksikan dari bacaan injil hari ini? Pertama, Yesus menghadirkan belas kasih Allah kepada manusia. Yesus menunjukkan belas kasihNya kepada pegawai istana. Pegawai istana tersebut datang kepada Yesus karena dia meletakkan harapannya kepada Yesus. Dalam keterbatasan dan kekurangannya, ia memohon kesembuhan bagi anaknya. Sikap rendah hati dan keberanian untuk memohon inilah yang patut kita teladani. Allah yang berbelas kasih hadir dalam diri orang yang berpengharapan dan rendah hati. Kedua, kita diutus mewartakan kabar gembira seperti apa yang telah dilakukan oleh Yesus. Sakramen baptis menganugerahkan kepada kita martabat sebagai raja, nabi dan imam. Kita pun diberi kamampuan untuk menyembuhkan dan memberikan harapan kepada orang lain. Di masa prapaskah ini pula kita diutus membawa belas kasih Allah kepada orang lain: mengampuni, melayani, menemani, mendampingi, membantu sesama kita.
Tuhan berilah kami hati seperti hatiMu yang mampu berbelas kasih, mengampuni,  member harapan dan menyembuhkan saudara-saudara kami, terutama yang mengalami penderitaan. Amin.

Sabtu, 5 Maret 2016

Sabtu, 5 Maret 2016

 

Hosea 6:1-6, Luke 18:9-1

Hanya Allah yang tahu jika doa kita menyenangkan hati-Nya atau tidak. Yesus dalam injil hari ini mau memberikan sebuah pelajaran hidup kepada kita bahwa sesungguhnya doa yang benar adalah doa yang mengalir dari kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasan dan kesementaraan kemanusiaan kita. Nabi Hosea, yang berbicara atas nama Allah, menulis: “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. (Hosea 6: 6).

Doa dan persembahan yang kita sampaikan kepada Tuhan tidak aka nada artinya kalau tidak mengalir dari hati yang penuh kasih kepada Allah dan sesama. Berdoa itu berbicara dengan Allah yang adalah Kasih. Kita minta kepada Allah supaya mengubah setiap kebencian dan prasangka dalam hati kita menjadi cinta dan pandangan positif. Kita tidak perlu membandingkan diri di hadapan Allah dengan orang lain sebab Allah mengenal kita lebih daripada kita mengenal diri sendiri. bagaimana mungkin kita mengharapkan Allah mendengarkan doa-doa kita jika kita sendiri tidak datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan penyesalan memohon kepadanya belaskasihan dan pengampunan. Kita senantiasa membutuhkan kasih Allh dalam hidup ini dan Allah tidak dapat ditemukan dalam kebencian dan sikap menang sendiri. Itulah sebabnya kita temukan dalam surat rasul Yakobus: Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. (Yakobus 6: 6).

Santo Lukas lewat Injil hari ini menegaskan sikap Yesus: merendahkan dan memandang hina orang lain menutup pintu hati Allah. Penghinaan dan cibiran yang ditujukan kepada sesame tidak pernah akan membuat kita lebih baik dari orang lain. Hal itu lahir dari asumsi bahwa saya merasa lebih baik dari orang lain sehingga menempatkan diri sebagai hakim yang bisa secara sewenang-wenang dan sesuka hati mempermalukan siapa saja yang menurut standarku tidak sesuai dengan ukuran kehidupanku. Sikap Yesus yang memuji kerendahan hati si pemungut cukai dan menyayangkan sikap angkuh dan arogan orang Farisi membuat banyak pendengarnya terkesima. Ada yang kemudian berubah menjadi benci dan antipati. Namun, itulah yang Yesus tegaskan. Dia tidak mau kita bermental suam-suam kuku. Dia mau menunjukkan bahwa semangat untuk mendekati Allah dalam tingkah doa dan tingkah laku kita mestilah sebuah semangat yang benar yang lahir dari sanubari yang bersih, tulus dan tanpa pretensi. Perumpamaan ini menghadirkan kesempatan dan peringatan. Kesombongan akan menghantar kita kepada bahaya tipu diri dan kebutaan spiritual. Kerendahan hati yang tulus menolong kita untuk melihat diri sendiri sebagaimana Allah melihat kita tanpa pretensi dan tanpa tedeng aling-aling. Amin.

Translate »