Browsed by
Month: August 2016

Engkau adalah Mesias, Anak Allah Yang Hidup

Engkau adalah Mesias, Anak Allah Yang Hidup

Kamis, 4 Agustus 2016

 

Injil: Matius 16:13-19  

Saya teringat kembali ketika saya melayani sebuah retret mini untuk orang muda Katolik di Paroki St. Kateri Tekakwitha di Banning dan Beaumont. Saya memulai retret dengan pertanyaan sederhana: “Siapakah Yesus?” Pelbagai macam jawaban diberikan oleh anak-anak tersebut. Setelah pertanyaan tersebut terjawab. Saya lanjutkan pertanyaan saya: “Coba kalian pikirkan secara mendalam dan ingat kembali pengalaman pribadimu, siapakah Yesus dalam pengalaman pribadimu? Bagaimana kamu merasakan Yesus menyentuh hidupmu dan mengubah haluan hidupmu menjadi lebih positif? Sekonyong-konyong mereka terdiam. Banyak di antara mereka yang mengakui bahwa Yesus yang mereka kenal hanyalah dari apa yang mereka dengarkan dari pastor, dari orang tua atau dari guru. Mereka tidak pernah merasakan sebuah pengalaman iman yang begitu mendalam bagaimana Yesus menyentuh hidup mereka.

Saudara/i yang terkasih, pertanyaan Yesus yang sama bisa pula ditujukan kepada kita: “Siapakah Yesus bagimu?” Kita mungkin punya versi resmi dari yang diajarkan Gereja kepada kita, yang ditanamkan orangtua pada benak kita, atau kita mungkin bisa ingat satu dua versi dari kotbah pastor-pastor yang kita kenal. Namun, yang paling utama untuk kita camkan adalah siapakah Yesus dalam kehidupan pribadi saya? Siapakah Yesus dalam keluarga saya? Apakah saya membiarkan Yesus menjamah hidup pribadi dan keluarga saya?

Tuhan Yesus memuji Petrus sebagai Batu karang karena jawaban personal yang lahir dari pengalaman pribadinya. Bagi Petrus, Yesus bukan hanya sebuah figur yang mesti diagung-agungkan atau seorang nabi yang dipuja-puji bukan pula sekedar seorang megabintang yang mesti disanjung-sanjung. Lebih dari itu semua, bagi Petrus, Yesus adalah Mesias, Putera Allah yang hidup. Yesus adalah mesias, Juru selamat dunia dan semesta. Yesus adalah batu karang pengharapan dan gunung batu keselamatan.

Ketika Petrus memberikan jawaban bahwa Yesus adalah mesias berdasarkan pengalaman pribadi-Nya maka Yesus pun memberikan julukan yang pantas baginya. Engkau adalah Simon Petrus, si batu karang. Jawaban Petrus yang tegas, spontan dan tanpa keraguan merupakan bukti bahwa imannya adalah iman yang personal dan mendalam. Petrus mengajak kita semua sebagai pengikut Kristus untuk senantiasa melihat Yesus sebagai mesias, sebagai batu karang pengharapan dan gunung batu keselamatan kita.

Iman kita akan semakin teguh dan kokoh bagaikan batu karang ketika Yesus kita tempatkan sebagai sentral dari kehidupan kita. Kata-Kata-Nya menjadi nasihat kehidupan kita. Kesaksian-Nya menjadi kesaksian kita pula. Amin.

Imanmu telah menyelamatkan engkau

Imanmu telah menyelamatkan engkau

Rabu, 3 Agustus 2016

 

Injil : Matius 15:21-28

 

Saya sangat menyukai jawaban perempuan Kanaan dalam Injil hari ini. Dia menjawab secara lugas dan terus-terang kepada Yesus. “Tuhan, bagaimanapun, anjing-anjing juga makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Dalam kalimat pertanyaan, rumusan ini dapat menjadi: “Bukankah anjing-anjing juga makan dari remah-remah yang dijatuhkan tuan rumah dari meja makan?”

Kalau si perempuan Kanaan adalah seorang pemanah, maka dia sebenarnya adalah seorang pemanah paling jitu yang menghujamkan anak panahnya langsung menuju jantung persoalan. Ketika Yesus mengatakan kepadanya bahwa Dia diutus hanya kepada Domba-Domba yang hilang dari bangsa Israel, si perempuan tidak kehilangan akal. Dia terus meratap: Tuhan, tolonglah aku. Bantu saya. Jangan biarkan saya menderita kehilangan anak saya. Sebuah kerinduan mendalam dari seorang ibu yang sungguh sayang kepada anaknya, yang tak mau membiarkan anaknya menderita dan mati. Ketika Yesus menjawab dengan sebuah perbandingan (yang menurut saya sangat sarkastis): “Tidak baiklah kalau roti yang harusnya diberi kepada anak lalu dibuang kepada anjing.”, si perempuan tidak tersinggung atau marah-marah atau kecewa. Dia tidak pula putus asa. Dengan jawaban terakhir yang sangat menyentuh sekaligus tajam, dia memberanikan diri menjawab untuk terakhir kalinya: “Tuhan, bagaimanapun, anjing-anjing juga makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Sebuah jawaban iman maha dahsyat yang lahir dari mulut perempuan hina sederhana Kanaan.

Dia tak peduli entahkah dia disamakan dengan anjing sekalipun. Baginya, Tuhan kalau memang saya ini anjing, tak apalah yang penting saya tetap mendapat sekedar remah-remah rahmat dari tangan kasih-Mu. Saya siap menjadi anjing yang menanti dengan rela setiap belas kasihan yang datang dari Tuhan. Saya tahu saya hanyalah seekor anjing yang tak bisa apa-apa tanpa kebaikan-Mu Tuhan. Tolonglah, bermurah hatilah. Remah-remah rahmat-Mu lebih dari cukup untukku dan anakku.

Itulah jawaban paling jujur dan eksistensial dari seorang wanita. Jawaban yang sangat jujur sarat dengan iman dan pengharapan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia berjalan sendirian dan menderita sendirian. Mintalah maka kamu akan mendapat. Carilah maka kamu akan menemukan. Ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Amin.

Ini Aku: Jangan Takut

Ini Aku: Jangan Takut

Selasa, 2 Agustus 2016

 

Dalam setiap badai kehidupan kita, dalam setiap tantangan yang datang silih berganti, sering terjadi bahwa kita menjadi kalut. Pikiran kita dikabuti oleh beratnya tantangan. Hati kita menjadi murung dan kelabu. Kita takut sebagaimana para murid dalam injil hari ini ketakutan ketika badai menghantam perahu kecil mereka. Bagi kita, Tuhan kelihatannya jauh dan berjarak. Kita merasa seakan Tuhan tidak kita temukan dalam badai kehidupan itu dan seperti para murid kita menjadi putus asa dan kehilangan harapan.

Para murid yang disuruh Yesus mendahului Dia ke tepi pantai yang lain, di bawah pimpinan Petrus yang adalah nelayan berpengalaman tentu tahu bagaimana menaklukkan ganasnya lautan. Setidak-tidaknya itulah yang mereka percaya. Namun ketika mereka menghadapi langsungnya keras dan ganasnya badai tersebut mereka sadar bahwa kemampuan dan kepandaian manusia saja tidaklah cukup. Pengalaman Petrus mengatakan bahwa badai yang sedang mereka hadapi itu jauh melampaui setiap kemampuan manusiawi mereka untuk mengatasinya. Mereka berada dalam situasi telur di ujung tanduk. Maju kena, mundur kena. Tidak ada jalan pulang, no way back.

Yesus tidak bersama mereka saat itu, namun Dia tetap mengamati mereka dalam doa-doa-Nya. Yesus tidak bersama mereka secara fisik tetapi Dia tidak meninggalkan mereka menggapai harapan dalam kehampaan. Dia datang menghampiri mereka. Dia tidak meninggalkan mereka menghadapi bahaya seorang diri. Dia mendukung mereka. Dia hadir dan memberi harapan.

Mengikuti Yesus itu tidak pernah tanpa tantangan. Tantangan pasti selalu datang. Kadang-kadang tantangan itu mengecilkan hati kita dan mengerdilkan harapan kita. Kita menjadi ragu dan canggung. Kita tidak percaya diri. Bagaimanapun, kita belajar dari injil hari ini bahwa ketakutan dan ketidakpercayaan diri akan berubah menjadi keberanian, harapan dan kepercayaan jika kita melawan ketakutan tersebut dengan iman yang teguh dan kokoh kepada Yesus.

Tuhan Yesus tetap menatap kita dengan dengan mata kasih yang jauh melebihi batas kekurangan dan kelemahan kita, lebih-lebih dalam moment pencobaan dan kesulitan yang kita hadapi. Yesus memastikan agar kita tidak perlu berubah menjadi pengecut dan penakut kalau kita sungguh percaya bahwa Dia ada di pihak kita dan kalau kita tetap tinggal dalam kasih-Nya.

Translate »