Menjadi Murah Hati seperti Allah

Menjadi Murah Hati seperti Allah

Kamis, 12 Oktober 2017

Hari Biasa

 

Bacaan I          Maleakhi 3:13 – 4:2a

Bacaan Injil    Lukas 11: 5-13

 

Menjadi Murah Hati seperti Allah

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena yang meminta akan menerima; yang mencari akan mendapat; dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu akan dibukakan.  Betapa indahnya jika kehidupan kita berlangsung seperti digambarkan sedemikian oleh Yesus. Saling menolong, ringan tangan dan siap sedia membantu tanpa pamrih. Semua itu berakar pada sikap murah hati. Kemurahan hati telah dinyatakan oleh Allah dari kekal sampai kekal, bahkan sampai Allah rela menyerahkan Putra Tunggal-Nya demi keselamatan manusia. Kemurahan hati menjadi identitas Allah sekaligus membuktikan bahwa Allah tidak sekadar sebagai Pencipta, tetapi juga Penyelenggara dan Pemberi.

Sepanjang hidup di Seminari selama ±11 tahun, saya telah merasakan makna sesungguhnya dari sikap murah hati itu. Sering saya meminjam berbagai barang, misalnya tas ransel untuk bepergian, sepatu untuk pergi ke acara-acara resmi. Sering pula saya meminta sekadar gula, teh atau kopi kepada beberapa rekan frater. Karena saya berani meminjam dan meminta kepada mereka, maka saya juga harus berani meminjamkan dan memberi. Ketika ada barang-barang saya yang dipinjam, saya belajar untuk murah hati. Ketika ada yang meminta sesuatu kepada saya, saya belajar untuk memberi dengan murah hati. Begitulah hidup: saling melengkapi dan memahami. Hanya karena perkara rela hati untuk dipinjam dan meminjam, saya merasa ada kedekatan relasional dengan rekan-rekan. Tidak ada lagi gengsi, cemburu atau persaingan di antara kami karena kami pernah berbagi kemurahan hati. Disebut murah hati karena apa yang dilakukan tidak terobsesi kepada pamrih, upah atau pujian. Kemurahan hati merupakan sikap yang berlawanan arah dengan persepsi zaman ini dimana segala sesuatu diukur dengan nilai, uang atau pamrih. Misalnya, jika pelayanan dan pertolongan kita sungguh murah hati, maka ucapan “terima kasih” dari mereka yang kita layani dan kita tolong rasa-rasanya sudah lebih dari cukup, bahkan cenderung istimewa.

Maka, mari kita memulai suatu langkah baru untuk semakin menghidupi semangat kemurahan hati. Yakin bahwa Allah telah lebih dulu bermurah hati kepada kita sehingga sekarang kita berkewajiban untuk menyalurkan kebaikan hati Allah itu kepada siapapun yang kita jumpai. Semoga Tuhan memberkati kita.

 

Comments are closed.
Translate »