Browsed by
Month: June 2016

Sembunyi

Sembunyi

Kamis, 23 Juni, 2016

Bacaan I              : 2 Raja-Raja 24: 8-18

Injil                        : Matius 7: 21-29

 

 

 

Bersembunyi di balik nama Tuhan sama saja menipu Tuhan. Membenarkan tindakan salah dengan menggunakan nama Tuhan sama saja memanipulasi Tuhan. Tak selamanya menyebut nama Tuhan adalah baik. Tak selamanya menggunakan nama Tuhan adalah benar. Sebagai orang yang bertuhan kita diminta oleh Tuhan untuk menggunakan namaNya dalam saat yang benar dan dalam pekerjaan yang benar. Tuhan sungguh tidak suka bahkan benci jika namaNya digunakan unttuk melegalkan sebuah tindakan yang tidak mencerminkan ajaranNya. Ada kalanya orang menipu sesamanya dengan menggunakan nama Tuhan. Di lain kesempatan orang tega membunuh sesamanya dengan alasan membela Tuhan. Ternyata menyebut-nyebut nama Tuhan bukanlah sebuah jaminan bagi kita untuk mendapat keselamatan dari Tuhan.

Tuhan sangat alergi dengan tindakan-tindakan yang menghina namaNya. Ia tidak ingin namaNya yang kudus digunakan untuk membenarkan tindakan yang jahat. Ternyata sebesar apapun tindakan kita, sekalipun dengan menyebut nama Tuhan, namun jika tak ada belas kasih di dalamnya, Tuhan tidak berkenan menerimanya. Allah kita adalah Allah yang berbelas kasih, Allah yang namanya adalah Mercy (belas kasih). Maka sebesar apapun tindakan kita jika tidak didasari oleh belas kasih, Allah tidak pernah berkenan atasnya. Kita sekalian dibenarkan oleh Tuhan bukan hanya karena iman, namun karena tindakan kita yang dipenuhi dengan belas kasih, karena belas kasih menghadirkan sifat Allah. Semoga Tuhan yang berbelas kasih selalu mengarahkan kita untuk selalu bertindak bijak, jujur dan penuh belas kasih. Amin. Tuhan memberkati.

 

 

Doa:

Ya Allah, Engkau begitu berkenan bila hati kami diliputi belas kasih. Engkau juga sangat suka apabila tindakan kami memancarkan sifatMu yang penuh dengan rasa peduli dan kasih. Kami mohon kepadaMu ya Bapa, bantulah kami agar selalu dapat membuka hati kami seluas-luasnya bagi belas kasihMu sehingga hati kamipun dipenuhi dengan belas kasihMu. Bantulah kami pula untuk selalu menghormati namaMu yang kudus dalam setiap kata, tindakan dan pikiran kami. Akhirnya kami persembahkan pikiran, perkataan, dan tindakan kami dalam lindungan Hati Maria Yang Tak Bernoda. Dalam kuasa keibuannya kami berlindung. Ya Tuhan dalam nama Yesus Tuhan kami sampaikan doa kami ini. Terpujilah namaMu sepanjang segala masa. Amin.

Rabu, 22 Juni 2016

Rabu, 22 Juni 2016

Rabu, 22 Juni 2016

Bacaan I              : 2 Raja-Raja 2: 8-13; 23: 1-3

Injil                        : Matius 7: 15-20

 

 

 

Dalam Kotbah di Bukit, Tuhan mengajari kita bahwa saat sekarang ini ada sekian banyak nabi palsu. Mereka mewartakan Tuhan, namun sungguh sayang Tuhan yang mereka wartakan adalah tuhan menurut versi mereka. Bukan Tuhan yang menjadi pusat pewartaan namun justru mereka yang menjadi pusat pewartaan. Akibatnya, banyak orang menjadi korban dari para nabi palsu ini. Kehadiran para nabi palsu ini sungguh mencengangkan, pembawaan maupun tutur katanya sungguh memikat hati, jika tidak maka tak akan mungkin banyak orang menjadi pengikutnya. Tuhan berpesan kepada kita sekalian bahwa kita dapat mengenali mereka dari buah-buah yang ditimbulkannya. Apabila yang ditimbulkan adalah perpecahan, pengkultusan diri, dan juga kebencian maka mereka bukanlah nabi yang sesungguhnya.

Saat sekarang ini ada sekian banyak aliran keagamaan yang mengatasnamakan kebenaran ataupun keaslian sebuah ajaran agama. Namun sungguh sayang bahwa di balik maraknya kemunculan aliran agama ini terdapat sekian banyak agenda pribadi maupun kelompok yang membawa kebencian. Alangkah sayangnya bahwa agama dan ajaran Tuhan dipelintir sedemikian rupa untuk membenarkan tindakan mereka yang keliru. Mereka membungkus kebencian dengan dalil-dalil agama seakan-akan tindakan mereka benar. Sikap-sikap mereka inilah yang memunculkan teror dan juga keresahan serta kegaduhan. Dari akibat-akibat buruk yang timbul dari sikap-sikap mereka yang penuh kebencian kita tahu bahwa ajaran yang mereka bawa bukan berasal dari Tuhan namun dari ambisi pribadi atau bahkan mungkin dari bujukan iblis yang menyamar sebagai nabi.

Kita sekalian diminta untuk sungguh hati-hati dalam menyikapi hal ini. Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan hanyalah melihat mereka dan buah-buah hasil tindakannya. Apapun yang menghasilkan perselisihan, kebencian, dan curiga serta kematian bukan berasal dari Tuhan namun dari iblis yang menyamar. Maka kita sebagai seorang beriman hanya dapat melawan kuasa iblis ini dengan doa-doa dan mohon pertolongan dari Hati Maria Yang Tak Bernoda. Hanya dialah yang sanggup menolong kita untuk menghancurkan kuasa iblis yang menyamar ini. Maka persis seperti pesan Bunda Maria dari Fatima, kita perlu untuk selalu berdoa bersama Bunda Maria untuk kedamaian dunia. Semoga berkat doanya segala sesuatu yang bukan Allah dimusnahkan demi damai dan kesejahteraan umat manusia. Amin. Tuhan memberkati.

 

 

Doa:

Ya Tuhan Engkau telah memberikan BundaMu sebagai bunda kami. Dalam Hatinya Yang Tak Bernoda kami menungsi dan mohon perlindungan. Bantulah kami untuk membedakan segala sesuatu yang berasal dariMu dan segala sesuatu yang bukan berasal dariMu. Bantulah kami pula untuk mampu menghindarkan diri kami dari setiap hal yang bukan berasal dariMu. Dalam nama PuteraMu Tuhan kami Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Jujur

Jujur

Selasa, 21 Juni 2016

(PW. St. Aloysius Gonzaga)

Bacaan I              : 2 Raja-Raja 19;9b-11.14-21.31-35a.36

Injil                        : Matius 7: 6.12-14

 

 

Allah Tuhan kita adalah Allah yang sungguh terbuka. Ia suka pada kejujuran. Ia sungguh senang apabila kita datang kepadaNya dengan jujur terbuka apa adanya. Hal inilah yang dilakukan oleh Hizkia raja Yehuda. Ia datang dengan keluh kesah, ketakutan dan rasa cemasnya. Mendapati kejujuran Hizkia Tuhan sungguh sangat berkenan. Allah bapa kita sungguh berkenan apabila kita anak-anakNya mau datang kepadaNya apa adanya, tidak menyembunyikan apapun. Sikap jujur terbuka ini pula yang juga dihargai oleh Yesus Tuhan kita. Ia juga mengajari kita bahwa sikap jujur adalah sebuah keutamaan. Sikap jujur adalah bagaikan emas maupun permata.

Memang sikap jujur adalah permata dan emas yang sungguh sangat berharga. Oleh karena sangat berharga maka kejujuran perlu untuk dijaga, dihargai. Jangan sampai kejujuran ini disampaikan pada pribadi yang tidak tepat. Yesus mengatakan bahwa emas maupun permata jangan sampai diberikan kepada anjing maupun babi. Dengan berkata demikian Yesus mengajari kita bahwa jangan sampai kita memberikan kejujuran kita kepada orang yang tidak tepat. Kita boleh jujur, namun tak semua kejujuran yang berisi kebenaran dapat disampaikan kepada semua orang. Ada kalanya kejujuran cukup disampaiikan kepada Tuhan dan orang yang sungguh kita percayai. Berbahagialah apabila kita mampu bersikap jujur di hadapan Tuhan. Sikap inilah yang membuat Tuhan berkenan kepada kita. Sikap ini pula yang membuat hubungan kita dengan Tuhan semakin erat. Semoga dorongan Roh Kudus membuat kita makin mampu untuk bersikap jujur di hadapan Tuhan yang kita sembah. Amin. Tuhan memberkati.

 

 

Doa:

Ya Tuhan semoga karya RohMu menuntun kami untuk semakin jujur terbuka di hadapanMu. Bantulah kami ya Tuhan untuk mampu menghargai setiap kejujuran para saudara kami. Semoga pula kami mampu belajar dari segala kejujuran, dan kepercayaan para saudara kami. Ini semua kami haturkan kepadaMu dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

Introspeksi

Introspeksi

Senin, 20 Juni 2016

Bacaan I              : 2 Raja-Raja 17: 5-8.13-15a.18

Injil                        : Matius 7: 1-5

 

 

Yen uwis isa ngaji Kitab Suci patrapno ana ing lathi, awit ajining diri ana ing lathi, ajining urip ana ing lakumu (Kalau sudah bisa membaca Kitab Suci, terapkanlah pada perkataanmu, karena harga dirimu terletak pada ucapanmu, dan harga hidupmu terletak pada tingkah laku-mu). Kira-kira demikianlah yang dikatakan para leluhur kita. Mereka mengajari kita supaya tidak hanya berpuas diri dalam olah kesalehan yaitu membaca Kitab Suci semata. Kita juga diminta untuk menerapkan apa yang kita baca, apa yang kita imani dalam perkataan maupun tindakan kita. Iman berasal dari pendengaran, yaitu mendengarkan Sabda Tuhan, namun kita dibenarkan bukan hanya karena iman namun lebih karena perbuatan kita.

Tuhan dalam ajaranNya mengajak kita untuk mampu introspeksi diri. Sabda Tuhan yang kita baca bagaikan pedang bermata dua. Ia menebas kepada yang mendengarkan namun sekaligus menebas kepada yang membacanya. Tebasan Sabda Tuhan inilah yang menuntut kita untuk introspeksi diri. Persis seperti yang dikatakan oleh Tuhan bahwa ukuran yang kita pakai untuk mengukur juga akan diterapkan pada diri kita. Hal ini dapat pula kita artikan sebagai “seberapa besar kita memberi kasih, sebesar itu pula kita akan beroleh belaskasihan”. Kita mampu berbelas kasih jika kita memiliki daya introspeksi yang tinggi. Tanpa instrospeksi maka kita tak akan mampu berbelas kasih. Semoga Sabda Tuhan yang kita baca dan kita dengarkan mengingatkan kita untuk selalu introspeksi diri. Amin. Tuhan memberkati.

 

 

Doa:

Ya Tuhan bantulah kami berkat SabdaMu untuk selalu melihat batin kami. Bantulah kami pula untuk selalu bersikap dan bertutur kata sesuai dengan ajaranMu. Semoga pula belas kasihMu membimbing kami agar mampu selalu bersikap penuh belas kasih. Dalam nama Yesus Tuhan kami berdoa. Amin.

Translate »