Browsed by
Month: May 2016

Kenaikan Yesus

Kenaikan Yesus

5 Mei 2016
Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus

Kisah Para Rasul 1:1-11
Mazmur 47
Efesus 1:17-23
Lukas 24-46-53

Bayangkan kalau orang yang anda kasihi pergi meninggalkan anda. Saya yakin perasaan sedih, kecewa, rindu akan muncul dalam hati dan pikiran kita. Anehnya, ketika Lukas menceritakan kenaikan Yesus, para muridnya kembali ke Yerusalem dengan sukacita dan penuh pujian kepada Allah.

Pemikiran saya, mereka bersukacita karena Yesus menjanjikan sesuatu yang begitu besar untuk mereka: bahwa mereka akan menjadi saksi bagiNya, dan mereka akan mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Allah Bapa. Mereka berpikir, bahwa Yesus akan segera kembali seperti dijanjikan oleh dua malaikat pada saat kenaikan Yesus. Mereka pun juga menduga bahwa pada saat itu pulalah kerajaan Israel akan dipulihkan, walaupun Yesus sudah berkata bahwa tidak ada yang tahu kapan saat itu akan tiba.

Penantian kedatangan Yesus kembali ke dunia menjadi sumber kekuatan dan harapan bagi orang-orang Kristen pada saat itu. Santo Paulus pun dalam beberapa suratnya seperti mengimplikasikan bahwa Yesus akan kembali segera, mungkin pada masa hidupnya (lihat 1 Tesalonika 4:15). Tapi apa yang terjadi? Bukan hanya Yesus belum kembali sampai sekarang, umat Kristen awal harus melalui percobaan-percobaan dan penganiayaan. Jika mereka tahu ini yang akan terjadi, apakah mereka akan tetap bisa bersukacita setelah ditinggal Yesus?

Kita yang hidup di masa kini pun tidak lepas dari pemikiran ini. Terlebih jika kita melalui masa yang sangat sulit dalam hidup kita, atau melihat situasi dunia yang tampaknya semakin kacau dan hancur, mungkin kita berharap supaya Yesus datang segera supaya semuanya berakhir dan kita bisa hidup damai di Yerusalem yang baru. Beberapa sekte Kristen mencoba menghitung kapan hari kiamat akan tiba. Beberapa lainnya menantikan “rapture” atau diangkat ke surga sebelum dunia menjadi lebih hancur. Ini merupakan kesalahpahaman dalam mengartikan ayat-ayat Alkitab.

Jadi apa yang perlu kita perbuat? Apakah kita tetap bersuka cita? Ya, karena memang janji Allah telah ditepati, Ia telah mengirim Roh Kudus pada kita. Dengan kuasa Roh Kudus lah kita bisa hidup di dunia ini dan mendapat kekuatan untuk melawan segala kejahatan dan ketidakadilan. Tapi bukan berarti kita akan bisa hidup aman-aman saja dan “berleha-leha”. Hidup sebagai murid Yesus seringkali memerlukan perngorbanan, termasuk kesengsaraan. Tapi kita tahu bahwa pada akhirnya kita akan diselamatkan, karena Dia pun telah melalui semua ini dan menang dan mendapatkan mahkota di surga. Inilah sumber sukacita kita.

Bebaskan Tuhan

Bebaskan Tuhan

Rabu, 4 Mei 2016

Kisah Para Rasul 17:15,22 – 18:1
Mazmur 148
Yohanes 16:12-15

Atena adalah pusat kebudayaan Yunani saat itu. Kepercayaan bangsa Yunani adalah menyembah sejumlah dewa. Anda mungking sering mendengarnya dari buku atau film. Mulai dari pemimpin mereka Zeus, dewi cinta Aphrodite, dewa perang Apollo, dan sebagainya. Setiap dewa mempunyai kuil sendiri, di mana orang bisa datang membawa persembahan untuk dewa atau dewi itu.

Ketika Paulus berkotbah di Atena, ia pun menyinggung kuil-kuil semacam itu. Ia tidak menyerang agama mereka atau dewa-dewi mereka, tapi dia bersaksi bahwa Allah sungguh lebih besar. Allah tidak tinggal di dalam kuil atau memerlukan sembahan kurban dari tangan manusia. Sebaliknya, kitalah yang bergantung padanya, di dalam Dia kita hidup, bergerak, dan eksis di dunia ini.

Kita beruntung bahwa umat Katolik mempunyai gereja-gereja yang begitu megah dan mempesona di berbagai belahan dunia. Banyak dari kita merasa doa dan ibadah kita terbantu dengan suasana gereja tertentu. Tapi kita tidak bisa hanya berhenti di situ. Tuhan tidak hanya terbatas dalam gedung gereja. Kita perlu membebaskan Tuhan dari batas-batas yang kita buat sendiri dalam pikiran kita.

Salah satu pesan yang selalu diulang oleh Paus Fransiskus adalah tentang perjumpaan. Ia mengajak kita berjumpa dengan Tuhan melalui orang miskin, melalui karya ciptaanNya, melalui orang-orang yang disingkirkan dan dilupakan oleh masyarakat. Sebaliknya, mereka yang belum mengenal Tuhan, seperti orang-orang Atena pada zaman Paulus, juga bisa menjumpai Tuhan melalui kita.

Mana??

Mana??

3 Mei 2016
Hari Raya Pesta Santo Filipus dan Yakobus

1 Korintus 15:1-8
Mazmur 19
Yohanes 14:6-14

Dalam Injil hari ini sepertinya Yesus “gregetan” melihat murid-muridnya tidak kunjung mengenal dia. Di ayat sebelumnya Thomas bertanya tentang jalan menuju Bapa. Sekarang Filipus meminta Yesus menunjukkan Bapa. Mungkin kita bisa mendengar rasa kecewa Yesus ketika dia menjawab, “Kamu sudah sekian lama mengikutiku tapi kamu tetap belum mengenal aku?”

Berapa lama anda sudah mengikuti Yesus? Mungkin sebagian besar dari anda sudah dibaptis sejak bayi. Beberapa mungkin setelah dewasa. Ada juga yang datang dari aliran Kristen yang lain. Tapi sudahkah kita MENGENAL dia?

Terkadang, sama seperti para murid Yesus saat itu, kita tidak bisa melihat Allah di depan kita. Yang mereka lihat adalah Yesus sebagai manusia biasa. Bagi mereka kehadiran Allah mungkin harus dalam bentuk yang fenomenal, seperti semak terbakar yang dilihat Musa. Terlebih lagi, bagaimana mungkin melihat Allah dalam diri seseorang yang “kalah”, yang ditangkap dan disalibkan? Bukan Allah namanya kalau tidak datang dengan penuh kekuatan menghancurkan penjajah Romawi dan memulihkan kerajaan Israel.

Tapi inilah paradoks iman kita. Allah hadir dalam wujud manusia, merendahkan dirinya untuk berjalan bersama kita. Dapatkah kita menemukan Allah dalam keseharian kita? Mungkin melalui orang-orang yang kita jumpai? Mungkin dalam alam raya ciptaanNya yang begitu indah? Ataukah kita hanya mau menunggu sampai Allah datang dalam bentuk yang spektakuler saja?

Imagine….

Imagine….

2 Mei 2016
Hari Peringatan Santo Athanasius, Uskup dan Pujangga Gereja

Kisah Para Rasul 16:11-15
Mazmur 149
Yohanes 15:26 – 16:4

Anda pasti tahu lagu terkenal “Imagine” yang dibawakan mantan penyanyi Beatles John Lennon. Salah satu bagian liriknya mengajak kita untuk “imagine” atau membayangkan kalau di dunia ini tidak ada negara atau agama yang membuat orang saling berperang, bayangkan bagaimana dunia ini akan penuh damai.

Kita tidak bisa langsung menyalahkan John Lennon kalau dia punya pandangan yang negatif terhadap agama. Sejarah dunia penuh kekerasan yang mengatasnamakan agama. Hari ini pun kita baca dalam Injil Yohanes bagaimana Yesus memperingatkan para muridnya bahwa suatu waktu mereka akan dianiaya oleh orang-orang yang mengatasnamakan agama, yang menganiaya orang lain dengan dalih memberi kurban persembahan untuk Tuhan. Bagi Yesus, orang-orang seperti ini sebenarnya belum mengenal Allah.

Santo Athanasius yang kita peringati hari ini, pun menjadi korban dari orang-orang Kristen sendiri. Kaisar-kaisar Romawi pada masa itu lebih memihak pengikut Arius yang mempunyai prinsip bahwa Kristus diciptakan oleh Bapa dan tidak sehakekat dengan Bapa seperti yang kita akui dalam Syahadat Nikea-Konstantinopel. Karena itu Athanasius pun sempat diasingkan dari keuskupannya sampai lima kali.

Saat ini pun masih terjadi penganiayaan atas dasar agama. Terakhir kita dengar tentang empat orang suster dari ordo Mother Teresa yang dibunuh di Yemen. Kita melihat bagaimana ISIS membabi buta menghabisi orang2 Kristen, Yazidi, atau pun Islam yang tidak sepandangan dengan mereka. Dan masih banyak lagi terjadi di bagian dunia lain dan melibatkan agama lain. Setiap kelompok ekstremis dari setiap agama menghalalkan kekerasan atas nama membela Tuhan dan agama mereka.

Kita diingatkan hari ini oleh Yesus bahwa kita mempunyai pembela sejati, yaitu Roh Kudus. Dua minggu lagi kita merayakan Pentekosta. Semoga kita selalu dikuatkan oleh Roh Kudus, terutama pada saat kita merasa terancam dan dikucilkan. Imagine… bahwa Roh Kudus bersama kita, di dalam kita, untuk menghadapi segala masalah dalam hidup kita.

Translate ยป