Browsed by
Month: October 2017

Santo Simon dan Yudas Tadeus

Santo Simon dan Yudas Tadeus

Santo Simon dan Yudas Tadeus

Bacaan: Efesus 2: 19-22; Lukas 6: 12-19

 

Tidak banyak yang diketahui tentang dua orang kudus yang pesta kita rayakan hari ini. Santo Simon biasa dipanggil “orang Zelot”,  karena semangatnya untuk kemerdekaan Yahudi sebelum dia dipanggil oleh Yesus. Yudas atau Tadeus adalah penulis surat di Perjanjian Baru di mana dia memperingatkan orang-orang Kristen untuk tidak melakukan pengajaran palsu dan imoralitas. Dia juga dihormati sebagai santo pelindung bagi “permohonan yang mustahil”

Sumber-sumber tradisional mengatakan bahwa keduanya bersama-sama menjalankan karya misinya di Persia dan di sanalah mereka menjadi martir. Keduanya juga mengisahkan sesuatu tentang orang-orang yang dipilih Yesus untuk menjadi murid-murid-Nya. Keduanya, (dan juga para rasul lainnya) adalah orang-orang yang tidak menonjol dalam masyarakat dan juga dari latar belakang yang sangat biasa. Tapi keduanya dipakai untuk menjadi bagian dalam rencana karya keselamatan Allah. Keduanya mempunyai ketekunan yang luar biasa dalam mencintai dan mewartakan kabar sukacita Tuhan Yesus Kristus. Melalui hidup dan karya pelayanan mereka, mereka juga menjadi saluran rahmat Tuhan bagi yang merindukan kasih serta pengampunan Allah. Kasih dan pengampunan Allah ini terutama ditujukan kepada semua orang yang merindukan pertolongan Tuhan atas masalah-masalah dalam kehidupan mereka yang nampak sangat berat dan tak ada harapan  serta permohonan-permohonan yang kelihatannya mustahil.

Kadangkala kita berpikir bahwa kita ini adalah orang-orang yang tidak penting, orang kebanyakan, orang yang tidak mempunyai pengaruh apa pun dan oleh karena itu kita berpikir bahwa kita tidak termasuk dalam bagian dari rencana karya keselamatan Allah. Tetapi marilah kita memohon doa kepada St. Simon dan St. Yudas Tadeus agar kita dapat menemukan tujuan hidup kita dan juga peran atau bagian kita dalam rencana keselamatan Allah. Kita mungkin berpikir bahwa hidup kita kurang berarti bagi sesama, kita mungkin merasa tidak mempunyai apa-apa untuk dibagikan kepada Allah dan sesama, namun hal ini tidak berarti bahwa Tuhan tidak dapat memakai kita untuk kepanjangan tangan-Nya. Sebab kita percaya bahwa Tuhan mampu mengubah segala sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. Karena dengan Tuhan, segalanya dan setiap orang adalah mungkin. With God, everything and everyone is possible.

Jumat Pekan Biasa XXIX

Jumat Pekan Biasa XXIX

Jumat Pekan Biasa XXIX

Bacaan: Roma 7:18-25; Lukas 12:54-59

 

Banyak orang di sekitar kita yang hidup hanya untuk “hari ini” dan jarang mau menghadapi masalah kehidupannya. Mereka menjalani hidup asal menjalani saja, tanpa ada pemaknaan. Tipe orang macam demikian oleh Yesus disebut orang bodoh karena tidak mampu menilai jaman. Kemampuan dalam menilai jaman, seperti yang dimaksudkan oleh Yesus ini akan membuat orang dapat bertindak dengan tepat dan bijaksana. Kemampuan ini dianggap penting justru karena jaman terus berubah dan berkembang.

Yesus sangat prihatin dengan orang-orang sejaman-Nya yang “pura-pura” tidak melihat tanda-tanda yang dikerjakan-Nya selama ini. Mereka sebenarnya mempunyai kemampuan untuk melihat tanda-tanda alam. Itulah sebabnya Yesus berkata: “Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai jaman ini??” Dengan pernyataan ini, Yesus menegaskan bahwa sebenarnya mereka telah bergaul, mengamat-amati atau bahkan telah menyelidiki hidup Yesus, namun mereka belum juga membuka hati untuk percaya dan menerima kebenaran yang diwartakan Yesus. Inilah yang menjadi keprihatinan Yesus.

Melalui Injil hari ini, kita diajak untuk menjadi pribadi yang jujur dan selalu membuka diri terhadap kebaikan Allah yang nyata dalam diri Yesus. Kejujuran dan keterbukaan justru akan membuat kita belajar menghadapi kenyataan hidup, dan dengan demikian kita akan menjadi manusia yang dewasa dan bijaksana. Kualitas hidup macam ini akan menghancurkan kekerasan hati dan membuang jauh sikap munafik atau kepura-puraan. Marilah kita memohon agar kita mempunyai kepekaan untuk menilai jaman. Konkritnya: merenungkan dan menerima kebenaran kabar gembira yang dibawa Yesus dalam hidup kita. Dengan demikian, kita masing-masing akan dimampukan untuk menjadi perpanjangan tangan dan saluran berkat Allah bagi sesama kita.

Kamis Pekan Biasa XXIX

Kamis Pekan Biasa XXIX

Kamis Pekan Biasa XXIX

Bacaan: Roma 6:19-23; Lukas 12:49-53

 

Sabda Yesus dalam bacaan Injil hari ini terdengar ekstrim bagi kita yang mendengarnya. “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa aku harapkan, api itu selalu menyala!” ay 49. Apa kira-kira yang dimaksudkan dengan “API” oleh Yesus?? Yesus memaksudkan API itu sebagai semangat baru. Yesus menghendaki agar semangat baru itu membakar dan menghanguskan cara hidup lama yang menghambat perkembangan hidup dan iman seseorang. Dalam hal ini, api yang dilemparkan oleh Yesus itu telah menyala dan menimbulkan reaksi keras dari orang Farisi dan Ahli Taurat yang nota bene menjadi penyebar cara hidup lama. Mereka kebakaran jenggot karena kegelapan dan kemunafikan hidup mereka terkena terang dari api Yesus. Kehadiran dan ajaran Yesus menjadi tanda perbantahan antara pengikut semangat lama dan semangat baru. Maka dalam konteks ini, sabda Yesus berikut ini menjadi mudah untuk kita pahami, “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan” ay 51. Di sini ditegaskan bahwa damai yang ditawarkan oleh Yesus berbeda dengan damai yang disodorkan oleh dunia. Dalam pengertian dunia “damai” itu bisa dibeli. Contohnya: Orang dibungkam dengan uang atau kekerasan supaya tidak menyuarakan keadilan. Memang, kedamaian bisa terjadi dengan cara itu. Akan tetapi, kedamaian tersebut bersifat semu. Kedamaian yang dikehendaki Yesus adalah suasana hidup yang dipenuhi dengan kejujuran dan keberanian untuk menghayati kebenaran. Hidup dengan cara demikian tidaklah mudah. Untuk itu, para pendengar sabda Yesus ini diajak memikirkan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Yesus. Mereka ditantang untuk bersikap tegas yaitu: memilih dan menghayati sabda Yesus dalam hidupnya atau menolaknya. Semangat baru yang dibawa oleh Tuhan Yesus membawa konsekuensi yang tidak ringan. Keputusan diserahkan kepada kita semua: mau berjuang untuk menghayati cara hidup baru ataukah tetap tinggal dalam cara hidup yang lama?? Semoga Tuhan menuntun kita ke dalam terangNya.

Rabu Pekan Biasa XXIX

Rabu Pekan Biasa XXIX

Rabu Pekan Biasa XXIX

Bacaan: Roma 6:12-18; Lukas 12:39-48

 

Beberapa filsuf (ahli pikir) Yunani memandang tubuh manusia sebagai hal yang negative karena tubuh itu memenjarakan jiwa yang hendak bersatu dengan yang Ilahi. Mereka menilai tubuh itu hina, kotor dan dosa sehingga manusia harus segera membebaskan jiwanya dari pemenjaraan di dalam Tubuh. Tak heran bila pada abad-abad pertama banyak pertapa yang menyiksa tubuhnya sendiri supaya cepat mati, yang artinya membebaskan jiwanya untuk bersatu dengan Allah. Namun bagi kita orang Kristiani, tubuh kita bukan bagian yang harus kita benci, direndahkan dan dianggap sebagai sumber dosa. Memang, Tubuh kita dapat jatuh dan diperbudak oleh dosa sehingga menjauhkan kita dari Allah. Untuk itulah, tubuh kita telah dibebaskan dan dibeli dengan harga yang mahal oleh Kristus, yaitu dengan kematianNya. Tubuh kita yang telah dibebaskan itu, seterusnya hanya digerakkan oleh Roh Kudus dan dijadikan alat untuk mengabdi kepada kebenaran atau hal-hal yang baik. Bagi kita umat beriman, Tubuh kita adalah Bait Roh Kudus, dimana Roh Kudus diam dalam diri kita sehingga kita bisa memuliakan Allah dengan Tubuh kita.

Sebagai umat kristiani, yang telah ditebus Tuhan, kita harus menerima dan menghargai tubuh kita sebagai “saudara/i sepengabdian” yang perlu kita rawat dan pelihara sebaik-baiknya. Oleh karena itu, marilah kita mencintai Tuhan dan sesama kita dengan tubuh kita bukan hanya di dalam batin atau budi kita saja. Maksudnya, kita menggunakan tubuh kita untuk membantu dan melayani sesama kita sebab ketika kita menghargai dan memanusiakan orang lain, sama artinya kita memuliakan dan memuji Allah dalam sesama.

Maka dari itu, St. Paulus dalam bacaan pertama hari ini mengajak kita tidak hanya menjauhkan tubuh kita dari dosa atau pencemaran, tetapi lebih dari itu, kita diajak menghormati dan menggunakan tubuh kita untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama. Semoga rahmat Tuhan membantu kita untuk menyadari bahwa tubuh kita adalah Bait Roh Kudus, dan kita didorong menggunakan Tubuh kita untuk memuliakan Allah dan melayani sesama dengan sungguh. Tuhan memberkati!!

Selasa Pekan Biasa XXIX

Selasa Pekan Biasa XXIX

Selasa Pekan Biasa XXIX

Bacaan: Roma 5:12, 15b, 17-19, 20b-21; Lukas 12:35-38

 

Dalam hidup kita sehari-hari, mungkin kita pernah berjumpa dengan orang yang “pekerjaan”nya atau “hobby”nya hanya mengeluh. Apa saja dikeluhkan. Bangun tidur mengeluh. Tidak bisa tidur mengeluh. Ada makanan mengeluh. Tidak ada makanan mengeluh. Bagi orang macam demikian, segala sesuatu yang ada dihadapannya adalah salah, jelek, serba kurang dan serba tidak beres sehingga segala hal tidak lepas dari kritikannya. Berhadapan dengan orang macam demikian, pasti banyak orang yang tidak nyaman.

Orang yang gemar mengeluh, rasanya tidak sesuai dengan pewartaan bacaan pertama hari ini. St. Paulus menyatakan bahwa kita ini (berkat pembaptisan) bukan lagi orang-orang yang hidup dalam maut, karena kita telah diselamatkan oleh Yesus Kristus. Dan yang menarik, kuasa kasih karunia dan anugerah Allah melalui Yesus Kristus itu jauh lebih besar dari pada kuasa maut. Hal ini berarti, kuasa kebaikan Allah senantiasa lebih besar, lebih hebat, lebih banyak dibandingkan hal-hal yang tidak baik atau bahkan yang jahat. Apabila ada orang yang merasa hidupnya serba celaka, hal ini tentu karena cara pandang yang tidak benar. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk mampu meyakini bahwa kabaikan Allah jauh lebih besar daripada penderitaan dan kesulitan dalam hidup kita. Ambil contoh: dari 10 pengalaman hari ini, lihatlah, barangkali hanya ada 1 atau 2 saja pengalaman kegagalan atau negatif yang kita alami. Selebihnya kita dianugerahi keberhasilan dan kegembiraan meski kadarnya tidak selalu mencolok. Nah…menjadi tidak adil bila kita menghakimi Tuhan sebagai pribadi yang kejam karena disebabkan hanya oleh 1 atau 2 pengalaman negatif saja. Bagaimanapun, kasih dan kebaikan Allah jauh lebih besar dalam hidup kita. Untuk itu, kita diajak untuk selalu bersyukur atas kebaikan Allah itu dan membagikan kebaikan yang telah kita terima kepada semakin banyak orang sehingga Allah semakin dikenal dan dimuliakan dalam hidup manusia. Semoga rahmat Tuhan senantiasa membantu kita!!!

Translate »