Renungan Jumat Agung

Renungan Jumat Agung

Renungan Jumat Agung

Bacaan-bacaan: Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19:42

Penderitaan dan kematian Yesus, yang mana orang-orang Kristen memperingatinya pada hari ini, Jumat Agung, sepertinya telah dicabut dari kehidupan sehari-hari. Hampir mustahil membayangkan kita semua pernah disalibkan. (meskipun kita mendengar bahwa dibelahan dunia yang lain tidak sedikit orang Kristen yang dianiaya, dibom, diusir, dihukum, dan dibunuh). Apa yang dapat diajarkan oleh kisah sengsara dan kematian Yesus yang direkam oleh Kabar Gembira 2000 tahun yang lalu, kepada hidup kita sekarang?

Penderitaan atau kesengsaraan adalah bagian dari hidup kita. Mungkin ada orang yang berpendapat bahwa penderitaan adalah ilusi, hanya ada di dalam otak. Ada tidak sedikit orang mematikan rasa sakit dari derita itu dengan minum alkohol secara berlebihan atau minum obat-obat penenang baik yang dibeli dari resep dokter maupun yang tidak dari resep dokter, seperti obat-obatan jenis narkoba. Jumat Agung mengajarkan kepada kita bahwa penderitaan itu ada dan punya makna sejauh bukan karena kesalahan kita sendiri yang membuat kita sengsara. Yesus sendiri merasakan badannya disakiti dengan keji bukan karena kesalahanNya. Sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana rasa sakit ketika disalib. Bahkan sebelum hari Jumat Agung itu, Yesus sudah mengalami sengsara secara fisik. Jadi penderitaan fisik yang dialami Yesus adalah ajaran bagi kita bahwa penderitaan sehari-hari karena kita mengikuti ajaran Kristus yakni mengorbankan diri demi yang lain; keluarga, masyarakat, dan gereja, adalah bagian integral dari hidup kekristenan kita.

Yesus mengalami juga penderitaan secara mental spiritual. Ia merasakan ditinggalkan oleh BapaNya. Ia melihat sendiri bagaimana Yudas Iskariot mengkhianatiNya demi uang; Petrus menyangkal kenal diriNya sampai tiga kali; para Rasul tercerai berai- hanya Petrus, Yohanes dan beberapa gelintir muridNya termasuk wanita-wanita, dan tentu IbuNya yang bersedia mendampingiNya sampai wafatNya. Dalam keadaan ditinggalkan seperti ini Yesus pun mengeluh-kesah. Ia mengatakan kepada BapaNya, mengapa BapaNya membiarkan Ia harus menderita. Pada akhirnya Yesus berkata, “Sudah selesai”. Ungkapan ini menggambarkan juga rasa kelegaan walaupun mungkin tersirat dalam batinNya sedikit kekecewaan.

Namun Yesus tidak ingin mati dalam keadaan kecewa, marah, pahit dan dendam. Terbukti ia berdoa supaya Bapa mengampuni orang-orang yang menganiaya Dia sebab mereka, orang-orang yang pada hari Minggu Palma memuji dan mengelu-elukan Dia sebagai raja, orang-orang yang sama itu sekarang berteriak-teriak supaya Dia dihukum mati, tidak tahu apa yang mereka perbuat. Sebenarnya mereka tahu apa yang mereka buat, yakni menghukum mati orang yang tidak bersalah. Di mata Yesus orang-orang itu bagaikan anak-anak yang tidak tahu betapa besar cinta orang tuanya kepada mereka namun mereka menyakiti orang tua mereka sendiri. Yesus berdoa kepada Bapa agar Bapa mengampuni orang-orang yang tidak tahu betapa besar, betapa dalam, betapa panjangnya cinta Yesus kepada mereka.

Yesus tidak ingin mati dalam kepahitan dan dendam, maka ia mengampuni dan mengampuni. Apakah kita ingin mati dalam kemarahan dan kekecewaan? Marilah kita mulai dengan mengambil keputusan untuk mengampuni mereka yang tidak tahu betapa besar, dalam, dan panjang cinta kita kepada mereka namun kita masih juga dikhianati, dibenci, disingkirkan, dan lain sebagainya.

Penderitaan dan kematian Yesus bukanlah yang hal terakhir. Jumat Agung bukanlah yang terakhir. Kisah sengsara bukanlah hanya tetang Yesus yang secara keji dihukum mati. Ini adalah kisah Anak Manusia

yang dengan taat karena cinta melaksanakan kehendak BapaNya. Percaya bahwa sesuatu yang baru akan hadir setelah persembahan diriNya ini dan menerima kehidupan baru. BapaNya membangkitkan Yesus dari kematian untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Yesus telah menang.

KemenanganNya dalah anugerah bagi kita karena dosa-dosa kita diampuni berkat wafat dan kebangkitanNya. Marilah kita senantiasa memperbaharui diri, hidup dalam cahaya terang kebangkitan Kristus dengan setia dan tekun berdoa dan melaksanakan amanat-amanat Yesus untuk menjalani hidup sesuai nilai-nilai moral yang Ia ajarkan dan saling mencintai. Mencintai termasuk mencintai orang-orang yang memusuhi kita karena kita pengikut Kristus.

Selamat Paskah.

Comments are closed.
Translate »