Browsed by
Month: April 2016

Ya

Ya

annunciation2 (1)
Hari Raya Kabar Suka Cita
Bacaan Injil: Lukas 1:26-38

Seandainya Bunda Maria berkata “Tidak” pada Malaikat Gabriel, menolak rencana dan kehendak Allah, apa yang akan terjadi? Betapa pun suci tak bernoda dalam kandungan Anna, ibunya, Maria adalah gadis muda dengan kebebasan selayaknya insan manusia. Ia bukan robot yang sekedar mengikuti algoritma penulis program hidupnya ataupun boneka yang bergerak sepenuhnya dalam kendali sang dalang. Penganut paham predestinasi seringkali terlalu menyederhanakan kerumitan hidup dengan kata pembiusan: semua sudah diatur Yang Kuasa, kita tinggal menjalani. Pemahaman yang menunjukkan kemalasan berpikir, berkehendak, dan bertanggung jawab.

Tentu saja Bunda Maria bisa berkata “Tidak”, kenapa tidak? Tapi sejarah mencatat, dia menjawab “Ya”. Jawaban yang membuat sebuah persiapan panjang yang menempatkannya sebagai keturunan Daud yang bertunangan dengan seorang keturunan Daud yang lain, tidak sia-sia. Jawaban yang hanya bisa sungguh berarti manakala meski sekilas, ia mempertimbangkan kesulitan-kesulitan yang bakal ia hadapi, dan memilih untuk menyambutnya . Ia ikuti nasehat Khalil Gibran yang tak pernah ia dengar: “pabila cinta memanggilmu… ikutilah dia walau jalannya berliku-liku… Dan, pabila sayapnya merangkummu… pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu…”. Kelak ia pun termangu manakala Simeon meramal masa depannya: “… suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.”

Dia mungkin belum menyadari sepenuhnya, sebuah penolakannya bisa memperpanjang kehadiran sengat dosa yang memikat pukat manusia. Dia juga tak punya daya untuk mengerti, dukacita ngeri yang akan menghancurkan hatinya, memberikan damai dan sukacita sejati bagi jutaan orang dari segala waktu dan tempat bagi mereka yang menyematkan gelar Putranya sebagai identitas kemuridan mereka, namun juga membawa penderitaan dan kematian ngeri para saksi iman mengikuti jejak Sang Putra yang bakal meminum cawan pahit penyalibanNya. Bunda Maria bisa berkata “Tidak”, namun dia memilih merendahkan diri, berserah dalam iman dan cinta tak bertepi pada Sang Penciptanya, dan berkata : Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.

Cinta, saudara-saudariku, hanya sungguh bernilai manakala dipilih dengan sadar, tahu dan mau. Bukan keterpaksaan atau keniscayaan, tetapi buah dari pertimbangan dengan pengetahuan yang cukup akan konsekuensi suatu pilihan. Cinta adalah juga pilihan yang setiap kali ditegaskan dalam ujian hidup yang penuh drama. Cinta mau menderita bukan demi romantisme gairah remaja, melainkan demi mewujudkan versi terbaik dirinya dan menjadi hadiah terindah untuk Sang Pencipta dan sesama ciptaan. Demi tinggal dalam Kasih dan membiarkan Kasih tinggal dalam dia.

Gadis muda yang terpilih, Maria, telah memilih berkata “Ya” demi cinta pada Tuhannya dan memenuhi panggilan hidupnya. Ah… seandainya ia berkata “Tidak”, apa yang akan terjadi? Tak ada yang bisa menggantikan posisinya yang khas dan unik. Kita pun masing-masing diciptakan khas dan unik. Dan Tuhan menyodorkan pada kita panggilan unik untuk dijalani dalam cinta. Apa jawaban kita?

Percaya! tanpa bimbang dan ragu MEWARTAKAN YESUS yang bangkit dan hidup‏

Percaya! tanpa bimbang dan ragu MEWARTAKAN YESUS yang bangkit dan hidup‏

HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH
2 April, 2016
Kisah Para Rasul 4:13-21
Markus 16:9-15
Saudara-saudariku terkasih,
    Sebagaimana telah kita ketahui bahwa bagian dari Injil Markus ini adalah ringkasan tentang penampakan Yesus kepada para muridNya setelah kebangkitan. Para bapak Gereja menerima ini sebagai bagian yang agak panjang dari injil Markus, tetapi sangat mungkin bagian ini tidak ditulis oleh Markus sendiri. Karena beberapa bagian terakhir dari injil Markus ini kita jumpai juga dalam injil Lukas 24 dan Yohanes 20.
    Pertama kali Yesus menampakan diri kepada Maria Magdalena, dan penampakanNya itu begitu real sampai ia sendiri tidak bisa menyimpan untuk dirinya sendiri, tetapi ia harus menyampaikan peristiwa itu kepada para murid yang sedang berkabung atas kematian Yesus. Sebelumnya para murid itu belum mau percaya akan berita bahwa Yesus telah bangkit. Kedua murid yang lain yang sedang dalam perjalanan ke Emauspun telah melihat dan mengalami kehadiran Yesus sendiri. Ketika mereka kembali ke Yerusalem dan menyampaikan kepada para murid yang lain tentang peristiwa itu, bahwa mereka telah melihat Yesus, mereka tetap tidak percaya.
    Akhirnya ketika kesebelas murid sedang duduk di suatu ruangan, Yesus menampakan diriNya kepada mereka. Ketika Yesus hadir di tengah-tengah mereka, Yesus tidak menyapa mereka seperti yang biasa Ia lakukan dengan mengatakan Peace be with you, tetapi Yesus malahan mencela mereka dengan mengatakan: “… dan I mencela ketidak percayaan dan kedegilan hati mereka oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitanNya.”
    Sangat mungkin andapun akan bertanya, mengapa para murid tidak serta merta percaya akan apa yang diberitakan oleh Maria Magdalena dan kedua murid yang lagi berjalan ke Emaus? Jawabannya bisa saja sangat sederhana dan logis, bahwa sangat tidak mungkin seseorang yang sudah mati, dikuburkan dan dibilang bangkit lagi.
Saudara-saudariku terkasih,
    Lalu apa aplikasinya peristiwa itu untuk kita dewasa ini? “Apakah anda benar-benar percaya bahwa Yesus hadir dalam perayaan Ekaristi yang yang setiap kali kita rayakan?” Dan kalau kita tidak percaya, berarti kita masih perlu untuk membaca dan merenungkan Sabda Tuhan dalam Kitab SuciNya. Dengan cara ini kita akan dapat lebih mengetahui, mengerti, merasakan dan mengalami bahwa Yesus yang telah bangkit dari antara orang mati, benar-benar hadir dan selalu berjalan, bekerja bersama kita dalam kehidupan kita setiap hari. Hal ini berarti bahwa inilah tantangan yang kita hadapi untuk bekerjasama dengan Yesus, sembari membiarkan rahmat dan karya Roh Kudus dalam diri kita masing-masing, agar kitapun sanggup menjamah dan menyentuh hati banyak orang. Ketika saya membuat renungan ini saya mendengar wawancara dan melihat tayangan EWTN mengenang Mother Mary Angelica of the Anunciation tentang “The Best of the journey home”. Dalam wawancara itu Mother Mary Angelica menegaskan betapa pentingnya kita dalam kehidupan kita setiap hari yang mau menjawab panggilan Tuhan dalam karya penyelamatanNya: “I have to know the word of God, and I have to know what I preach!” Oleh karena itu sejauh kita bisa merasakan kehadiran Yesus dalam kehidupan kita setiap hari, maka kitapun akan lebih bisa merasakan kepenuhan hidup baru dalam Yesus. Dengan demikian kita bisa membawa dan membagi berkat, damai, kegembiraan dan rahmat yang berlimpah kepada orang lain seperti yang sudah dilakukan oleh Maria Magalena dan kedua murid yang sedang berjalan ke Emaus. Amin.
Selamat merayakan Minggu Kerahiman…Divine Mercy Sunday
Translate »