Browsed by
Month: April 2016

Tubuh

Tubuh

Jesus-Crucifixion2
Bacaan I: Kis 6:1-7
Bacaan Injil: Yoh 6:16-21

ISA

kepada nasrani sejati

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh
patah

mendampar Tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah

terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segara

mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah
(Chairil Anwar, 12 November 1943)

Ada satu pertanyaan tentang salib yang kadang muncul dari beberapa orang: mengapa salib orang Katolik ada patung tubuh Yesus-nya sementara pada gereja-gereja non-Katolik tidak? Beberapa tuduhan kadang muncul: iman Gereja Katolik lebih bertumpu pada Yesus yang sengsara dan wafat daripada merayakan Yesus yang bangkit, atau lebih parah lagi: orang Katolik menyembah berhala. Tambah lagi, berkembangnya pemahaman kesuksesan sebagai tanda keselamatan dan berkat, yang diperkuat dengan menjamurnya penceramah motivasi, membuat gambaran tubuh yang remuk redam berlumur darah terasa “mengganggu”.

Tentu saja anggapan-anggapan itu terlalu dangkal. Tentang tuduhan berhala, dengan mudah kita menjelaskan bahwa kita menghormati dan menyembah pribadi yang digambarkan dengan patung tubuh tersebut, sama seperti orang-orang Israel menghormati Allah dengan bersujud didepan tabut perjanjian, sebagai gambaran kehadiran Allah sendiri. Maka patung tersebut lebih sebagai sarana, bukan tujuan. Tubuh yang terajam itu sendiri dimuliakan karena menjadi ungkapan paling jelas dari cinta kasih Allah yang sehabis-habisnya (Gal 3:13, Yoh 15:13). Memandang tubuh itu, diharapkan kita merasa tak pernah sendirian dalam perjuangan hidup kita. Merenungkan luka-luka tanda cinta tersebut, diharapkan kita juga siap sedia memberi diri, mengikuti wasiat Sang Guru: Lakukanlah ini sebagai peringatan akan Daku.

Tubuh itu mengingatkan, iman itu bukan untuk diperbincangkan di altar atau sepanjang persekutuan doa, pujian, rekoleksi atau retret saja. Iman bertumbuh dan dinyatakan dalam peristiwa hidup sehari-hari, seperti memecahkan masalah perselisihan antara murid-murid Yunani dan Yahudi dalam Gereja Perdana menyangkut distribusi bantuan kebutuhan hidup sehari-hari untuk mereka yang membutuhkan. Jelas, kelompok-kelompok yang berselisih dalam Gereja terus ada hingga sekarang, dalam skala global maupun lokal dalam komunitas-komunitas kecil kita. Tubuh itu mengingatkan, kita ini satu, dan keterbukaan mendengarkan dan mengikuti Roh Kudus yang sama kiranya bisa memecahkan persoalan perbedaan-perbedaan yang ada.

Iman memberikan kekuatan dan harapan di tengah badai hidup, karena mampu melihat dan mendengar Yesus bersabda “Ini Aku. Jangan takut.” Tubuh itu menjadi nyata dalam para anggotanya, kita, sejauh kita juga melanjutkan karya kasihnya, menyebarkan pesan damai, cinta dan belas kasih, di tengah segala tantangan hidup.

Kalau hari ini Anda melihat Tubuh yang mengucur darah itu, semoga Anda siap turut “bertukar rupa”, untuk turut mengatup luka dunia, dan dengan itu sungguh pula mewartakan kebangkitanNya. Amien.

Keras

Keras

stubbornchild

Bacaan I : Kis 5:27-33
Bacaan Injil: Yoh 3:31-36

Seorang teman mengirimkan refleksi kecil menarik via WhatsApp group: Apa beda keras hati dan keras kepala? “Yang satu lahir dari kemauan yang kuat, dan yang lain lahir dari ketidakmauan yang kuat”, begitu ujarannya. Menarik untuk melihat lebih jauh beberapa catatan lain yang mencermati lebih jauh perbedaan dua sikap yang sama-sama keras tersebut.

1. Keras hati dapat digunakan untuk menandai keras yang baik, sementara keras kepala lebih berkonotasi negatif. Keras hati mendasarkan keteguhan sikapnya atas prinsip-prinsip kebenaran yang terkaji, teruji dan universal. Sebaliknya, keras kepala mengungkapkan argumentasi yang personal, pertimbangan-pertimbangan yang dianggap benar, dan rasionalitas digunakan untuk pembenaran pendapat dan bukannya benar-benar mencari kebenaran.
2. Orang yang keras hati menghadapi tantangan terhadap pendapatnya dengan lembut dan terbuka, siap diajar dan siap berubah kalau dapat dibuktikan kebenaran yang lebih utama ada dalam cara berpikir dan bertindak yang berbeda. Orang yang keras kepala sebaliknya, cenderung merasa diri benar dan sudah menggenggam kebenaran yang final, karenanya membeku dan kaku.
3. Orang yang keras hati dikenal sebagai pejuang yang lurus, tidak menyombongkan diri, berani tampil apa adanya tanpa ada yang perlu disembunyikan, tidak rendah diri di hadapan orang lain. Orang yang keras kepala sebaliknya cenderung sombong, suka membual, menyembunyikan fakta atau penafsiran yang tidak sejalan dengan pendapatnya, cenderung melihat orang lain sebagai ancaman, karenanya suka merendahkan dan menghakimi orang lain.
4. Orang yang keras hati karena kesatuan pikiran, perkataan dan perbuatan, menunjukkan integritas yang membuatnya disegani, dihormati dan disayangi. Menjadi inspirasi dan membangun banyak orang. Sebaliknya orang yang keras kepala sulit dipercaya, karena cenderung manipulatif, membelokkan bahkan tak segan menciptakan cerita-cerita yang mendukung pendapatnya dan menyerang pandangan yang berseberangan dengannya.
5. Orang yang keras hati tak segan memimpin dan dipimpin, terbuka untuk bekerja sama. Orang yang keras kepala cenderung individualis, merasa tak membutuhkan orang lain, sukar diatur dan dipimpin.

Dalam kisah para Rasul digambarkan Petrus dan para murid sebagai orang yang keras hati mewartakan Injil: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia”. Tentu saja sikap ini muncul dari pengajaran dan teladan Sang Guru yang lebih dulu taat pada kehendak BapaNya, juga manakala logikanya melawan logika dunia. Prinsip kebenaran dan kebaikan senantiasa Dia bawa hingga tak segan berseberangan dengan para pemimpin agama dan masyarakat pada jamannya bahkan saat hal itu menyeretnya pada nasib umum para nabi: ditolak, dianiaya, dan dibunuh dengan nista. Dan bukannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok, bahwa Dia bersikeras mewartakan Injil yang menyinggung para penguasa, melainkan demi keselamatan dunia. Sungguh sikap yang berbeda dengan gerakan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan kebenaran kelompok seraya memaksakan pandangannya, kalau perlu dengan kekerasan, pada kelompok lain.

Pertanyaan untuk kita: jika suatu saat kita temukan diri kita mengeras dalam sikap, apakah itu keras hati atau keras kepala? Semoga kita tak segan berjuang untuk nilai-nilai kebenaran yang hakiki dan universal, menjaga fleksibilitas, keterbukaan, dan kesediaan berdiskusi dan belajar dan bukan sekedar mencari pemenuhan ideal diri yang sempit dan eksklusif. Semoga.

Terang

Terang

light_texture2266

Bacaan I: Kis 5:17-26
Bacaan Injil Yoh. 3:16-21

Dua kekuatan alam yang berseberangan, menjadi dasar kisah-kisah yang menyentuh hidup banyak orang. Terang dan gelap, kebaikan dan kejahatan, pemahaman dan “kebutaan”, kebahagiaan dan penderitaan. Kitab Kejadian membuka kisahnya dengan Allah yang memisahkan terang dari gelap, yang juga menjadi antisipasi pemisahan gandum dan ilalang, manusia yang baik dan mereka yang berdosa, dalam buku-buku selanjutnya dalam kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Terang menjadi panji-panji segala kualitas kebaikan, kebenaran dan keindahan yang dicari, sementara gelap disematkan pada segala kualitas kebalikannya yang ingin dihindari.

Nikodemus datang mengunjungi Yesus Sang Terang yang selalu bicara terus terang, secara diam-diam, dalam kegelapan malam. Ia tak siap jika pencarian kebenarannya membuatnya tersingkir dari kalangan penguasa Yahudi. Toh ketulusannya membuat Yesus menerimanya dengan tangan terbuka, dan kelak Nikodemus akan datang lagi untuk menunjukkan hormat dan cintanya pada Sang Guru, mengurus jenasahnya di Golgota setelah penyalibanNya, menurut kebiasaan Yahudi.

Pesan yang diterima Nikodemus, dalam perikop yang kita renungkan hari ini, sederhana namun sangat mendasar dan mendalam: Terang yang sejati ada pada Kasih Allah yang menyelamatkan, lewat kehadiran Sang Putra Tunggalnya. Percayalah padaNya, maka kamu akan hidup. Percaya mengandaikan juga kesediaan untuk mengikuti, meneladani. Salah satu cara sederhana, lewat kontemplasi What Would Jesus Do, “apa yang Yesus akan lakukan”, dalam segala situasi terutama menyangkut keputusan keputusan hidup yang penting. Jika kita bertidak sesuai dengan kehendakNya, niscaya hati kita damai dan tentram. Jika kita bertindak melawan kehendaknya, karena kita lebih menyukai kegelapan, niscaya hati kita tak akan tenang dan tenteram. Dan itulah sengat hukuman yang sudah mulai dirasakan.

Semoga kita berani bertanya: Yesus, apa yang akan Engkau lakukan dalam situasiku.
Semoga kita berani mewujudkan segala ide baik yang muncul dari relasi personal dengan Kristus itu, dalam tindakan nyata.
Semoga dengannya, kita menjadi pembawa Terang kemanapun kita pergi. Amin.

Komunis

Komunis

First Christian Alm

Bacaan I : Kis. 4:32-37
Bacaan Injil : Yoh. 3:7-15

Salah satu tantangan memasuki penggemblengan hidup rohani di novisiat-tahap awal formasi hidup religius- adalah banyaknya istilah-istilah khas dan khusus. Sudah sedari awal sebelum bergabung di dalamnya, terbata-bata saya mencoba memahami “dunia lain” ini mulai dari hal yang paling sederhana: bahasa. Meski nampak sederhana, bahasa membawa bersamanya seluruh konsep yang menentukan identitas, cara berpikir dan cara hidup, hingga akhirnya tidak sesederhana yang dikira. Salah satu hal kecil yang sempat membuat saya terpana adalah penggunaan kata “komunis”. Kenaifan saya selalu mengkaitkan komunis dengan ateis, buah indoktrinasi masal negara yang menjadikan komunis kata yang berkonotasi jahat, seperti hantu yang berbahaya dan selalu siap menerkam lewat pemikiran atau gerakan sosial yang membahayakan kepentingan bangsa dan negara. Teman saya dengan tenang dan ceria menjelaskan: Ardi, ini kotak komunis, artinya ini kotak untuk menyimpan barang-barang bersama. Kan komunis itu asalnya bahasa Latin yang artinya umum, berbagi. Dan ini cara hidup utama kita: berbagi.

Paus Fransiskus yang sangat peduli persoalan sosial, menyatakan bahwa Komunisme (sebagai sebuah ideologi dan kekuatan politik) mencuri “bendera” Kristianitas, 20 abad setelah bendera itu dikibarkan. Bendera Kristianitas adalah orang-orang miskin. Kepedulian sosial sudah menjadi jantung hati Gereja sedari komunitas perdana, mengikuti semangat Sang Guru. Dan kemurahan hati mengalir dari pribadi-pribadi penuh kasih, bukan aturan negara. Matius 25 menjabarkan bagaimana pengadilan akhir akan ditumpukan pada kerelaan kita berbagi tanpa bertanya latar belakang suku agama ras golongan, dan Kotbah di Bukit menghibur mereka yang terpinggir tersingkirkan secara ekonomi dan sosial. Maka jemaat perdana pun memeluk cara hidup berbagi dengan murah hati dan menekankan penghayatan bahwa milik mereka adalah milik bersama, yang kalau dibutuhkan siap dikembalikan untuk anggota komunitas yang memerlukan, seperti digambarkan dalam bacaan pertama hari ini dari Kisah Para Rasul.

Kepedulian pada mereka yang miskin dan lapar menjadi bagian dari “Liturgi” (ibadat dan pelayanan) Kristiani. Yohanes Krisostomus, uskup Konstantinopel abad ke 4 menyatakan pada umatnya: “Jika engkau melihat seseorang menderita kesusahan, jangan bertanya-tanya terlalu banyak.. [mereka] adalah milik kepunyaan Tuhan, tak peduli dia kafir atau Yahudi, karena meski dia bukan orang beriman, dia tetap butuh bantuan.” Sangat sedikit orang tahu bahwa negara sosialis pertama di dunia dibangun di Paraguay 1811 berbasis pemikiran para Yesuit yang berkarya di tengah suku Indian Guarani pada abad ke 17 (seperti digambarkan dalam film the Mission), hampir 200 tahun sebelum Karl Marx lahir dan menciptakan ajaran komunismenya. Kesetaraan dalam struktur sosial, prioritas pada kesejahteraan umum, dan nilai kolektif diatas individu, menjadi pilar-pilar masyarakat yang dibangun diatas semangat Injili peduli dan berbagi.

Saat kelahiran baru dalam Roh didiskusikan antara Yesus dan Nicodemus, fokus pembicaran bukan sekedar sesalehan rohani atau pun relasi pribadi ekslusif dengan Allah. Kelahiran baru menandai kehadiran Roh yang membawa pribadi-pribadi mengikuti Dia yang berbagi sehabis-habisnya di ketinggian Salib, kemuliaan sejati dalam pengosongan diri yang membalikkan ukuran-ukuran dunia: kesuksesan, kekayaan, kejayaan, kekuasaan. Dalam berbagi, kita bertambah kaya. Dalam kebersamaan, kita makin menjadi individu yang menemukan jati dirinya. Dalam ketaatan pada Bapa, kita makin bebas mewujudkan impian dan dambaan diri: karena yang berarti hanyalah yang sungguh mengantar pada kebangkitan manusia baru yang siap memasuki bumi dan langit yang baru. Dalam kebersamaan dan kesatuan. Dengan Allah. Dengan segala ciptaan yang dimuliakan.

Translate »