Browsed by
Month: June 2016

Menjadi Injil Hidup

Menjadi Injil Hidup

Renungan:  Sabtu, 11 Juni 2016

Bacaan Injil:Mat 10:7-13

Peringatam Wajib St. Barnabas Rasul

 

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang-orang sakit, bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta, usirlah setan-setan! Kamu telah menerima dengan cuma-cuma; karena itu berilah dengan cuma-cuma pula! Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak, dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya; jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.

 

Pada pesta peringantan Santo Barnabas, gereja mengajak kita kembali untuk menjadi pewarta yang terus membawa nilai-nilai injil kepada sesama kita yang membutuhkan. Dalam pengutusanya, Yesus sangat jelas menunjukkan apa yang harus kita lakukan dan apa yang tidak kita lakukan.  Menjadi seorang utusan Yesus, tugas kita jelas: menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta dan mengusir setan-setan. Yesus telah memperlengkapi kita dengan semua keutamaan-keutamaan tersebut oleh karena itu Dia berkata “kamu telah terima dengan cuma-cuma; berilah dengan cuma-cuma pula. Sekarang tergantung dari kita, apakah kita mau menyalurkan semua berkat itu kepada orang lain? Di pihak yang lain Yesus juga mengingatkan kita agar kita perlu waspada dengan hal-hal yang bisa membatasi kebebasan kita dalam mewartakan kabar gembira. Yesus mengajak kita sebelum kita membebaskan mereka yang terbelenggu dari berbagai hal duniawi, kita mesti pertama-tama terbebas dari hal-hal duniawi tersebut. Menjadi pewarta kabar gembira, kita perlu arif dan bijaksana serta menjadi contoh yang baik dalam tindakan dan aksi nyata.

Perutusan untuk mewartakan kabar gembira adalah sebuah panggilan untuk meninggalkan keterikatan duniawi, bebas dari cengkeraman duniawi. Tentu panggilan ini tidak mudah dilakukan karena kita toh masih membutuhkan hal-hal duniawi  sebagai sarana untuk pewartaan. Betul, akan tetapi hal-hal duniawi janganlah menjadi tujuan dari pewartaan kabar gembira. Kita tahu bahwa kekayaan material kadang membelenggu hidup kita, membuat kita cemas, takut kalau kita tidak gunakan secara seimbang. Kebutuhan materi janganlah menjadi alasan untuk tidak mewartakan kabar gembira. Pewartaaan kabar gembira harus berfokus pada  kebaikan kesejathteraan dan keselamatan manusia. Kebebasan untuk tidak terikat pada hal-hal duniawi membuat kita lebih yakin pada penyelenggaraan Ilahi.

Sekarang kita harus membuat pilihan. Apakah kita siap menjadi kabar gembira bagi orang disekitar kita? Pilihan menjadi pewarta adalah sebuah tantangan dan salib akan menjadi pahala kita. Yesus meyakinkan kita kembali bahwa Dia selalu menyertai kita ketika kita mau menjadi utusan dan dutaNya.  Kita tidak dibiarkan berjalan sendiri. Selamat menjadi ambassador Yesus dimana saja kita berada.

Transformasi Hati

Transformasi Hati

Renungan:  Jumat 10 Juni 2016

Bacaan Injil: Mat. 5:27-32

 

Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata, “Kalian telah mendengar sabda, ‘Jangan berzinah!’ Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Barangsiapa memandang seorang wanita dengan menginginkannya dia sudah berbuat zinah dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan dikau, cungkillah dan buanglah, karena lebih baik bagimu satu anggota badanmu binasa daripada badanmu seutuhnya dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tangan kananmu menyesatkan dikau, penggallah dan buanglah, karena lebih baik bagimu satu anggota badanmu binasa daripada dengan badanmu seutuhnya masuk neraka. Tetapi disabdakan juga, ‘Barangsiapa menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.’ Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, dia membuat isterinya berzinah. Dan barangsiapa kawin dengan wanita yang diceraikan, dia pun berbuat zinah.”

 

Perintah keenam dari sepuluh perintah Allah adalah “jangan berzinah”. Dalam masyarakat modern dimana kita berada, perintah Allah, “Jangan berzina” kelihatannya tidak diindahkan lagi. Dari media social, kita tahu hampir setiap hari ada berita tetang perselingkuhan, perceraian dan kekerasan sexual lainnya. Dalam sebuah study di US yang diterbikan di Jurnal “Computers in Human Behavior”, ditemukan adanya link antara pengguna media social dan penurunan tingkat kepuasan dalam perkawinan. Peneliti menemukan bahwa pengguna situs jaringan social berkorelasi negatif dengan kualitas perkawinan dan kebahagian dan secara positf adanya korelasi dengan pengalaman yang tidak baik dalam berelasi dan adanya niat untuk bercerai.

Perjanjian lama memahami perintah Allah yang keenam tidak berfokus pada pelanggaran kehendak Allah akan tujuan sexualitas. Perintah keenam lebih berfokus pada hak seorang laki-laki yang telah menikah atas istrinya. Seorang istri dianggap berzinah jika dia memiliki hubungan sexual dengan pria manapun apakah sudah menikah atau belum menikah. Sedangkan laki-laki yang sudah menikah dianggap sebagai pezinah ketika dia memiliki relasi dengan isti orang lain.

Yesus menginterpretasi perintah Allah ke enam ini sangat radikal dan dengan demikian melampaui serta memenuhi pemahaman perjanjian lama. Bagi Yesus solusi nyata dari masalah ini terletak pada transformasi hati. Solusi nyata dan bertahan bagi perzinahan dan kekerasan sexual lainya tidak terdapat hanya dalam protes untuk melawan praktek tersebut atau aturan-aturan hukum tentang pelanggaran sexual. Yesus lebih focus pada akar perzinahan yakni terletak pada napsu dalam hati manusia. “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.(Mrk 7:21-23)

Lewat bacaan injil hari ini Yesus mengajak kita untuk melihat secara jujur apa yang sedang bergejolak dalam hati kita. Dia mengingatkan kita untuk tidak begitu saja mengikuti perubahan budaya yang terjadi akan tetapi adanya perubahan pola pikir kita dalam menghadapi perubahan tersebut. Transformasi menurut Yesus dalam kontes ini melibatkan pengakuan yang mendalam bahwa kerinduan terdalam dalam hati kita, dimana sexualitas kita tidak pernah dipuaskan oleh sex genital, melainkan dipuaskan oleh kesetiaan dalam hubungan suami – istri, keintiman dan komunikasi yang sehat dengan orang yang kita cintai dan perhatian yang tulus lewat keberadaan kita yang menyejaterahkan orang lain disekitar kita.

Mari kita mohon Tuhan menjamah hati kita dengan cintaNya agar pemahanan cinta kita pun ditransformasikan menjadi lebih positif dan tidak sempit.

Bersama Tuhan selalu ada jalan.

Bersama Tuhan selalu ada jalan.

Renungan: Kamis 9 Juni 2016

Bacaan Injil: Mat. 5:20-26

 

Dalam khotbah di bukit, berkatalah Yesus, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kalian telah mendengar apa yang disabdakan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya, harus dihukum! Barangsiapa berkata kepada saudaranya: ‘Kafir!’ harus dihadapkan ke mahkamah agama, dan siapa yang berkata: ‘Jahil!’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dia di tengah jalan, supaya lawanmu jangan menyerahkan engkau kepada hakim, dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya, dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas.”

Injil hari ini berbicara tentang rekonsiliasi Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia online, rekonsiliasi berarti perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keaadan semula. Dari definisi ini sangat jelas bahwa setiap orang orang pada hakekatnya diciptakan Tuhan baik adanya. Dalam perjalanan hidupnya manusia berelasi dengan sesamanya bahkan dengan dirinya sendiri sering kali ditemukan adaanya masalah. Masalah yang dihadipi bisa menjadi problem atau menjadi berkat tergantung pribadi masing-masing dalam menyikapi masalah tersebut.

Dalam injil hari ini kita diajak secara khusus untuk melihat diri kita dalam konteks pemulihan relasi kita dengan diri kita sendiri, sesama dan Tuhan. Ada banyak peristiwa yang kita temukan dalam hidup kita “terpecah, berserahkan” yang perlu di damaikan kembali. Menyikapi peristiwa- peristiwa yang berbeda satu dengan yang lain tentu tergantung pada tingkat spiritual, pengetahuan pribadi, kebijakansanaan, iman dan intesitas situasi masing-masing pribadi, memilih berdamai atau tidak pada realitas. Dalam banyak kenyataan, kadang kala kita terjebak dalam saat-saat sulit untuk memilih berdamai atau tidak berdamai.

Melihat kehidupan Yesus, kita akan kagum dan perlu belajar bagaimana hidup Yesus sendiri menjadi cara hidup kita dalam berdamai dan kembali kepada Allah. Meskipun kita orang berdosa, Tuhan dalam diri Yesus Kristus, yang rela menjadi manusia seperti kita kecuali dalam dosa, memulai rekonsiliasi kita dengan Allah. Ketika kita tidak setia, serakah dan dan merasa hebat sendiri, Tuhan tidak berhenti mencari dan menemukan kita. Dia selalu berusaha menemukan kita walau ditengah- tengah ketidak layakan kita. Setiap hari Tuhan selalu menanti kita dengan tangan terbuka, menunggu kita kembali kepangkuan kasihNya.

Bacaan mengingatkan kita kembali “rekonsiliasi” membawa kita kembali ke “HATI” Tuhan. Mari kita belajar dari Yesus sendiri menjadi suluh rekonsilasi dalam keluarga dan komunitas kita,. Pasti sulit tapi bersama Tuhan selalu ada jalan.

Berjalan dalam jalan “KASIH”

Berjalan dalam jalan “KASIH”

Renungan:  Rabu 8 Juni 2016

Bacaan Injil: Mat. 5:17-19.

 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.  Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.”

 

Hukum kadang dibuat untuk merespon situasi yang terjadi dalam situasi dan kondisi tertentu. Kalau kita dilihat kembali penerapan hukum tersebut bisa saja kita temukan adanya penafsiran yang berbeda sesuai dengan konteks dan semangat dari hukum tersebut.

Hukum Musa yang di katakan Yesus  dalam injil hari ini telah menjadi sumber inspirasi kita selama berabad-abad. Hukum itu diberikan Allah dalam kurun waktu dan tempat tertentu terutama membantu orang Israel untuk tetap mempraktekan hidup dalam kekudusan, hidup yang tertuju pada perintah Allah.

Bagi kita mungkin melihat hukum dalam  Perjanjian lama  adalah sesuatu yang sudah ketinggalan jaman dan tidak tepat lagi untuk kita orang Kristen di abad ini, akan tetapi Yesus mengingatkan kita lewat bacaan hari ini bahwa Dia datang kedunia  bukan untuk mengapus hukum itu. Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Yesus secara tegas mengatakan bahwa Hukum yang diberikan oleh Allah lewat Musa tetap menjadi patokan bagi kita untuk mendekatkan diri pada perintah Allah. Yesus meringkas 613 hukum Musa menjadi dua hukum utama: mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati dan mengasihi sesama seperti dirmu sendiri” bukan mengurangi dan meniadakan hukum Musa. Sebaliknya, Yesus justru memperjelas dan membuat lebih mudah untuk dipahami dan dipraktekan. Hukum “kasih” Allah ini memanggil kita secara individu atau bersam-sama untuk didamaikan dengan Tuhan dan sesama kita. Hal ini bukan hanya ketika kita melanggar hukum Musa tetapi ketika kita gagal untuk  mempraktekan niai-nilai injil dalam hidup kita sehari-hari, menempatkan diri kita sebagai yang terbaik dan  melupakan Tuhan seta menyingkirkan orang lain yang sesungguhnya perlu kita perhatikan.

Lewat bacaan injil hari ini kita di ajak untuk mempraktekan hukum “kasih” Allah sebagai pedoman dalam hidup sebagai pribadi maupun kelompok. Mari kita membuka diri kita dihadapan Allah, memperbaharui hidup kita sebagai pengikuttNya dan membiarkan Tuhan sendiri memakai diri kita untuk memperbaharui seluruh hidup komunitas  kita. Mari kita berusaha menjadi seperti para muridNya menjadikan Yesus sebagai rabi dan mengikut apa yang diajarkan kepada kita.

Semoga dalam usaha keras kita menjadi murid yang baik, Yesus menghampiri kita dan berkata ”anda telah mematuhi hukum kasih” atau anda telah berada dalam jalan “Kasih

Menjadi berkat bagi orang lain

Menjadi berkat bagi orang lain

Renungan:  Selasa, 7 Juni 2016

Bacaan Injil: Mat. 5:13-16.

 

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Merenungkan Sabda Yesus hari ini, kita boleh merasa bangga bahwa  Yesus sunnguh memberikan kepercayaan kepada kita untuk menjadi tanda kasih dan sarana keselamatan bagi setiap orang yang kita jumpai. Yesus mengatakan ”kamu adalah garam dunia”. Yesus menunjukan peran penting kita sebagai pengikutNya untuk  menjadikan hidup orang lain lebih berarti.  Hidup kita tidak lain adalah menjadi agen, bumbu yang baik bagi sesama kita.  Nilai-nilai kristiani yang kita tawarkan sungguh dirasakan bahkan mempengaruhi hidup sesama. Dengan kata lain hidup kristiani kita mempunyai effek postif, membawa hidup orang lain semakin baik dan berarti.  Hidup nilai-nilai kristiani kita membawa perubahan dan pertumbuhan yang dalam diri  orang yang kita jumpai.

“Kamu adalah terang dunia”. Kita dipanggil tidak hanya untuk kekudusan diri kita sendiri, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan orang lain disekitar kita. Di tempat kerja kita bertemu dengan orang –orang yang tidak  mengenal Yesus. Tempat ini mungkin menjadi tempat yang effectif  untuk memberi kesaksian iman kita. Tentu kita tidak serta merta mewartakan Kristus tanpa melihat situasi yang tepat. Tentu menjadi resiko besar kalau kita tidak hati-hati dalam mewartakan kabar gembira Yesus.

Hal ini menjadi tantangan bagi kita dan mungkin timbul pertanyaan dalam diri kita bagaimana kita menjadi garam dan terang dunia di tempat kerja kita?  Jesus mengingatkan kita  bahwa terang  tidak hanya kita tunjukan dalam kata-kata saja, tetapi terlebih kesaksian lewat perbuatan-perbuatan baik kita. “Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Ketika hidup kita menjadi berkat bagi orang lain, kita menjadi garam dan terang  dimana saja kita berada.

Translate »