Torang Samua Basudara!
Selasa, 19 Juli 2016
Mikha 7:14-15, 18-20
Mazmur 85
Matius 12:46-50
Cara yang sering dipakai orang Indonesia ketika ditilang atau didenda adalah dengan mengklaim bahwa dia punya saudara pejabat atau tentara atau polisi, apalagi kalau pangkatnya lumayan tinggi. Maksudnya adalah bahwa dia tidak bisa diperlakukan seperti orang biasa, harus dengan perlakuan khusus. Inilah salah satu sisi gelap dari karakter kita yang persaudaraannya dan kekekeluargaannya kuat, tapi bisa disalahgunakan untuk mengambil jalan pintas atau bebas melanggar peraturan.
Mungkin pikiran semacam itu juga yang ada dalam benak ibu dan saudara Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Ketika Yesus sedang mengajar banyak orang, Maria dan beberapa orang saudara meminta Yesus untuk menemui mereka di luar. Mungkin mereka berpikir bahwa sudah seharusnya Yesus memperlakukan mereka secara khusus dengan langsung berhenti mengajar dan keluar menjumpai mereka.
Tapi apa yang terjadi? Yesus memutuskan untuk terus mengajar. Mungkin ini kedengaran ganjil bagi kita orang Timur, seolah-olah Yesus tidak menghormati ibunya dan saudaranya. Tapi alasan Yesus adalah bahwa semua orang yang melakukan kehendak Bapanya adalah ibunya dan saudara-saudarinya juga. Yesus bukannya tidak menghormati keluarga atau orang tuanya, tapi dia memperbesar lingkaran keluarganya, dia menghormati semua yang bertakwa kepada Bapa.
Sejak awal mulanya, Gereja tidak membeda-bedakan status anggotanya. Catatan-catatan sejarah membuktikan bahwa umat awal Gereja terdiri dari laki-laki dan perempuan, orang bebas dan para budak, Yahudi dan non-Yahudi. Di tengah masyarakat yang memperlakukan orang berbeda menurut status sosial, agama, atau kelaminnya, Gereja memperlakukan mereka sama, semua adalah saudara dalam Kristus (Galatia 3:28). Di budaya hidup orang Manado ada slogan yang terkenal: “Torang samua basudara” yang artinya, “Kita semua bersaudara.”
Tantangan untuk kita di jaman ini adalah mewujudkan persaudaraan itu, di dunia yang penuh kebencian di mana lebih gampang mengganggap orang lain sebagai musuh atau “pihak lain” yang kita tidak sudi untuk bergaul. Lebih mudah menciptakan tembok pemisah antara kita dan mereka yang tidak sepandangan dengan kita. Mampukah dan maukah kita melihat lebih dalam karya Tuhan dalam diri mereka sampai kita menyadari bahwa mereka pun sama dengan kita mencoba menjalankan kehendak Tuhan, walaupun tidak sempurna?