Browsed by
Month: October 2017

Menyediakan Hati bagi Sabda Allah

Menyediakan Hati bagi Sabda Allah

Sabtu, 14 Oktober 2017

Hari Biasa

 

Bacaan I          Yoel 3: 12-21

Bacaan Injil    Lukas 11: 27-28

 

Menyediakan Hati bagi Sabda Allah

“Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memeliharanya”.  Kata-kata yang diucapkan Yesus ini sangat jelas dan tegas. Hari ini saya menawarkan kepada kita semua untuk menyiapkan hati bagi lahan kesuburan pewartaan sabda Allah. Mendengarkan dengan hati tentu berbeda maknanya daripada hanya sekadar mendengarkan melalui telinga. Kita memang bukan seperti anjing yanag mampu mendengar sebuah suara dari jarak yang cukup jauh hanya dengan kedua telinga mereka saja. Kita kalah dengan anjing; tetapi kita mempunyai hati yang sanggup mendengarkan berbagai kisah dan amanat hidup dengan perasaan, kepekaan dan tentu saja kesungguhan budi. Di dalam hati terkandung unsur kemanusiawian kita untuk berempati, bereaksi dan tersentuh. Bukankah sabda Allah menjadi bergema jika sanggup menggerakkan kita menuju suatu perubahan hidup yang konkret? Sebagai contoh, jika setiap minggu kita pulang dari Gereja, tetapi setelah itu kita tetap berkubang dalam kedosaan, mudah berkompromi dengan godaan-godaan roh jahat dan tidak mengalami perubahan hidup yang signifikan; itu berarti kita masih mendengarkan sabda Allah dengan telinga. Di situ kita belum melibatkan peran hati untuk juga mencecap sabda yang kita dengar. Modal untuk bisa mendengarkan dengan hati terletak pada iman kepercayaan kita akan apa yang diwartakan oleh Tuhan sendiri.

Saya selalu mencermati setiap kali ada tahbisan diakon dan imam, atau kaul bagi para biarawan/i, pastilah di sana ada kutipan ayat-ayat Kitab Suci sebagai tema yang mampu mewakili rasa-perasaan mereka atas karunia Allah. Begitu juga ada banyak umat yang mengambil motto hidupnya dari Kitab Suci. Di situlah saya menyaksikan betapa kekuatan sabda telah mengubah hidup setiap orang. Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang mampu mendengarkan sabda Allah dengan hati dan memeliharanya. Namun, sabda Allah akan sia-sia belaka dan tidak berbuah jika kita tidak menanggapinya dengan suatu perbuatan. Terkadang, apa yang tertulis dalam sabda itu sangat mustahil kita lakukan, tetapi selalu ada prakarsa ilahi yang akhirnya memampukan kita untuk berbuat seturut sabda itu.

Maka, mari kita memurnikan batin dan hati untuk sungguh-sungguh menjadi lahan pewartaan sabda Allah. Semoga kita selalu diperbarui oleh karena hati kita yang menerima dan mendengarkan sabda itu. Apapun yang telah kita dapatkan, banyak atau sedikit, hebat atau tidak, marilah kita buka hati sambil mengucapkan syukur dan menyeimbangkan kehendak dengan rencana Tuhan. Semoga Tuhan memberkati kita.

Hidup dalam Iman dan Percaya kepada Tuhan

Hidup dalam Iman dan Percaya kepada Tuhan

Jumat, 13 Oktober 2017

Hari Biasa

 

Bacaan I          Yoel 1: 13-15; 2: 1-2

Bacaan Injil    Lukas 11: 15-26

 

Hidup dalam Iman dan Percaya kepada Tuhan

Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan perlunya bagi kita untuk mengerti dengan hati sikap dasar sebagai murid yaitu percaya dan beriman. Percaya merupakan kunci terciptanya sebuah relasi yang intim dan akhirnya pada iman. Yesus mengajarkan tentang iman sebesar biji sesawi sudah cukup untuk menjadi pedoman hidup kita. Berkaitan dengan iman ini, saya selalu bercermin pada umat di daerah pedesaan. Di sana, umat sangat mengimani Yesus sebagai Sumber Hidup. Mereka beriman tanpa perlu teori teologis dan biblis. Bagi mereka, iman adalah tentang kepercayaan; maka percaya kepada Yesus semata adalah kekayaan mutlak yang mereka pegang. Dengan iman yang sederhana itu, mereka hidup dengan damai. Mereka tidak khawatir akan rejeki setiap hari karena Tuhan pasti akan mencukupkan kebutuhan mereka. Iman yang sederhana itu menggerakkan mereka untuk dengan sukacita tekun berkumpul, bahkan di bulan Oktober dan Mei rela berkumpul di salah satu rumah untuk bersama-sama berdevosi Rosario. Saya sangat kagum dengan sikap hati orang-orang di pedesaan itu, bahkan terkadang saya menangis karena iman saya sebetulnya belumlah sebesar yang mereka miliki. Terkadang, saya masih membenturkan iman dengan rasionalitas pribadi; masih mengukur rencana ilahi dengan kadar pemikiran saya sebagai manusia.

Dengan memiliki iman yang teguh, sama artinya dengan kita membiarkan Allah bekerja memimpin diri kita. Dari situ kita akan senantiasa sadar bahwa jalan yang sedang kita tempuh adalah jalan yang benar, yang tepat dan yang sungguh sesuai kebutuhan kita. Berbeda dengan orang-orang dalam Injil hari ini dimana mereka mencoba mengomentari mukjizat pengusiran setan oleh Yesus. Mereka berkomentar, bereaksi dan terkesan mencibir apa yang telah diperbuat Yesus. Tak ada satupun ucapan syukur dan takjub keluar dari mulut mereka karena mereka tidak percaya kepada Yesus. Mereka jelas tidak mempunyai pondasi iman sehingga mudah diombang-ambingkan keadaan. Keuntungan kita memiliki iman adalah kita mampu bertahan dalam segala situasi hidup. Iman adalah pegangan, soko guru dan kekuatan. Iman itulah yang akan menyelamatkan kita dari segala macam pencobaan. Demikianlah, mari kita semakin mengasah iman kita dengan jernih dan meletakkan kepercayaan kepada Tuhan kita. Tuhan masih selalu ingin berperkara dengan kita, tetapi kita mempunyai iman yang senantiasa menjaga dan membawa kita tetap di jalan yang benar. Semoga Tuhan memberkati kita.

 

Menjadi Murah Hati seperti Allah

Menjadi Murah Hati seperti Allah

Kamis, 12 Oktober 2017

Hari Biasa

 

Bacaan I          Maleakhi 3:13 – 4:2a

Bacaan Injil    Lukas 11: 5-13

 

Menjadi Murah Hati seperti Allah

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena yang meminta akan menerima; yang mencari akan mendapat; dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu akan dibukakan.  Betapa indahnya jika kehidupan kita berlangsung seperti digambarkan sedemikian oleh Yesus. Saling menolong, ringan tangan dan siap sedia membantu tanpa pamrih. Semua itu berakar pada sikap murah hati. Kemurahan hati telah dinyatakan oleh Allah dari kekal sampai kekal, bahkan sampai Allah rela menyerahkan Putra Tunggal-Nya demi keselamatan manusia. Kemurahan hati menjadi identitas Allah sekaligus membuktikan bahwa Allah tidak sekadar sebagai Pencipta, tetapi juga Penyelenggara dan Pemberi.

Sepanjang hidup di Seminari selama ±11 tahun, saya telah merasakan makna sesungguhnya dari sikap murah hati itu. Sering saya meminjam berbagai barang, misalnya tas ransel untuk bepergian, sepatu untuk pergi ke acara-acara resmi. Sering pula saya meminta sekadar gula, teh atau kopi kepada beberapa rekan frater. Karena saya berani meminjam dan meminta kepada mereka, maka saya juga harus berani meminjamkan dan memberi. Ketika ada barang-barang saya yang dipinjam, saya belajar untuk murah hati. Ketika ada yang meminta sesuatu kepada saya, saya belajar untuk memberi dengan murah hati. Begitulah hidup: saling melengkapi dan memahami. Hanya karena perkara rela hati untuk dipinjam dan meminjam, saya merasa ada kedekatan relasional dengan rekan-rekan. Tidak ada lagi gengsi, cemburu atau persaingan di antara kami karena kami pernah berbagi kemurahan hati. Disebut murah hati karena apa yang dilakukan tidak terobsesi kepada pamrih, upah atau pujian. Kemurahan hati merupakan sikap yang berlawanan arah dengan persepsi zaman ini dimana segala sesuatu diukur dengan nilai, uang atau pamrih. Misalnya, jika pelayanan dan pertolongan kita sungguh murah hati, maka ucapan “terima kasih” dari mereka yang kita layani dan kita tolong rasa-rasanya sudah lebih dari cukup, bahkan cenderung istimewa.

Maka, mari kita memulai suatu langkah baru untuk semakin menghidupi semangat kemurahan hati. Yakin bahwa Allah telah lebih dulu bermurah hati kepada kita sehingga sekarang kita berkewajiban untuk menyalurkan kebaikan hati Allah itu kepada siapapun yang kita jumpai. Semoga Tuhan memberkati kita.

 

Keindahan dan Kenikmatan Doa Bapa Kami

Keindahan dan Kenikmatan Doa Bapa Kami

Rabu, 11 Oktober 2017

Hari Biasa

 

Bacaan I          Yunus 4: 1-11

Bacaan Injil    Lukas 11: 1-4

 

Keindahan dan Kenikmatan Doa Bapa Kami

Tidak dapat disangkal bahwa doa Bapa Kami merupakan doa dasar yang diajarkan kepada kita sejak kita kecil. Doa ini begitu populer dan sudah dihafal di luar kepala. Setahu saya, Bapa Kami merupakan doa yang mempunyai banyak variasi pola lagu. Nampak-nampaknya memang doa Bapa Kami merupakan doa yang sangat mewakili realitas kehidupan kita di dunia. Maka, banyak orang menyebut Bapa Kami sebagai doa yang paling sempurna. Kesempurnaannya itu bisa kita lihat di dalam Injil hari ini. Doa Bapa Kami mengungkapkan kerinduan manusia untuk berelasi dengan Allah; untuk mendapatkan rejeki sehari-hari; dan membangun relasi dengan sesama berbekal semangat mengampuni sesama. Sungguh, doa Bapa Kami mampu merangkum segala kebutuhan dasariah kita sebagai manusia sekaligus umat Allah.

Saya tertarik pada perkataan seorang murid Yesus “Tuhan, ajarlah kami berdoa sebagaimana Yohanes telah mengajar murid-muridNya”. Kesan saya, para murid masih merindukan kepuasan batin untuk sampai pada doa yang memberi kelegaan. Mereka meminta Yesus mengajari berdoa. Meskipun mereka sudah sedemikian akrab dan intim dalam hidup bersama dengan Yesus, tetapi mereka masih membutuhkan pendarasan doa untuk kepuasan batin mereka sendiri. Hal ini saya rasakan sebagai sikap kerendahan hati para murid. Bahwa, doa menjadi bahan bakar mereka untuk tetap setia pada perutusan sebagai murid Yesus. Segala pelayanan yang mereka lakukan atas nama Yesus masih harus dimotivasi oleh kekuatan batin yang berasal dari intimitas berdoa. Kebijaksanaan ditunjukkan oleh Yesus dengan mengajari mereka berdoa Bapa Kami. Di situ tidak ada doa yang berbuih, tetapi sangat konkret menyentuh kehidupan riil para murid.

Pertanyaan yang bisa kita renungkan adalah bagaimana selama ini aku telah menghormati doa Bapa Kami? Pernahkah aku merasakan kenikmatan berdoa Bapa Kami dengan pelan, tenang dan teduh? Atau, jangan-jangan karena telah demikian populer maka kita tidak lagi memahami makna terdalam dari doa Bapa Kami itu? Semoga hari ini kita menerima kepuasan batin dalam menghayati doa Bapa Kami sebagai doa keindahan dan keagungan karena merupakan pemberian Tuhan Yesus sendiri. Semoga Tuhan memberkati kita.

Pilihlah Hidupmu dan Hidupilah Pilihanmu

Pilihlah Hidupmu dan Hidupilah Pilihanmu

Selasa, 10 Oktober 2017

Hari Biasa

 

Bacaan I          Yunus 3: 1-10

Bacaan Injil    Lukas 10: 38-42

 

Pilihlah Hidupmu dan Hidupilah Pilihanmu

Maria dan Marta adalah simbol cinta kepada Tuhan yang terwujud dalam dua cara, yakni kontemplatif dan aksi. Ada orang yang memilih membaktikan diri kepada Tuhan melalui hidup jauh dari keramaian, mencari tempat sepi untuk khusyuk berdoa, dan benar-benar mencurahkan perhatiannya kepada Tuhan saja. Namun, ada pula orang yang memilih membaktikan diri kepada Tuhan melalui berbagai tindak kebaikan yang diperbuatnya. Setiap tindakan baik mereka maknai sebagai cara mengasihi Tuhan secara militan. Tentu, tidak ada yang salah di antara kedua bentuk atau cara tersebut. Seperti halnya Maria dan Marta, sebenarnya tidak ada yang ganjil dalam sikap mereka tatkala menyikapi kehadiran Yesus di rumahnya. Namun, terkadang kita hidup dengan tidak meninggalkan sikap-sikap manusiawi kita. Di sana ada iri hati, cemburu, mudah mencari kesalahan orang lain dan ingin menang sendiri. Karena sikap-sikap macam itulah Marta merasa apa yang dilakukan Maria kurang tepat dalam pandangannya.

Di akhir Injil, Yesus berkata bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya. Maria sudah memantapkan hatinya untuk memilih apa yang dia tentukan. Hidup kita itu sebenarnya merupakan rangkaian dari berbagai pilihan. Segala kisah yang kita alami merupakan hasil dan resiko dari pilihan-pilihan yang kita ambil itu. Di bacaan pertama, raja dan rakyat Niniwe memilih untuk bertobat dari kehidupan masa lalu mereka, maka akibatnya Allah tidak jadi menghukum mereka. Allah justru menyesal telah merancang malapetaka bagi mereka. Maria juga demikian. Dia memilih untuk duduk di dekat kaki Tuhan, diam dan mendengarkan. Dia memosisikan diri sebagai murid, yang setia di dekat kaki-Nya dan tekun dalam ajaran-Nya.  Sekali lagi, hidup kita adalah serangkaian pilihan dan memuat konsekuensi di dalamnya.

Maka, melalui Sabda hari ini, kita bisa bertanya diri apakah selama ini kita sudah menghidupi berbagai pilihan yang telah kita tentukan? Apakah kita juga sudah berani menanggung resiko dan konsekuensi dari pilihan-pilihan itu? Kalau kita sadar akan resiko dan konsekuensi tersebut, niscaya kita tidak akan pernah merasa iri dengan orang lain sehingga kita dapat hidup dengan damai dan bahagia. Maka, pilihlah hidupmu dan hidupilah pilihanmu. Semoga Tuhan memberkati kita.

Translate »