Browsed by
Month: December 2017

Immaculate Conception

Immaculate Conception

Immaculate Conception

December 8

Mary- conceived without original sin; Mary was sinless from the moment of conception. This doctrine was defined by Pope Pius the 9th, on December 8, 1954, four years before the apparitions of Mary at Lourdes. The Truth, which is from the beginning, is explicated to humanity at this time.

Mary was born free from original sin and remained free from all sin for the rest of her life. This is according to the Plan of God, “I will put enmity between you and the woman, and between your offspring and hers.” (Gen 3:15) It is God’s work; God put Mary here as an instrument.

Mary, the New Eve

Catholics always viewed two women, Mary and Eve, here to refer ultimately to Mary, as God’s obedient instrument, and her offspring, Jesus, at one end and Eve, as a victim of Satan’s temptations, and Satan and his colleagues at the opposite end.

In today’s Gospel reading, the words “Rejoice, O highly favored daughter( full of grace), the Lord is with you, blessed are you among women.”, speak for themselves.

Blessed John Duns Scotus, even in the 13th century, proposed that “God has shielded Mary from sin(from Satan) as she was to be the Mother of God’s Son. It is not fitting that the Son of God should be born of a sinless Mother?” (theological reason).

All over the world people respect and venerate the Blessed Mother, not only Catholics, but many people of many cultural traditions. She is the divine Mother; Devi, Matha, Madre, Mother of Mercy. People come to blessed Mother for love, for bonding, for protection.

Mary, Mother of All

All over the world, millions of people- in India, in other Asian Countries, in African countries, in Europe (Lourdes and Fatima, etc.), and the Americas, (Our Lady of Guadalupe, Patron of the United States of America), venerate and pray to her. We know the saying PER MARIAM AD JESUM (through Mary to Jesus).

Holy mother, Virgin Mother, Blessed Mother, in the Divine Plan, loves all her Children. Jesus, our Lord, gave his Mother to us as our Mother. So we love the Blessed Mother Mary. Humanity is looking for a Mother who will protect and care. In keeping with the early days of our nation’s history, in the State of Maryland, the National Basilica in Washington D.C is dedicated to The Immaculate Conception.

Today we celebrate the feast of The Immaculate Conception with special joy and gratitude. So let us now turn to Mary in prayer; a prayer composed by St. Bernard of Clairvaux over 800 years ago:

“Remember, O most loving Virgin Mary, that never was it known, that anyone who fled to your protection, implored your help, or sought your intercession was left unaided.

Inspired with confidence, we turn to you, o virgin of Virgins, our Mother, to you we come, before you we stand, sinful and sorrowful.

O Mother of the Word Incarnate, do not turn from our petitions, but in your Mercy hear and answer us”. Amen.

Fr. Lucas Thumma

KAMIS PEKAN I ADVEN 2017

KAMIS PEKAN I ADVEN 2017

KAMIS PEKAN I ADVEN 2017

Bacaan: Yesaya 26:1-6; Matius 7:21. 24-27

Terkadang kita menjumpai ada sdr/i kita yang hidup doanya kenceng banget (Rosario setiap hari, novena berkali-kali, misa harian rajin, doa lingkungan tidak pernah absen dst) tetapi ketika kesulitan atau penderitaan datang menghampirinya, mereka mudah sekali lari meninggalkan Tuhan. Ada apa ini? Adakah yang salah dengan caranya berdoa mereka? Apakah mereka punya dosa warisan? Ataukah mereka kurang rajin lagi dalam berdoa? Saya piker, semua pengandaian itu kurang tepat.

Seringkali kita merasa puas dan damai ketika telah melaksanakan kewajiban-kewajiban keagamaan kita atau bahkan berbangga diri, pada saat mampu melampaui kewajiban-kewajiban tersebut. Perasaan itu sah-sah saja. Sebab kita manusia memang boleh berbangga dengan pencapaian yang dapat kita buat. Namun demikian, injil hari ini mengajak kita untuk lebih masuk lagi ke kedalaman iman kita. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” ay 21. Maksudnya: hidup doa dan kewajiban-kewajiban keagamaan kita memang penting untuk membangun relasi yang lebih erat dengan Allah. Namun yang tak kalah pentingnya adalah perwujudan dari tindakan kultis tersebut. Kalau kita mau jujur, setiap kali kita berdoa dan memohon, Tuhan selalu mengajak kita untuk melakukan tindakan konkrit dalam hidup kita. Entah itu memaafkan teman sekerja kita, entah itu ajakan untuk lebih murah hati terhadap sesama, ajakan untuk setia kepada pasangan, tidak menaruh dendam pada orang lain yang berbuat salah dst. Nah…kalau ajakan-ajakan Tuhan ini belum kita laksanakan, artinya kita belum: “…Mendengar perkataan Tuhan dan melakukannya,…”. Oleh karena itu, jangan heran apabila iman orang demikian mudah “roboh” karena tidak mempunyai fondasi iman yang kokoh.

Hari ini kita diajak untuk berlaku bijak, dengan melandaskan hidup beriman kita pada, “…Mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah”. Semoga kita tidak mudah diombang-ambingkan kesulitan dan penderitaan hidup ini, karena kita telah meletakkan fondasi iman kita dengan benar. Semoga Tuhan memberkati kita dan keluarga kita.

RABU PEKAN ADVEN I TH II

RABU PEKAN ADVEN I TH II

RABU PEKAN ADVEN I TH II

Bacaan: Yesaya 25:6-10a; Matius 15:29-37

Soal selera itu tidak dapat diperdebatkan karena Kepuasan lidah masing-masing orang itu berbeda. Orang Solo dan Jogja umumnya suka masakan yang manis, orang Batak dan Padang umumnya suka masakan yang pedas, orang Jakarta atau Flores biasanya suka yang asin-asin. Kelezatan dan kenikmatan lidah memberikan kepuasan tersendiri bagi orang yang suka berwisata kuliner.

Kepuasan pesta orang Timur Tengah tampak dalam bacaan pertama hari ini. Tuhan akan menyediakan suatu perjamuan yang luar biasa lezat dan nikmat. Itulah suatu perjamuan “dengan masakan yang bergemuk [(lemak) di daerah Timur Tengah yang dingin tubuh mereka membutuhkan masakan yang sifatnya menghangatkan), suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya”. Pesta perjamuan yang diselenggarakan Tuhan itu mau mengungkapkan sukacita pada zaman kedatangan Mesias. Bacaan Injil hari ini juga melukiskan sukacita yang berlimpah dari orang-orang yang tadinya berkabung dan menderita karena telah berjumpa dengan Yesus Sang Mesias. Yesus menyembuhkan orang dari berbagai macam penyakit. Dan bahkan Yesus pun menyediakan suatu perjamuan pesta yang luar biasa, saat ia menggandakan roti untuk memberi makan ribuan orang.

Pada masa Adven ini, kita bersama-sama menantikan Sang Mesias yang membawa sukacita bagi hidup kita. Kedatangan-Nya ditandai dengan sukacita karena terjadinya pembebasan dan kelimpahan rezeki lahir batin. Tanpa kita sadari, sebenarnya hidup kita setiap hari telah dikunjungi oleh Sang Mesias dengan aneka

macam kelimpahan rezeki lahir batin, pembebasan dari bahaya dan juga kedamaian yang kita temukan dalam keluarga kita masing-masing. Semoga kita di-mampu-kan untuk menyadari kehadiran Mesias dalam hidup kita setiap hari yang barangkali amat sederhana sekalipun. Semoga berkat yang telah kita terima, mendorong kita untuk mampu membagikannya kepada sesama kita sehingga akan semakin banyak orang yang mengalami kehadiran sang Mesias dan terberkati. Rahmat Tuhan senantiasa membantu kita.

SELASA PEKAN ADVEN I TH II

SELASA PEKAN ADVEN I TH II

SELASA PEKAN ADVEN I TH II

Bacaan: Yesaya 11:1-10; Luk 10:21-24

Hidup damai adalah dambaan setiap orang yang tinggal di dunia ini. Orang boleh mempunyai segala-galanya, namun apabila hatinya tidak merasa damai, semua hal yang dimilikinya itu serasa tak ada artinya. Hati yang damai dapat membuat masalah yang berat menjadi ringan, yang susah menjadi berkah, yang gelap menjadi terang dst.

Lukisan kedamaian yang dibawa olah Sang Mesias, disampaikan dengan sangat indah dalam bacaan pertama hari ini. “Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya……”. Penggambaran kedamaian dalam ayat ini memang aneh, namun sekaligus sangat indah. Itulah yang namanya kedamaian sempurna. Semua menjadi sahabat, semua menjadi teman.

Kira-kira, manakah kunci kedamaian hati itu?? Injil hari ini menawarkan kepada kita kunci dari kedamaian hati manusia. Damai itu ada dalam hati orang yang mau menjadi sederhana, seperti anak kecil. Dengan kesederhanaan itu, orang akan menangkap misteri Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus. Itulah sebabnya Yesus bersabda, ”Aku bersyukur kepada-Mu Bapa, Tuhan langit dan bumi karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada Anak kecil”(ay. 21). Maksud dari perikop ini adalah: orang yang mengaku diri pandai dan bijak sebenarnya justru tidak menangkap misteri Kerajaan Allah sebab hatinya

disibukkan oleh kepandaian dan kebijaksanaannya. Berbeda dengan orang yang sederhana atau anak kecil: kosong dan tidak punya pikiran macam-macam. Situasi ini memungkinkan Allah untuk lebih mudah mengisi hatinya. Dan jika Allah telah mengisi hatinya, damailah hidupnya. Semoga kita dapat bersikap seperti anak kecil dan membiarkan Allah mengisi kehidupan kita sehingga kita dapat menemukan kedamaian sejati dalam hidup kita. Tuhan memberkati!

Senin Adven I 2017

Senin Adven I 2017

Senin Adven I 2017

Bacaan: Yesaya 2:1-5; Matius 8:5-11

Ternyata ada hubungan yang erat antara iman dan kerendahan hati. Kerendahan hati adalah suatu sikap hidup yang menganggap orang lain sama penting dan mulianya dengan diri sendiri dan karena itu dengan ikhlas menghormati dan melayaninya tanpa merasa hina atau rendah. Sedangkan iman adalah suatu tanggapan atas tawaran kasih Allah dalam bentuk kepasrahan dirinya kepada Allah dan membiarkan Allah bekerja atas hidupnya.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendapatkan contoh yang jelas soal sikap kerendahan hati dan sikap iman dari seorang perwira yang meminta pertolongan dari Tuhan Yesus. Meskipun ia mempunyai banyak bawahan dan dapat memerintah sekehandak hatinya, tetapi dihadapan Yesus, perwira ini sadar bahwa dirinya nggak ada apa-apaNya. Oleh karena itu, ia merasa tidak pantas ketika Yesus hendak mengunjungi rumahnya. “Sudah Tuhan…. bersabdalah saja sepatah kata, dan aku percaya hambaku pasti sembuh”. Suatu sikap iman yang radikal di tengah-tengah godaan untuk mengandalkan kekuatan dan kuasanya sebagai perwira yang memang ia miliki.

Hambatan terbesar bagi kita untuk beriman adalah kesombongan. Kita belum dapat dianggap sungguh-sungguh sebagai orang beriman hanya dengan rajin misa, latihan-latihan koor, doa-doa lingkungan dst. Kalau kita menghadapi tantangan dan kesulitan hidup, dan kita hanya mengandalkan kekuatan kita saja, maka kita belum menjadi orang yang beriman. Namun apabila kita berani membawa persoalan-persoalan hidup kita kepada Allah dan membiarkan Allah bekerja dan menuntun kita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidup itu, baru pada saat inilah kita menjadi

orang beriman. Iman dan Kerendahan hati adalah suatu sikap yang merendah dan terbuka di hadapan Allah. Pada akhirnya iman dan kerendahan hati adalah sikap yang membuka diri kepada pertolongan orang lain dan terutama Allah.

Semoga hari ini kita dimampukan untuk meneladan sikap sang perwira yang tidak melulu mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi berani membawa persoalan-persoalan hidup kita ke hadapan Tuhan dan membiarkan Dia menuntun kita melakukan apa yang terbaik bagi kita dan bagi Tuhan. Tuhan memberkati……..

Translate »