Sabtu, 5 Maret 2016

Sabtu, 5 Maret 2016

 

Hosea 6:1-6, Luke 18:9-1

Hanya Allah yang tahu jika doa kita menyenangkan hati-Nya atau tidak. Yesus dalam injil hari ini mau memberikan sebuah pelajaran hidup kepada kita bahwa sesungguhnya doa yang benar adalah doa yang mengalir dari kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasan dan kesementaraan kemanusiaan kita. Nabi Hosea, yang berbicara atas nama Allah, menulis: “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. (Hosea 6: 6).

Doa dan persembahan yang kita sampaikan kepada Tuhan tidak aka nada artinya kalau tidak mengalir dari hati yang penuh kasih kepada Allah dan sesama. Berdoa itu berbicara dengan Allah yang adalah Kasih. Kita minta kepada Allah supaya mengubah setiap kebencian dan prasangka dalam hati kita menjadi cinta dan pandangan positif. Kita tidak perlu membandingkan diri di hadapan Allah dengan orang lain sebab Allah mengenal kita lebih daripada kita mengenal diri sendiri. bagaimana mungkin kita mengharapkan Allah mendengarkan doa-doa kita jika kita sendiri tidak datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan penyesalan memohon kepadanya belaskasihan dan pengampunan. Kita senantiasa membutuhkan kasih Allh dalam hidup ini dan Allah tidak dapat ditemukan dalam kebencian dan sikap menang sendiri. Itulah sebabnya kita temukan dalam surat rasul Yakobus: Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. (Yakobus 6: 6).

Santo Lukas lewat Injil hari ini menegaskan sikap Yesus: merendahkan dan memandang hina orang lain menutup pintu hati Allah. Penghinaan dan cibiran yang ditujukan kepada sesame tidak pernah akan membuat kita lebih baik dari orang lain. Hal itu lahir dari asumsi bahwa saya merasa lebih baik dari orang lain sehingga menempatkan diri sebagai hakim yang bisa secara sewenang-wenang dan sesuka hati mempermalukan siapa saja yang menurut standarku tidak sesuai dengan ukuran kehidupanku. Sikap Yesus yang memuji kerendahan hati si pemungut cukai dan menyayangkan sikap angkuh dan arogan orang Farisi membuat banyak pendengarnya terkesima. Ada yang kemudian berubah menjadi benci dan antipati. Namun, itulah yang Yesus tegaskan. Dia tidak mau kita bermental suam-suam kuku. Dia mau menunjukkan bahwa semangat untuk mendekati Allah dalam tingkah doa dan tingkah laku kita mestilah sebuah semangat yang benar yang lahir dari sanubari yang bersih, tulus dan tanpa pretensi. Perumpamaan ini menghadirkan kesempatan dan peringatan. Kesombongan akan menghantar kita kepada bahaya tipu diri dan kebutaan spiritual. Kerendahan hati yang tulus menolong kita untuk melihat diri sendiri sebagaimana Allah melihat kita tanpa pretensi dan tanpa tedeng aling-aling. Amin.

Comments are closed.
Translate »