Browsed by
Month: January 2018

KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN

KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN

*KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN*

Hari Minggu Biasa II

Minggu, 14 Januari 2018

[1Sam. 3:3b-10,19; Mzm. 40:2,4ab,7-8a,8b-9,10; 1Kor. 6:13c-15a,17-20; Yoh. 1:35-42]

MEWARTAKAN KEBENARAN DAN MENGHIDUPINYA

Setiap agama pada hakekatnya membawa setiap pemeluknya menuju pada kebaikan hidup. Lebih dari itu, setiap agama membawa pemeluknya pada kebenaran yang sejati. Maka, kalau hendak melihat kualitas hidup beragama seseorang, bisa dilihat dari kebaikan dan keutamaan hidup yang dilakukan orang tersebut. Benar bahwa banyak orang memberitakan agama, namun kualitas hidupnya tidak sesuai dengan kebenaran yang diberitakan atau diwartakan. Nah ini soal kesinambungan antara ucapan dan tindakan. Kesesuaian antara ucapan dan tindakan inilah yang menunjukkan keutuhan pribadi seseorang, dimana orang tersebut bisa menampilkan diri dengan tulus, jujur dan tidak munafik. Kalau kita cermati, di Indonesia, ada orang-orang yang pintar dan fasih ‘menyuarakan’ kebenaran hidup, tak peduli dia adalah pemimpin agama, pemimpin negara, pejabat daerah dan seterusnya. Namun,  ketika reputasi orang-orang tersebut perihal ucapannya mulai diragukan, orang tersebut akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahanan citra dirinya, supaya orang tetap percaya dengan apa yang diucapkannya. Bahasa kerennya: ‘menghalalkan segala cara’, asal orang tetap percaya. Ini yang disebut dengan: pencitraan, yang tak lain dan tak bukan, ‘saudara kandung’ dari: kemunafikan. Namun, apakah ini tindakan yang tepat? Bukankah orang akan menjadi semakin tidak percaya jika melihat ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan. Mewartakan kebenaran, namun melakukan ketidakbenaran.

Injil hari ini mengkisahkan Yohanes Pembaptis yang terpanggil untuk menjadi ‘jalan pembuka’ bagi kehadiran Yesus, dan menjadi pewarta bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah. Banyak yang tidak secara mudah menerima dan memahami kabar yang diwartakannya. Dan, kemudian Yesus datang dan mulai tampil di tengah bangsa Israel, reputasi Yohanes Pembaptis perlahan mulai pudar dan menurun. Yohanes Pembaptis, barangkali juga berpikir bahwa dirinya akan kehilangan reputasi dan kepercayaan dari banyak orang. Namun, dia tetap menghayati panggilannya di hadapan Allah dengan konsisten, sesuai porsi dan tanggungjawabnya. Tak perlu mencari pembenaran apalagi pencitraan. Dan bahkan ketika Yohanes Pembaptis mati, orang pun bahkan memberi kesaksian bahwa segala perkataan yang diucapkan Yohanes Pembaptis tentang Yesus, adalah benar. Di sini, Yohanes Pembaptis memiliki integritas yang teruji. Hidup kita, adalah hidup sebagai panggilan untuk memberitakan kebenaran yang datang dari Allah, namun kita sadar bahwa apa yang kita wartakan tentang Yesus, tidak sejalan dengan apa yang kita lakukan dan hidupi dalam keseharian. Ketika ucapan tak sinambung dengan tindakan, pencitraan adalah jawaban terakhir yang diajukan. Ya, sekali lagi, hanya demi sebuah reputasi. Namun, Yohanes Pembaptis mengajarkan kita untuk tidak sekedar memberitakan kebenaran, namun juga menghidupi kebenaran itu sendiri. Inilah integritas kristiani sejati.

Selamat pagi, selamat berhari Minggu. Berkat Tuhan melimpah untuk kita semua.

#jakal7#frdidik#unitIII#20

-Yoseph Didik Mardiyanto-
Come and Experience!

Come and Experience!

Second Sunday in the Ordinary Time
January 14, 2018
John 1:35-42

They said to him, “Rabbi, where are you staying?” He said to them, “Come and see.” (Jn 1:38-39)

In the Gospel of John, we will not discover the word “apostle” or one who is sent to preach the Gospel. John the Evangelist consistently calls those who faithfully gather around Jesus as the disciples. Why so? Perhaps, John the Evangelist wants to show us that the most important and fundamental aspect of being a follower of Jesus is truly to be a disciple.

What is a disciple in the time of Jesus? We usually understand a student as one who studies at a particular school with its buildings, facilities and system of learning. Like Br. Bayu is a student of the University of Santo Tomas, and every Monday to Friday, he has to attend classes at the Manila campus. I am expected to learn particular knowledge, like the theology of St. Paul or master certain skills like preaching. At the end of the semester, I need to pass the exams in order to prove that I have learned those set of knowledge or skills. If I fail, I have to take a remedial or retake the subject all over again. Surely, this is a simplistic way of imagining learning in our time, but if we want to be a disciple in the time of Jesus, we have to enter a different world.

When Andrew and Peter become the disciples of Jesus, it does not mean that they will attend lectures of Jesus. They literally follow Jesus wherever Jesus goes. That is why the first question Andrew asks is not how much the tuition fee is or what lesson Jesus will impart, but rather “Rabbi, where are you staying?” because it is clear in the mind of Andrew that if he wants to become a disciple, he has to follow Jesus literally for 24 hours a day, seven days a week. He is going to walk where Jesus goes, eat what Jesus eats, to sleep where Jesus lays His head, to experience what Jesus experiences, the joy, sadness, the suffering, and resurrection! Learning then is not simply about gaining knowledge or skills, but it is about sharing life, giving and receiving life.

It is interesting also to note that Jesus’ response to Andrew is oft-quoted “come and see”, yet in some ancient Greek manuscripts the words used are “erkesthe kai opheste”. If they are translated literally, it sounds like “come and experience!” To become a disciple is to experience the life of Jesus, to experience Jesus Himself. Surely, it is a total experience of Jesus. Thus, the end of learning is not the grades, but a new life in the likeness of Jesus, the Master. It is the imitation of Christ in the real sense.

However, to become this kind of disciple, the price is also extremely high. To follow and experience Jesus’ life, we need to give up our lives. A life for life. We cannot be the disciples of Jesus only 8 AM to 3 PM, but the rest of the day, we are free. We cannot say that we are disciples of Jesus when we are at the Church only, but not in the workplaces and homes. We become like Jesus both in good times and bad times. The questions now are: Are we willing to sacrifice our old lives? Are we ready to follow Jesus day and night? Are we making our full effort to become like Christ?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno , OP

(photo by Harry Setianto Sunaryo SJ)

Orang Berdosa? Anda Dipanggil!

Orang Berdosa? Anda Dipanggil!

Orang Berdosa? Anda Dipanggil!

Bertahun-tahun yang lalu, saya membaca sebuah tulisan di meja bos saya ketika saya bekerja di sebuah perusahaan: “There are only two rules in this office! Rule #1: The boss is always right. Rule #2: When the boss is wrong, see rule #1” [Hanya ada 2 aturan! Aturan 1: Bos selalu benar. Aturan 2: Ketika bos salah, lihat aturan 1]. Ungkapan ini adalah cermin dari salah satu naluri dasar manusia, yakni “kehendak untuk berkuasa,” dan menjadi benar adalah syarat untuk memiliki kekuasaan atau otoritas. Untuk menjadi berkuasa dan berotoritas, orang harus menempatkan dirinya secara berbeda, atau lebih tepatnya, orang harus meninggikan dirinya di hadapan yang lain. Apakah hal ini salah? Tidak selalu bahkan terkadang perlu, tetapi dalam cara pandang Yesus, orang-orang yang berusaha meninggikan diri mereka dengan menganggap diri mereka suci dan menyudutkan orang-orang sederhana sebagai orang berdosa adalah orang-orang yang tidak memiliki logika Tuhan.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat bagaimana orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat berusaha untuk menunjukkan bahwa mereka-lah yang berkuasa dan berotoritas sehingga mereka perlu membedakan diri mereka dari para pemungut cukai yang dianggap berdosa dan lebih rendah dari mereka. Mereka ingin menarik Yesus dalam logika mereka, tetapi Yesus menolak karena satu-satunya logika yang Yesus pakai adalah logika Allah yang adalah kasih itu. Ketika Tuhan datang kepada seseorang, Ia datang dengan kasih yang mengampuni. Tuhan tidak datang sebagai hakim yang menghukum tetapi sahabat yang memanggil anda ke dalam jalan pertobatan. Logika Tuhan bukanlah kekuasaan melainkan kasih!

Jadi jika hari ini anda merasa bahwa anda jauh lebih baik dari beberapa orang dan menganggap mereka sebagai orang berdosa yang perlu dijauhi, anda perlu diingatkan bahwa logika anda itu tidak sejalan dengan logika Tuhan. Tetapi kalau hari ini anda merasa diri anda berdosa dan melakukan kesalahan, janganlah segan-segan untuk membaca lagi kalimat di dalam Injil, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Kita hendaknya selalu mengingat logika Tuhan dalam hidup kita, terutama ketika kita melakukan kesalahan atau berbuat dosa. Baik juga kita mengingat kata-kata Paus Fransiskus, “Kalau kamu menginginkan kerahiman [Allah], ketahuilah bahwa kamu adalah para pendosa.” Para pendosa, kita semua dipanggil menjadi sahabat Yesus!***

Hati-hati dalam Meminta!

Hati-hati dalam Meminta!

Hati-hati dalam Meminta!

Hari ini kita mendengarkan dalam bacaan pertama bahwa Israel meminta raja dan Samuel yang kesal mengeluh kepada Tuhan bahwa orang-orang Israel menolak Samuel karena usianya yang sudah lanjut. Tetapi Tuhan melihat hati dan Ia tahu bahwa bukan Samuel yang mereka tolak melainkan Tuhan sendiri. Walau Tuhan mengabulkan apa yang mereka minta, Tuhan menegur dengan keras orang-orang Israel melalui Samuel karena keinginan mereka bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Seperti orang-orang Israel, kita sering meminta kepada Tuhan apa yang lebih baik, lebih kuat, lebih pandai, dan lebih dalam banyak hal daripada apa yang telah kita miliki. Tetapi cerita Samuel dan orang-orang Israel hari ini menunjukkan bahwa kita harus berhati-hati dengan apa yang kita minta. Permintaan yang datang dari hati yang pahit dan getir atau dari keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Tuhan seringkali tidak membawa kebaikan melainkan kekacauan dan kerusakan. Permintaan yang datang dari keserakahan dan kesombongan pada akhirnya adalah rancangan kecelakaan yang datang dari roh jahat dan kelemahan manusiawi kita. Saya pernah mengenal orang yang ketika bangun pagi selalu mendoakan orang-orang yang ia tidak sukai untuk dihukum Tuhan. Pada kahirnya, bukannya orang-orang itu mendapatkan hukuman dari Tuhan, malahan sang pendoa mengalami kegetiran dalam hidupnya karena dendam dan amarah yang disimpan di dalam hatinya.

Hari ini kita diingatkan bahwa kita harus sungguh-sungguh bertanya kepada diri kita sendiri saat kita meminta kepada Tuhan, “Apakah permintaan ini datang dari hati yang mencari kebesaran Tuhan atau kebesaran diri sendiri?” Kita diingatkan untuk mencari Tuhan dan kehendakNya, dan bukan berusaha memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Hati-hati dalam meminta!***

Kusta!

Kusta!

Kusta!

Kusta, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti “penyakit menahun yang menyerang kulit dan saraf, yang secara perlahan-lahan menyebabkan kerusakan pada anggota tubuh.” Orang yang mengalami kusta akan kehilangan daya untuk merasa sakit dan seringkali kehilangan bagian-bagian tubuhnya yang rusak. Kehilangan rasa sakit itu bagian dari matinya saraf sehingga tubuh yang rusak akibat terserang bakteri kusta tidak lagi merasakan apa-apa lagi. Satu hal lagi, penyakit kusta itu menular.

Dalam alam pikir Israel, orang yang menderita penyakit fisik juga mempunyai kemungkinan terkena penyakit spiritual. Maka Yesus yang mengenal cara pandang orang-orangnya juga meminta orang kusta yang Ia sembuhkan untuk menghadap kepada imam dan mempersembahkan pentahirannya sebagaimana yang ada dalam hukum Musa. Kusta itu melambangkan penyakit jiwa selain menunjukkan penyakit badani. Kusta itu bukan hanya soal kesehatan tubuh tetapi juga soal dosa.

Dosa itu dalam arti tertentu adalah kusta. Ia mematikan saraf-saraf jiwa yang penting untuk merasakan kehadiran dan kuasa Tuhan dalam hidup kita. Dosa yang dilakukan berulang-ulang akan membuat kita tidak lagi merasakan rasa sakit karena melawan kehendak Tuhan karena hati nurani kita semakin dipinggirkan dalam kuasa dosa. Dosa juga menular karena setiap dosa yang terjadi mempunyai efek kepada siapa atau apapun yang dikenainya, dan efeknya bertahan lama bila tidak ada kasih dan pengampunan ilahi hidup dalam yang terkena dosa. Sebagai contoh, orangtua yang memukul anaknya secara konstan akan meninggalkan luka batin yang

dalam yang akan dibawa oleh sang anak bertahun-tahun. Sang anak bisa melihat tindakan orangtuanya sebagai sesuatu yang “normal” untuk dilakukan di dalam keluarga, dan melakukannya kepada anak-anaknya di kemudian hari. Dosa adalah kusta yang membuat kita tak lagi peka terhadap sapaan dan teguran Tuhan dalam hidup kita.

Orang kusta yang berdosa, dalam cerita Injil hari ini, dibebaskan oleh Yesus yang berbelas kasih. Kasih Tuhan membebaskan kita dari ‘kusta’ kita. Yang perlu kita lakukan adalah mengakui bahwa kita adalah orang ‘kusta’ dan meminta Tuhan untuk menyembuhkan kita dengan belas kasihNya. Injil hari ini mengajak kita untuk melepaskan diri dari kusta kita dengan kasih Allah.

Apa yang menjadi “kusta”-ku dalam hidup ini yang membuat aku tidak lagi peka terhadap kasih Allah? Rahmat apa yang harus kuminta kepada Yesus untuk menyembuhkan “kusta”-ku?***

Translate »