Browsed by
Month: April 2017

Renungan Jumat Agung

Renungan Jumat Agung

Renungan Jumat Agung

Bacaan-bacaan: Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19:42

Penderitaan dan kematian Yesus, yang mana orang-orang Kristen memperingatinya pada hari ini, Jumat Agung, sepertinya telah dicabut dari kehidupan sehari-hari. Hampir mustahil membayangkan kita semua pernah disalibkan. (meskipun kita mendengar bahwa dibelahan dunia yang lain tidak sedikit orang Kristen yang dianiaya, dibom, diusir, dihukum, dan dibunuh). Apa yang dapat diajarkan oleh kisah sengsara dan kematian Yesus yang direkam oleh Kabar Gembira 2000 tahun yang lalu, kepada hidup kita sekarang?

Penderitaan atau kesengsaraan adalah bagian dari hidup kita. Mungkin ada orang yang berpendapat bahwa penderitaan adalah ilusi, hanya ada di dalam otak. Ada tidak sedikit orang mematikan rasa sakit dari derita itu dengan minum alkohol secara berlebihan atau minum obat-obat penenang baik yang dibeli dari resep dokter maupun yang tidak dari resep dokter, seperti obat-obatan jenis narkoba. Jumat Agung mengajarkan kepada kita bahwa penderitaan itu ada dan punya makna sejauh bukan karena kesalahan kita sendiri yang membuat kita sengsara. Yesus sendiri merasakan badannya disakiti dengan keji bukan karena kesalahanNya. Sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana rasa sakit ketika disalib. Bahkan sebelum hari Jumat Agung itu, Yesus sudah mengalami sengsara secara fisik. Jadi penderitaan fisik yang dialami Yesus adalah ajaran bagi kita bahwa penderitaan sehari-hari karena kita mengikuti ajaran Kristus yakni mengorbankan diri demi yang lain; keluarga, masyarakat, dan gereja, adalah bagian integral dari hidup kekristenan kita.

Yesus mengalami juga penderitaan secara mental spiritual. Ia merasakan ditinggalkan oleh BapaNya. Ia melihat sendiri bagaimana Yudas Iskariot mengkhianatiNya demi uang; Petrus menyangkal kenal diriNya sampai tiga kali; para Rasul tercerai berai- hanya Petrus, Yohanes dan beberapa gelintir muridNya termasuk wanita-wanita, dan tentu IbuNya yang bersedia mendampingiNya sampai wafatNya. Dalam keadaan ditinggalkan seperti ini Yesus pun mengeluh-kesah. Ia mengatakan kepada BapaNya, mengapa BapaNya membiarkan Ia harus menderita. Pada akhirnya Yesus berkata, “Sudah selesai”. Ungkapan ini menggambarkan juga rasa kelegaan walaupun mungkin tersirat dalam batinNya sedikit kekecewaan.

Namun Yesus tidak ingin mati dalam keadaan kecewa, marah, pahit dan dendam. Terbukti ia berdoa supaya Bapa mengampuni orang-orang yang menganiaya Dia sebab mereka, orang-orang yang pada hari Minggu Palma memuji dan mengelu-elukan Dia sebagai raja, orang-orang yang sama itu sekarang berteriak-teriak supaya Dia dihukum mati, tidak tahu apa yang mereka perbuat. Sebenarnya mereka tahu apa yang mereka buat, yakni menghukum mati orang yang tidak bersalah. Di mata Yesus orang-orang itu bagaikan anak-anak yang tidak tahu betapa besar cinta orang tuanya kepada mereka namun mereka menyakiti orang tua mereka sendiri. Yesus berdoa kepada Bapa agar Bapa mengampuni orang-orang yang tidak tahu betapa besar, betapa dalam, betapa panjangnya cinta Yesus kepada mereka.

Yesus tidak ingin mati dalam kepahitan dan dendam, maka ia mengampuni dan mengampuni. Apakah kita ingin mati dalam kemarahan dan kekecewaan? Marilah kita mulai dengan mengambil keputusan untuk mengampuni mereka yang tidak tahu betapa besar, dalam, dan panjang cinta kita kepada mereka namun kita masih juga dikhianati, dibenci, disingkirkan, dan lain sebagainya.

Penderitaan dan kematian Yesus bukanlah yang hal terakhir. Jumat Agung bukanlah yang terakhir. Kisah sengsara bukanlah hanya tetang Yesus yang secara keji dihukum mati. Ini adalah kisah Anak Manusia

yang dengan taat karena cinta melaksanakan kehendak BapaNya. Percaya bahwa sesuatu yang baru akan hadir setelah persembahan diriNya ini dan menerima kehidupan baru. BapaNya membangkitkan Yesus dari kematian untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Yesus telah menang.

KemenanganNya dalah anugerah bagi kita karena dosa-dosa kita diampuni berkat wafat dan kebangkitanNya. Marilah kita senantiasa memperbaharui diri, hidup dalam cahaya terang kebangkitan Kristus dengan setia dan tekun berdoa dan melaksanakan amanat-amanat Yesus untuk menjalani hidup sesuai nilai-nilai moral yang Ia ajarkan dan saling mencintai. Mencintai termasuk mencintai orang-orang yang memusuhi kita karena kita pengikut Kristus.

Selamat Paskah.

Renungan Rabu dalam Pekan Suci (12 April 2017)

Renungan Rabu dalam Pekan Suci (12 April 2017)

Renungan Rabu dalam Pekan Suci (12 April 2017)

Bacaan-bacaan: Yes 50:4-9a; Mat 26:14-25

Yudas Iskariot telah mengambil keputusan akhir untuk mengkianati Yesus dengan sejumlah uang yang telah dibayar lunas sebelum penangkapan terhadap Yesus terlaksana. Sesudah menerima sejumlah uang dari pemimpin agama, ia masih bersama Yesus dan para Rasul dalam perjamuan terakhir. Dalam kesempatan itu Yesus menyebutkan tetang pengkhianatan terhadap dirinya dan mengingatkan si pengkhianat bahwa terkutuklah ia yang akan mengkhianatiNya. Lebih baik bagi orang itu untuk tidak pernah dilahirkan. Dengan kalimat yang keras ini semestinya orang menjadi sadar betapa seriusnya pengkhianatan itu. Namun Yudas menolak untuk mengakhiri rencana pengkhianatan terhadap tuannya. Kegagalannya merupakan akumulasi sifat ketidakjujurannya dan tidak terkontrolnya nafsu cintanya akan uang yang mengalahkan cinta kepada Tuhannya.

Kita sebagai orang Kristen kita pun memiliki kelemahan dalam mengelola hidup kita terutama berhadapan dengan uang. Menyingkirkan Tuhan dari uang akan membawa malapetaka. Kita tentunya juga tidak bersikap naif dengan mengatakan bahwa kita tidak membutuhkan uang. Di lain pihak Injil mengajarkan bahwa kita tidak bisa mengabdi pada dua tuan: Allah dan Mamon. Kita tidak boleh mencintai uang dan mengkhianati Tuhan. Kita mempergunakan uang untuk mencintai Tuhan. Kita sadar bahwa uang yang kita miliki bukanlah uang kita melainkan uang milik Tuhan. Segala sesuatu yang kita miliki adalah milik Allah [lih. 1 Taw 29:16].

Kepada kita juga diajarkan agar kita mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan [lih. Ul 6:5]. Dengan segenap kekuatan berarti dengan kekuatan fisik, mental, uang, waktu, ide-ide, dan lain sebagainya. Mencintai Tuhan berarti mencintai, membantu, memperhatikan, dan merawat mereka yang lemah [lih. Mat 25:31-46]. Yudas Iskariot telah memilih untuk mementingkan kebutuhan yang tak terkontrol akan cinta uang dalam dirinya sebagai sesuatu yang lebih penting daripada mencintai Tuhannya.

Kita hidup di dalam dunia dan budaya sekuler. Budaya sekuler memberi ruang gerak kebebasan tak terbatas. Kebebasan yang sebenarnya berasal dari ajaran injil telah dipakai oleh dunia sekuler sebagai senjata untuk menyerang budaya Kristen. Kebebasan sebagai nilai memiliki induknya dari ajaran Injil. Namun budaya sekuler karena “belum dewasa” dalam mengunyah nilai kebebasan, mempergunakannya tanpa memikirkan akibatnya jauh ke depan. Dengan cinta akan kebebasan akan uang-memproduksi dan menggunakan-, budaya sekuler memaksa umat manusia mencarinya sebagai satu-satunya yang paling berharga yang harus dimiliki sebelum mati tanpa mengindahkan nilai-nilai manusiawi yang lain seperti solidaritas kepada orang-orang miskin.

Kita tidak perlu memerangi dan mengisolasi budaya sekuler karena kita orang Kristen. Kita harus sadar bahwa budaya sekuler dengan kebebasannya itu sebenarnya berasal dari Injil yakni misteri penderitaan dan kebangkitan Kristus yang membebaskan umat manusia dari dosa. Kita tidak mengatakan budaya sekuler sebagai kafir-seperti orang-orang Taliban atau ISIS-tidak. Karena kita pun memakai produk-produk budaya sekuler seperti mobil, handphone, dan lain sebagainya. Yang perlu kita lakukan adalah berjalan bersama dan menuntun budaya sekuler sebagai anak dari budaya Kristen menuju keselamatan. Untuk itu dibutuhkan tuntunan ajaran moral dan meyakinkan terus-menerus akan pentingnya membawa kebebasan untuk mencintai Tuhan dan sesama yang malang dan miskin.

Misi kita sebagai orang Kristen atau Gereja Katolik dewasa ini ke dalam dan di dalam budaya sekuler haruslah menunjukkan solidaritas kepada orang miskin, lemah, dan yang mudah pecah. Misi kita ke dan dalam dunia sekuler yang dipenuhi dengan luka-luka, kemarahan, kebencian, kecemburuan, ketidaksetiaan, ketidakadilan, penolakan, kepahitan, pembunuhan, dan perang adalah mewartakan dimanapun nilai-nilai pengampunan, perdamaian dan penyembuhan dari Allah.

Renungan Selasa dalam Pekan Suci (11 April 2017)

Renungan Selasa dalam Pekan Suci (11 April 2017)

Renungan Selasa dalam Pekan Suci (11 April 2017)

Bacaan-bacaan: Yes 49:1-6; Yoh 13: 21-33; 36-38

Apa yang menjadi masalah dalam kehidupan kerohanian kita bukanlah kelemahan dan dosa kita, melainkan tindakan penyesalan yang kuat, mendalam, dan jujur. Apa yang menjadi masalah di dalam hubungan kita dengan Tuhan bukanlah kelemahan kita melainkan sikap rasionalisasi, ketidakjujuran, kebohongan, dan kekerasan hati ketika kita berhadapan dengan kebenaran.

Tentu kisah tentang anak yang hilang, bapa yang baik hati, dan anak sulung, dalam kitab suci [Luk 15:11-32] sudah sangat akrab dengan hati kita. Anak yang lebih muda itu mengalami kekecewaan hidup sampai pada puncaknya, dengan perasaan malu namun ditopang dengan penyesalan yang kuat, mendalam, dan jujur-bersikap realistis bahwa ia tidak dapat hidup bahagia tanpa naungan kasih bapanya-ia kembali bertobat pada bapanya yang baik hati. Bapanya yang baik hati itu pun berlari menyambut kedatangan anaknya yang hilang. Kelemahan dan dosa bukanlah yang menjadi masalah-semua orang tidak bisa lepas dari kelemahan dan dosa-masalahnya beranikah kita dengan jujur dan penyesalan yang mendalam dan kuat mohon ampun kepada Tuhan dan kembali ke rumahNya.

Sering kali kita tidak bisa melakukan penyesalan yang jujur dan mendalam dengan bebagai macam alasan yang dibuat-buat dan dirasionalisasi-dicari-cari alasan yang nampaknya masuk akal- yang pada akhirnya menyeret kita pada situasi dimana tidak terjadi penyesalan yang mendalam dan jujur. Kebohongan terus menerus kita lakukan. Hati kita menjadi keras dan pada akhirnya menolak tawaran kasih berupa pengampunan dosa-dalam sakramen pengakuan dosa.

Dalam Injil yang dibacakan hari ini kita mendengar tentang Yudas Iskariot dan Simon Petrus. Yang pertama mengkhiati Yesus dengan ciuman dan uang; yang kedua mengkhianati Yesus dengan penyangkalan kalau dia kenal Yesus sebanyak tiga kali. Ungkapan tiga kali adalah ungkapan yang menggambarkan kesempurnaan. Sempurna sudah pengkhiatan Simon Petrus kepada Yesus. Dari Injil kita mengetahui bagaimanakah akhir hidup mereka berdua. Yudas Iskariot memilih mengakhiri hidupnya dengan tragis-bunuh diri-, sedangkan Simon Petrus menyesali dengan mendalam, jujur, dan malu. Pada akhirnya Simon Petrus mati seperti Yesus Kristus.

Menarik sekali apa yang dikatakan dalam Injil hari ini bahwa Yesus melihat-dan hanya Yesus yang melihat- Setan memasuki atau merasuki diri Yudas Iskariot [Yoh 13:27a]. Pernah ada seorang mahasiswi yang cerdas mengatakan pada saya bahwa itu Setan yang berkhianat bukan Yudas Iskariot. Yudas Iskariot tidak bersalah. Ia bunuh diri karena menderita depressi yang sudah akut. Mereka yang menderita depressi akut lalu bunuh diri berada dalam situasi tidak bebas melakukan tindakan bunuh diri itu. Menarik sekali pendapat semacam itu.

Kehadiran Setan dalam hidup kita selalu merupakan sebuah misteri. Kendati kita tidak bisa melihat Setan namun kita bisa melihat hasil tindakan manusia yang dipengaruhi atau bahkan dituntun oleh Setan. Apakah dengan demikian manusia bisa cuci tangan-seperti Pontius Pilatus- dari tanggung jawab atas perbuatannya? Saya kira tidak bisa. Kita memiliki tanggung jawab atas perbuatan-perbuatan kita. Kita sadar bahwa semua perbuatan jahat tidak berasal dari Tuhan melainkan dari pengaruh Setan. Dan kita tahu bahwa di hadapan kuasa Tuhan kekuatan pengaruh Setan akan luluh berantakan.

Tanggung jawab kita adalah memiliki pertobatan dengan penyesalan yang kuat, jujur, dan mendalam. Meskipun menanggung perasaan malu kita diharapkan untuk berani datang pada sakramen pengakuan

dosa. Marilah kita dalam Pekan Suci ini sungguh menyesali dosa-dosa kita dan kembali pada Tuhan melalui kehadiran aktif dalam perayaan Liturgi Pekas Suci ini. Bukan hanya hadir secara fisik namun dengan hati yang sungguh mendalam dan jujur dalam penyesalan atas dosa-dosa kita.

Romo Ardi , sang Penyanyi yang telah kembali ke rumah Bapa

Romo Ardi , sang Penyanyi yang telah kembali ke rumah Bapa

Romo Ardi sang penyanyi yang telah dipanggil Bapa di Surga , meninggalkan kenangan yang sangat indah buat kita semua , Selamat Jalan Romo… nyanyikan lagu damai untuk kami umatmu terutama saat dunia yang sedang kacau balau , berkidunglah bersama malaikat2 disurga …..( simak dua cuplikan dibawah ini)

 

Translate »