Browsed by
Month: July 2016

Menghasilkan Buah

Menghasilkan Buah

Rabu, 20 Juli 2016

Yeremia 1:1, 4-10
Mazmur 71
Matius 13:1-9

Bacaan Injil hari ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi anda semua. Penabur benih menjatuhkan benih ke berbagai macam tempat. Yang jatuh ke jalan langsung dimakan oleh burung, yang jatuh ke tanah berbatu tumbuh cepat tapi langsung mati karena akarnya tidak dalam, yang jatuh ke semak berduri mati terkena duri-duri, dan yang jatuh ke tanah yang subur berbuah melimpah. Hal yang langsung kita ingat ketika mendengar bacaan ini adalah bagaimana situasi batin kita dalam menyambut sabda Tuhan serupa dengan keadaan tanah yang kejatuhan benih. Kita berharap semoga kita bisa menjadi seperti tanah yang subur, di mana sabda Tuhan bisa tumbuh subur dalam diri kita dan menjadikan kita pengikut Kristus yang baik.

Hari ini saya ingin mengajak anda untuk merenungkan pesan yang lebih dalam. Kalau kita melihat bacaan dari Nabi Yeremia hari ini, diceritakan bagaimana ia diberi misi oleh Allah dari sejak ia menjadi janin dalam rahim ibunya. Kemudian Yeremia muda diberi kuasa untuk “mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.” Saya percaya kita semua pun diberi misi oleh Tuhan. Kita pun diberi kuasa untuk membinasakan atau menanam. Kualitas kita sebagai murid Kristus akan ditentukan oleh bagaimana kita menggunakan kuasa itu.

Mari kita kembali ke bacaan Injil. Perumpamaan benih yang jatuh tidak hanya untuk menguduskan diri kita sendiri, tapi juga menggambarkan bagaimana orang-orang lain di sekitar kita menanggapi sabda Tuhan. Benih yang jatuh di jalan dan langsung dimakan burung seperti sabda Tuhan yang jatuh di tengah orang-orang perkotaan yang sibuk dengan pekerjaan, hiburan, dan hal lain yang membuat mereka tidak bisa fokus. Bisakah kita menolong mereka supaya burung-burung godaan tidak mengganggu mereka dalam upaya mendengarkan sabda Tuhan?

Benih yang jatuh di tanah berbatu dan cepat mati nampak seperti mereka yang kelihatannya semangat menerima sabda Tuhan tapi cepat putus asa karena tidak berakar yang dalam. Gangguan sedikit membuat mereka kehilangan iman. Bisakah kita membantu untuk menambah “tanah” dalam hidup mereka supaya sabda Tuhan bisa berakar lebih dalam?

Benih yang jatuh ke semak berduri menggambarkan orang yang terpengaruh akan segala kejahatan dan ketidakadilan di dunia ini. Mereka menjadi pesimis dan tidak bisa percaya kalau Tuhan ada. Mereka bertanya, Tuhan macam apa membiarkan semua hal buruk di dunia ini terjadi? Dapatkah kita menyingkirkan duri-duri dalam hidup mereka dan benar-benar memberitakan Kabar Baik tentang karya penyelamatan Allah melalui Kristus?

Melalui jalan itulah benih sabda Tuhan yang jatuh dalam diri kita benar-benar menghasilkan buah, berlipat tigapuluh, enampuluh, atau seratus kali.

Torang Samua Basudara!

Torang Samua Basudara!

Selasa, 19 Juli 2016

Mikha 7:14-15, 18-20
Mazmur 85
Matius 12:46-50

Cara yang sering dipakai orang Indonesia ketika ditilang atau didenda adalah dengan mengklaim bahwa dia punya saudara pejabat atau tentara atau polisi, apalagi kalau pangkatnya lumayan tinggi. Maksudnya adalah bahwa dia tidak bisa diperlakukan seperti orang biasa, harus dengan perlakuan khusus. Inilah salah satu sisi gelap dari karakter kita yang persaudaraannya dan kekekeluargaannya kuat, tapi bisa disalahgunakan untuk mengambil jalan pintas atau bebas melanggar peraturan.

Mungkin pikiran semacam itu juga yang ada dalam benak ibu dan saudara Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Ketika Yesus sedang mengajar banyak orang, Maria dan beberapa orang saudara meminta Yesus untuk menemui mereka di luar. Mungkin mereka berpikir bahwa sudah seharusnya Yesus memperlakukan mereka secara khusus dengan langsung berhenti mengajar dan keluar menjumpai mereka.

Tapi apa yang terjadi? Yesus memutuskan untuk terus mengajar. Mungkin ini kedengaran ganjil bagi kita orang Timur, seolah-olah Yesus tidak menghormati ibunya dan saudaranya. Tapi alasan Yesus adalah bahwa semua orang yang melakukan kehendak Bapanya adalah ibunya dan saudara-saudarinya juga. Yesus bukannya tidak menghormati keluarga atau orang tuanya, tapi dia memperbesar lingkaran keluarganya, dia menghormati semua yang bertakwa kepada Bapa.

Sejak awal mulanya, Gereja tidak membeda-bedakan status anggotanya. Catatan-catatan sejarah membuktikan bahwa umat awal Gereja terdiri dari laki-laki dan perempuan, orang bebas dan para budak, Yahudi dan non-Yahudi. Di tengah masyarakat yang memperlakukan orang berbeda menurut status sosial, agama, atau kelaminnya, Gereja memperlakukan mereka sama, semua adalah saudara dalam Kristus (Galatia 3:28). Di budaya hidup orang Manado ada slogan yang terkenal: “Torang samua basudara” yang artinya, “Kita semua bersaudara.”

Tantangan untuk kita di jaman ini adalah mewujudkan persaudaraan itu, di dunia yang penuh kebencian di mana lebih gampang mengganggap orang lain sebagai musuh atau “pihak lain” yang kita tidak sudi untuk bergaul. Lebih mudah menciptakan tembok pemisah antara kita dan mereka yang tidak sepandangan dengan kita. Mampukah dan maukah kita melihat lebih dalam karya Tuhan dalam diri mereka sampai kita menyadari bahwa mereka pun sama dengan kita mencoba menjalankan kehendak Tuhan, walaupun tidak sempurna?

Gitu Aja Kok Repot

Gitu Aja Kok Repot

Senin, 18 Juli 2016

Mikha 6:1-4, 6-8
Mazmur 50
Matius 12:38-42

Masih ingat mendiang Gus Dur? Salah satu kalimatnya yang terkenal adalah, “Gitu aja kok repot!” Dia menjawab demikian kalau ditanya hal-hal yang kompleks atau pertanyaan yang berputar-putar. Jawabannya sering dipermasalahkan orang karena terlalu “nyeleneh” atau simplistik. Tapi di balik semua itu Gus Dur seperti ingin berpesan bahwa kita tidak perlu membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit kalau tidak perlu. Pesannya membawa angin segar dalam politik negara kita yang waktu itu carut marut di era reformasi yang masih baru.

Hari ini kita bisa mendengar bagaimana Nabi Mikha begitu kesalnya dengan tingkah laku bangsa Israel waktu itu. Rakyat kecil ditindas, pemerintah korupsi, para pedagang menipu pembeli, dan banyak lagi bentuk ketidakadilan lainnya. Kadang saya berpikir, situasi dunia kita tidak jauh beda dengan zaman itu.

Untuk mengatasi semua itu orang-orang Israel yang merasa taat pada agama berpaling pada ritual-ritual agama mereka. Mereka berpikir bahwa masalah mereka disebabkan karena Tuhan marah dan satu-satunya cara merubah keadaan adalah membuat sembah-sembahan pada Tuhan: dengan pergi ke tempat yang tinggi, dengan membakar lembu atau ribuan domba atau bahkan anak sulung setiap keluarga.

Tapi Tuhan berkata lain. Dia tidak menginginkan semua itu. Dia hanya ingin bangsa Israel mulai berlaku adil pada sesamanya, mencintai kebaikan, dan sama-sama menjalani hidup dengan kerendahan hati bersama Tuhan Allah mereka. Gitu aja kok repot!

Tapi kita tahu sendiri, hal-hal itu tidak semudah seperti kelihatannya. Tidak terlalu susah buat kita untuk berdoa, untuk ikut dalam persembahan Ekaristi di gereja secara rutin, atau pergi ziarah ke tempat-tempat suci. Tapi di luar itu sudahkah kita memperlakukan orang lain dengan adil, terutama para kaum dina seperti orang miskin, anak jalanan, pedagang asongan, pelayan toko atau restoran, buruh pabrik, pembantu rumah tangga kita, atau karyawan karyawati di tempat kita bekerja? Apakah demi kenyamanan dan profit kita jadi tidak peduli pada kesejahteraan hidup mereka?

Nah sekarang mungkin jadi kelihatan repot. Karena untuk semua itu diperlukan perubahan hati, atau bahasa kerennya dari pemerintahan Jokowi, revolusi mental. Tidak cukup hanya dengan tindakan eksternal saja. Semoga kita semua bisa mempunyai hati seperti yang disebut di Mazmur hari ini, hati yang lunak dan siap diubah saat kita betul-betul mendengarkan dan mematuhi sabda Allah.

Translate ยป