Keras
Bacaan I : Kis 5:27-33
Bacaan Injil: Yoh 3:31-36
Seorang teman mengirimkan refleksi kecil menarik via WhatsApp group: Apa beda keras hati dan keras kepala? “Yang satu lahir dari kemauan yang kuat, dan yang lain lahir dari ketidakmauan yang kuat”, begitu ujarannya. Menarik untuk melihat lebih jauh beberapa catatan lain yang mencermati lebih jauh perbedaan dua sikap yang sama-sama keras tersebut.
1. Keras hati dapat digunakan untuk menandai keras yang baik, sementara keras kepala lebih berkonotasi negatif. Keras hati mendasarkan keteguhan sikapnya atas prinsip-prinsip kebenaran yang terkaji, teruji dan universal. Sebaliknya, keras kepala mengungkapkan argumentasi yang personal, pertimbangan-pertimbangan yang dianggap benar, dan rasionalitas digunakan untuk pembenaran pendapat dan bukannya benar-benar mencari kebenaran.
2. Orang yang keras hati menghadapi tantangan terhadap pendapatnya dengan lembut dan terbuka, siap diajar dan siap berubah kalau dapat dibuktikan kebenaran yang lebih utama ada dalam cara berpikir dan bertindak yang berbeda. Orang yang keras kepala sebaliknya, cenderung merasa diri benar dan sudah menggenggam kebenaran yang final, karenanya membeku dan kaku.
3. Orang yang keras hati dikenal sebagai pejuang yang lurus, tidak menyombongkan diri, berani tampil apa adanya tanpa ada yang perlu disembunyikan, tidak rendah diri di hadapan orang lain. Orang yang keras kepala sebaliknya cenderung sombong, suka membual, menyembunyikan fakta atau penafsiran yang tidak sejalan dengan pendapatnya, cenderung melihat orang lain sebagai ancaman, karenanya suka merendahkan dan menghakimi orang lain.
4. Orang yang keras hati karena kesatuan pikiran, perkataan dan perbuatan, menunjukkan integritas yang membuatnya disegani, dihormati dan disayangi. Menjadi inspirasi dan membangun banyak orang. Sebaliknya orang yang keras kepala sulit dipercaya, karena cenderung manipulatif, membelokkan bahkan tak segan menciptakan cerita-cerita yang mendukung pendapatnya dan menyerang pandangan yang berseberangan dengannya.
5. Orang yang keras hati tak segan memimpin dan dipimpin, terbuka untuk bekerja sama. Orang yang keras kepala cenderung individualis, merasa tak membutuhkan orang lain, sukar diatur dan dipimpin.
Dalam kisah para Rasul digambarkan Petrus dan para murid sebagai orang yang keras hati mewartakan Injil: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia”. Tentu saja sikap ini muncul dari pengajaran dan teladan Sang Guru yang lebih dulu taat pada kehendak BapaNya, juga manakala logikanya melawan logika dunia. Prinsip kebenaran dan kebaikan senantiasa Dia bawa hingga tak segan berseberangan dengan para pemimpin agama dan masyarakat pada jamannya bahkan saat hal itu menyeretnya pada nasib umum para nabi: ditolak, dianiaya, dan dibunuh dengan nista. Dan bukannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok, bahwa Dia bersikeras mewartakan Injil yang menyinggung para penguasa, melainkan demi keselamatan dunia. Sungguh sikap yang berbeda dengan gerakan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan kebenaran kelompok seraya memaksakan pandangannya, kalau perlu dengan kekerasan, pada kelompok lain.
Pertanyaan untuk kita: jika suatu saat kita temukan diri kita mengeras dalam sikap, apakah itu keras hati atau keras kepala? Semoga kita tak segan berjuang untuk nilai-nilai kebenaran yang hakiki dan universal, menjaga fleksibilitas, keterbukaan, dan kesediaan berdiskusi dan belajar dan bukan sekedar mencari pemenuhan ideal diri yang sempit dan eksklusif. Semoga.
