Transformasi Hati
Renungan: Jumat 10 Juni 2016
Bacaan Injil: Mat. 5:27-32
Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata, “Kalian telah mendengar sabda, ‘Jangan berzinah!’ Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Barangsiapa memandang seorang wanita dengan menginginkannya dia sudah berbuat zinah dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan dikau, cungkillah dan buanglah, karena lebih baik bagimu satu anggota badanmu binasa daripada badanmu seutuhnya dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tangan kananmu menyesatkan dikau, penggallah dan buanglah, karena lebih baik bagimu satu anggota badanmu binasa daripada dengan badanmu seutuhnya masuk neraka. Tetapi disabdakan juga, ‘Barangsiapa menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.’ Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, dia membuat isterinya berzinah. Dan barangsiapa kawin dengan wanita yang diceraikan, dia pun berbuat zinah.”
Perintah keenam dari sepuluh perintah Allah adalah “jangan berzinah”. Dalam masyarakat modern dimana kita berada, perintah Allah, “Jangan berzina” kelihatannya tidak diindahkan lagi. Dari media social, kita tahu hampir setiap hari ada berita tetang perselingkuhan, perceraian dan kekerasan sexual lainnya. Dalam sebuah study di US yang diterbikan di Jurnal “Computers in Human Behavior”, ditemukan adanya link antara pengguna media social dan penurunan tingkat kepuasan dalam perkawinan. Peneliti menemukan bahwa pengguna situs jaringan social berkorelasi negatif dengan kualitas perkawinan dan kebahagian dan secara positf adanya korelasi dengan pengalaman yang tidak baik dalam berelasi dan adanya niat untuk bercerai.
Perjanjian lama memahami perintah Allah yang keenam tidak berfokus pada pelanggaran kehendak Allah akan tujuan sexualitas. Perintah keenam lebih berfokus pada hak seorang laki-laki yang telah menikah atas istrinya. Seorang istri dianggap berzinah jika dia memiliki hubungan sexual dengan pria manapun apakah sudah menikah atau belum menikah. Sedangkan laki-laki yang sudah menikah dianggap sebagai pezinah ketika dia memiliki relasi dengan isti orang lain.
Yesus menginterpretasi perintah Allah ke enam ini sangat radikal dan dengan demikian melampaui serta memenuhi pemahaman perjanjian lama. Bagi Yesus solusi nyata dari masalah ini terletak pada transformasi hati. Solusi nyata dan bertahan bagi perzinahan dan kekerasan sexual lainya tidak terdapat hanya dalam protes untuk melawan praktek tersebut atau aturan-aturan hukum tentang pelanggaran sexual. Yesus lebih focus pada akar perzinahan yakni terletak pada napsu dalam hati manusia. “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.(Mrk 7:21-23)
Lewat bacaan injil hari ini Yesus mengajak kita untuk melihat secara jujur apa yang sedang bergejolak dalam hati kita. Dia mengingatkan kita untuk tidak begitu saja mengikuti perubahan budaya yang terjadi akan tetapi adanya perubahan pola pikir kita dalam menghadapi perubahan tersebut. Transformasi menurut Yesus dalam kontes ini melibatkan pengakuan yang mendalam bahwa kerinduan terdalam dalam hati kita, dimana sexualitas kita tidak pernah dipuaskan oleh sex genital, melainkan dipuaskan oleh kesetiaan dalam hubungan suami – istri, keintiman dan komunikasi yang sehat dengan orang yang kita cintai dan perhatian yang tulus lewat keberadaan kita yang menyejaterahkan orang lain disekitar kita.
Mari kita mohon Tuhan menjamah hati kita dengan cintaNya agar pemahanan cinta kita pun ditransformasikan menjadi lebih positif dan tidak sempit.